BAB 1 : PENDAHULUAN ........................................................................................ 1- 10
1.4. Sistematika Penulisan
2.1.2. Indikator-Indikator Produktivitas Kerja
Produktivitas dapat ditinjau berdasarkan tingkatannya dengan tolok ukur masing-masing. Tolok ukur produktivitas kerja dapat dilihat dari kinerja karyawan. Untuk melihat sejauh mana produktivitas kerja karyawan, diperlukan penjelasan tentang dimensi, unsur, indikator dan kriteria yang menyatakan produktivitas kerja karyawan. Dimensi produktivitas menyangkut masukan, proses dan produk atau keluaran. Masukan merujuk kepada pelaku produktivitas dan produk, sedangkan keluaran berkaitan dengan hasil yang dicapai.
Sedarmayanti (2009) mengatakan bahwa pengertian produktivitas memiliki dua dimensi, yakni efektivitas dan efisiensi. Dimensi pertama berkaitan dengan pencapaian unjuk kerja yang maksimal, dalam arti pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Sedangkan dimensi kedua berkaitan dengan upaya membandingkan masukan dengan realisasi penggunaannya atau bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan.
Efisiensi merupakan ukuran dalam membandingkan penggunaan masukan (input) yang direncanakan dengan penggunaan masukan yang sebenarnya terlaksana. Apabila masukan yang sebenarnya digunakan semakin besar penghematannya, maka tingkat efisiensi semakin tinggi, tetapi semakin kecil masukan yang dapat dihemat, sehingga semakin rendah tingkat efisiensi. Pengertian efisiensi di sini lebih berorientasi kepada masukan (input) sedangkan masalah keluaran (output) kurang menjadi perhatian utama. Sedangkan efektivitas merupakan suatu ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh target dapat tercapai. Pengertian efektivitas ini lebih berorientasi kepada keluaran sedangkan masalah penggunaan masukan kurang menjadi perhatian utama. Apabila efisiensi dikaitkan dengan efektivitas belum tentu efisiensi meningkat (Sedarmayanti, 2009).
Senada dengan pernyataan diatas, Umar (2008) mengatakan bahwa produktivitas mengandung arti sebagai perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumberdaya yang digunakan (input). Dengan kata lain bahwa produktivitas memiliki dua dimensi. Dimensi pertama adalah efektivitas yang mengarah kepada pencapaian unjuk kerja yang maksimal yaitu pencapaiaan target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas, dan waktu. Yang kedua yaitu efisiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan input dengan realisasi penggunaanya atau bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan.
Indikator produktivitas dikembangkan dan dimodifikasi oleh Sedarmayanti (2009), dari pemikiran yang disampaikan oleh Gilmore dan Fromm tentang individu yang produktif, yaitu :
1. Tindakan konstruktif. 2. Percaya pada diri sendiri. 3. Bertanggung jawab.
4. Memiliki rasa cinta terhadap pekerjaan. 5. Mempunyai pandangan ke depan.
6. Mampu mengatasi persoalan dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah-ubah.
7. Mempunyai kontribusi positif terhadap lingkungannya (kreatif, imaginatif, dan inovatif).
8. Memiliki kekuatan untuk mewujudkan potensinya.
Gilmore (dalam Sedarmayanti, 2009) menyatakan bahwa orang yang produktif adalah “who is making a tangible and significant contribution in his chosen field, who is imaginative, perceptive, and innovative in his approach to life problems and to accomplishment of his own goals (creativity), and who is at the same time both responsible and responsive in his relationship with other”. Dalam uraian tersebut, Gilmore menekankan kontribusi yang positif dari diri seseorang terhadap lingkungannya di mana dia berada. Dengan adanya tindakan yang konstruktif, imaginatif, kreatif dari individu dalam organisasi, maka diharapkan produktivitas organisasi akan meningkat.
Timpe (dalam Umar, 2008) mengungkapkan tentang ciri umum karyawan yang produktif adalah sebagai berikut:
2. Kompeten secara profesional/teknis selalu memperdalam pengetahuan dalam bidangnya.
3. Kreatif dan inovatif, memperlihatkan kecerdikan dan keanekaragaman. 4. Memahami pekerjaan.
5. Belajar dengan “cerdik”, menggunakan logika, mengorganisasikan pekerjaan dengan efisien, tidak mudah macet dalam pekerjaan.
