BAB V MONITORING, EVALUASI, DAN INDIKATOR
C. Indikator
Untuk menilai kemajuan dan keberhasilan kegiatan DPPM, digunakan indikator masing-masing sebagai berikut:
Tabel 1. Indikator DPPM TB
1. Proporsi kabupaten/kota yang mempunyai Tim PPM kab/kota
Adalah jumlah kabupaten/kota yang sudah mempunyai Tim DPPM yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Daerah/Kepala Dinas Kesehatan.
Numerator Jumlah kabupaten/kota yang sudah membentuk Tim PPM yang
ditan-dai dengan ditetapkannya berdasarkan SK Kepala Daerah/Kepala Dinas Kesehatan.
Denumerator Jumlah kabupaten/kota
Rumus Perhitungan -– x 100%
Sumber Data Data PPM
Frekuensi Perhitungan Setiap semester
Penanggung Jawab Wasor Provinsi
Kegunaan Penilaian Untuk melihat gambaran perkembangan pembentukan dan fungsi Tim
DPPM
2. Proporsi fasyankes pemerintah NTP yang melaporkan kasus TB diantara seluruh fasyankes pemerintah NTP
Adalah jumlah fasyankes pemerintah NTP (puskesmas, B/BKPM) yang melaporkan kasus TB dian-tara seluruh fasyankes pemerintah NTP.
Numerator Jumlah fasyankes pemerintah NTP (puskesmas, B/BKPM) yang
melapor-kan kasus TB
Denumerator Jumlah seluruh fasyankes NTP (puskesmas, B/BKPM)
Rumus Perhitungan x 100%
Sumber Data Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu (SITT) / SITB, Data Pusdatin, dan
Data Dasar Frekuensi Perhitungan Triwulanan
Penanggung Jawab Pengelola Program Provinsi, Kab/Kota
Kegunaan Penilaian Untuk mengetahui keterlibatan fasyankes pemerintah NTP dalam
pelapo-ran kasus TB.
3. Proporsi fasyankes pemerintah non- NTP yang melaporkan kasus TB diantara seluruh fasyankes pemerintah non- NTP
Adalah jumlah fasyankes pemerintah non-NTP (RS dan klinik pemerintah) yang melaporkan kasus TB diantara seluruh fasyankes pemerintah non-NTP.
Rumah sakit dan klinik pemerintah adalah rumah sakit/klinik milik Kementerian Kesehatan, Kemen-terian Lain, Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi Negeri, POLRI, dan TNI.
Numerator Jumlah fasyankes pemerintah non-NTP (RS dan klinik pemerintah) yang
melaporkan kasus TB
Denumerator Jumlah seluruh fasyankes pemerintah non-NTP (RS dan klinik
pemerin-tah).
Sumber Data Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu (SITT) / SITB, Data SIRS Yankes, Data BPJS Kesehatan
Frekuensi Perhitungan Triwulanan
Penanggung Jawab Pengelola Program Provinsi, Kab/Kota
Kegunaan Penilaian Untuk mengetahui keterlibatan fasyankes pemerintah non-NTP dalam
pelaporan kasus TB.
4. Proporsi fasyankes swasta yang melaporkan kasus TB diantara seluruh fasyankes swasta
Adalah jumlah fasyankes swasta (rumah sakit swasta, DPM, klinik swasta) yang melaporkan kasus TB diantara seluruh fasyankes swasta (rumah sakit swasta, DPM, klinik swasta).
Rumah sakit dan klinik swasta adalah rumah sakit/klinik milik swasta/perorangan, perusahaan, BUMN, dan organisasi non profit.
Numerator Jumlah fasyankes swasta (rumah sakit swasta, DPM, klinik swasta) yang
melaporkan kasus TB.
Denumerator Jumlah seluruh fasyankes swasta (rumah sakit swasta, DPM, klinik swasta).
Rumus Perhitungan x 100%
Sumber Data Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu (SITT) / SITB, Data SIRS Yankes,
Data BPJS Kesehatan Frekuensi Perhitungan Triwulanan
Penanggung Jawab Pengelola Program Provinsi, Kab/Kota
Kegunaan Penilaian Untuk mengetahui keterlibatan fasyankes swasta dalam pelaporan kasus
TB.
5. Proporsi notifikasi kasus TB dari fasyankes swasta
Adalah jumlah kasus TB yang ternotifikasi dari fasyankes swasta diantara seluruh fasyankes baik pemerintah maupun swasta.
