• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indonesia Economy in

Dalam dokumen Part I (Halaman 30-33)

Selama tahun 2013 indikator makro ekonomi Indonesia menunjukan fundamental ekonomi yang melambat. Nilai tukar rupiah terhadap USD melemah dibandingkan dengan tahun 2012 seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,8%.

Nilai Tukar

Nilai tukar USD pada tahun 2013 mengalami pelemahan sebesar 2.500 nilai dasar dari Rp. 9.670 / 1 USD pada akhir tahun 2012 menjadi Rp. 12.170 / 1 USD pada akhir tahun 2013. Secara fundamental nilai tukar rupiah terdepresiasi karena pengaruh faktor pelemahan pertumbuhan ekonomi yang bersumber dari investasi yang melambat sejak awal tahun akibat menurunnya persepsi keyakinan pelaku bisnis terhadap perlambatan ekonomi. Sementara ekspor masih tumbuh terbatas sejalan dengan masih lemahnya pertumbuhan ekonomi dunia dan penurunan harga komoditas global. Sebaliknya, konsumsi masih tumbuh stabil dan tidak banyak terpengaruh oleh kondisi global, serta masih menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi.

Tingkat Inflasi

Inflasi pada tahun 2013 mencapai 8,4%, lebih tinggi dari inflasi 2012 sebesar 4,3%, dan jauh di atas kisaran sasaran inflasi 4,5%±1%. Berdasarkan regional, kenaikan inflasi tahun 2013 tercatat tertinggi di kawasan Sumatera dipengaruhi tingginya inflasi volatile food dan inflasi

administered price, sedangkan inflasi inti tercatat rendah.

Suku Bunga

Tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) dipertahankan pada level 7,50% di tahun 2013 Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mengatur tingkat inflasi sesuai kisaran target.

Kondisi Sektor Perbankan

Kinerja industri perbankan, sebagai bagian dari sektor keuangan Indonesia, tetap solid dengan risiko kredit, likuiditas dan pasar yang cukup terjaga. Stabilitas sistem keuangan didukung oleh kinerja perbankan yang positif baik dari sisi fungsi intermediasi perbankan maupun

During 2013 Indonesia’s macroeconomic

indicators, in general, showed slows economic fundamentals. The exchange rate of IDR against USD was weakens maintained, and Indonesia experienced 5.8% in economic growth.

Exchange Rate

The USD exchange rate in year 2013 was fell against IDR by 2,500 basis points from Rp. 9,670 / 1 USD at the end year 2012 to become Rp. 12,170 / 1 USD at the end of year 2013. Fundamentally, the IDR is significantly depreciated due to the moderation in economy mainly derived from investments that fell since the beginning of the year due to the declining businesses confidence towards a perceived economic slowdown. Meanwhile, export growth continued to be fairly limited in line with the weak global economic growth and a decline in global commodity prices. On the other hand, consumption continues to register stable growth and was not much affected by global conditions, as it is still the main engine for economic growth.

Inflation Rate

Inflation in 2013 reached 8.4%, higher than the 2012 inflation of 4.3%, and was well above the inflation target range of 4.5±1%. Sumatera is the region with the highest level of inflation in 2013, which was due to high level of volatile food and administered price inflation.

Interest Rate

The BI reference interest rate was maintained at level 7.50% in 2013. The policy is inline with the fiscal policy to stabilize and to control inflation rate within its target range.

Banking Sector Condition

Banking sector, as a part of Indonesia’s financial sector, performed solidly while well maintaining credit, liquidity and market risks. Financial system stability was supported by positive performance of the banking sector, both in terms of its intermediary

efisiensi.

Secara keseluruhan, industri perbankan yang terdiri dari Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) masih mendominasi struktur sistem keuangan Indonesia. Hal ini terlihat pada peningkatan pangsa pasar total aset industri perbankan terhadap sistem keuangan, yang tercatat sebesar 78,8%, meningkat dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 77,9%. Peningkatan total aset didukung oleh perluasan

jaringan usaha Bank, meskipun jumlah Bank Umum masih tetap sebesar 120 bank, dengan komposisi 109 Bank Umum Konvensional (BUK) dan 11 Bank Umum Syariah (BUS). Perluasan jaringan usaha bank terlihat dari peningkatan jumlah kantor BUK serta BUS dan Unit Usaha Syariah (UUS). Jumlah kantor BUK tercatat sebesar 16.062 kantor, meningkat dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 14.398 kantor. Sementara itu, jumlah kantor BUS dan UUS mencapai 2.492 kantor, meningkat dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 2.227 kantor. Sebaliknya, jumlah BPR pada tahun 2013 mengalami penurunan sebanyak 14 BPR, terkait adanya pencabutan izin usaha (5 BPR) dan merger (17 BPR) yang diikuti dengan pembukaan BPR baru (8 BPR). Pencabutan ijin usaha dan merger beberapa BPR tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan ketahanan industri BPR.

Peran perbankan dalam pembangunan nasional semakin meningkat yang tercermin dari rasio kredit terhadap PDB Indonesia pada 2013 yang tercatat sebesar 36%, meningkat dari tahun 2012 yang sebesar 32%.

Untuk mendukung ekspansi penyaluran kredit, perbankan masih mengandalkan DPK sebagai sumber utama pembiayaan kredit. DPK pada tahun 2013 tercatat sebesar Rp3.526,2 triliun atau tumbuh sebesar 13,6%, melambat dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 15,8% Peningkatan tertinggi terjadi pada giro dan deposito yang disebabkan terjadinya pergesaran dana masyarakat dari tabungan ke deposito sebagai dampak dari kebijakan moneter yang lebih ketat.

