BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan
HASIL PENELITIAN 5.1 Deskripsi Hasil Penelitian
5.2. Pembahasan Hasil Penelitian 3. Informan Penelitian
5.2.2 Informan Utama .1 Informan I
5.2.2.3. Informan III
Nama : Ahmad Fahrezi Umur : 13 Tahun
Alamat : Gang Satria, Jalan Brigjen Katamso Agama : Islam
Pekerjaan : Badut, menjual tissue Pendidikan : 1 SMP
Anak yang akrab disapa Rezi ini merupakan salah satu warga Kelurahan Sukaraja yang berprofesi sebagai badut jalanan dan tak jarang juga berjualan. Kini ia menginjak usia 13 tahun dan hingga saat ini masih sekolah meskipun di tengah pandemi ini sekolahnya tak menentu sebab bukan sekolah seperti biasa melainkan secara online yang mengharuskan para murid untuk memiliki handphone yang mumpuni serta harus dilengkapi paket data internet. Rezi mulai bekerja di jalanan sejak kelas 2 SD yaitu ketika itu ia berjualan kacang. Dahulu ibunya yang memasak kacang.Semenjak ia kelas 6 SD, ayah dan ibunya bercerai. Kini ia tinggal bersama saudara kembar dan ayahnya yang bekerja sebagai kuli bangunan sedangkan ibunya tinggal di Simalingkar dan sudah 1 tahun tidak pernah pulang.
Hal pertama yang peneliti tanyakan pada Rezi yakni apa yang ia pikirkan mengenai pandemi Covid 19 yang tengah terjadi. Lebih tepatnya menanyakan
persepsinya terhadap pandemi Covid 19 ini. Menjawab pertanyaan peneliti, Rezi mengatakannya bahwaia tidak suka dengan kehadiran Virus Covid 19 sebab secara signifikan telah membuat pendapatannya menurun sebab semakin sedikit orang yang memberikan uang. Demikian bentuk tuturan Rezi,
“Saya tidak suka dengan pandemi ini karena semenjak pandemi ini, pendapatan saya menurun kak. Semakin sedikit orang yang memberi uang.
Dulu bisa sampai 300ribu kak. Kalau sekarang karena 3 jam saja kerjanya paling dapat 100. Ini saja 80an ribu dapatnya.“
Kemudian peneliti bertanya seperti apa rutinitasnya setiap hari, pukul berapa ia berangkat jadi badut jalanan, dan menanyakan pukul berapa biasanya ia pulang ke rumah. Menanggapi pertanyaan peneliti, Rezi mengatakan bahwa rutinitas yang biasa ia lakukan sedari pagi yaitu sarapan, mandi kemudian berkumpul bersama anak-anak gang untuk bermain ataupun berangkat cari uang ke jalanan. Biasanya Rezi berangkat pada pada pukul 11 ataupun pukul 1 siang.
Pada masa pandemi ini, Rezi hanya bekerja selama 3 jam sebab takut jika tiba-tiba lewat dinas sosial atau Satpol PP. Artinya apabila ia berangkat pukul 11, maka akan pulang sekitar pukul 1 siang. Bila berangkat pukul 1 maka akan pulang pukul 3 atau 4 sore. Sepulangnya dari bekerja sebagai badut jalanan, Rezi biasanya akan berkumpul bersama anak-anak satu gang lalu selepas itu pulang ke rumah mengerjakan PR. Rezi mengatakan di masa pandemi ini dirinya tidak mau bekerja sampai malam sebab malam waktu untuk istirahat.Demikian bentuk tuturan Rezi,
“Biasanya kalau pagi itu awak sarapan dulu kak. Setelah itu mandi, sikat gigi. Barulah setelahnya berkumpul sama anak-anak gang untuk main, kalau tidak ya langsung pergi cari uang di simpang. Kalau di masa pandemi seperti sekarang ini, awak hanya 3 jam kak bekerja jadi badut. Biasanya
setelah pulang itu awak kumpul sama anak-anak gang untuk main atau kalau ada PR ya mengerjakan PR di rumah. Kalau untuk jam kerja, biasanya itu awak berangkat pukul 11 atau jam 1 siang. Kalau malam waktu untuk istirahatlah.”
