HASIL DAN PEMBAHASAN
Percobaan 1 Induksi Proliferasi PLB Persentase Kontaminasi
Total persentase kontaminasi pada percobaan 1 adalah 7.5%. Kontaminasi yang terjadi disebabkan oleh bakteri dan cendawan. Botol kultur yang terkontaminasi masih terjadi sampai 4 MST, hal tersebut diduga karena kondisi ruang kultur yang kurang steril, kesalahan prosedur saat subkutur di Laminar Air Flow, dan proses pencucian alat kultur dan botol yang kurang bersih. Pencucian botol yang kurang bersih dapat menyebabkan kontaminasi masih terjadi sampai 1 atau 2 bulan setelah sterilisasi media.
Persentase PLB Hidup
Pertumbuhan eksplan dalam kultur in vitro sangat dipengaruhi oleh media kultur yang digunakan (George et al. 2007). Jenis media dan kandungan unsur hara yang digunakan sangat berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan (Niedz dan Evans 2007). Kesesuaian eksplan dan media yang digunakan menjadi faktor penting untuk menentukan keberhasilan kultur in vitro tanaman untuk berbagai tujuan (George et al. 2007).
PLB anggrek hasil silangan Phal. gigantea × Phal. violacea yang hidup merupakan PLB yang masih berwarna hijau. PLB yang tidak terkontaminasi mulai menunjukkan pertumbuhan. Pertumbuhan PLB terbagi menjadi 3 yaitu PLB yang tumbuh dengan sangat lambat sehingga tidak mengalami multiplikasi ataupun berkalus, PLB yang mengalami multiplikasi, dan PLB yang berkalus. Persentase PLB yang hidup dari masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 3.
Persentase PLB hidup pada perlakuan media tidak berpengaruh nyata, sedangkan untuk perlakuan ZPT nyata lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan penambahan air kelapa maupun TDZ+BA. Persentase PLB hidup yang tertinggi pada 1 MST adalah pada perlakuan media NPK (18:18:18+EDTA) 80% + TDZ 0.5 ppm + BA 0.5 ppm, sedangkan persentase PLB hidup terendah pada 1 MST adalah pada perlakuan media NPK (18:18:18+EDTA) + air kelapa 100 ml. Persentase PLB hidup umur 1 MST pada percobaan ini cukup rendah, hal tersebut diduga karena pada proses pemisahan PLB pada proses subkultur ke media perlakuan. Proses pemisahan PLB untuk disubkultur ke media perlakuan mengalami kesulitan karena masing-masing PLB sangat rekat sehingga sulit untuk dipisahkan antar satu PLB dengan PLB lainnya. Penggunaan alat tanam yang
10
masih panas juga diduga menjadi faktor penyebab rendahnya persentase PLB hidup pada umur 1 MST.
Hasil analisis statistik pada 2 MST menunjukkan bahwa persentase PLB hidup pada perlakuan media KC 80% sangat nyata lebih tinggi dari media NPK (18:18:18+EDTA) dan perlakuan tanpa ZPT sangat nyata lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan penambahan air kelapa maupun TDZ+BA. Terdapat interaksi antara media dan ZPT pada 2 MST, interaksi terbaik terjadi pada taraf media KC 80% tanpa penambahan ZPT (Tabel 2). Hal tersebut diduga karena konsentrasi ZPT yang berasal dari air kelapa, TDZ dan BA terlalu tinggi, sehingga menekan pertumbuhan PLB anggrek. Hasil penelitian Niknejad (2009) menunjukkan bahwa induksi PLB berhasil dilakukan dengan menambahkan BAP, TDZ, dan kinetin pada konsentrasi masing-masing 0.01, 0.1, dan 0.5 mg l-1.
Persentase PLB hidup pada 2 MST mengalami penurunan. Penurunan persentase PLB hidup terjadi pada semua perlakuan kecuali perlakuan media KC 80% tanpa penambahan ZPT. Sebagian besar PLB pada masing-masing perlakuan mengalami perubahan warna menjadi kecoklatan atau hitam. Hal tersebut diduga karena adanya akumulasi senyawa fenolik yang keluar dari PLB akibat pelukaan yang dilakukan pada saat pemisahan PLB untuk disubkultur ke media perlakuan (Gambar 3). Menurut Ling et al. (2007) PLB Phalaenopsis sp. sangat sensitif terhadap pelukaan pada jaringan, sehingga dapat mengakibatkan akumulasi senyawa fenolik yang mengakibatkan pencoklatan pada jaringan tanaman.
