3. Inflasi Daerah
3.1. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang & Jasa
Pada triwulan I 2014, tekanan inflasi di Sulsel tercatat lebih rendah dari triwulan sebelumnya.
Inflasi tercatat sebesar 5,88% (yoy), menurun dari inflasi pada akhir tahun 2013 sebesar 6,22% (yoy).
Turunnya inflasi didorong oleh pelemahan tekanan inflasi kelompok bahan makanan, kelompok transpor, serta kelompok pendidikan (Tabel 3.1). Sementara itu, kelompok lainnya tercatat mengalami peningkatan inflasi tahunan. Secara berurutan, inflasi tertinggi terjadi pada kelompok transpor (10,31%, yoy), kelompok perumahan (6,25%, yoy), kelompok makanan jadi (5,39%, yoy), kelompok bahan makanan (4,76%, yoy), kelompok kesehatan (3,79%, yoy), kelompok sandang (3,73%, yoy), dan kelompok pendidikan (1,33%, yoy). Inflasi tahunan Sulsel juga masih lebih rendah dari laju inflasi tahunan nasional yang pada triwulan I 2014 tercatat sebesar 7,32% (yoy) (Grafik 3.1).
Tabel 3.1. Inflasi Kelompok Barang & Jasa
Sumber: Badan Pusat Statistik
Mulai Januari 2014, terjadi perubahan dalam metode perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Aspek yang mengalami perubahan antara lain adalah jumlah kabupaten/kota yang disurvei, jumlah komoditas dalam keranjang perhitungan inflasi, serta tahun dasar nilai konsumsi (NK) yang digunakan. Jumlah kabupaten/kota survei perhitungan inflasi di Sulsel bertambah sebanyak 1 (satu) kota menjadi 5 (lima) kota, yaitu Makassar, Palopo, Bone, Parepare, dan kemudian ditambah Bulukumba. Komoditas yang dihitung tercatat sekitar 444 dari
13 Terdapat 7 (tujuh) kelompok barang dan jasa dalam perhitungan inflasi Bahan
Makanan
Makanan
Jadi Perumahan Sandang Kesehatan Pendidikan Transpor UMUM I 13.96 4.47 4.16 8.30 3.08 1.48 1.84 6.32 II 12.10 5.27 4.57 8.83 6.41 2.43 2.08 6.37 III 1.43 4.40 3.70 10.96 7.60 3.00 0.77 3.37 IV 0.24 4.40 3.67 8.69 7.67 2.90 0.73 2.88 I 4.04 4.49 4.18 9.57 7.53 2.94 0.57 4.06 II 4.94 4.29 3.98 6.99 4.53 2.12 0.47 3.85 III 7.81 4.97 3.41 6.51 3.18 1.37 0.63 4.48 IV 6.56 5.03 3.35 7.08 2.83 3.41 1.16 4.40 I 8.01 4.57 3.43 6.03 2.28 3.54 0.89 4.61 II 6.22 4.63 3.60 2.61 1.99 3.33 3.96 4.36 III 10.76 4.70 4.76 2.77 3.23 3.66 12.01 7.24 IV 6.97 4.47 6.06 2.36 3.71 1.39 11.58 6.22 2014 I 4.76 5.39 6.25 3.73 3.79 1.33 10.31 5.88
TAHUN
2012
2013 2011
28 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan | Triwulan I 2014 Permintaan Ekonomi Lokal Menopang Ekonomi Sulsel
sekitar 423 komoditas pada periode sebelumnya. Selanjutnya, NK yang digunakan adalah NK tahun dasar 2012, berubah dari periode sebelumnya yang menggunakan NK tahun dasar 2007.
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 3.1. Perkembangan Inflasi Sulawesi Selatan
3.1.1 Kelompok Bahan Makanan
Pada triwulan I 2014, inflasi kelompok bahan makanan kembali turun karena pasokan pangan yang masih cukup memadai. Penurunan inflasi terjadi dari 6,97% (yoy) pada triwulan IV 2013 menjadi 4,76% (yoy) pada triwulan I 2014 (Grafik 3.2). Turunnya harga terutama terjadi pada aneka bumbu dan daging serta hasilnya di awal triwulan yang diikuti penurunan harga aneka ikan, baik segar maupun budidaya, di akhir triwulan. Dibukanya keran impor untuk komoditas bumbu dan daging serta aktivitas penangkapan ikan yang meningkat mendukung penurunan inflasi bahan makanan yang terjadi. Di samping itu, daerah sentra bawang merah masih memiliki pasokan yang melimpah. Kendala distribusi terkait cuaca juga berkurang dengan intensitas curah hujan yang semakin rendah.