Selanjutnya peneliti bertanya pada Rezi terkait hal yang berbeda yang ia alami dan saksikan dalam kesehariannya bekerja di jalanan. Lebih tepatnya peneliti menanyakannya perbedaan pada masa pandemi Covid 19 dengan sebelum pandemi selain dari segi pendapatan. Memberikan jawaban atas pertanyaan peneliti, Rezi mengatakan sejumlah hal berbeda. Sebagai badut jalanan yang notabenenya memakai kostum, Rezi memang tidak harus memakai masker. Namun justu karena memakai kostum itulah membuat ia tidak bisa bergerak lincah. Dalam hal ini bergerak lincah dibutuhkan untuk lari dari Satpol PP dan Dinas Sosial semisal tiba-tiba mobilnya datang. Karena berdasarkan tuturan Rezi, Satpol PP dan dinas sosial cukup sering razia di masa pandemi ini. Demikian kiranya bentuk tuturan informan,
“Seperti yang awak bilang tadilah kak. Pendapatan menurun karena kita pun tak bisa lama-lama di jalan. Terus juga kan sebagai badut awak pakai kostum. Nah kalau pakai kostum ini awak payah gerak cepat kak. Kalau tiba-tiba Dinas Sosial atau Satpol PP datang, habislah. Apalagi nampaknya sekarang mereka makin sering kan razia.”
Pertanyaan selanjutnya peneliti ingin mengetahui alasan atau motif Rezi turun dan bekerja di jalanan di masa pandemi. Menanggapi pertanyaan peneliti, Rezi mengatakan bahwa ia bekerja di jalanan atas kemauannya sendiri yaitu untuk mendapatkan uang dan sama sekali bukan karena suruhan dari orang tuanya. Justru ia mengatakan tidak enak untuk meminta uang pada orang tuanya meskipun jikalau meminta akan diberi. Rezi menekankan juga bahwa salah satu alasannya yaitu
untuk membayar uang sekolahnya sehingga mau tidak mau harus tetap bekerja sekali pun di masa pandemi Covid. Demikian kiranya bentuk tuturan dari,
“Awak jadi badut jalanan ini atas keinginan sendiri kak. Bukan karena disuruh orang tua. Tapi untuk bayar uang sekolah dan untuk jajan sehari-hari. Sesekali awak kasih juga bapak uangnya sebagian untuk beli lauk mau dimasak. Sebenarnya kalau mau minta sama bapak, dikasihnya kak. Tapi tak enak awak mintanya karena bapak pun sepi job sekarang. Makanyalah walaupun pandemi kek gini, awak harus tetap kerja kak.”
Kemudian untuk pertanyaan terkait kelompok referensi, peneliti bertanya pada Rezi selama menjadi badut jalanan, siapa yang biasanya jadi kelompok tempat berkumpulnya. Menjawab pertanyaan peneliti, Rezi mengatakan bahwa teman berkumpulnya yaitu anak-anak yang tinggal di gang yang sama dengannya yaitu Gang Satria. Biasanya ketika berkumpul mereka akan bermain atau bersama-sama pergi mencari uang di jalan. Tentunya dengan Rezi sebagai badut dan teman-temannnya yang lain berjualan atau membersihkan kaca mobil dengan kemoceng.
Melalui penuturan dari Rezi juga peneliti mengetahui bahwa mayoritas anak-anak jalanan di Simpang Katamso tinggal di Gang Satria, Kelurahan Sukaraja.
Demikian bentuk penuturan Rezi,
“Biasanya awak kumpul sama anak-anak segang kak. Orang itukan juga kerja di jalan kak. Awak jadi badut, mereka jualan atau membersihkan kaca mobil orang. Ini anak-anak yang dijalan ini orang Gang Satria semua ini kak. Kecuali yang besar-besar yaa. Sama orang inilah awak biasa kumpul kak.”
Selanjutnya peneliti menanyakan terkait hubungan dan interaksi Rezi dengan keluarganya terutama ayah dan ibunya. Menanggapi pertanyaan peneliti, Rezimengatakan bahwa interaksi dan hubungannya ayahnya cukup baik selayaknya
ayah dan anak. Sebab ia dan ayahnya serta seorang saudara kembarnya tinggal serumah. Setiap hari juga ayahnya yang memasakkan makanan di rumahnya, baik itu sarapan maupun makan malam.
Sementara dengan ibunya, setahun belakangan ini tidak pernah datang berkunjung. Hanya ia yang beberapa kali datang ke kediaman ibunya di Simalingkar. Sebab itu hubungan Rezi dengan ibunya tidak sebaik dengan ayahnya.
