• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDUSTRI BERBASIS SDA

Dalam dokumen KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL (Halaman 58-64)

1) Industri Hilir Kelapa Sawit

LATAR BELAKANG

• Indonesia merupakan negara produsen Minyak Mentah Sawit (CPO & CPKO) terbesar di dunia

• Ekspor CPO tahun 2009 sebesar 9,60 Juta Ton (45,91 % dari total produksi). Sisanya sebesar 54,09 % atau 11,31 Juta Ton diolah di dalam negeri.

PERMASALAHAN UTAMA

• Belum memadainya infrastruktur secara umum seperti pelabuhan, jalan dan transportasi, termasuk energi (gas bumi dan listrik)

• SDM di bidang pengembangan industri hilir CPO masih kurang

• Masih belum memadainya Litbang untuk pengembangan industri hilir kelapa sawit

• Masih rendahnya minat investor di bidang industri hilir kelapa sawit

TARGET

• Terfasilitasinya pembangunan infrastruktur kawasan industri di Sei Mangkei (Sumut), Dumai-Kuala enok (Riau) dan Maloy (Kaltim)

• Meningkatnya daya saing industri hilir CPO

• Meningkatnya investasi industri hilir sawit

• Meningkatnya kemampuan SDM industri hilir kelapa sawit

PROGRAM

• Pengembangan kawasan industri

• Promosi investasi melalui pemberian tax holiday

• Peningkatan kompetensi SDM industri hilir kelapa sawit

• Pengembangan R&D

2) Industri Hilir Kakao

LATAR BELAKANG

• Indonesia merupakan produsen No.3 di Dunia dengan total produksi pada tahun 2009 mencapai 803.000 ton dan diperkirakan karena keberhasilan GERNAS KAKAO yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian diharapkan pada tahun 2014 Indonesia dengan produksi biji kakao diatas 1 juta ton/Tahun akan menjadi penghasil biji kakao No. 2 di dunia setelah Ghana.

• Sentra produksi biji kakao berkembang di Indonesia seperti Sulawesi dengan luas areal tanaman 857.757 Ha (60,18%), Sumatera 286.121 Ha (20,08%), Kalimantan 47.826 Ha (3,36%), Jawa 82.623 Ha (5,08%),

NTT+NTB+BALI 62.507 Ha (4,39%), MALUKU+PAPUA 86.266 Ha (6,05%).

• Biji kakao Indonesia 66,65% masih diekspor dalam bentuk biji dan sisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan di dalam negeri pada tahun 2009

• Industri kakao Indonesia kedepan memiliki peranan penting khususnya dalam perolehan devisa negara dan penyerapan tenaga kerja karena memiliki keterkaitan yang luas baik hulu maupun hilirnya

TARGET

• Meningkatnya investasi industri hilir kakao

• Meningkatnya diversifikasi industri hilir kakao

• Meningkatnya pangsa pasar industri hilir kakao di

PERMASALAHAN UTAMA

• Kurang berminatnya perusahaan untuk memanfaatkan insentif R&D

• Utilisasi kapasitas produksi industri olahan kakao masih rendah (40%)

• Belum berkembangnya industri hilir yang mengolah biji kakao khususnya non pangan

• Terbatasnya R&D untuk diversifikasi produk olahan kakao

• Rendahnya konsumsi coklat di dalam negeri 60 gram/kapita/tahun sedangkan negara lain seperti Malaysia dan Singapura sudah mencapai diatas 500 gram/kapita/tahun.

• Impor biji kakao masih dikenakan Bea Masuk sebesar 5%.

• Kurangnya pembangunan infrastruktur di sentra-sentra produksi biji kakao (akses jalan dan pelabuhan) seperti ; mamuju, Pantoloan, Kolaka dan Palopo.

• Produktivitas on farm masih rendah (rata-rata 600 kg/Ha)

• Sistem perdagangan biji kakao di tingkat petani dikuasai eksportir asing

• Mutu biji kakao masih rendah (kadar kotoran, jamur, serangga) dan tidak difermentasi

PROGRAM

• Bahan Baku

• Peningkatan Litbang Industri Kakao

• Pengembangan Pasar

• Bidang Infrastruktur

3) Industri Hilir Karet

LATAR BELAKANG

• Indonesia berpotensi untuk menjadi produsen utama karet dan barang karet dunia karena didukung potensi karet alam;

• Produk-produk karet potensial yang diproduksi : ban, sarung tangan, komponen otomotif, komponen elektronika, maupun untuk keperluan rumah tangga;

• Produk-produk karet tersebut telah diekspor pada tahun 2009 dengan nilai ekspor US$ 1.6 milyar terdiri dari ban dengan nilai US$ 1.1 milyar, sarung tangan US$ 198 juta dan barang karet industri US$ 165 juta dan barang karet lainnya US$ 169 juta

PERMASALAHAN UTAMA

• Produk crumb rubber lebih dominan diekspor (85%) dan hanya sebagian kecil yang diserap dalam negeri, yaitu 422 ribu ton atau 15%.

