BAB II TINJAUAN PUSTAKA
E. Norma Subjektif / Subjective Norm
2. Indikator Niat
Menurut Tjiptono “atribut produk adalah unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian”.217
Menurut Simamora, atribut produk adalah faktor-faktor yang dipertimbangkan oleh pembeli pada saat membeli produk, seperti harga, kualitas, kelengkapan fungsi (fitur), desain, layanan purna jual, dan lain-lain.218
Menurut Kotler et al., atribut adalah sifat-sifat yang menambah fungsi dasar produk.219 Menurutnya atribut produk terdiri dari:
a) Fitur, sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan memvariasikan fitur yang melengkapi fungsi dasar mereka. Setiap perusahaan harus memutuskan apakah mereka akan menawarkan penyesuaian fitur pada biaya yang lebih tinggi atau beberapa kemasan standar pada biaya yang lebih rendah. b) Kualitas, Pembeli mengharapkan produk mempunyai kualitas
kesesuaian yang tinggi yaitu tingkat dimana semua unit yang diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi yang dijanjikan. c) Desain, adalah totalitas fitur yang mempengaruhi tampilan, rasa,
dan fungsi produk berdasarkan kebutuhan pelanggan. Ketika pesaing semakin kuat, desain menawarkan satu cara potensial untuk mendefinisikan serta memposisikan produk dan jasa perusahaan.
217
Fandy Tjiptono, Strategi Pemasaran. Edisi 3. (Yogyakarta: CV. Andi Offset, 2008), h.103
218
Bilson Simamora, Memenangkan Pasar dengan Pemasaran Efektif dan Profitabel. Cetakan kedua. (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama, 2003), h.147
219
Philip Kotler dan Kevin Lane Keller. Manajemen Pemasaran. Jilid ke-2. Edisi ke-13. Alih Bahasa:Bob Sabran.(Jakarta:Erlangga, 2000), h.6
98
b. Religi
Schiffman & Kanuk menyatakan anggota dari berbagai keputusan pembelian kelompok agama dipengaruhi oleh agama mereka.220 Islam adalah salah satu keyakinan agama yang dapat mempengaruhi ummatnya dalam menetukan dan memutuskan pembelian seperti arti ayat berikut ini:
نَع ًةَرَٰ َجِت َنوُكَت نَأ ٓلَِإ ِلِطَٰ َبَّ ۡلٱِب مُكَنۡيَب مُكَلََٰوۡمَأ ْآوُلُكۡأَت َلَ ْاوُنَماَء َنيِ َّلَّٱ اَهُّيَأَٰٓ َي
اٗميِحَر ۡمُكِب َنَكَ َ َّللَّٱ َّنِإ ۚۡمُكَسُفنَأ ْآوُلُتۡقَت َلََو ۚۡمُكنِ م ٖضاَرَت
029. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. 221
Tafsir At-Tibry menjelaskan mengenai hubungan agama dengan psikologi bahwa orang yang beriman yang hatinya membenarkan Allah dan Rasulnya di larang melakukan kegiatan memakan harta sesame dengan cara yang batil dan yang dilarang Allah kecuali dengan jalan perniagaan yang saling meridhai antara kedua belah pihak.222 Tafsir diatas dapat dijadikan landasan bahwa agama berpengaruh terhadap niat, perilaku konsumen dan keputusan pembelian produk makanan.
c. Budaya
Budaya merupakan salah satu variabel yang banyak mendapatkan tempat dalam perilaku konsumensosial, personal dan psikologi.223 Budaya telah menjadi konsep penting dalam
220
Schiffman L.G. & Kanuk, L.L. Consumer behaviour N.J. (Prentice-Hall, 1997).
221
QS. An-Nisa: 4;29
222
Jarir At-Tibry, Abi Ja‟far Mahmud, Tafsir Tibry Jamiul Bayan fi Ta‟wilil
qur‟an. (Qahirah: Markazu Bahsu Dirasatu Arabiyatul Islamiyah, ,jilid. VI,2001) h. 626.