Rezi mengatakan bahwa sebenarnya ayahnya pernah memarahinya saat tahu bahwa Rezi bekerja di jalan sebagai badut jalanan. Namun lambat laun ayahnya hanya mengingatkan untuk berhati-hati saja saat berada di jalanan. Demikian kiranya bentuk penuturan Rezi:
“Kalau komunikasi awak sama ayah baik kak. Sebagaimana bapak dan anaklah. Setiap hari bapak memasakkan makanan. Biasanya untuk sarapan sama makan malam. Kalau makan siang awak di luar. Makanya kadang awak ngasih uang untuk beli yang mau dimasak. Sebenarnya dulu pernah dimarahi bapak pas pertama kali bapak tahu awak kerja di jalan. Tapi sekarang cuma dibilang hati-hati. Kalau sama mamak gak terlalu dekat kak.
Mamak juga dah setahun juga gak datang ke sini lagi. Paling awak yang sesekali ke sana.”
Pertanyaan terakhir peneliti yaituberkaitan dengan ada tidaknya kelas sosial yang terbentuk antar anak jalanan. Menjawab pertanyaan peneliti, Rezi mengatakan kelas sosial diantara mereka itu antara ada dan tiada. Kalau diantara sesama anak jalanan dari anak-anak Gang Satria tidak ada. Biasanya anak-anak jalanan yang sudah lebih besar yang memintai duit anak jalanan yang kecil. Orang-orang ini pun bukan berasal dari Gang Satria, alias berasal dari tempat lain yang berdasarkan kabar yang beredar, mereka tinggal berpindah-pindah.Demikian kiranya bentuk
“Sepertinya ada kak. Tapi bukan diantara kami anak-anak Gang Satria.
Biasanya itu anak-anak luar yang lebih besar-besar memintai duit kawan-kawan awak yang kecil-kecil itu kak. Kudengar kabar, orang itupun bukan orang Kelurahan Sukaraja sini. Pindah-pindahnya tempat tinggal orang itu kak.”
5.2.2.4. Informan IV
Nama : Rizky Munawarah Umur : 14 Tahun
Alamat : Gang Satria, Jalan Brigjen Katamso Agama : Islam
Pekerjaan : Berjualan tissue, koran, atau minuman gelas Pendidikan : Kelas 2 SMP
Rizky adalah seorang anak jalanan berpostur tubuh kurus yang bekerja sebagai pedagang di Simpang Katamso. Ia juga merupakan salah satu penduduk dari Gang Satria yang sebelumnya terkenal sebagai tempat tinggalnya para anak jalanan di sana. Sebagai anak keempat dari empat bersaudara, Rizky tinggal bersama ayah dan ketiga kakak dan abangnya. Sedangkan ibunya, sudah pergi melancong ke Negeri Jiran sejak ia masih TK dan hingga kini tak lagi ada kabar terdengar oleh Rizky, ayah dan ketiga saudaranya. Sebagai anak jalanan, Rizky berjualan tissue, koran atau minuman gelas dan botol. Ia mulai aktif beraktivitas di jalanan sejak awal tahun 2020.
Hal pertama yang peneliti tanyakan pada Rizky yaitu terkait sikap dan persepsinya akan pandemi Covid 19 yang tengah terjadi. Lebih tepatnya menanyakancara ia menyikapinya sertapandangannya menghadapi pandemi Covid
19 ini. Menjawab pertanyaan peneliti, Rizky mengatakan bahwa pandemi Covid 19 ini benar-benar sangat menyusahkan.
Sebab dalam bekerja ia harus memakai masker. Padahal memakai masker saat bekerja di jalanan itu benar-benar membuat napas sesak. Selain itu juga kerap kali membuat suara tak terdengar saat menjajakan dagangan. Untuk cara Rizky menyikapi pandemi, ia menggunakan masker dan hanya bekerja beberapa jam saja di jalanan sebab takut apabila Satpol PP tiba-tiba razia. Selain itu, Rizky juga mengatakan bahwa pendapatannya menurun di masa pandemi Covid 19 ini.Demikian kiranya bentuk tuturan Rizky:
“Aduh menyusahkan kali lah pandemi ini kak. Kalau jualan di jalanan mesti pakai masker. Padahal nyatanya pakai masker pas jualan di jalanan yang panas itu bikin napas sesak. Lagi pula pun kadang jadi tak terdengar suara kita kalau pakai masker ini kak. Kalau untuk cara awak menyikapinya yah pakai masker inilah kak. Terus kalau kerja sekarang hanya beberapa jam saja atau yaabagi-bagilah jamnya pagi, siang, malam kak. Karena kalau lama-lama ini awak di jalanan ini takut juga kalau tiba-tiba Satpol PP datang. Lalu pendapatan awak di masa pandemi ini pun menurun kak.”
