Bagian 5. Monitoring dan Evaluasi Model Layanan Pendidikan Kelas Perahu
5.2 Indikator Keberhasilan
Kerangka pengukuran kineja LPKP menggunakan pendekatan MBH, sebagaimana diuraikan dalam sub bab 5.1. Sub bab ini menguraikan indikator keluaran dan hasil yang merupakan rangkaian kausalitas tercapainya tujuan utama diselenggarakannya LPKP. Untuk matrik pengukuran kinerja dapat dilihat pada lampiran IV.
5.2.1 Hasil Utama
Permasalahan utama yang melatarbelakangi LPKP adalah tingginya AnPS karena melaut. Dari rumusan masalah tersebut, pernyataan tujuannya adalah Menurunkan peluang anak putus sekolah. Indikator kinerja yang mampu mengukur langsung perubahan tercapainya hasil utama ini adalah Menurunnya Angka Putus Sekolah berdasarkan wilayah dan gender. Penyebab putus sekolah tidak hanya karena siswa melaut tetapi ada faktor lain, dengan demikian indikator Angka Putus Sekolah perlu mendapatkan penjelasan dengan indikator kinerja lain yaitu Rasio Anak Putus Sekolah karena melaut.
HASIL UTAMAHASIL UTAMA HASIL SEGERA 1 KELUARAN 1.2 HASIL SEGERA 2 KELUARAN 1.1 KELUARAN
Monitoring dan Evaluasi Model Layanan Pendidikan Kelas Perahu
Anak Putus Sekolah dirumuskan sebagai jumlah anak putus sekolah pada jenjang pendidikan tertentu pada tahun ajaran baru dibagi dengan jumlah siswa pada jenjang pendidikan tertentu pada tahun ajaran sebelumnya dan dirumuskan dalam rumus berikut:
Di mana:
PPS adalah Persentase Putus Sekolah pada jenjang pendidikan tertentu ditunjukaan dalam persen. 0% bermakna tidak ada anak putus sekolah, sedangkan 100% bermakna seluruh anak putus sekolah.
APtS adalah jumlah anak putus sekolah pada tahun ajaran baru
JS adalah jumlah siswa pada tahun ajaran sebelumnya
Agar indikator kinerja PPS ini mampu memperlihatkan kesenjangan pada beberapa aspek penting seperti wilayah dan gender, PPS dipilah berdasarkan wilayah (kecamatan, perkotaan/perdesaan) dan gender (jenis kelamin).
Indikator tambahan untuk menjelaskan PPS adalah Rasio Anak Putus Sekolah karena Melaut disingkat RAPS. RAPS merupakan hasil bagi jumlah siswa putus sekolah karena melaut dengan jumlah seluruh siswa putus sekolah yang dirumuskan sebagai berikut:
Di mana:
RAPS adalah Rasio Anak Putus Sekolah karena melaut. Sebagai sebuah rasio, nilai berada pada rentang 0 yang berarti tidak ada anak putus sekolah karena melaut dan 1 yang berarti seluruh anak putus sekolah adalah anak yang melaut. Rasio bisa pula ditunjukkan menggunakan persen dengan mengalikan konstan 100 seperti contoh pada gambar 4 dan gambar 5.
APSM adalah jumlah Anak Putus Sekolah karena Melaut.
APtS adalah jumlah anak putus sekolah
Selain PPS dan RAPS, keberhasilan menurunkan peluang anak putus sekolah karena melaut adalah menurunya jumlah anak yang melaut.
