• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karya Tulis/Karya Ilmiah

B. Indikator untuk Pencapaian Kompetens

1. Mengidentifikasi konsep penelitian, pendekatan penelitian, jenis penelitian, metode penelitian dalam bidang pendidikan formal dan/atau kepengawasan.

2. Merumuskan masalah penelitian. 3. Menjelaskan penelitian tindakan kelas. 4. Menjelaskan penelitian tindakan sekolah. 5. Menjelaskan penelitian eksperimen 6. Menjelaskan penelitian evaluatif. 7. Menjelaskan best practice.

8. Menguraikan langkah penyusunan laporan hasil penelitian. 9. Menjelaskan penyusunan bahan publikasi hasil penelitian.

Modul Pengembangan Profesi | 24 C. Materi Pembelajaran

Konsep Penelitian

Rasa ingin tahu merupakan salah satu sifat dasar yang dimiliki manusia. Sifat tersebut akan mendorong manusia bertanya untuk mendapatkan pengetahuan. Setiap manusia yang berakal sehat tentu memiliki pengetahuan, baik berupa fakta, konsep, prinsip, maupun prosedur tentang suatu objek. Pengetahuan dapat dimiliki berkat adanya pengalaman atau melalui interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Secara universal, terdapat tiga jenis pengetahuan yang selama ini mendasari kehidupan manusia yaitu: (1) logika yang dapat membedakan antara benar dan salah; (2) etika yang dapat membedakan antara baik dan buruk; serta (3) estetika yang dapat membedakan antara indah dan buruk. Kepekaan indra yang dimiliki merupakan modal dasar dalam memperoleh pengetahuan tersebut.

Para ahli menyatakan bahwa penelitian merupakan rangkaian kegiatan ilmiah yang sistematis untuk menemukan jawaban yang mendekati kebenaran mengenai permasalahan atas dasar penalaran yang rasional dan logis, serta adanya dukungan dari fakta empiris. Menurut Kerlinger (1973) dan Sujarweni (2014), penelitian merupakan proses penemuan yang mempunyai karakteristik sistematis, terkontrol, empiris, dan mendasarkan pada teori dan hipotesis atau jawaban sementara. Dengan demikian, penelitian adalah kegiatan yang dilakukan secara sistematis melalui proses pengumpulan data, pengolahan data, dan penarikan kesimpulan

Modul Pengembangan Profesi | 25 berdasarkan data dengan menggunakan metode dan teknik penelitian tertentu.

Penelitian pendidikan dilakukan untuk mengembangkan, menemukan dan menguji atas kebenaran dari suatu konsep, prinsip, pengetahuan dan mengenai pendidikan secara umum. Pada hakikatnya penelitian pendidikan merupakan cara untuk memperoleh informasi yang bisa dipertanggungjawabkan sebagai upaya untuk memahami proses kependidikan.

Penelitian merupakan langkah sistematis dalam upaya memecahkan masalah. Penelitian juga merupakan penelaahan terkendali yang mengandung dua hal pokok, yaitu logika berpikir dan data atau informasi yang dikumpulkan secara empiris. Logika berpikir tampak dalam langkah-langkah sistematis mulai dari pengumpulan, pengolahan, analisis, penafsiran dan pengujian hipotesis sampai diperolehnya kesimpulan. Informasi dikatakan empiris jika sumber data menggambarkan fakta yang terjadi bukan sekadar pemikiran atau rekayasa peneliti. Penelitian menggabungkan cara berpikir rasional yang didasari oleh logika/penalaran dan cara berpikir empiris yang didasari oleh fakta/ realita.