Kemudian peneliti menanyakan kapan waktu ia biasa berangkat dari rumah, rutinitas apa yang biasa ia lakukan sebelum pergi bekerja, serta menanyakan pukul berapa biasanya ia pulang. Merespon pertanyaan ini, Rizky mengatakan bahwa ia berangkat sedari pukul 9 pagi. Sebelum berangkat berjualan, biasanya ia menggosok gigi terlebih dahulu lalu dilanjutkan sarapan. Kemudian biasanya ia membantu kakak atau ayahnya apabila memang dimintakan pertolongannya. Lalu ia akan berkumpul bersama anak-anak gang untuk bermain atau berangkat bersama mencari uang ke jalanan.
Untuk jam pulangnya, Rizky mengatakan semenjak pandemi, ia tak ingin berlama-lama di jalanan. Salah satunya karena takut apabila Satpol PP tiba-tiba datang. Sebab ia bersama 4 temannya pernah dikejar, dan hanya ia yang bisa meloloskan diri, sementara 3 orang lagi temannya dibawa. Rizky mengatakan biasanya ia akan pulang jam 12 siang untuk makan siang. Setelahnya beristirahat namun terkadang lanjutkan bekerja saat siang. Nanti malamnya ia akan turun lagi ke jalanan. Demikian kiranya bentuk penuturan Rizky:
“Awak berangkat biasanya sekitar jam 9 pagi kak. Yaa biasa sebelum berangkat gosok gigi dulu lah. Habis itu sarapan. Terus kalau kakak atau ayah ada minta tolong ya awak bantu dulu. Terus kalau semua di rumah dah selesai, awak kumpullah kak sama anak-anak gang. Kalau gak main-main ya sama-sama berangkat cari ke jalan cari duit. Terus kalau berkaitan dengan jam pulang itu, di masa pandemi ini awak gak lama-lama kak di jalan. Paling jam 12 siang dah pulang. Kadang lanjut lagi siang, atau mungkin malamnya ke jalan lagi.”
Selanjutnya peneliti menanyakan Rizky terkait hal berbeda yang ia alami dan saksikan dalam kesehariannya bekerja di jalanan setelah dan sebelum masa Covid 19 ini. Lebih tepatnya peneliti menanyakannya perbedaan pada masa pandemi Covid 19 dengan sebelum pandemi. Merespon pertanyaan peneliti, Rizky mengatakan bahwa hal yang berbeda yaitu pendapatannya menurun. Dulu biasa dapat 100.000 per hari. Sekarang sulit untuk dapat jumlah yang sama. Lalu ia mengatakan saat ini, sekolah harus online yang membuat harus beli paket.
Demikian kiranya bentuk tuturan Rizky:
“Sepertinya banyahlah kak hal yang berbeda. Tapi kalau yang terasa ke diri sendiri itu kayak pendapatanku dari jualan ini menurun. Dulu per hari dapalah Rp100.000 bahkan lebih. Sekarang tak sampai lagi segitu. Payah
untuk mengejarkan target segitu karena tak bisa juga kita lama-lama di jalan. Mesti per jam-jam kak untuk menghindari Satpol PP ini.”
Pertanyaan selanjutnya peneliti ingin mengetahui alasan atau motif Rizky turun dan bekerja di jalanan di masa pandemi. Peneliti juga menanyakan apakah ia tidak takut tertular virus Covid-19. Menjawab pertanyaan peneliti, Rizky mengatakan bahwa alasannya turun ke jalan awalnya hanya karena melihat teman yang bisa menghasilkan uang sendiri. Lamba laun motif itu berubah, jadi ingin meringankan beban ayahnya dalam memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
Demikian kiranya bentuk tuturan dari Rizky:
“Awalnya karena lihat-lihat kawan ini kak. Mantap kali awak tengok bisa menghasilkan uang sendiri. Selalu ada jajannya, tak perlu minta orang tua.