Fasyankes swasta terdiri dari rumah sakit swasta, klinik swasta, dan DPM.
Numerator Jumlah kasus TB yang ternotifikasi dari fasyankes swasta (rumah sakit,
klinik, DPM).
Denumerator Jumlah kasus TB yang ternotifikasi dari seluruh fasyankes baik pemerintah
maupun swasta.
Rumus Perhitungan x 100%
Sumber Data Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu (SITT) / SITB
Frekuensi Perhitungan Triwulanan
Penanggung Jawab Pengelola Program Provinsi, Kab/Kota
DAFTAR PUSTAKA
1. Kementerian Kesehatan RI. National Strategic Plan of Tuberculosis Control 2016-2020. Indonesia: Kemenkes RI, 2016.
2. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 67 Tahun 2016 tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Indonesia: Kemenkes RI, 2016.
3. Kementerian Kesehatan RI. Survei Prevalensi Tuberkulosis 2013-2014. Indonesia: Kemenkes RI, 2015.
4. Surya A, Setyaningsih B, Suryani Nasution H, Gita Parwati C, Yuzwar YE, Osberg M, et al. Quality Tuberculosis Care in Indonesia: Using Patient Pathway Analysis to Optimize Public-Private Collaboration. J Infect Dis. 2017 January;216:S724–32.
5. The Boston Consulting Group. Tinjauan penyedia layanan kesehatan swasta untuk meningkatkan penanganan TB di Indonesia. [Presentation]. Jakarta: BCG, 2018.
6. The Joint External TB Monitoring Mission (JEMM TB). JEMM TB Report Indonesia. Indonesia: JEMM TB, 2017.
7. World Health Organization. Engaging all health care providers in TB control: guidance on implementing public-private mix approaches. Geneva: WHO, 2006.
8. World Health Organization. Engaging private health care providers in tb care and prevention: a landscape analysis. Geneva: WHO, 2018.
9. World Health Organization. Global TB Report. Geneva: WHO, 2018.
10. World Health Organization. Public-private mix for TB care and control: a toolkit. Geneva: WHO, 2010.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Alur Diagnosis Laboratorium, Pengobatan, serta Pencatatan dan Pelaporan TB
Alur 1 Fasilitas Pelayanan Kesehatan Rujukan TB Resisten Obat dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan TB Resisten Obat
Gambar 1.1 Alur 1 Fasyankes Rujukan TB RO dan Fasyankes TB RO Keterangan:
1.1 Internal (Diagnosis)
1. Terduga TB yang datang ke Poli DOTS:
a. Apabila tidak memenuhi kriteria terduga TB RO dikirim ke Lab untuk di TCM. b. Apabila memenuhi kriteria terduga TB RO dirujuk ke Poli TB RO dan akan
dikirim ke Lab untuk di TCM.
2. Terduga TB dari Poli Lain dirujuk ke Poli DOTS atau dapat langsung dikirim ke Lab untuk di TCM. Petugas Poli lain wajib memastikan terduga TB tercatat di TB.06 Poli DOTS.
3. Disarankan yang dikirimkan ke Lab adalah dahak untuk mengurangi risiko infeksi dan mencegah pasien hilang.
1.2 Internal (Pengobatan)
2. Terduga TB yang tidak memenuhi kriteria terduga TB RO dari poli DOTS dan poli lain dengan hasil TCM MTB Pos Rif Resisten harus dilakukan TCM ulang oleh petugas lab dengan menggunakan dahak kedua. Hasil yang digunakan adalah hasil TCM ulangan. Jika hasil TCM ulangan:
a. MTB Pos Rif Resisten akan dirujuk dan mendapatkan pengobatan di Poli TB RO.
b. MTB Positif Rif Sensitif akan mendapatkan pengobatan di Poli DOTS.
c. MTB Negatif, ikuti alur MTB Negatif sesuai dengan Permenkes TB no 67 Tahun 2016.
3. Terduga TB yang memenuhi kriteria terduga TB RO dengan hasil TCM: a. MTB Pos Rif Sensitif dirujuk ke Poli DOTS.
b. MTB Pos Rif Resisten mendapatkan pengobatan di Poli TB RO.
1.3 Internal (Pencatatan dan Pelaporan)
1. Terduga TB dan pasien TB di Poli DOTS dan Poli TB RO dicatat di register TB.06, formulir TB.05, formulir TB.01, formulir TB.02, dan register TB.03.