Penelitian sebagai upaya untuk memperoleh kebenaran harus didasari oleh proses berpikir ilmiah yang dituangkan dalam metode ilmiah. Metode ilmiah adalah kerangka landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah. Penelitian yang dilakukan menggunakan

Modul Pengembangan Profesi | 26 metode ilmiah mengandung dua unsur penting yakni pengamatan (observation) dan penalaran (reasoning). Metode ilmiah didasari oleh pemikiran bahwa apabila suatu pernyataan ingin diterima sebagai suatu kebenaran maka pernyataan tersebut harus dapat diverifikasi atau diuji kebenarannya secara empirik. Terdapat empat langkah pokok metode ilmiah yang akan mendasari langkah- langkah penelitian yaitu:

(1) Merumuskan masalah; mengajukan pertanyaan untuk dicari jawabannya. Tanpa adanya masalah tidak akan terjadi penelitian karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah. Rumusan masalah penelitian pada umumnya diajukan dalam bentuk pertanyaan. Contoh rumusan masalah: “Apa yang dilakukan sekolah agar dapat mengembangkan minat dan bakat dari peserta didik?”, “Bagaimana cara agar siswa dapat mengeksplorasi bakat dan minat dengan melestarikan kebudayaan nasional?’, dan lain-lain.

(2) Mengajukan hipotesis; mengemukakan jawaban sementara (masih bersifat dugaan) atas pertanyaan yang diajukan sebelumnya. Hipotesis penelitian dapat diperoleh dengan mengkaji berbagai teori berkaitan dengan bidang ilmu yang dijadikan dasar dalam perumusan masalah. Peneliti menelusuri berbagai konsep, prinsip, generalisasi dari sejumlah literatur, jurnal dan sumber lain berkaitan dengan masalah yang diteliti. Kajian terhadap teori merupakan dasar dalam merumuskan kerangka pikir sehingga dapat diajukan hipotesis sebagai alternatif jawaban atas masalah.

Modul Pengembangan Profesi | 27 (3) Verifikasi data; mengumpulkan data secara empiris kemudian mengolah dan menganalisis data untuk menguji kebenaran hipotesis. Jenis data yang diperlukan diarahkan oleh makna yang tersirat dalam rumusan hipotesis. Data empiris yang diperlukan adalah data yang dapat digunakan untuk menguji hipotesis. Dalam hal ini, peneliti harus menentukan jenis data, dari mana data diperoleh, serta teknik untuk memperoleh data. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis dengan cara-cara tertentu yang memenuhi kesahihan dan keterandalan sebagai bahan untuk menguji hipotesis.

(4) Menarik kesimpulan; menentukan jawaban-jawaban definitif atas setiap pertanyaan yang diajukan (menerima atau menolak hipotesis). Hasil uji hipotesis adalah temuan penelitian atau hasil penelitian. Temuan penelitian dibahas dan disintesiskan kemudian disimpulkan. Kesimpulan merupakan jawaban atas rumusan masalah penelitian yang disusun dalam bentuk proposisi atau pernyataan yang telah teruji kebenarannya.

Modul Pengembangan Profesi | 28 Gambar 2. Langkah-langkah Penelitian

Untuk mendapatkan kebenaran ilmiah, penelitian harus mengandung unsur keilmuan dalam aktivitasnya. Penelitian yang dilaksanakan secara ilmiah berarti kegiatan penelitian didasarkan pada karakeristik keilmuan yaitu:

(1) Rasional, penyelidikan ilmiah adalah sesuatu yang masuk akal dan terjangkau oleh penalaran manusia.

(2) Empiris, menggunakan cara-cara tertentu yang dapat diamati orang lain dengan menggunakan panca indera manusia.

(3) Sistematis, menggunakan proses dengan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis.

Modul Pengembangan Profesi | 29 Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian dibedakan menjadi penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Kedua pendekatan tersebut memiliki asumsi, tujuan, karakteristik, dan prosedur yang berbeda. Namun demikian, permasalahannya tidak terletak pada keunggulan atau kelemahan setiap pendekatan, tetapi sejauh mana peneliti mampu bersikap responsif dengan mengembangkan desain yang tepat untuk penelitiannya.

a. Pendekatan Penelitian Kuantitatif

Pendekatan penelitian kuantitatif biasanya bersifat spesifik, jelas, rinci serta bertujuan untuk menguji teori dengan menggunakan teknik pengumpulan data kuesioner, observasi dan wawancara terstruktur serta menggunakan instrumen penelitian tes maupun angket. Penelitian kuantitatif bersifat spesifik, jelas, rinci dan bertujuan untuk menguji teori dengan menggunakan teknik pengumpulan data kuesioner, angket, tes dan observasi.

b. Pendekatan Penelitian Kualitatif

Pendekatan penelitian kualitatif biasanya bersifat umum. Pendekatan penelitian kualitatif berfokus pada penemuan teori, menggambarkan realitas yang kompleks, dan untuk memperoleh pemahaman makna dengan menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi serta peneliti sebagai

Modul Pengembangan Profesi | 30 instrumen. Tabel 5 disajikan perbedaan karakteristik penelitian kualitatif dan pendekatan kuantitatif.