Gambar 3 (A) Akumulasi senyawa fenolik yang muncul di media, (B) PLB yang mencoklat
Tabel 2 Interaksi media dan ZPT terhadap rata-rata persen hidup PLB anggrek silangan Phal.gigantea × Phal.violacea umur 2 MSTa
Media ZPT/air kelapa
Tanpa ZPT Air Kelapa TDZ+BA Rata-rata ---% PLB Hidup--- KC 80% 76.57a 45.71b 35.43b 52.57 NPK (18-18-18+EDTA) 41.14b 33.14b 38.85b 37.71 Rata-rata 58.86 39.43 37.14
aAngka-angka pada baris dan kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada uji Duncan multiple range test (DMRT) pada selang kepercayaan 95%. PLB = Protocorm Like Bodies, ZPT = Zat Pengatur Tumbuh, TDZ = Thidiazuron, BA = Benziladenin, MST= minggu setelah tanam, NPK = Pupuk majemuk yang mengandung unsur N, P dan K. KC 80 % = Knudson C 80 %, EDTA = Asam Etilen diamin tetra asetat.
11 Semua perlakuan pada 3-9 MST mengalami peningkatan persen PLB hidup (Tabel 3). Peningkatan tersebut terjadi karena munculnya PLB-PLB sekunder berwarna hijau pada sisa-sisa PLB yang sudah berwarna coklat (Gambar 4). Munculnya PLB sekunder pada PLB yang sudah berwarna coklat diduga karena adanya pengaruh dari perlakuan ZPT. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa diantara taraf ZPT yang dicobakan, perlakuan tanpa ZPT sangat nyata lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Gambar 4 (A) PLB yang sudah berwarna coklat (B) PLB sekunder yang muncul dari PLB yang sudah berwarna coklat
Persentase Multiplikasi dan Persentase Kalus
Multiplikasi merupakan kemampuan eksplan untuk memperbanyak diri. Hasil percobaan pada PLB anggrek dengan perlakuan media dan ZPT menunjukkan bahwa perlakuan media NPK (18:18:18+EDTA) menghasilkan persentase multiplikasi sangat nyata lebih tinggi dibandingkan dengan media KC 80% (Tabel 4). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa jika dibandingkan dengan media KC 80%, maka media NPK (18:18:18+EDTA) merupakan media terbaik untuk multiplikasi PLB (Gambar 5). Perlakuan penambahan TDZ 0.5 ppm dan BA 0.5 ppm tidak berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pemberian ZPT namun sangat nyata lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan penambahan air kelapa. Hal tersebut mengindikasikan bahwa untuk memperbanyak PLB anggrek silangan antara Phal. gigantea × Phal. violacea tidak perlu dilakukan pada media yang ditambahkan ZPT. Selain itu, prosedur pembuatan media NPK (18:18:18+EDTA) lebih sederhana dibandingkan dengan pembuatan media KC 80%. Penggunaan media NPK (18:18:18+EDTA) mampu menggantikan media KC 80% yang kurang ekonomis.