2. Pencatatan elektronik:
a. Data terduga TB Sensitif yang diperiksa TCM wajib dimasukkan ke e-TB Manager dan SITT/SITB oleh petugas TB di Poli DOTS.
b. Data terduga TB RO yang diperiksa TCM wajib dimasukkan ke e-TB Manager oleh petugas TB RO di Poli TB RO.
c. Data pasien TB Sensitif (hasil TCMnya MTB Pos Rif Sensitif) wajib dimasukkan ke SITT/SITB oleh petugas TB di Poli DOTS.
d. Data pasien TB RO (hasil TCMnya MTB Pos Rif Resistan) wajib dimasukkan ke e-TB Manager oleh petugas TB di Poli TB RO.
3. Hasil TCM terduga TB dicatat ke TB.04 dan TB.05 dan dimasukkan ke e-TB Manager oleh petugas Lab.
1.4 Eksternal (Diagnosis)
1. Orang atau contoh uji Terduga TB dari Fasyankes lain (non DOTS) dirujuk ke Poli DOTS.
2. Orang atau contoh uji Terduga TB dari Fasyankes lain (DOTS): a. Jika memenuhi kriteria terduga TB RO dirujuk ke Poli TB RO. b. Jika tidak memenuhi kriteria terduga TB RO dirujuk ke Poli DOTS.
1.5 Eksternal (Pengobatan)
1. Terduga TB dari fasyankes lain non DOTS dengan hasil TCM:
a. MTB Pos Rif Sensitif disarankan diobati di Poli DOTS atau fasyankes lain (DOTS) terdekat dengan domisili pasien.
b. MTB Pos Rif Resisten pengobatan dimulai di Poli TB RO.
2. Terduga TB dari fasyankes lain DOTS dengan hasil TCM:
a. MTB Pos Rif Sensitif diobati di Poli DOTS atau fasyankes pengirim. b. MTB Pos Rif Resisten pengobatan dimulai di Poli TB RO.
1.6 Eksternal (Pencatatan dan Pelaporan)
1. Terduga TB dari fasyankes lain (non DOTS dan DOTS) yang datang ke poli DOTS atau poli TB RO dicatat di TB.06 Poli DOTS atau Poli TB RO dan dimasukkan ke e-TB Manager dan SITT/SITB oleh Perawat/ Data Officer di Poli DOTS atau Poli TB RO.
2. Apabila ada terduga TB dari fasyankes lain (non DOTS dan DOTS) yang datang ke Lab untuk di TCM, maka petugas lab wajib memastikan terduga TB tercatat di TB.06 Poli DOTS dan Poli TB RO .
3. Hasil TCM terduga TB dari fasyakes lain (DOTS dan non DOTS) dicatat ke TB.04 dan TB.05 dan dimasukkan ke e-TB Manager oleh petugas Lab.
Alur 2 Fasilitas Pelayanan Kesehatan Non Rujukan TB Resisten Obat dengan Tes Cepat Molekuler (TCM)
Gambar 1.2. Alur 2 Fasyankes Non Rujukan TB RO dengan TCM Keterangan:
1.1 Internal (Diagnosis)
1. Terduga TB yang datang ke Poli DOTS dikirim ke Lab untuk TCM
2. Terduga TB dari Poli Lain dirujuk ke Poli DOTS atau dapat langsung dikirim ke Lab
untuk di TCM. Petugas Poli lain wajib memastikan terduga TB tercatat di TB.06 Poli DOTS.
3. Disarankan yang dikirimkan ke Lab adalah dahak untuk mengurangi risiko infeksi
dan mencegah pasien hilang.
1.2 Internal (Pengobatan)
1. Terduga TB dari poli DOTS dan poli lain dengan hasil TCM MTB Pos Rif Sensitif akan diobati di Poli DOTS.
petugas lab dengan menggunakan dahak kedua. Hasil yang digunakan adalah hasil TCM ulangan. Jika hasil TCM ulangan:
a. MTB Pos Rif Resisten akan dirujuk dan mendapatkan pengobatan di Fasyankes Rujukan TB RO.
b. MTB Negatif, ikuti alur MTB Negatif sesuai dengan Permenkes TB no 67 Tahun 2016.
3. Terduga TB yang memenuhi kriteria terduga TB RO dengan hasil TCM: a. MTB Pos Rif Sensitif dirujuk ke Poli DOTS.
b. MTB Pos Rif Resisten mendapatkan pengobatan di Fasyankes Rujukan TB RO.