Tabel 5. Perbedaan Karakteristik Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Aspek Kuantitatif Kualitatif

Desain  Spesifik, jelas, terinci

 Ditentukan secara mantap sejak awal

 Menjadi pegangan langkah demi langkah

 Umum

 Fleksibel

 Berkembang, tampil dalam proses penelitian

Tujuan  Menunjukkan hubungan antar variabel

 Menguji teori

 Mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif

 Memperoleh pemahaman makna  Mengembangkan teori  Menggambarkan realitas yang kompleks Teknik Penelitian  Eksperimen, survey, observasi berstruktur  Wawancara berstruktur  Observasi, participant observation  Wawancara terbuka Instrumen Penelitian

 Tes, angket, wawancara, skala

 Komputer, Kalkulator

Human Instrument  Buku catatan

Recording

Data  Dalam bentuk angka/ kuantitatif  Hasil pengukuran berdasarkan variabel yang dioperasionalkan dengan menggunakan instrumen  Deskriptif, dalam bentuk tulisan  Dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan responden, dokumen, dll. Sampel  Besar  Representatif

 Sedapat mungkin random

 Kecil

 Tidak representatif

 Purposif Analisis  Pada taraf akhir setelah

pengumpulan data selesai

 Deduktif

 Menggunakan statistik

 Terus menerus sejak awal sampai akhir penelitian

Modul Pengembangan Profesi | 31

Aspek Kuantitatif Kualitatif

 Mencari pola, model, tema

Hubungan dengan responden

 Berjarak, sering tanpa kontak langsung

 Hubungan antara peneliti– subjek jangka pendek

 Empati, akrab

 Kedudukan sama, setara

Usulan desain

 Luas dan terinci

 Banyak literatur yang berhubungan dengan masalah

 Prosedur yang spesifik dan terinci langkah-

langkahnya

 Masalah diuraikan dan ditujukan kepada fokus tertentu

 Hipotesis dirumuskan dengan jelas dan ditulis terinci dan lengkap sebelum terjun ke lapangan

 Singkat

 Sedikit literatur

 Pendekatan secara umum

 Masalah yang diduga relevan

 Tidak ada hipotesis

 Fokus penelitian sering ditulis setelah ada data yang dikumpulkan dari lapangan

Sumber: Sugiyono (2015:14)

Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian adalah cara yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian. Pada matriks metodologi di bawah ini memberikan gambaran metodologi penelitian kuantitatif dan kualitatif. Pada matriks tersebut juga diupayakan untuk menggambarkan metodologi untuk empat jenis penelitian yakni penelitian tindakan, penelitian evaluatif, penelitian eksperimen dan korelasional. Hal ini dimaksudkan agar pengguna modul dapat

Modul Pengembangan Profesi | 32 secara langsung menyusun proposal penelitian mengikuti sistematika masing-masing jenis penelitian.

Modul Pengembangan Profesi | 33 Tabel 6. Matriks Metodologi/Metode Penelitian

Modul Pengembangan Profesi | 34 Penelitian Tindakan

Penelitian Tindakan adalah penelitian yang berorientasi pada penerapan tindakan dengan tujuan peningkatan mutu atau pemecahan masalah pada suatu kelompok subjek yang diteliti dan mengamati tingkat keberhasilan atau akibat tindakannya, untuk kemudian diberikan tindakan lanjutan yang bersifat penyempurnaan tindakan atau penyesuaian dengan kondisi dan situasi sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Tindakan ini di kalangan pendidikan dapat diterapkan pada sebuah kelas atau sekolah sehingga sering disebut Penelitian Tindakan Kelas dan Peneltian Tindakan Sekolah. Penelitian tindakan bertujuan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia aktual yang lain. Karakteristik penelitian tindakan kelas: (1) bersifat praktis, (2) ada unsur kolaborasi, (3) guru/kepala