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 3.2. Inflasi Kelompok Bahan Makanan
Berdasarkan hasil Survei Pemantauan Harga (SPH), harga komoditas aneka bumbu, sayur, serta daging memang mengalami penurunan. Penurunan laju inflasi tahunan beberapa komoditas terjadi dengan cukup drastis antara lain daging ayam ras, ikan kembung, dan bawang merah (Grafik 3.3).
Sementara itu, beberapa komoditas aneka ikan masih mencatat kenaikan inflasi. Hal ini dinilai merupakan dampak masih belum optimalnya hasil tangkapan ikan di awal triwulan I 2014 sehingga harga beberapa ikan naik di pasar seiring pasokan yang berkurang.
(2) 0 2 4 6 8 10
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I
2010 2011 2012 2013 2014
Nasional (yoy) Sulawesi Selatan (yoy) Sulawesi Selatan (qtq)
%
5.88 7.32
1.43
(10) (5) 0 5 10 15
I II III IV I II III IV I II III IV I
2011 2012 2013 2014
%
yoy qtq
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan | Triwulan I 2014 Permintaan Ekonomi Lokal Menopang Ekonomi Sulsel 29
Daging Sapi Daging dan Telur Ayam Ras
Aneka Ikan Tomat Sayur
Cabe Rawit Bawang Merah & Putih
Sumber: Survei Pemantauan Harga
Grafik 3.3. Perubahan Harga Komoditas Kelompok Bahan Makanan
3.1.2 Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau
Inflasi kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau pada triwulan I 2014 tercatat lebih tinggi dari triwulan IV 2013 . Kelompok ini mencatat laju inflasi tahunan sebesar 5,39% (yoy) pada triwulan laporan (Grafik 3.4). Pada triwulan sebelumnya, laju inflasi yang tercatat adalah sebesar 4,47% (yoy). Naiknya tekanan inflasi dipengaruhi oleh inflasi pada kelompok makanan jadi selama periode triwulan I 2014. Di sisi lain, inflasi kelompok minuman yang tidak beralkohol serta kelompok tembakau dan minuman beralkohol terpantau cukup stabil.
(5)
Harga Daging Sapi gHarga - Skala Kanan
(25)
Harga Tomat Sayur gHarga - Skala Kanan
(100)
Harga Cabe Rawit gHarga - Skala Kanan
(100)
30 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan | Triwulan I 2014 Permintaan Ekonomi Lokal Menopang Ekonomi Sulsel
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 3.4. Inflasi Kelompok Makanan Jadi
Kenaikan harga beberapa komoditas yang menjadi kebutuhan pokok menjadi pendorong meningkatnya inflasi. Hal ini terlihat dari hasil SPH yang menunjukkan kenaikan harga minyak goreng, air kemasan, dan nasi. Harga makanan jadi yang diolah dengan minyak goreng dinilai turut mengalami peningkatan. Permintaan yang juga kuat seiring perayaan tahun baru di awal tahun dan beberapa hari besar keagamaan maupun kebudayaan turut mempengaruhi inflasi kelompok ini. Harga rokok juga mengalami peningkatan yang diduga sebagai dampak penyesuaian pajak daerah untuk tembakau meski tidak secara signifikan mempengaruhi inflasi (Grafik 3.5).
Makanan & Minuman Rokok
Sumber: Survei Pemantauan Harga
Grafik 3.5. Perubahan Harga Komoditas Kelompok Makanan Jadi
3.1.3 Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar
Pada triwulan I 2014, laju inflasi kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar meningkat dibandingkan triwulan IV 2013 karena tekanan dari seluruh subkelompok. Laju inflasi tercatat sebesar 6,25% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya (6,06%, yoy) (Grafik 3.6). Naiknya laju inflasi tahunan didorong oleh kenaikan harga bahan bakar yang digunakan oleh rumah tangga.