Gambar 5 (A) dan (B) PLB sekunder yang muncul pada media NPK (18:18:18+EDTA) (C) PLB sekunder yang muncul pada media KC 80%
Tabel 3 Rata-rata persentase hidup PLB anggrek silangan Phal.gigantea × Phal.violacea umur 1-10 MST Perlakuan Umur (MST) a 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Media ---% PLB Hidup---
Media KC 80% 71.00a 52.57a 40.95a 48.38a 47.62a 48.92a 52.92a 53.71a 54.67a 53.33a
Media NPK (18-18-18+EDTA) 67.62a 37.71b 40.19a 49.53a 53.14a 48.57a 52.00a 52.00a 54.48a 54.67a
Uji-F tn ** tn tn tn tn tn tn tn tn
ZPT/air kelapa
Tanpa ZPT 74.00a 58.86a 44.29a 53.71a 58.86a 57.14a 62.29a 62.86a 64.57a 62.57a Air Kelapa 60.00b 39.43b 36.86a 42.86b 42.27b 39.43b 43.14b 42.29c 44.29c 45.43b TDZ+BA 74.00a 37.14b 40.57a 50.27ab 52.00a 49.72a 52.00b 53.30b 54.86b 54.00b
Uji-F ** ** tn * ** ** ** ** ** **
KK (%) 9.02T1 8.68T2 8.88T2 8.60T2 8.75T2 9.10T2 9.05T2 9.16T2 8.92T2 8.84T2
aAngka-angka pada kolom perlakuan media dan ZPT yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada uji Duncan multiple range test
(DMRT) pada selang kepercayaan 95%. PLB = Protocorm Like Bodies, ZPT = Zat Pengatur Tumbuh, MST= minggu setelah tanam, NPK = Pupuk majemuk yang mengandung unsur N, P dan K. KC 80 % = Knudson C 80 %, TDZ = Thidiazuron, BA = Benziladenin, EDTA = Asam Etilen diamin tetra asetat, ppm = part per million, tn= tidak berbeda nyata pada uji Duncan multiple range test (DMRT) pada selang kepercayaan 95%, %, *=berbeda nyata pada uji DMRT selang kepercayaan 95%, **=sangat berbeda nyata pada uji DMRT selang kepercayaan 95%, KK = Koefisien keragaman (T1)= hasil transformasi √� + .5, (T2)= hasil transformasi √� +
2
13 Tabel 4 Rata-rata persentase PLB anggrek silangan Phal.gigantea ×
Phal.violacea pada umur 10 MST
Perlakuan Persentase PLB Hidupa Persentase PLB Mati Persentase PLB TM dan TB Persentase Multiplikasia Persentase Berkalusa 10 MST 10 MST 10 MST 10 MST 10 MST Media ---(%)--- Media KC 80% 53.33a 46.62 14.66 16.95b 21.72a Media NPK (18-18-18+EDTA)
54.67a 45.30 12.03 25.72a 16.95a
Uji-F tn - - ** tn
ZPT/air kelapa
Tanpa ZPT 62.57a 37.43 18.57 22.29a 21.71a
Air Kelapa 45.43b 54.57 12.00 16.00b 17.43a
TDZ+BA 54.00b 46.00 9.43 25.71a 18.86a
Uji-F ** - - ** tn
KK (%) 8.84T1 - - 7.37T1 7.55T1
aAngka-angka pada kolom perlakuan media dan ZPT yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada uji Duncan multiple range test (DMRT) pada selang kepercayaan 95%. PLB = Protocorm Like Bodies, ZPT = Zat Pengatur Tumbuh, MST= minggu setelah tanam, NPK = Pupuk majemuk yang terdiri dari unsur N, P dan K, KC 80 % = Knudson C 80 %, TDZ = Thidiazuron, BA = Benzladenin, EDTA = Asam Etilen diamin tetra asetat, TM = tidak mengalami multiplikasi, TB = tidak berkalus, tn= tidak berbeda nyata pada uji Duncan multiple range test (DMRT) pada selang kepercayaan 95%, KK = Koefisien keragaman (T1)= hasil transformasi √� + .
Kalus merupakan struktur yang belum terdiferensiasi secara sempurna. Hasil percobaan menunjukkan beberapa PLB pada masing-masing perlakuan terbentuk kalus. Analisis statistik menunjukkan bahwa untuk perlakuan media, ZPT, dan interaksi antara media dan ZPT tidak berpengaruh nyata untuk peningkatan persen PLB yang berkalus (Tabel 4). Kalus muncul dari PLB-PLB yang berwarna coklat.