Modul Pengembangan Profesi | 35 sekolah/pengawas sekolah berperan ganda baik sebagai peneliti juga sebagai praktisi.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Penelitian tindakan kelas merupakan serangkaian kegiatan tindakan yang dilakukan di kelas dalam situasi belajar mengajar dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja pembelajaran. Dalam tindakan tersebut ada unsur tindakan yang dilakukan oleh peneliti, ada subjek penelitian yang dikenai tindakan, dan ada kinerja peneliti yang diperbaiki. Penelitian tindakan kelas selalu diawali dengan adanya masalah pembelajaran di kelas. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun penelitian tindakan kelas.

(a) Masalah PTK

Masalah adalah kesenjangan yang terjadi antara kondisi yang seharusnya (ideal) dan kondisi nyata. Misalnya, kondisi ideal yang seharusnya adalah bahwa setiap pendidik berijazah S1. Namun kenyataan yang terjadi di sekolah tidak semua guru berijazah S1. Ini bermaknsa, dalam hal ini ada kesenjangan. Kesenjangan itulah yang disebut masalah (perlu dilengkapi data, fakta) yang merupakan alasan perlunya penelitian. Karakteristik masalah dalam penelitian tindakan kelas adalah adanya kesenjangan yang dirasa oleh guru yang terjadi pada saat pembelajaran berlangsung yang harus segera mendapat penyelesaian.

Modul Pengembangan Profesi | 36 (b) Penentuan alternatif tindakan

Sebelum melakukan penelitian, peneliti harus mencari tahu lebih dahulu penyebab munculnya masalah sebagai arah bagi peneliti dalam mencari alternatif tindakan. Alternatif tindakan dapat berupa penerapan model, pendekatan, strategi, metode maupun teknik pembelajaran tertentu. Peneliti harus memilih dan menentukan salah satu alternatif yang diyakini paling tepat untuk mengatasi masalah yang diteliti. Apabila penyebab masalah telah ditemukan, maka alternatif tindakan pun dapat dilakukan. Penetapan masalah tindakan harus benar-benar dikuasai oleh peneliti. Alternatif tindakan yang dipilih adalah yang paling sesuai dengan penyebab masalah, yang paling dikuasai, dan paling mungkin untuk dilaksanakan.

(c) Judul Penelitian

Judul penelitian dapat dibuat setelah masalah dan alternatif tindakan ditentukan. Untuk membuat judul penelitian tindakan kelas, buatlah rangkaian antara masalah dan tindakan dengan kata penghubung yang tepat.

Contoh:

Masalah yang akan diteliti adalah keterampilan berbicara peserta didik.

Modul Pengembangan Profesi | 37

Judul penelitiannya adalah “Penerapan Metode Diskusi untuk

Meningkatkan Keterampilan Peserta Didik Kelas VII di SMP Negeri Kota Mawar Tahun 2017”.

Rumusan judul harus efektif. Idealnya jumlah kata dalam judul tidak lebih dari 20 kata, mengandung unsur subjek penelitian, masalah yang diteliti, tindakan yang dilakukan, lokasi, dan waktu pelaksanaan penelitian.

(d) Rumusan masalah

Rumusan masalah selalu diungkapkan dalam bentuk kalimat tanya. Idealnya, dalam penelitian tindakan kelas, ada tiga (3) rumusan masalah, yaitu:

1) Berapa nilai sebelum tindakan dilaksanakan?

2) Bagaimana proses tindakan dilaksanakan dalam peningkatan kemampuan siswa?

3) Bagaimana hasil belajar setelah menerapkan model pembelajaran berbasis projek?

Namun demikian, nilai sebelum tindakan diuraikan dalam latar belakang. Dengan demikian, dalam penelitian tindakan lazim digunakan dua kata tanya (apa dan bagaimana). Contoh rumusan masalah yang lain:

1) Apakah penerapan metode diskusi dapat meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik?

Modul Pengembangan Profesi | 38 2) Bagaimana penerapan metode diskusi dalam meningkatkan

keterampilan berbicara peserta didik?