1.3 Internal (Pencatatan dan Pelaporan)
1. Terduga TB dan pasien TB di Poli DOTS dicatat di register TB.06, formulir TB.05, formulir TB.01, formulir TB.02, dan register TB.03.
2. Pencatatan elektronik:
a. Data terduga TB Sensitif dan TB RO yang diperiksa TCM wajib dimasukkan ke e-TB Manager dan SITT/SITB oleh petugas TB di Poli DOTS.
b. Data pasien TB Sensitif (hasil TCMnya MTB Pos Rif Sensitif) wajib dimasukkan ke SITT/SITB oleh petugas TB di Poli DOTS.
c. Data pasien TB RO (hasil TCMnya MTB Pos Rif Resistan) wajib dimasukkan ke e-TB Manager oleh petugas TB RO di Poli TB RO Fasyankes Rujukan TB RO. 3. Hasil TCM terduga TB dicatat ke TB.04 dan TB.05 dan dimasukkan ke e-TB Manager
oleh petugas Lab.
4. Terduga TB yang hasil TCM-nya MTB Pos Rif Resisten dirujuk ke fasyankes TB RO dengan membawa formulir rujukan terduga/pasien TB RO yang sudah diisi hasil pemeriksaan TCM.
1.4 Eksternal (Diagnosis)
1. Orang atau contoh uji terduga TB dari Fasyankes lain (DOTS dan non DOTS)
dirujuk ke Poli DOTS untuk dilakukan pemeriksaan TCM.
1.5 Eksternal (Pengobatan)
1. Terduga TB dari fasyankes lain (DOTS dan non DOTS) dengan hasil TCM:
a. MTB Pos Rif Sensitif disarankan diobati di Poli DOTS atau fasyankes lain (DOTS) terdekat dengan domisili pasien.
b. MTB Pos Rif Resisten dirujuk untuk medapatkan pengobatan ke fasyankes rujukan TB RO.
1.6 Eksternal (Pencatatan dan Pelaporan)
1. Terduga TB dari fasyankes lain (DOTS dan non DOTS) dicatat di TB.06 dan dimasukkan ke e-TB Manager dan SITT/SITB oleh Perawat/ Data Officer di Poli DOTS.
2. Terduga TB yang hasil TCM-nya MTB Pos Rif Resisten dirujuk ke fasyankes TB RO dengan membawa formulir rujukan terduga/pasien TB RO yang sudah diisi hasil pemeriksaan TCM. Poli DOTS pengirim harus menutup data terduga TB di e-TB Manager.
3. Hasil TCM terduga TB dari fasyakes lain (DOTS dan non DOTS) dicatat ke TB.04 dan TB.05 dan dimasukkan ke e-TB Manager oleh petugas Lab.
Alur 3 Fasilitas Pelayanan Kesehatan Non Tes Cepat Molekuler (TCM) yang DOTS
Gambar 1.3. Alur 3 Fasyankes Non TCM yang DOTS Keterangan:
3.1 Internal (Diagnosis)
1. Terduga TB yang datang ke Poli DOTS (orang atau contoh uji):
a. yang memerlukan pemeriksaan TCM (Terduga TB RO, Terduga TB dengan HIV Pos, Terduga TB Anak, TB Terduga dengan kondisi tertentu seperti hasil BTA Negatif dengan kecurigaan TB) dirujuk ke fasyankes yang memiliki TCM untuk dilakukan pemeriksaan TCM.
b. yang tidak memenuhi kriteria di atas dikirim ke Lab untuk dilakukan pemeriksaan mikroskopis.
2. Terduga TB dari Poli Lain dirujuk ke Poli DOTS atau dapat langsung dikirim ke Lab untuk dilakukan pemeriksaan mikroskopis. Petugas Poli lain wajib memastikan terduga TB tercatat di TB.06 Poli DOTS.
3.2 Internal (Pengobatan)
1. Terduga TB dari poli DOTS dan poli lain dengan hasil terkonfirmasi bakteriologis atau terdiagnosis klinis akan diobati di Poli DOTS.
a. MTB Pos Rif Resisten dirujuk ke fasyankes rujukan TB RO untuk memulai pengobatan.
b. MTB Pos Rif Sensitif disarankan mendapatkan pengobatan di Poli DOTS fasyankes TCM atau fasyankes pengirim.
c. MTB Negatif mengikuti alur sesuai dengan Permenkes TB no 67 Tahun 2016.