6. Selalu mempertahankan kinerja rancangan, mutu, kehandalan, pemeliharaan keamanan, mudah dibuat, produktivitas, biaya dan jadwal. 7. Selalu mencari perbaikan, tetapi tahu kapan harus berhenti
menyempurnakan.
8. Dianggap bernilai oleh pengawasnya. 9. Memiliki catatan prestasi yang berhasil. 10.Selalu meningkatkan diri.
Pribadi yang produktif adalah pribadi yang yakin akan kemampuan dirinya, yang dalam istilah psikologi sering disebut sebagai orang yang memiliki rasa percaya diri (self confidence), harga diri (self esteem) dan konsep diri (self concept) yang tinggi. Orang yang demikian dapat dikatakan sebagai orang yang mampu mengaktualisasikan dirinya (Sedarmayanti, 2009). Orang yang demikian dapat dikatakan sebagai orang yang mampu mengaktualisasikan dirinya. Hal tersebut berkaitan dengan individu yang kreatif, yakni memiliki kepandaian untuk menggunakan pikiran dan perasaannya dalam memecahkan persoalan, sebagaimana diungkapkan Fromm (dalam Sedarmayanti, 2009) bahwa individu
produktif adalah orang yang memiliki kasih sayang, kecakapan untuk menggunakan kemampuannya dan dapat merealisasikan potensi yang ada dalam dirinya. Individu yang kreatif dan produktif diutarakan sebagai berikut:
“Productiveness is man’s ability to use his powers and to realize the potentialities inherent in him” (Sedarmayanti, 2009).
Demikian pula pendapat yang di kemukakan Gaffar (dalam Sedarmayanti, 2009) bahwa individu yang produktif adalah yang menghasilkan produk yang bermutu, dapat diamati serta berguna bagi masyarakat, maksudnya berkenaan dengan kontribusi individu secara kualitatif, yang mempunyai dampak positif bagi masyarakat.
Pribadi yang produktif akan lebih kreatif dalam berhubungan dengan dunia sekitarnya dengan cara menciptakan hasil karya melalui kemampuan dan menggunakan pikiran serta perasaannya. Individu yang kreatif dapat dikatakan sebagai seorang yang tinggi independensinya, inovatif dalam pendekatan masalah, terbuka terhadap suatu pengalaman baru yang lebih luas, ditandai dengan spontanitas, fleksibilitas, dan kompleksitas pandangan. Jadi, produktivitas merupakan kemampuan seseorang untuk menggunakan kemampuan atau mewujudkan segenap potensi guna mewujudkan kreativitas (Sedarmayanti, 2009).
Indikator orang-orang yang produktif di atas memiliki kesamaan dengan karakteristik orang yang teraktualisasi versi Maslow, sekalipun ia sangat menyadari akan adanya keterbatasan yang sangat subyektif, namun ia berusaha keras untuk menemukan ciri-ciri orang yang teraktualisasi diri dan ia pun yakin bahwa informasi yang ia peroleh memiliki nilai yang patut menjadi perhatian.
Ciri-ciri utama tersebut adalah sebagai berikut: 1) Persepsi yang lebih efisien terhadap realita dan lebih menyenangkan; 2) Penerimaan diri, orang lain, dan sifat; 3) Sifat spontan; 4) Pemusatan masalah; 5) Adil (kebutuhan privasi); 6) Independen kultur dan lingkungan; 7) Kesegaran apresiasi; 8) Pengalaman mistik dan lautan perasaan; 9) Simpati untuk kemanusiaan; 10) Hubungan antar pribadi yang dekat; 11) Struktur karakter demokrasi; 12) Alat dan tujuan; 13) Filosofis, tak bermusuhan, rasa humor; 14) Kreatif (Asnawi,2002).
Dalam penelitian ini indikator-indikator produktivitas kerja yang dipilih atas teori dari Gilmore dan Fromm, yang dikembangkan dan dimodifikasi oleh Sedarmayanti (2009) tentang individu yang produktif, yaitu: 1) Tindakannya konstruktif; 2) Percaya pada diri sendiri; 3) Bertanggung jawab; 4) Memiliki rasa cinta terhadap pekerjaan; 5) Mempunyai pandangan ke depan; 6) Mampu mengatasi persoalan dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah-ubah; 7) Mempunyai kontribusi positif terhadap lingkungannya (kreatif, imaginatif, dan inovatif); 8) Memiliki kekuatan untuk mewujudkan potensinya.