(e) Tujuan penelitian

Tujuan penelitian tindakan adalah untuk memperbaiki kinerja peneliti dan subjek yang diteliti. Masih banyak peneliti yang menuliskan tujuan penelitian untuk melengkapi persyaratan naik pangkat, pemenuhan angka kredit, persyaratan mengikuti lomba guru berprestasi, dll. Tujuan tersebut tentu tidak tepat. Karena angka kredit, naik pangkat, dan lainnya hanyalah sebagai penghargaan karena sudah melakukan penelitian.

(f) Manfaat penelitian

Penelitian tindakan kelas bermanfaat bagi peneliti khusunya guru dalam kreativitas mengembangkan tindakan-tindakan kuratif yang efektif dalam pembelajaran. Selain itu penelitian ini juga bermanfaat bagi subjek yang diberi tindakan dalam penelitian, dalam hal ini adalah peserta didik, misalnya lebih termotivasi dalam belajar ketika mendapat perlakuan (tindakan reflektif) dari peneliti. Sekolah pun menerima manfaat, misalnya meningkatnya kualitas layanan pembelajaran yang dilakukan guru.

(g) Penyusunan kerangka teori

Penelitian tindakan kelas bersifat ilmiah. Karena ilmiah, maka peneliti harus berbekal teori. Teori yang diangkat dalam penelitian tindakan kelas harus relevan dengan masalah dan tindakan yang

Modul Pengembangan Profesi | 39 diangkat dalam penelitian. Kumpulkan teori-teori yang relevan tersebut, baik yang berasal dari sumber primer (buletin penelitian, jurnal penelitian, laporan hasil penelitian, warta penelitian, dll) maupun sumber sekunder (ensiklopedi, handbook, telaah hasil penelitian, media non-cetak atau elektronik, dll) untuk dinilai kualitasnya. Agar dapat menilai kualitas kutipan, upayakan dapat membaca sumber primer dari penulis aslinya sebagai sumber pustaka. Hal-hal yang perlu diuraikan dalam kerangka teori adalah: (1) Deskripsi teoretis (teori yang berhubungan dengan keterampilan berbicara: pengertian tentang keterampilan berbicara, unsur pendukung keterampilan berbicara, teknik penilaian keterampilan berbicara. Sedangkan teori yang berhubungan dengan metode diskusi: pengertian, fungsi, jenis, metode, unsur-unsur, langkah-langkah diskusi, keunggulan metode diskusi, dan penilaian dalam metode diskusi.

(2) Sintesis teori (kesimpulan dari uraian teori tsb). (3) Kajian hasil penelitian terdahulu (yang relevan).

(4) Kerangka pikir berisi hipotesis tindakan yang mengaitkan antara penerapan metode diskusi dan peningkatan keterampilan berbicara peserta didik.

(h) Tahapan siklus

Salah satu ciri khas penelitian tindakan kelas adalah adanya siklus dalam tahapan penelitian. Setiap Penelitian tindakan kelas minimal dua siklus. Menurut Suharsimi (2007), setiap siklus terdiri atas 4 tahapan, yaitu:

Modul Pengembangan Profesi | 40 (1) Tahapan perencanaan (planning)

Berisi uraian tentang hal-hal yang dilakukan peneliti sebelum Penelitian Tindakan Kelas dilaksanaan. Misalnya: penyusunan proposal/rancangan Penelitian Tindakan Kelas, penyiapan RPP, penentuan kolaborator, penyiapan instrumen dan jadwal pelaksanan Penelitian Tindakan Kelas.

(2) Tahapan pelaksanaan dan pengamatan (acting)

Peneliti menerapkan tindakan sesuai dengan langkah-langkah pemilihan tindakan yang dirancang yang telah disusun dalam rencana pelaksanaan pembelajaran.

(3) Tahapan pengamatan (observing)

Bersamaan dengan kegiatan tersebut (setelah tindakan dilakukan, jika melalui rekaman), peneliti dan kolaborator mengamati palaksanaan penerapan tindakan menggunakan instrumen yang telah disiapkan. Selain itu, baik peneliti maupun kolaborator juga mencatat hal-hal penting yang terjadi selama tindakan berlangsung. Misalnya, bagaimana suasana belajar, bagaimana reaksi subjek penelitian terhadap tindakan yang dilakukan peneliti, dan hal lain yang perlu untuk dicatat terutama yang berkaitan dengan perubahan keterampilan berbicara peserta didik (sesuai dengan pokok masalah yang ingin ditingkatkan oleh peneliti). Hal ini penting karena sangat berguna untuk menentukan tindak lanjut yang akan dilakukan pada siklus berikutnya.