223
Sunarto, Analisis Perilaku Konsumen Terhadap keputusan Pembelian Handphone Xiaomi Redmi 3S, (Jurnal Moneter Vol. V No. 1 April 2018), h. 1
99
memahami masyarakat dan kelompok manusia untuk waktu yang lama1.224 Budaya merupakan cara hidup manusia yang berfungsi menjamin kelestarian hidup dan kesejahteraan masyarakat dengan memberikan pengalaman yang teruji dalam upaya memenuhi kebutuhan orang-orang yang bergabung dalam masyarakat yang bersangkutan karena budaya mengajarkan orang tentang cara bertingkah laku dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan dasar. Damiani dan kawan-kawan225 melihat adanya perbedaan antara negara maju dan negara berkembang dalam konsumsi makanan halal dan sikap terhadap makanan halal tergantung pada budaya setempat.
d. Motivasi
Motivasi adalah kebutuhan dengan tekanan kuat yang mendorong seseorang untuk mencari kepuasan atas kebutuhan tersebut.226 Sedangkan menurut Schiffman dan Kanuk, dapat digambarkan sebagai tenaga pendorong dalam setiap individu yang membuat mereka untuk bertindak atau melakukan reaksi yang muncul untuk memenuhi kebutuhannya.227 Para individu secara sadar maupun tidak sadar berusaha untuk mengurangi ketegangannya dengan cara memenuhi kebutuhan mereka yang belum terpenuhi.
Tujuan khusus yang ingin dicapai konsumen serta perilaku yang mereka ambil untuk mencapai semua kebutuhannya ini, dipilih atas dasar proses berpikir (kesadaran) dan proses belajar sebelumnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pilihan
224
Mowen J.M. dan Minor, Perilaku Konsumen,. (Jakarta:Penerbit Erlangga,. Edisi Konsumen, Jilid I, 2002), h.8
225
Damiani dkk, Perilaku Konsumen, Cetakan Pertama. (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 2017), h. 141 – 147.
226
Philip Kolter dan Gary Amstrong, Prinsip-prinsip Pemasaran. (Jakarta: Penerbit Erlangga, Jilid 1. Edisi ke-1,. 2008), h. 172
227
Schiffman, G.L.,& Kanuk L, Perilaku Konsumen.. (Jakarta: PT. Indeks Edisi Ketujuh, 2007), h. 72
100
pembelian konsumen dapat dipengaruhi oleh faktor psikologis (motivasi) yang muncul karena adanya kebutuhan yang belum terpenuhi, maka kebutuhan yang ada pada setiap individu berubah menjadi motif hingga lebih kuat mendorong individu untuk bertindak dalam mencari kepuasan atas kebutuhannya tersebut.
Motivasi ini terdapat dalam setiap individu yang berguna sebagai kekuatan yang mendorong mereka untuk mencapai tujuan dalam hidup mereka, yang dilakukan baik secara sadar maupun tidak sadar oleh para individu. Pada umumnya teori motivasi di kelompokkan menjadi tiga yaitu teori Freud, Teori Maslow dan Teori Herzberg.228
1) Teori Freud
Teori ini mengasumsikan bahwa kekuatan psikologis yang membentuk perilaku manusia sebagian besar tidak disadari dan bahwa seseorang tidak dapat sepenuhnya memahami motivasi dirinya. Ketika seseorang mengamati merek-merek tertentu, akan bereaksi tidak hanya pada kemampuan yang terlibat nyata pada merek-merek tersebut, melainkan juga pada petunjuk lain yang samar. Wujud, ukuran, berat bahan, warna dan nama merek dapat memicu asosiasi (arah pemikiran) dan emosi tertentu.
2) Teori Abraham Maslow
Teori ini menyatakan bahwa kebutuhan manusia tersusun dalam hierarki dari yang paling mendesak sampai yang paling kurang mendesak. Berdasarkan urutan tingkat
kepentingannya, kebutuhankebutuhan tersebut adalah
kebutuhan fisik, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial,
228
Philip Kolter dan Kevin Lane Keller, Alih Bahasa: Benyamin Molan.
Manajemen Pemasaran. (Jakarta: PT. Indeks Jilid 1. Edisi ke-12. Cet ke-4, 2009), h.
101
kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri. Orang akan berusaha memuaskan dulu kebutuhan mereka yang paling penting. Jika seseorang berhasil memuaskan kebutuhan yang penting, kemudian dia akan berusaha memuaskan kebutuhan yang terpenting berikutnya.
3) Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)
Teori ini menyatakan bahwa terdapat dua faktor yang membedakan dissatisfiers (faktor-faktor yang menyebabkan ketidakpuasan) dan satisfiers (faktor-faktor yang menyebabkan kepuasan). Tidak hanya dissatisfiers saja tidak cukup, sebaliknya satisfiers harus ada secara aktif untuk memotivasi pembelian. Teori Herzberg memiliki dua implikasi. Pertama, para penjual harus berusaha sebaik-baiknya menghindari dissatisfiers. Walaupun tidak menyebabkan lakunya produk tersebut tidak terjual. Kedua, para pabrikan harus mengidentifikasi satisfiers atau motivator utama pembelian di pasar dan kemudian menyediakan faktor satisfiers itu. Satisfiers itu akan menghasilkan perbedaan besar terhadap merek apa yang dibeli pelanggan.
Menurut Engel, Blackwell dan Miniard faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi konsumen terhadap keputusan pembelian meliputi produk, harga, pelayanan dan lokasi.229 Menurut Kotler bauran pemasaran adalah seperangkat taktik pemasaran yang dapat dikontrol meliputi produk, harga, tempat dan promosi yang dipadukan perusahaan untuk menciptakan respon dari target marketnya. Bauran pemasaran juga dikenal dengan 4P. Menurut Kotler & Amstrong230 4P didefenisikan:
a. Produk (product)
229
Engel, F.J., R.D Blackwell dan P.W Miniard, Perilaku Konsumen. Terjemahan oleh F.X Budianto (Jakarta: Binarupa Aksara, . Jilid 2, 1995).
230
Philip Kolter dan Gary Amstrong, Prinsip-prinsip Pemasaran, (Jakarta:PT Indeks), h. 48.
102
Produk adalah kombinasi benda atau jasa dari perusahaan yang ditawarkan ke target pasar untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan. Produk secara luas meliputi desain, merek, hak paten, positioning, dan pengembangan produk baru.
b. Harga (Price)
Harga adalah sejumlah uang yang harus dikeluarkan konsumen untuk mendapatkan suatu produk atau jasa. Harga juga merupakan pesan yang menunjukkan bagaimana suatu brand memposisikan dirinya di pasar.
c. Distribusi (Place)
Distribusi meliputi aktivitas perusahaan dalam membuat produknya tersedia di target pasar, strategi pemilihan tempat meliputi transportasi, pergudangan, pengaturan persediaan, dan cara pemesanan bagi konsumen.
d. Promosi (Promotion)
Promosi adalah aktivitas perusahaan untuk mengkomunikasikan produk dan jasanya dan mempengaruhi target konsumen untuk membeli. Kegiatan promosi antara lain, iklan, personal selling, promosi penjualan, dan public relation.
Dalam Al-Quran terdapat firman Allah tentang motivasi:
ۡيَدَي ِ ۡينَب ۢنِ م ّٞتَٰ َبِ قَعُم ۥُلََ
اَم ُ ِ يَّغُي لَ َ َّللَّٱ َّنِإ ِۗ َّللَّٱ ِرۡمَ َأ ۡنِم ۥُهَنو ُظَفۡ َيَ ۦِهِفۡلَخ ۡنِمَو ِه
ِ م مُهَل اَمَو ۚۥُلَ َّدَرَم َلَٗف اٗءٓوُس ٖمۡوَقِب ُ َّللَّٱ َداَرَ َأ ٓاَذوَإِ ۗۡمِهِسُفنَأِب اَم ْاوُ ِ يَّغُي َٰ َّتَِح ٍمۡوَقِب
ن
ٍلاَو نِم ۦِهِنوُد
011. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan103
terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.231
Dari ayat di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ternyata motivasi yang paling kuat adalah dari diri seseorang. Motivasi sangat berpengaruh dalam gerak gerik seseorang dalam setiap tindak tanduknya. Termasuk perihal makanan yang akan dikonsumsi. Dalam kaitannya dengan sikap konsumen terhadap makanan halal tersebut penting untuk dibicarakan dalam rangka mengetahui apa sebenarnya latar belakang suatu tingkah laku keagamaan yang dikerjakan seseorang.