Jumlah Daun
Pemberian nitrogen dapat menginduksi pembentukan sitokinin pada tanaman (Matulata 2003). Sitokinin pada tanaman berfungsi untuk menginduksi tunas. Daun yang tumbuh pada PLB merupakan diferensiasi lebih lanjut ketika PLB sudah bertunas. Jumlah daun yang muncul pada PLB menunjukkan jumlah
14
tunas yang terbentuk. PLB mempunyai titik tumbuh pada bagian atas tunas yang akan menjadi daun. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa media yang terbaik untuk pembentukan daun adalah media NPK (18:18:18+EDTA) (Gambar 6). Hal tersebut disebabkan karena konsentrasi nitrogen pada media NPK (18:18:18+EDTA) lebih tinggi dibandingkan dengan media KC 80%. Selain itu pada media NPK (18:18:18+EDTA) konsentrasi nitrogen lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi fosfor, sehingga pertumbuhan PLB cenderung untuk membentuk daun. Menurut Shintiavira et al. (2012) proporsi nitrogen dan fosfor pada kultur krisan sangat menentukan untuk pembentukan daun ataupun akar. Konsentrasi nitrogen yang lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi fosfor, maka akan menyebabkan pertumbuhan PLB cenderung untuk membentuk daun. Sebaliknya jika konsentrasi fosfor lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi nitrogen, maka pertumbuhan PLB cenderung membentuk akar.
Hasil analisis statistik pada Tabel 5 menunjukkan bahwa perlakuan ZPT tidak menunjukkan pengaruh yang nyata sehingga perlakuan pemberian ZPT akan sama hasilnya dengan tanpa pemberian ZPT. Hal tersebut diduga karena konsentrasi ZPT yang digunakan terlalu tinggi, sehingga menekan pertumbuhan PLB. Hal tersebut mengindikasikan bahwa untuk mendukung pertumbuhan daun pada PLB tidak perlu menggunakan ZPT, sehingga akan meminimalkan biaya untuk membuat media dan ZPT yang sesuai untuk PLB anggrek silangan
Phal.gigantea × Phal.violacea.
Planlet merupakan tanaman tanaman yang sudah siap untuk dilakukan aklimatisasi. Planlet yang terbentuk pada percobaan ini merupakan planlet yang sudah mempunyai minimal 2 daun dan 1 akar. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa persentase terbentuknya planlet pada media NPK (18:18:18+EDTA) sangat nyata lebih tinggi dan lebih baik dibandingkan dengan media KC 80%. Persentase terbentuknya planlet pada perlakuan tanpa penambahan ZPT nyata lebih tinggi dan lebih baik dibandingkan dengan perlakuan penambahan ZPT berupa air kelapa atau TDZ+BA (Tabel 6).
Gambar 6 (A) Daun yang terbentuk pada perlakuan media KC 80% (B) Daun yang terbentuk pada perlakuan media NPK (18-18-18+EDTA)
13 Tabel 5 Rata-rata jumlah daun PLB anggrek silangan Phal.gigantea × Phal.violacea umur 1-10 MST
Perlakuan Umur (MST)
a
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Media
---Jumlah Daun---
Media KC 80% 0.42a 0.51a 0.55a 0.64b 0.71b 0.74b 0.78b 0.76b 0.73b 0.73b
Media NPK (18-18-18+EDTA) 0.26b 0.45a 0.53a 0.75a 0.85a 0.91a 0.97a 0.95a 0.94a 0.94a
Uji-F ** tn tn * ** ** ** ** ** **
ZPT/air kelapa
Tanpa ZPT 0.39a 0.48a 0.51a 0.66a 0.77a 0.82a 0.87a 0.84a 0.81a 0.81a
Air Kelapa 0.36a 0.49a 0.58a 0.70a 0.77a 0.81a 0.88a 0.85a 0.85a 0.86a
TDZ+BA 0.26b 0.47a 0.54a 0.70a 0.80a 0.85a 0.90a 0.87a 0.84a 0.84a
Uji-F * tn tn tn tn tn tn tn tn tn
KK (%) 9.97T1 8.90T1 9.10T1 9.13T1 9.37T1 9.49T1 9.87T1 7.92T2 8.09T2 8.29T2
aAngka-angka pada kolo perlakuan media dan ZPT yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada uji Duncan multiple range test
(DMRT) pada selang kepercayaan 95%. PLB = Protocorm Like Bodies, ZPT = Zat Pengatur Tumbuh, MST= minggu setelah tanam, NPK = Pupuk majemuk yang mengandung unsur N, P dan K. KC 80 % = Knudson C 80 %, TDZ = Thidiazuron, BA = Benziladenin, EDTA = Asam Etilen diamin tetra asetat, tn= tidak berbeda nyata pada uji Duncan multiple range test (DMRT) pada selang kepercayaan 95%, *=berbeda nyata pada uji DMRT selang kepercayaan 95%, **=sangat berbeda nyata pada uji DMRT selang kepercayaan 95%, KK = Koefisien keragaman. (T1)= hasil transformasi √� + , (T2) = hasil transformasi √� + .5.
