• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ahmad Subhan

Tren peningkatan produksi CPO dalam dua bulan terakhir berdampak negatif terhadap level inventory dan pemulihan harga.

Langkah pemerintah yang segera menerapkan aturan pungutan untuk kebijakan CPO fund

diperkirakan akan berdampak harga CPO yang diterima produsen dan spread harga produk turunan CPO.

Laju produksi dan tingkat inventory hingga akhir April terus memberikan tekanan terhadap proses pemulihan harga CPO di pasar global, tercatat harga CPO Spot pada Bursa Malaysia merosot 23,0% YoY ke level RM2.082 atau sekitar Rp7,7 juta per ton. Data yang dirilis Bloomberg melaporkan inventory CPO di Malaysia naik 18,0% ke 2,19 juta ton pada akhir April atau level inventory tertinggi pada 8 bulan terakhir, sementara pada periode yang sama produksi perkebunan sawit di Indonesia berdasarkan hasil survey diperkirakan naik ke level 2,6 juta ton (8,3%-MoM) atau volume bulanan terbesar dalam 3 tahun terakhir. Proyeksi penurunan tingkat produksi yang sempat diperkirakan terjadi di tahun ini hanya tampak pada 2 bulan pertama tahun 2015, selanjutnya tingkat produksi dan inventory terus menunjukkan tren pemulihan.

Sumber: Bloomberg

Gambar 20. Perkembangan harga CPO Global

Tren pemulihan produksi saat ini berkorelasi positif dengan level inventory di tengah masih melemahnya permintaan. Selain Indonesia, level produksi bulanan CPO Malaysia juga cenderung menunjukkan peningkatan meskipun sepanjang tahun 2014 mayoritas tanaman di kebun mengalami masa stress berupa kekeringan di 1Q-14 dan 3Q-14 serta banjir di 4Q-14. Hingga akhir April 2015 produksi CPO Malaysia diperkirakan berada di kisaran 1,7 juta ton atau meningkat sekitar 13,0% secara MoM. Pemulihan produksi diperkirakan akan terus berlanjut hingga puncak masa siklus panen di bulan September hingga Oktober dengan potensi pelemahan terbatas di bulan Juni-Juli.

27

Pemulihan produksi di Indonesia dan Malaysia yang terjadi diluar perkiraan dalam 2 bulan terakhir diperkirakan akan terus berlanjut. Kondisi ini akan diperkirakan akan memaksa harga CPO bergerak flat di kisaran RM 2.100-2.300 per ton hingga Juni 2015. Selanjutnya harga tersebut akan kembali tertekan pasca lebaran hingga level RM 1.900 per ton mengikuti siklus puncak panen dan level inventory yang meningkat.

Sumber: MPOB Malaysia

Tabel 5. Perkembangan Produksi, Ekspor dan Impor CPO Malaysia

Selain kedua faktor utama tersebut harga CPO diproyeksikan masih akan terus tertekan dan cenderung flat sepanjang tahun ini disebabkan beberapa faktor risiko antara lain; 1) tren rendahnya harga minyak mentah telah menyebabkan menurunnya tingkat keekonomian konversi CPO menjadi biodesel. 2) hasil panen kedelai dari kawasan Amerika Selatan dan Amerika Serikat diperkirakan akan meningkat sekitar 18,0% YoY sepanjang tahun ini di tengah masih tingginya tingkat inventory. Tercatat pada Maret tahun ini, produksi kedelai naik menjadi sekitar 47,4 juta ton dari produksi awal bulan sebesar 47,1 juta ton dan sekaligus menyebabkan meningkatnya persediaan minyak kedelai di pasar dunia menjadi sekitar 3,6 juta ton dibandingkan dengan 3,3 juta ton pada awal bulan tahun ini. 3) pangsa pasar CPO diperkirakan akan berkurang akibat gap harga dengan minyak kedelai yang semakin tipis. 4) cadangan edible oil di India menunjukkan level peningkatan meski di sisi lain cadangan China cenderung menurun dan membuka potensi reinventorying dalam jangka pendek. 5) harga komoditas cenderung akan terus tertekan seiring penguatan nilai tukar USD. 6) dari pasar domestik, lemahnya implementasi dan eksekusi mandatory biodiesel berbasis CPO menyebabkan permintaan tidak optimal, kerena adanya ketidakpastian terkait risiko selisih harga

28

Sumber: Bloomberg dan Credit Suisse

Gambar 21. Perbandingan harga minyak mentah dan CPO dan Proyeksi Produksi berdasarkan negara utama

Di level perusahaan potensi pemulihan produksi dan inventory serta beberapa faktor risiko di atas telah berdampak pada kinerja keuangan. Sebagai gambaran dengan koreksi tingkat harga sebesar -16% (YoY) untuk periode 1Q-15 dan tingkat produksi yang masih rendah saja kinerja profit after tax (PAT) mayoritas emiten CPO di bursa mengamai koreksi rata-rata diatas -70% secara YoY. Rendahnya pasokan tandan buah segar yang terjadi sepanjang 1Q-15 belum mampu memberikan sentimen kuat pada pemulihan harga, sehingga kinerja emiten mengalami tekanan dari sisi produksi dan harga jual CPO. Selanjutnya sinyal pemulihan produksi saat ini disatu sisi diperkirakan dapat memperbaiki tingkat penjualan meski di sisi lain berpotensi menimbulkan risiko oversupply yang berujung tekanan pada harga CPO.