3.3 Internal (Pencatatan dan Pelaporan)
1. Semua Terduga TB di Poli DOTS dicatat di TB.06 serta dimasukkan ke SITT/ SITB oleh Perawat/ Data Officer.
2. Terduga TB yang dirujuk ke fasyankes TCM dicatat di TB.06 dan dimasukkan ke e-TB Manager dan SITT/SITB oleh Perawat/ Data Officer di Poli DOTS fasyankes TCM.
3. Poli DOTS mengisi TB.05 sebagai pengantar pemeriksaan contoh uji: a. Untuk terduga TB dari poli DOTS ke laboratorium mikroskopis.
b. Untuk orang atau contoh uji yang memenuhi kriteria pemeriksaan TCM dari poli DOTS ke fasyankes TCM disertai formulir rujukan pasien.
3.4 Eksternal (Diagnosis)
1. Terduga TB dari fasyanakes non DOTS yang datang ke Poli DOTS (orang atau contoh uji):
a. yang memerlukan pemeriksaan TCM (Terduga TB RO, Terduga TB dengan HIV Pos, Terduga TB Anak, TB Terduga dengan kondisi tertentu seperti hasil BTA Negatif dengan kecurigaan TB) dirujuk ke fasyankes yang memiliki TCM untuk dilakukan pemeriksaan TCM.
b. yang tidak memenuhi kriteria di atas dikirim ke Lab untuk dilakukan pemeriksaan mikroskopis.
3.5 Eksternal (Pengobatan)
1. Terduga TB dari fasyankes non DOTS dengan hasil:
a. Terkonfirmasi bakteriologis atau terdiagnosis klinis disarankan diobati di fasyankes DOTS.
b. MTB Pos Rif Resisten, dirujuk untuk memulai pengobatan ke fasyankes rujukan TB RO dan diinformasikan ke Dinas Kesehatan Kab/Kota untuk ditindaklanjuti.
3.6 Eksternal (Pencatatan dan Pelaporan)
1. Terduga TB dari fasyankes non DOTS yang datang ke Poli DOTS dan tidak dikirim ke fasyankes TCM dicatat di TB.06 serta dimasukkan ke SITT/SITB oleh Perawat/ Data Officer.
2. Terduga TB dari fasyankes non DOTS yang dikirim ke fasyankes TCM dicatat di TB.06 dan dimasukkan ke e-TB Manager oleh Perawat/ Data Officer di Poli DOTS fasyankes TCM.
3. Poli DOTS fasyankes non TCM-DOTS mengisi TB.05 sebagai pengantar pemeriksaan contoh uji:
a. Untuk terduga TB dari fasyankes non DOTS ke laboratorium mikroskopis. b. Untuk orang atau contoh uji terduga yang memenuhi kriteria terduga
TB RO dari fasyankes non DOTS ke fasyankes TCM disertai formulir rujukan terduga TB RO.
c. Untuk orang atau contoh uji yang tidak memenuhi kriteria terduga TB RO dari poli DOTS ke fasyankes TCM sesuai jejaring disertai surat pengantar dokter.
Alur 4 Laboratorium Mandiri dengan Tes Cepat Molekuler (TCM) Non Fasyankes
Gambar 1.4. Alur 4 Laboratorium Mandiri TCM Non Fasyankes Keterangan:
4.1 Diagnosis
Lab TCM Mandiri hanya menerima pemeriksaan orang atau contoh uji terduga TB dari fasyankes jejaring TCM. Fasyankes jejaring TCM diatur oleh Dinas Kesehatan Kab/Kota dan bersifat dinamis.
4.2 Pencatatan dan Pelaporan
1. Fasyankes pengirim wajib mengisi data dasar terduga di TB 05 dan mengirimkan TB 05 bersama dengan orang dan contoh uji ke lab mandiri TCM non fasyankes.
2. Orang atau contoh uji terduga TB yang dilakukan pemeriksaan di lab mandiri TCM non fasyankes dicatat dari TB.05 ke TB.04 dan dimasukkan ke e-TB Manager oleh petugas lab. Petugas Lab memasukkan data dasar terduga TB (variable utama) dan hasil TCM.
3. Hasil pemeriksaan TCM dari lab mandiri TCM dicatat di TB.05 dan dikembalikan ke fasyankes pengirim.