Peningkatan kredit yang tidak ditopang oleh peningkatan DPK telah mendorong Perbankan untuk mencairkan alat likuidnya. Pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan DPK juga diikuti selisih nominal ekspansi kredit yang lebih besar dibandingkan selisih nominal pertambahan DPK. Hal ini menyebabkan rasio Loan to

Deposit Ratio (LDR) meningkat dari 83,8% (2012)

menjadi 89,9%.

Dari sisi profitabilitas, perbankan mencatat pertumbuhan laba yang positif dan Return on Assets (ROA) yang masih terjaga pada kisaran 3% (Grafik 8.10). Rata-rata laba

function as well as its efficiency.

Overall, the banking industry, which comprises commercial banks and rural banks (BPR), continues to dominate Indonesia’s financial market structure. It is reflected in the growth of banking sector market share as a percentage of the financial system total assets, which stood at 78.8%, an increase from 77.9% in 20121. The increase in total

assets was supported by the expansion of banking network, while the number of commercial banks remained at 120 banks, comprising 109 Conventional Commercial Banks (BUK) and 11 Islamic Banks (BUS)2. This expanding network is

evident from the increase in the number of BUK branches as well as BUS and Islamic Business Unit (UUS) branches. The number of BUK branches stood at 16,062 branches, an increase from 2012 which stood at 14,398 branches. Meanwhile, the number of BUS and UUS branches stood at 2,492, an increase from 2,227 branches in 2012. In contrast, the number of rural banks at the end of 2013 declined by 14 rural banks, resulting from revocation of banking licenses (5 rural banks) and mergers (17 rural banks), followed by the opening of new rural banks (8 rural banks). Revocation of banking licenses and mergers of several rural banks were carried out in order to improve the resilience of the Rural Banks industry.

Banking role in national economic development intensified, as reflected in Indonesia’s bank loan-to- GDP ratio at the end of 2013 which stood at 36%, higher than 32% in 2012.

To support lending growth, banks continued to rely on Third Party Funds (TPF) as the main funding source. TPF at the end of 2013 amounted to Rp3,526.2 trillion, growing 13.6% year-on-year, which was slower than its annual growth of 15.8% at the end of 2012 The highest growth occurred within checking accounts and term deposits as a result of a shift in funding allocation from savings to term deposits due to tighter monetary policy. Increase in lending which were not supported by an increase in TPF has prompted banks to liquidate their liquid assets. Relatively higher lending growth compared to TPF growth was also shown in the relatively higher nominal increase of loan growth compared to nominal increase of TPF. These then pushed the Loan-to-Deposit Ratio (LDR) to 89.9% (2013) from 83.8% (2012).

In terms of profitability, banks registered positive earnings growth and maintained Return on Assets (ROA) within the range of 3% (Chart 8.10). The

bersih per bulan industri perbankan mengalami peningkatan dari Rp7,74 triliun pada 2012 menjadi Rp8,9 triliun. Net Interest Margin (NIM) 2013 menjadi sebesar 4,9%, lebih rendah dari tahun 2012 yang sebesar 5,5%. Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) membaik. Rasio BOPO tercatat sebesar 74,0%, membaik dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 74,2% Dari sisi permodalan, ketahanan perbankan nasional semakin meningkat di tengah tekanan perlambatan ekonomi. Hal ini tercermin dari modal bank umum konvensional pada tahun 2013 yang tercatat sebesar Rp643,4 triliun, meningkat dari tahun 2012 yang sebesar Rp496,8 triliun. Capital Adequacy Ratio (CAR) pada tahun 2013 sebesar 18,4%, juga meningkat dari tahun 2012 yang sebesar 17,3%.

Risiko kredit industri perbankan secara umum juga tetap terjaga. Hal ini tercermin dari masih terkendalinya rasio

Non Performing Loan (NPL) gross industri perbankan pada 2013 yang hanya mencapai 1,77%, menurun dibandingkan NPL 2012 yang sebesar 1,87%. Penurunan NPL disebabkan perbankan semakin meningkatkan aspek kehati-hatian dalam penyaluran kredit, di tengah melemahnya pertumbuhan ekonomi, kenaikan inflasi dan depresiasi nilai tukar.

banking industry average monthly net profit increased from Rp7.74 trillion in 2012 to Rp8.9 trillion. Net Interest Margin (NIM) ratio for 2013 to 4.9%, lower than its level of 5.5% for 2012. The ratio of operating expenses to operating revenue had improved. The ratio stood at 74.0% in 2013, better than 74.2% in 2012.

From the capital aspect, domestic banking sector resilience improved amidst pressures brought about by the economic slowdown. This was reflected in bank capital that stood at Rp643.4 trillion in 2013, higher than Rp496.8 trillion in 2012. The Capital Adequacy Ratio (CAR) in 2013 was 18.4%, higher than 17.3% in 2012.

The credit risk of banks was generally also well maintained. This is reflected in the banking industry gross NPL ratio in 2013 which was 1.77%, lower than the NPL in 2012 which was 1.87% (Chart 8.13). The decline in NPL was the result of banks intensive application of prudential policy for lending, amidst weak economic growth, rising inflation, and depreciating exchange rate.

Dalam dokumen Part I (Halaman 30-33)

Dokumen terkait