Tapi kalau sekarang alasan awak turun jualan ke jalan ini karena tidak ingin menyusahkan orang tua kak. Pengennya itu meringankan beban orang tua dengan pendapatan awak yang tak seberapa ini kak”.
Kemudian untuk pertanyaan terkait kelompok referensi yang dimiliki Rizky, peneliti bertanya selama bekerja di jalan, siapa yang biasanya jadi kelompok tempat berkumpulnya. Menjawab pertanyaan peneliti, Rezky mengatakan bahwa teman berkumpulnya yaitu anak-anak Gang Satria. Saat pagi, mereka akan berkumpul dan bermain. Berangkat mencari uang ke jalanan pun beberapa kali pergi bersama. Bahkan saat pulang makan siang pun, beberapa akan pulang bersama.Demikian kiranya bentuk tuturan informan,
“Yang jadi teman-teman berkumpulku itu biasanya anak-anak gang rumah lah kak. Kalau pagi kadang kami main, berangkat cari uang ke jalanan juga sering sama, istirahat siang sama pulangnya, kalau malam pun sama orang-orang ini juga kak.”
Selanjutnya peneliti bertanya terkait hubungan dan interaksi Rizky dengan ayah, kakak serta kedua abangnya. Menjawab pertanyaan peneliti, informan memberikan jawaban yang singkat bahwa hubungannya dengan keluarga baik, dengan tetangga pun juga begitu. Demikian kiranya bentuk penuturan Rizky:
“Hubunganku sama ayah, kakak sama abang baik-baik saja kak. Tidak ada masalah. Sama tetangga pun baik-baik saja.”
Pertanyaan terakhir peneliti yakni terkait keberadaan kelas sosial yang eksisdiantara anak jalanan. Menjawab pertanyaan peneliti, Rizky mengatakan bahwa kelas sosial diantara mereka sesama anak-anak Gang Satria tidak ada.
Mereka bermain dan mencari uang bersama jadi tidak ada kelas-kelas sosial, karena sebagian besar mereka adalah tetangga. Demikian bentuk penyampaian informan:
“Menurutku tidak ada kak. Kami sesama anak Gang Satria ini sama saja.
Main dan cari makan sama-sama. Apalagi kan rata-rata tetangganya kami ini kak.”
5.2.2.5. Informan V
Nama : Budi Salim Umur : 15 Tahun
Alamat : Gang Satria, Jalan Brigjen Katamso Agama : Islam
Pekerjaan : Berjualan tissue, badut jalanan Pendidikan : Kelas 3 SMP
Budi merupakan seorang anak yang sehari-harinya dihabiskan di jalanan sebagai pedagang tissue dan badut jalanan. Budi tinggal bersama ibunya dan kedua adik perempuannya. Ibu Budi bekerja sebagai tukang cuci yang setiap hari, bekerja
dari rumah ke rumah sedangkan ayahnya pergi bekerja merantau ke Pulau Jawa dan sudah 4 tahun tidak kembali. Sama seperti keempat informan sebelumnya, Budi pun tinggal di Gang Satria. Saat ini Budi masih bersekolah, namun karena sekolah online, Budi mengakui sangat banyak ketinggalan pelajaran.
Hal pertama yang peneliti tanyakan pada Budi yaitu terkait sikap dan persepsinya akan pandemi Covid 19 yang tengah terjadi. Lebih tepatnya menanyakan cara ia menyikapinya serta pandangannya menghadapi pandemi Covid 19 ini. Menjawab pertanyaan peneliti, Budimengibaratkan pandemi sebagai wabah yang mengancam kehidupan, terutama masyarakat golongan bawah dalam hal ekonomi. Demikian bentuk penuturan dari Budi:
“Menurut saya pandemi ini wabah kak. Wabah yang mengacaukan kehidupan masyarakat dari segi ekonomi, terutama masyarakat golongan bawah. Seperti mamak saya, yang tadinya bekerja menyuci dari rumah ke rumah, sekarang tinggal 1 rumah lagi lah yang mau menerima dia tetap bekerja mencuci. Bapak tetangga saya, banyak yang tadinya bekerja sekarang tak lagi bekerja katanya di PHK. Saya juga ini, pendapatan menurun karena pandemi ini kak. Kalau menyikapinya yaa harus tetap cari makan kak biarpun dibilang pemerintah di rumah saja.”