Sumber: Bloomberg

Tabel 6. Kinerja Beberapa Emiten Perkebunan 1Q-15

Hasil diskusi dengan sebagian pelaku industri mengindikasikan bahwa untuk saat ini produsen CPO sangat berharap pada pemulihan konsumsi khususnya untuk pasar domestik. Dalam jangka pendek masuknya bulan Ramadhan dan Lebaran diharapkan dapat memperbaiki tingkat permintaan

29

domestik, sementara untuk jangka menengah tindak lanjut kebijakan biodiesel yang dicanangkan oleh pemerintah diharapkan dapat segera dieksekusi dengan tepat.

Dari sisi kebijakan pemerintah pada awal bulan Mei ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan beleid mengenai pungutan dana pengembangan sawit atau yang dikenal sebagai CPO supporting fund (CSF)/CPO Fund sudah disetujui presiden. Melalui kebijakan ini pemerintah akan menarik pungutan untuk setiap ton CPO dan produk olahan CPO seperti Olein yang dijual di pasar ekspor. Selanjutnya pemerintah akan membentuk Badan Layanan Umum (BLU) yang bertanggung jawab mencatat, mengatur dan mengelola penggunaan dana atas CPO Fund. Sebagai gambaran dana CPO Fund tersebut dapat digunakan untuk kegiatan re-planting hingga menutupi pembelian biodiesel Pertamina dari produsen. Dari kebijakan ini diperkirakan akan terkumpul dana dari industri sawit sekitar USD700 juta atau sekitar Rp7-8 triliun per tahun.

Langkah pemerintah yang akan segera menerapkan aturan pungutan untuk kebijakan CPO Fund masing-masing sebesar USD 50/ton untuk CPO dan USD30/ton untuk produk turunan diperkirakan akan berdampak pada harga CPO domestik dan kinerja produsen disisi hulu. Dua hal yang diperkirakan akan terjadi dalam jangka pendek akibat dari kebijakan tersebut adalah, pertama, harga CPO yang diterima produsen cenderung akan lebih rendah karena pembeli akan membebankan biaya pungutan kepda produsen. Kedua, spread harga produk CPO global dan harga produk turunan CPO dari Indonesia akan semakin sempit, sehingga akan memberikan keuntungan bagi produsen produk hilir. Dalam pelaksanaanya aturan pungutan CPO Fund tersebut akan disinergikan dengan kebijakan bea keluar (BK) yang selama ini telah diterapkan sehingga tidak membebani produsen lebih besar.

Sumber: NOAA - National Oceanic and Atmospheric Administration Gambar 22. ENSO Outlook dan Potensi El Nino 2015

Meski banyak faktor risiko negatif yang berpotensi menyebabkan tekanan pada harga CPO baik dari sisi supply dan demand sepanjang tahun ini namun laporan terbaru dari Australia’s Bureau of Meteorology pada tengah bulan ini memberikan sinyal berbeda. Dalam laporan tersebut diidentifikasi bahwa probabilitas pembentukan El Nino pasca Juni sudah mendekati 90% dan terus stabil di level 80% hingga awal tahun 2016. Potensi El Nino yang kembali menguat ini merupakan episode ulangan tahun 2014 yang pada saat itu gagal terbentuk secara penuh akibat adanya efek Monsoon di India dan

30

Filipina. Meski laporan ini masih bersifat awal dan masih menunggu konfirmasi lanjutan namun sebagian trader berharap sentimen El Nino saat ini dapat memberi katalis positif terhadap harga.

Secara historis fenomena El Nino berpotensi mengganggu produksi perkebunan kelapa sawit, namun efeknya diperkirakan tidak akan langsung selain belum dapat diproyeksikan seberapa besar ketegori El Nino yang akan terjadi berat, sedang, ringan, atau bahkan tidak akan berdampak di Indonesia. Efek dari fenomena El Nino tahun ini kemungkinan baru akan terasa pengaruhnya terhadap perlambatan produksi CPO tahun depan (lag 10-12 bulan). Dalam jangka pendek potensi El Nino yang diramalkan akan terjadi di kawasan Pasifik diperkirakan belum akan berpengaruh signifikan terhadap kinerja industri sawit dalam negeri pada kuartal II tahun ini. Hal tersebut didasarkan pada pola harga CPO yang masih berfluktuasi dan belum menunjukkan perbaikan.

Usaha peningkatan konsumsi domestik akan menjadi kunci untuk memperbaiki kinerja harga sekaligus mengantisipasi pemulihan produksi yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. ewajiban menggunakan biodiesel sebesar 15% pada bahan bakar yang diberlakukan mulai 1 April 2015, harus segera ditindaklanjuti dengan langkah nyata dalam bentuk pengadaan sehingga memberi sinyal positif terhadap transaksi di pasar. Meskipun harus diakui idealnya kebijakan mandatori biodiesel ini dilakukan ketika BBM lebih mahal dari BBN, tapi fakta saat ini menunjukan harga BBN yang lebih mahal. Melalui peningkatan ini akan dibutuhkan tambahan 5,3 juta KL biodiesel yang setara dengan konsumsi CPO sekitar 5,8 juta ton. Jumlah ini cukup signifikan jika dibandingkan dengan peningkatan untuk kebutuhan minyak goerng konsumsi yang diperkirakan hanya sekitar 1,5-2 juta ton.

Indeks Stabilitas

Dokumen terkait