Modul Pengembangan Profesi | 41 (4) Tahapan refleksi (reflecting)

Tahapan ini diisi dengan temu muka antara peneliti dengan kolaborator. Kegiatan yang dilakukan adalah mendiskusikan hasil temuan selama pengamatan berlangsung baik yang ditemukan oleh peneliti maupun kolaborator. Bahkan penting juga untuk mengambil data dari hasil testimoni subjek penelitian. Berdasar dari tiga sumber (triangulasi data) tersebut, didiskusikan oleh peneliti dan kolaborator guna menentukan tindak lanjut pada siklus berikutnya. Gambaran siklus penelitian tindakan kelas tampak sebagai berikut.

Gambar 3. Siklus Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS)

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) adalah penelitian yang dilaksanakan oleh pengawas atau kepala sekolah, dilakukan di sekolah agar pengawas atau kepala sekolah dapat lebih profesional terhadap pekerjaannya, dapat memperbaiki praktik-praktik kerja, melakukan inovasi sekolah serta mengembangkan ilmu pengetahuan terapan (professional knowledge). Berdasarkan definisi tersebut, maka ciri utama penelitian tindakan sekolah

Modul Pengembangan Profesi | 42 adalah melakukan tindakan nyata untuk memperbaiki situasi atau melakukan inovasi sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran sehingga menyelesaikan masalah. Tindakan itu dilakukan pada situasi alami (pada keadaan yang sebenarnya) dan ditujukan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan praktis dalam peningkatan mutu proses dan hasil kepengawasan.

1) Tujuan PTS

Setiap penelitian tentu saja memiliki tujuan untuk memecahkan suatu masalah. Adapun tujuan penelitian tindakan sekolah antara lain untuk:

(a) memperbaiki kondisi sekolah;

(b) meningkatkan mutu input, proses, dan output sekolah; (c) mengembangkan inovasi input, proses, dan output sekolah; (d) meningkatkan kinerja kepengawasan;

(e) meningkatkan kinerja sekolah yang terkait dengan mutu, inovasi, keefektifan, efisiensi, dan produkivitas sekolah;

(f) meningkatkan kemampuan profesional pengawas sekolah; (g) menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan

sekolah; dan

(h) mengembangkan ilmu terapan/praktis.

Modul Pengembangan Profesi | 43 Setiap penelitian memiliki karakteristik yang berbeda. Karakteristik penelitian tindakan sekolah yang dilakukan oleh pengawas sekolah antara lain:

(a) Adanya tindakan nyata untuk menyelesaikan masalah.

(b) Bersifat kualitatif, meskipun dapat menggunakan data kuantitatif.

(c) Didasarkan pada masalah atau tantangan nyata yang dihadapi pengawas sekolah.

(d) Ada perubahan yang positif pada pengawas sekolah dan sekolah binaannya.

(e) Dilakukan secara kolaboratif antara peneliti bersama warga sekolah baik guru, tenaga kependidikan, siswa, maupun pihak- pihak lain yang terkait.

(f) Peneliti juga bertindak sebagai praktisi yang melakukan refleksi.

(g) Setiap siklus memiliki lima tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan evaluasi, serta refleksi.

(h) Jumlah siklus tergantung pencapaian tujuan penelitian tindakan sekolah, minimal dua siklus. Jika dua siklus belum mencapai tujuan, maka dapat dilanjutkan pada siklus ke tiga, dan seterusnya.

Modul Pengembangan Profesi | 44 Ketika melaksanakan penelitian tindakan sekolah, seorang pengawas sekolah perlu memperhatikan etika antara lain sebagai berikut.

(a) Bersikap jujur, tidak fiktif, tidak mengubah data, dan menuliskan semua sumber referensi yang dikutip dengan sebenarnya.

(b) Meminta izin kepada orang-orang yang diteliti.

(c) Menjamin kerahasiaan data responden yang diteliti.