Kemudian peneliti menanyakan kapan waktunya ia biasa berangkat dari rumah, rutinitas apa yang biasa dilakukannya sebelum pergi bekerja, serta menanyakan pukul berapa biasanya ia pulang. Merespon pertanyaan ini, Budi mengatakan iabiasa berangkat jam 10 pagi. Sebelum itu, sebagai seorang muslim ia sholat subuh terlebih dahulu, lalu sarapan dan membantu ibunya menimba air dan mengangkat kain-kain. Terkadang juga ia membantu ibunya membereskan rumah.Lalu setelah semua rutinitasnya selesai, biasanya Budi akan menyusul
dirinya biasa pulang jam 2 atau 3 untuk makan siang dan istirahat. Setelahnya ia akan kembali berjualan atau menjadi badut kembali selepas sholat maghrib sampai jam 9 atau 10. Demikian kiranya bentuk penuturan Budi:
“Saya berangkat dari rumah biasanya jam 10 pagi kak. Sebelum itu biasanya saya sholat subuh dulu, lalu bantu mamak menimba air sumur terus mengangkat kain-kain. Kadang juga beres-beres rumah dulu kak kalau mamak tak sempat. Habis itu baru saya menyusul kawan-kawan yang lain di jalan. Kalau jam pulang, biasanya jam 2 atau 3 saya pulang untuk makan sama istirahat kak. Nanti habis maghrib lanjut lagi sampai jam 9 atau 10.”
Selanjutnya peneliti menanyakan Buditentang hal berbeda yang ialihat dan rasakan dalam kesehariannya bekerja di jalanan setelah dan sebelum masa Covid 19. Apa saja perbedaan yang ia perhatikan sebelum dan sesudah pandemi.
Merespon pertanyaan peneliti, Budi mengatakan pandemi membawa sejumlah perubahan. Terutama bagi ekonomi masyarakat kelas bawah, sebagaimana juga terjadi pada dirinya. Budi juga mengatakan pendapatannya menurun. Biasanya sampai Rp. 150.000, kalau sekarang di kisaran angka Rp. 80.000an. Selain itu, Budi mengatakan harus bekerja pakai masker. Lalu yang terakhir, Satpol PP dan Dinas Sosial semakin sering datang razia. Demikian penuturan Budi:
“Ada beberapa perubahan yang saya lihat kak. Pengaruh pandemi ini bagi pekerjaan masyarakat buruk kak. Jadinya banyak orang yang tak kerja.
Seperti mamak saya lah, tinggal 1 sekarang yang dikerjaannya. Pendapatan pun semakin menurun. Dulu sampai Rp. 150.000, kalau sekarang 80 ribuannya yang dapat. Terus sekarang kalau kerja disuruh pakai masker.
Padahal tahulah kak, sesak napas kerja di jalan pakai masker. Satu lagi Satpol PP sama Dinas Sosial juga nampaknya makin sering razia sekarang.”
Pertanyaan selanjutnya peneliti ingin mengetahui alasan atau motif Budi turun dan bekerja di jalanan di masa pandemi. Peneliti juga menanyakan apakah ia tidak takut tertular virus Covid-19. Menjawab pertanyaan peneliti, Budi mengatakan bahwa alasannya turun ke jalan yaitu untuk membantu ekonomi keluarganya sebab hanya ibunya yang bekerja. Budi memang memberikan setengah hasilnya di jalanan untuk membeli kebutuhan rumah pada ibunya. Selain itu Budi juga mengatakan ia bekerja agar tetap bisa membayar uang sekolahnya dan adiknya nomor 2.Terkait takut tidaknya tertular Covid 19, Budi mengatakan dirinya takut sebab itu ia selalu usahakan bekerja pakai masker. Demikian kiranya bentuk penuturan Budi:
“Saya kerja di jalan ini untuk bantu ekonomi keluarga kak. Kan cuma mamak yang kerja, jadi payah kalau saya tak cari uang juga. Uang yang saya dapat di jalan itu sering saya kasih mamak setengah untuk beli
“Saya kerja di jalan ini untuk bantu ekonomi keluarga kak. Kan cuma mamak yang kerja, jadi payah kalau saya tak cari uang juga. Uang yang saya dapat di jalan itu sering saya kasih mamak setengah untuk beli