Selain itu, biaya tempat tinggal juga masih mengalami tekanan inflasi selama periode triwulan I 2014 yang dinilai mempengaruhi naiknya harga bahan bangunan.
Menguatnya laju kelompok perumahan dipengaruhi oleh naiknya harga LPG dan permintaan yang masih kuat. Harga LPG (liquefied petroleum gas) 12 kg mengalami penyesuaian pada Januari 2014 seiring upaya produsen untuk meminimasi kerugian akibat harga subsidi LPG 12 kg yang terlalu rendah dibandingkan dengan harga perolehan pokok. Sementara itu, permintaan yang masih tinggi terhadap bahan bangunan ditandai dengan masih maraknya proyek-proyek pembangunan di Sulawesi
0 1 2 3 4 5 6
I II III IV I II III IV I II III IV I
2011 2012 2013 2014
%
yoy qtq
(20) (10) 0 10 20 30 40
I II III IV I II III IV I II III IV I
2011 2012 2013 2014
%, yoy
Minyak Goreng Air Kemasan Nasi Gula Pasir
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18
I II III IV I II III IV I II III IV I
2011 2012 2013 2014
%, yoy
Rokok Kretek Rokok Kretek Filter
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan | Triwulan I 2014 Permintaan Ekonomi Lokal Menopang Ekonomi Sulsel 31 Selatan. Naiknya inflasi pada komoditas tersebut juga dikonfirmasi oleh hasil SPH untuk harga bahan bakar rumah tangga, besi beton, dan batu bata (Grafik 3.7).
Sumber: Badan Pusat Statistik Sumber: Survei Pemantauan Harga
Grafik 3.6. Inflasi Kelompok Perumahan Grafik 3.7. Perubahan Harga Bahan Bangunan
3.1.4 Kelompok Sandang
Inflasi kelompok sandang meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang didorong oleh pulihnya harga emas di pertengahan triwulan I 2014. Pada triwulan IV 2013, inflasi tercatat sebesar 2,36% (yoy) yang kemudian naik menjadi 3,73% (yoy) pada triwulan laporan (Grafik 3.8). Naiknya harga komoditas dari subkelompok barang pribadi dan sandang lainnya, khususnya komoditas emas perhiasan, juga diikuti oleh inflasi yang terjadi pada subkelompok yang lain. Meski tekanan berkurang di akhir periode namun laju inflasi tetap tercatat lebih tinggi dari triwulan sebelumnya.
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 3.8. Inflasi Kelompok Sandang
Naiknya harga emas perhiasan dipengaruhi pergerakan harga emas di pasar global yang menunjukkan tren pemulihan. Setelah berada pada tren yang menurun sejak awal tahun 2013, pergerakan harga emas internasional menunjukkan pemulihan di tahun 2014 karena investor mulai kembali melirik investasi pada logam mulia (Grafik 3.9 dan Grafik 3.10). Hal ini dipengaruhi oleh ketidakpastian perbaikan kondisi perekonomian global. Sementara itu, harga sandang pada subkelompok yang lain juga menambah tekanan inflasi karena adanya berbagai perayaan yang diiringi peningkatan daya beli karena naiknya Upah Minimum Provinsi (UMP).
0 1 2 3 4 5 6 7
I II III IV I II III IV I II III IV I
2011 2012 2013 2014
%
yoy qtq
(20) (10) 0 10 20 30 40 50 60
I II III IV I II III IV I II III IV I
2011 2012 2013 2014
%, yoy
Besi Beton Batu Bata/Batu Tela
(4) (2) 0 2 4 6 8 10 12
I II III IV I II III IV I II III IV I
2011 2012 2013 2014
%
yoy qtq
32 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan | Triwulan I 2014 Permintaan Ekonomi Lokal Menopang Ekonomi Sulsel
Sumber: Survei Pemantauan Harga Sumber: World Bank
Grafik 3.9. Perubahan Harga Emas Perhiasan Grafik 3.10. Perubahan Harga Emas Internasional
3.1.5 Kelompok Kesehatan
Inflasi kelompok kesehatan mengalami peningkatan pada triwulan I 2014 yang didorong oleh inflasi yang terjadi pada seluruh subkelompok. Pada triwulan laporan, kelompok ini mencatat inflasi tahunan sebesar 3,79% (yoy) setelah sebelumnya tercatat sebesar 3,71% (yoy) pada triwulan IV 2013 (Grafik 3.11). Subkelompok jasa kesehatan dan obat-obatan mengalami inflasi yang cukup tinggi hingga pertengahan triwulan I 2014. Hal ini kemudian diikuti oleh inflasi subkelompok jasa perawatan jasmani serta subkelompok perawatan jasmani dan kosmetika di akhir periode.