• Masih tingginya impor sebagian barang-barang karet dan Bahan penolong industri karet yang merupakan peluang pengembangan.

• Masih rendahnya daya saing Industri karet hilir di pasar Asia

TARGET

• Meningkatnya investasi industri hilir karet

• Berkembangnya industri karet sintetis dan industri kimia karet

• Menguatnya struktur industri karet

• Terlaksananya perbaikan infrastruktur pasokan tenaga listrik dan gas

PROGRAM

• Promosi investasi

• Peningkatan kegiatan Litbang industri hilir karet,

• Pengembangan infrastruktur tenaga listrik dan gas

• Pengembangan pasar

4) Industri Logam Hulu

LATAR BELAKANG

• Sektor industri logam berpotensi memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi melalui “added value”

serta akan menjadi ”multiplier effect” bagi aktifitas ekonomi, penyerapan tenaga kerja, penghasil devisa dan pada akhirnya akan menjadi faktor pendorong (push factor) bagi peningkatan daya saing ekonomi bangsa.

• sumber daya alam (bijih besi, bauksit, gas alam dan batubara) serta pasar dalam negeri merupakan potensi yang baik untuk pengembangan industri logam hulu

PERMASALAHAN UTAMA

• Belum teridentifikasinya teknologi yang dapat mengolah bahan baku industri logam yang beragam jenisnya sehingga menyebabkan masih tergantung terhadap kegiatan impor

• Teknologi proses yang digunakan dalam pengolahan logam sangat tidak efisien dan pasokan energi yang sangat terbatas

• Rendahnya mutu SDM industri pengolahan logam

• Kurangnya tempat pemusatan kegiatan industri pengolahan logam yang ditunjang dengan sarana prasarana yang memadai

• Peraturan pengembangan investasi yang tidak kondusif dan kewenangannya yang terpecah-pecah menyebabkan pelayanan, promosi dan pemberian insentif tidak memadai

PROGRAM

• Pengembangan industri logam hulu melalui klastering dan pembentukan Pusat Pengembangan Teknologi Industri Logam

• Penyusunan Master Plan penghematan energi industri logam dan kegiatan audit energi

• Peningkatan dan pengembangan SDM industri logam melalui pelatihan dan penyusunan sistem manajemen sertifikasi profesi

• Pengembangan Kawasan Industri dan pembangunan infrastruktur penunjangnya

• Penyusunan RUU fasilitasi pemberian fasilitas fiskal dengan prosedural yang representative kepada investor industri logam hulu

TARGET

• Tumbuhnya industri pengolahan bijih besi dan bauksit

• Meningkatnya efisiensi penggunaan energi pada industri logam

• Meningkatnya kualitas dan kompetensi SDM industri logam

• Meningkatnya daya saing industri logam

• Meningkatnya investasi industri logam

5) Industri Rumput Laut

LATAR BELAKANG

• Potensi lahan yang tersedia di Indonesia cukup besar yaitu lebih dari 1,38 Juta hektar dan baru termanfaatkan sekitar 222.000 hektar

• Rumput laut memiliki aplikasi untuk >500 jenis “end products”, Serta relatif lebih ekonomis dibandingkan zat additive sejenis lainnya antara lain gelatin dan gums.

• Produk rumput laut yang mempunyai nilai tambah tinggi dan potensial untuk dikembangkan antara lain seperti Alkali trated Carragenan, Semi Refined Carragenan agar-agar dan alginat.

PERMASALAHAN UTAMA

• Kondisi infrastruktur yang belum memadai seperti jalan, jembatan, alat angkut, sistem dan telekomunikasi, pelabuhan;

• Masih kurang berkembangnya lembaga-lembaga penelitian mutu di Indonesia

• Keterbatasan suplai bahan baku dan penolong untuk industri pengolahan rumput laut

• Umumnya teknologi industri pengolahan rumput laut masih sederhana dan industrinya skala kecil menengah

• Suku bunga perbankan relatif masih tinggi dibandingkan di negara lain;

PROGRAM

• Pengembangan Kawasan Industri

• Pengembangan pasar

• Peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan industri rumput laut

TARGET

• Terfasilitasinya pembangunan infrastruktur kawasan industri rumput laut di Kawasan Timur Indonesia

• Meningkatnya pangsa pasar industri rumput laut di dalam negeri (30%) dan luar negeri (70%)

• Meningkatnya nilai tambah rumput laut dan

diversifikasi produk turunan rumput laut

Dalam dokumen KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL (Halaman 58-64)

Dokumen terkait