14
Tabel 6 Rata-rata persentase planlet anggrek silangan Phal.gigantea × Phal.violacea yang terbentuk umur 1-10 MST
Perlakuan Umur (MST)
a
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Media
---%---
Media KC 80% 0.00a 0.00a 0.00a 0.57b 1.33b 1.71b 3.24b 4.19b 4.38b 4.95b
Media NPK (18-18-18+EDTA) 0.00a 0.00a 0.00a 2.10a 3.62a 7.43a 9.71a 9.74a 12.00a 13.91a
Uji-F tn tn tn * * ** ** ** ** **
ZPT/air kelapa
Tanpa ZPT 0.00a 0.00a 0.00a 1.71a 4.26a 6.27a 8.86a 9.43a 11.14a 13.14a
Air Kelapa 0.00a 0.00a 0.00a 1.14a 1.71b 4.00a 6.00ab 6.57ab 6.86b 7.42b
TDZ+BA 0.00a 0.00a 0.00a 1.14a 1.43b 3.43a 4.57b 4.86b 6.57b 7.71b
Uji-F tn tn tn tn * tn tn * * *
KK (%) - - - 2.35T1 3.03T1 4.22T1 4.84T1 4.88T1 5.37T1 5.58T1
a
Angka-angka pada kolo perlakuan media dan ZPT yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada uji Duncan multiple range test
(DMRT) pada selang kepercayaan 95%. PLB = Protocorm Like Bodies, ZPT = Zat Pengatur Tumbuh, MST= minggu setelah tanam, NPK = Pupuk majemuk yang mengandung unsur N, P dan K. KC 80 % = Knudson C 80 %, TDZ = Thidiazuron, BA = Benziladenin, EDTA = Asam Etilen diamin tetra asetat, ppm = part per million, tn= tidak berbeda nyata pada uji Duncan multiple range test (DMRT) pada selang kepercayaan 95%, %, *=berbeda nyata pada uji DMRT selang kepercayaan 95%, **=sangat berbeda nyata pada uji DMRT selang kepercayaan 95%, KK = Koefisien keragaman, (T1)= hasil transformasi √� + .
17
Jumlah Akar
Pembentukan akar dimulai dengan adanya proses metabolisme yang mencerna nutrisi berupa karbohidrat yang akan mendorong terbentuknya sel-sel baru. Akar merupakan bagian tanaman yang berfungsi untuk menyerap hara yang ada pada media kultur. Waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan akar lebih lama dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan daun. Tabel 8 menunjukkan data rata-rata jumlah akar yang terbentuk.