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 3.11. Inflasi Kelompok Kesehatan
Meningkatnya kebutuhan akan layanan kesehatan serta faktor barang impor mempengar uhi inflasi pada kelompok ini. Berkembangnya beberapa fasilitas kesehatan di Sulsel dinilai mendorong penyesuaian pada tarif yang ada karena kualitas dari layanan yang diberikan. Penyesuaian harga obat, produk kosmetika, produk perawatan jasmani yang diimpor juga terlihat masih berlanjut hingga periode laporan sehingga inflasi yang terjadi banyak disumbangkan dari faktor imported inflation.
3.1.6 Kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga
Kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga mengalami penurunan tekanan inflasi pada triwulan I 2014. Pada triwulan laporan, inflasi kelompok ini tercatat sebesar 1,33% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya (1,39%; yoy) (Grafik 3.12). Turunnya laju inflasi tersebut didorong oleh cukup stabilnya inflasi dari seluruh subkelompok selama triwulan I 2014. Adapun laju inflasi dari
(15)
Harga Emas Perhiasan gHarga - Skala Kanan
(30)
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan | Triwulan I 2014 Permintaan Ekonomi Lokal Menopang Ekonomi Sulsel 33 subkelompok rekreasi mengalami penurunan pada pertengahan triwulan laporan sehingga mampu mendukung penurunan inflasi secara keseluruhan.
Sumber: Badan Pusat Statistik
Grafik 3.12. Inflasi Kelompok Pendidikan
Dampak kenaikan biaya pendidikan yang terjadi sejak triwulan IV 2012 terus mereda hingga triwulan laporan. Meredanya tekanan inflasi kelompok ini telah terjadi sejak triwulan IV 2013. Pada triwulan laporan, tekanan inflasi memang masih datang dari subkelompok kursus-kursus/pelatihan, khususnya di awal tahun. Akan tetapi, hal tersebut tidak mengakselerasi inflasi secara tahunan sehingga inflasi kelompok ini tetap terjaga di tingkat yang cukup rendah. Adanya masa liburan sekolah di awal tahun dan hari raya keagamaan diduga mendorong pemotongan harga barang maupun tarif jasa (diskon), terutama pada komoditas subkelompok rekreasi.
3.1.7 Kelompok Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan
Pada triwulan I 2014, tekanan inflasi kelompok transpor, komunikasi, dan jasa kembali menurun dari triwulan sebelumnya. Laju inflasi tercatat sebesar 10,31% (yoy) setelah tercatat sebesar 11,58%
(yoy) pada triwulan IV 2013 (Grafik 3.13). Adanya kenaikan harga tiket pesawat tujuan domestik akibat kenaikan harga avtur (fuel surcharge) meningkatkan inflasi pada subkelompok transpordi akhir periode triwulan I 2014. Meski demikian, terjaganya inflasi subkelompok yang lain mampu meredam dampak naiknya tarif angkutan udara tersebut dan menahan laju inflasi secara umum.
Sumber: Badan Pusat Statistik Sumber: World Bank
Grafik 3.13. Inflasi Kelompok Transpor Grafik 3.14. Perubahan Harga Karet Internasional
Belum adanya kebijakan dari pemerintah terkait penyesuaian harga komoditas strategis yang dapat mempengaruhi inflasi mendukung arah penurunan yang terjadi. Tarif angkutan di dalam kota maupun antarkota mengalami peningkatan namun tidak signifikan. Sementara itu, subkelompok
(2)
34 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan | Triwulan I 2014 Permintaan Ekonomi Lokal Menopang Ekonomi Sulsel
komunikasi dan jasa keuangan terpantau stabil sepanjang triwulan I 2014. Penurunan inflasi diduga salah satunya merupakan dampak dari turunnya harga komoditas ban kendaraan bermotor. Hal ini dipengaruhi oleh harga karet yang masih berada dalam tren menurun (Grafik 3.14).