(d) Tidak mengganggu tugas pokok dan fungsi sebagai pengawas sekolah.

(e) Tidak mengganggu proses pembelajaran, tugas mengajar guru/ kepala sekolah dan kegiatan pendidikan yang sedang berlangsung di sekolah.

(f) Tidak menyita waktu dalam pengambilan data.

4) Kesalahan pembuatan PTS

Perencanaan, pelaksanaan maupun penyusunan laporan penelitian tindakan sekolah, masih banyak terjadi kesalahan. Kesalahan- kesalahan tersebut masih sering terjadi disebabkan kurangnya pemahanan peneliti tentang konsep maupun metodologi penelitian tindakan sekolah, terbatasnya referensi maupun contoh yang digunakan dalam penyusunan penelitian tindakan sekolah, ataupun

Modul Pengembangan Profesi | 45 karena kelalaian. Berikut ini disajikan contoh beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam pembuatan penelitian tindakan sekolah.

Menggunakan organisasi bukan tindakan Contoh:

“MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU

MENENTUKAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL MAPEL X MELALUI MGMP/KKG DI SEKOLAH BINAAN” (bukan tindakan tapi tugas pokok)

Seharusnya:

“MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU

MENENTUKAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL MAPEL X MELALUI PELATIHAN DI MGMP/KKG DI SEKOLAH BINAAN” (misalnya, jadi tindakannya PELATIHAN)”

Judul dan isi tidak ada tindakannya atau tidak jelas tindakannya

Contoh:

“MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU BAHASA INDONESIA MEMILIH MATERI PELAJARAN MELALUI SUPERVISI AKADEMIK

DI SEKOLAH BINAAN” (bukan tindakan tapi tugas pokok)

Seharusnya:

“MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU BAHASA INDONESIA

MEMILIH MATERI PELAJARAN MELALUI WORKSHOP DALAM PELAKSANAAN SUPERVISI AKADEMIK DI SEKOLAH BINAAN (misalnya, tindakannya WORKSHOP)”

Modul Pengembangan Profesi | 46 PTS rasa PTK

Contoh:

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU KELAS VI MENERAPKAN MODEL BELAJAR STAD PADA PEMBELAJARAN IPA MATERI PERKEMBANGAN MAKHLUK HIDUP DI 10 SD BINAAN UDPK KECAMATAN KARANGAN KABUPATEN TRENGGALEK SEMESTER 1 TAHUN 2017/2018 (Subyek yang ditampilkan dalam PTS hanya 1 guru dalam mengajar semua yang dilampirkan hasil kerja siswa PADAHAL PTS SASARAN TIDAK BOLEH SISWA)

Seharusnya:

“PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU KELAS VI MENERAPKAN

MODEL BELAJAR STAD PADA PEMBELAJARAN IPA MATERI PERKEMBANGAN MAKHLUK HIDUP MELALUI PEER TEACHING/

PELATIHAN/….DI 10 SD BINAAN UDPK KECAMATAN KARANGAN

KABUPATEN TRENGGALEK SEMESTER 1 TAHUN 2017/2018(Subyek yang diteliti 10 guru dan yang dihitung hasil kerja guru dalam unjuk kerja mengajar menggunakan STAD)

a. Data yang dianalisis bukan hasil yang diteliti tapi hasil observasi (kesalahan fatal dan aneh)

(1) Harusnya yang dihitung di siklus I dan siklus II adalah hasil pekerjaan yang diteliti bukan hasil observasi pengawas atau format- format yang dicentang oleh pengawas itu sendiri

(2) harusnya data yang dihitung adalah hasil kerja yang diteliti misalnya

MENINGKATKAN KEMAMPUAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENYUSUN EDS MELALUI PELATIHAN DI SEKOLAH BINAAN

( data yang dihitung di siklus I dan II adalah EDS yang disusun oleh kepala sekolah dinilai sesuai indikator atau format baru hasilnya dihitung).

b. Materi yang dilakukan dalam tindakan tidak dilampirkan c. Contoh hasil kerja dari yang diteliti tidak dilampirkan d. Instrumen yang dilampirkan masih instrumen kosong e. Kesalahan metodologis:

Dokumen terkait