5.2.2 Hasil Segera
Hasil segera yang diharapkan berdasarkan analisis kausalitas dari kondisi awal replikasi kelas perahu adalah:
5.2.2.1 Meningkatnya Kompetensi Guru Menyusun LKS Kontekstual dan Berkearifan Lokal
Kompetensi guru menyusun LKS kontekstual dan berkearifan lokal dapat dilihat dari portofolio berupa LKS apakah mengandung konten bahan ajar lokal, konten ini dapat disepakati dengan menggunakan persentase dan jenjang penjelasan (level descriptor), sebagai dalam tabel 6 berikut:
PPS =
APtSJS
RAPS =
APSMMonitoring dan Evaluasi Model Layanan Pendidikan Kelas Perahu
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Provinsi Sulawesi Selatan 45
TABEL 6. INDIKATOR KANDUNGAN LOKAL BAHAN AJAR
Persentase Kelompok Jenjang Penjelasan
P < 25% Pemula Tidak ada konten lokal atau tersedia konten lokal namun hanya sedikit, mencapai 25% dari total bagian LKS.
25% < P < 50% Madya Konten lokal mencapai lebih dari 25% hingga separo dari bagian LKS. 50% < P < 75% Utama Konten lokal tersedia pada hampir seluruh bagian LKS, yaitu paling sedikit
separoh dan paling banyak 75% bagian LKS.
P > 75 Pamungkas Konten lokal tersedia pada seluruh bagian LKS, atau paling sedikit lebih dari 75% bagian LKS.
Selain proporsi kandungan lokal dalam bahan ajar (LKS) kejelasan langkah belajar menjadi strategis mengingat waktu belajar siswa KP sangatlah terbatas. Sehingga perlu dipantau kejelasan langkah pembelajaran dalam LKS. Indikator kejelasan langkah pembelajaran mandiri disajikan dalam tabel 7 berikut:
TABEL 7. INDIKATOR KEJELASAN LANGKAH PEMBELAJARAN MANDIRI
Persentase Kelompok Jenjang Penjelasan
P < 25% Pemula Tidak ada informasi langkah belajar sampai dengan tersedia penjelasan namun belum tersedia penjelasan secara runtut dan visual
25% < P < 50% Madya Langkah belajar tersedia termasuk visual namun belum runtut 50% < P < 75% Utama Langkah belajar tersedia termasuk visual dan runtut
P > 75 Pamungkas Penjelasan cukup rinci tetapi singkat dan padat dilengkapi visual dan runtut (logik)
5.2.2.2 Meningkatnya Kompetensi guru mendampingi siswa kelas perahu
Siswa KP menggunakan bahan dan metode belajar yang berbeda, oleh karena itu dibutuhkan kompetensi guru mendampingi siswa KP. Setidaknya terdapat dua indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kompetensi pendampingan siswa KP yaitu:
Tingkat kesiapan bahan ajar (LKSS)
Tingkat kejelasan langkah belajar tugas mandiri
Monitoring dan Evaluasi Model Layanan Pendidikan Kelas Perahu
TABEL 8. INDIKATOR KOMPETENSI PENDAMPINGAN SISWA KP
Indikator Level descriptor Penjelasan
Tingkat Kesiapan
bahan ajar 1. Sangat Siap2. Cukup Siap 3. Kurang Siap 4. Tidak Siap
1. Bahan ajar sudah dipersiapkan seminggu sebelumnya 2. Bahan ajar sudah dipersiapkan 2 hingga 5 hari sebelumnya 3. Bahan ajar baru disiapkan kurang dari 2 hari