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa media NPK (18:18:18+EDTA) sangat nyata lebih tinggi dibandingkan dengan media KC 80%. Perlakuan tanpa pemberian ZPT sangat nyata lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan penambahan TDZ+BA dan air kelapa. Media NPK (18:18:18+EDTA) dan perlakuan tanpa penambahan ZPT merupakan perlakuan terbaik untuk meningkatkan pembentukan akar untuk PLB anggrek silangan Phal.gigantea ×
Phal.violacea (Gambar 7). Hal tersebut disebabkan karena kandungan fosfor
pada media NPK (18:18:18+EDTA) lebih tinggi dibandingkan dengan media KC 80%. Menurut Supari (1999) salah satu unsur yang dibutuhkan untuk membentuk akar adalah fosfor. Jumlah akar yang terbentuk pada PLB anggrek silangan
Phal.gigantea × Phal.violacea tidak lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah
daun. Hal tersebut disebabkan oleh semua media yang digunakan pada penelitian mempunyai konsentrasi fosfor yang lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi nitrogen. Hasil penelitian Shintiavira et al. (2012) pada kultur krisan menunjukkan bahwa konsentrasi nitrogen yang lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi fosfor, maka akan menyebabkan pertumbuhan PLB cenderung untuk membentuk daun. Sebaliknya jika konsentrasi fosfor lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi nitrogen, maka pertumbuhan PLB cenderung membentuk akar Tabel 7 Kandungan unsur N, P dan K pada media KC 80%, NPK
(18:18:18+EDTA) dan NPK (20:20:20)a Unsur Media KC 80% NPK (18-18-18+EDTA) NPK (20:20:20) ---ppm--- Nitrogen 256.82 271.35 400.00 Fosfor 46.00 155.74 200.00 Kalium 164.00 268.53 281.48
aNPK = Pupuk majemuk yang terdiri dari unsur N, P dan K, KC 80 % = Knudson C 80 %, EDTA = Asam Etilen diamin tetra asetat, ppm = part per million.
Umur 1-2 MST akar PLB masih belum terbentuk, sehingga tidak dapat dianalisis perbedaan dari masing-masing perlakuan. Perbedaan yang nyata dan sangat nyata mulai muncul pada 4-10 MST.
Media sangat berpengaruh nyata untuk pembentukan akar PLB. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa media NPK (18:18:18+EDTA) sangat nyata meningkatkan jumlah akar dibandingkan dengan media KC 80%. Jumlah akar pada perlakuan tanpa penambahan ZPT sangat nyata meningkatkan jumlah akar dibandingan dengan perlakuan penambahan TDZ+BA dan air kelapa.
Tabel 8 Rata-rata jumlah akar PLB anggrek silangan Phal.gigantea × Phal.violacea pada umur 1-10 MST Perlakuan Umur (MST) a 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Media ---Jumlah Akar---
Media KC 80% 0.00a 0.00a 0.00a 0.03a 0.04b 0.04b 0.06b 0.07b 0.09b 0.11b
Media NPK (18-18-18+EDTA) 0.00a 0.00a 0.01a 0.05a 0.07a 0.07a 0.12a 0.12a 0.16a 0.19a
Uji-F tn tn tn tn * ** ** ** ** **
ZPT/air kelapa
Tanpa ZPT 0.00a 0.00a 0.01a 0.07a 0.09a 0.11a 0.14a 0.15a 0.20a 0.22a
Air Kelapa 0.00a 0.00a 0.01a 0.04b 0.04b 0.06b 0.07b 0.07b 0.09b 0.11b
TDZ+BA 0.00a 0.00a 0.01a 0.03b 0.04b 0.05b 0.06b 0.07b 0.08b 0.11b
Uji-F tn tn tn * ** ** ** ** ** **
KK (%) - - 4.13T1 4.18T1 8.37T1 9.01T1 9.98T1 5.08T2 6.42T2 6.93T2 aAngka-angka pada kolom perlakuan media dan ZPT yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada uji Duncan multiple range test
(DMRT) pada selang kepercayaan 95%. PLB = Protocorm Like Bodies, ZPT = Zat Pengatur Tumbuh, MST= minggu setelah tanam, NPK = Pupuk majemuk yang mengandung unsur N, P dan K. KC 80 % = Knudson C 80 %, TDZ = Thidiazuron, BA = Benziladenin, EDTA = Asam Etilen diamin tetra asetat, tn= tidak berbeda nyata pada uji Duncan multiple range test (DMRT) pada selang kepercayaan 95%, *=berbeda nyata pada uji DMRT selang kepercayaan 95%, **=sangat berbeda nyata pada uji DMRT selang kepercayaan 95%, KK = Koefisien keragaman. (T1)= hasil transformasi √� + .5, (T2) = hasil transformasi √� + .
19
Gambar 7 (A) Akar yang muncul pada media KC 80% (B) Akar yang muncul pada media NPK (18:18:18+EDTA) (C) Akar yang muncul pada perlakuan tanpa ZPT (D) Akar yang muncul pada perlakuan pemberian ZPT.
Percobaan 2 Subkultur untuk mendukung pertumbuhan PLB