4. Tidak membuat bahan ajar Tingkat Kejelasan
langkah belajar 1. Sangat jelas2. Cukup jelas 3. Kurang jelas 4. Tidak jelas
1. Langkah belajar sangat jelas ditandai dengan tambahan penjelasan secara visual dan verbal.
2. Langkah belajar tertulis di dalam LKSS dan dapat diikuti alurnya.
3. Langkah belajar tertulis di dalam LKSS tetapi tidak dapat diikuti alurnya
4. Di dalam LKSS tidak ada penjelasan langkah belajar tugas mandiri
5.2.2.3 Meningkatnya Pemahaman KP Orangtua dan Masyarakat
Orang tua dan masyarakat memahami dan berperan aktif mendukung KP. Kelas Perahu pada dasarnya adalah salah satu bentuk pelaksanaan pendidikan inklusi yang bertujuan mengoptimalkan potensi setiap siswa dan dapat belajar bersama teman sebaya terlepas dari latar belakang sosial, ekonomi, fisik dan mental. Namun, tanpa proses pemahaman pendidikan inklusi kepada orang tua dan masyarakat, upaya inovatif bisa menjadi kontra produktif. Dengan asumsi tingkat pemahaman masyarakat terhadap KP dan pendidikan inklusi masih belum terbentuk, maka hasil segera untuk pemahaman orang tua dan masyarakat dalam penyelenggaraan KP dan pendidikan inklusi dapat diukur melalui:
Tingkat kepahaman masyarakat khususnya orang tua
Peran serta tokoh masyarakat dan agama dalam sosialisasi
dan atau menyusun bahan ajar berkearifan lokal.
Adapun indikator yang dapat dipergunakan disajikan dalam tabel 9 berikut:
TABEL 9. INDIKATOR PERAN SERTA MASYARAKAT DAN TOKOH AGAMA
Hasil Indikator Metode
Membangun pemahaman masyarakat khususnya orang tua tentang LPKP
Proporsi orang tua yang memperoleh skor 6 dari skala 10
tentang KP Survei atau Sensus
Peran serta tokoh masyarakat dan
tokoh agama dalam sosialisasi KP Tingkat pemahaman tokoh agama dan masyarakat yang memperoleh skor 6 dari skala 10 tentang KP
Proporsi tokoh agama dan masyarakat yang terlibat aktif dalam sosialisasi
Wawancara
Peran serta masyarakat dan agama dalam mendukung penyusunan bahan ajar berkearifan lokal
Proporsi tokoh agama dan masyarakat yang terlibat aktif dalam penyusunan LKS berkearifan lokal
Kontribusi tokoh masyarakat dan agama dalam LKS
Wawancara dan dokumentasi
Monitoring dan Evaluasi Model Layanan Pendidikan Kelas Perahu
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Provinsi Sulawesi Selatan 47
5.2.2.4 Meningkatnya Dukungan Pemerintahan Desa pada Kelas Perahu
Pemerintahan Desa merupakan daerah otonom yang memiliki wewenang dan anggaran, sehingga dukungan dan keterlibatan Pemerintah Desa dalam KP menjadi hal yang strategis dan perlu diupayakan secara terencana dan sistematis.
Dukungan Pemerintah Desa dapat diwujudkan dalam bentuk dukungan dana, bantuan teknis atau fasilitasi dan kebijakan. Dengan demikian untuk mengukur meningkatnya dukungan Pemerintahan Desa dapat dipergunakan beberapa indikator sebagaimana tersaji di dalam tabel 10:
TABEL 10. INDIKATOR MENINGKATNYA DUKUNGAN PEMERINTAH DESA
Hasil Indikator Metode
Meningkatkan dukungan
pendanaan Meningkatnya anggaran untuk mendukung KPMeningkatnya proporsi serapan anggaran untuk mendukung KP
Dokumentasi & Wawancara Meningkatkan bantuan teknis atau
fasilitasi Meningkatnya kegiatan dukungan kepada KP Dokumentasi & Wawancara Meningkatkan dukungan kebijakan Meningkatnya kebijakan yang dikeluarkan Pemdes
untuk KP Dokumentasi & Wawancara
5.2.3 Keluaran dan Kegiatan
Untuk meraih hasil segara sebagaimana telah diuraikan pada sub bab terdahulu, Dinas Pendidikan selaku leading sektor dan Sekolah pelaksana layanan KP perlu menyusun rencana kegiatan yang menghasilkan keluaran setiap tahun ajaran/keuangan. Keluaran dan kegiatan tidak diuraikan di dalam buku replikasi karena akan sangat bergantung pada (i) apakah sekolah melaksanakan layanan KP atau tidak dan (ii) kondisi sosial, ekonomi dan budaya setempat. Kelima hasil segera tersebut diatas dapat ditambahkan ke dalam rencana strategis setiap unit (sekolah dan dinas pendidikan) dan menjadi acuan dalam menyusun kegiatan.