Perseroan memiliki tiga anak perusahaan, satu perusahaan ailiasi, dua sub unit bisnis, dan satu kerja sama operasi. Semua entitas usaha tersebut mampu menghasilkan kontribusi pendapatan yang cukup signiikan bagi Perseroan.
PT EDI Indonesia
Perusahaan ini menyediakan jasa pertukaran data elektronik (Electronic Data Interchange – EDI), yaitu proses transfer data yang terstruktur, dari satu sistem komputer ke sistem komputer lainnya untuk memudahkan proses pertukaran data transaksi antar perusahaan. Jasa layanan EDI yang diberikan mulai
dari Value Added Network (VAN) dengan jaminan
keamanan lalu lintas data secara maksimum, Konsultansi, implementasi, instalasi dan integrasi sistem, sampai dengan pelatihan.
Berdiri pada bulan Juli 1995, kepemilikan saham di PT EDI Indonesia terdiri dari 51% Perseroan dan 49% saham PT Sisindosat Lintas Buana, yaitu anak perusahaan PT Indosat. Dalam perkembangannya terjadi pengalihan seluruh saham PT Sisindosat Lintas Buana kepada PT Sisindokom Lintas Buana. Meningkatnya kebutuhan akan jasa elektronik di berbagai bidang diantisipasi oleh PT EDI dengan memperkuat dan mengembangkan berbagai produk dan jasa mencakup pengembangan produk dan jasa untuk komunitas bea dan cukai, komunitas pelabuhan juga komunitas ritel dan perbankan. PT EDI juga melakukan perluasan cakupan layanan dengan membangun jaringan di kota- kota strategis, interkoneksi dengan jaringan-jaringan lain, meningkatkan tingkat keamanan jaringan dan penyediaan solusi menyeluruh kepada pelanggan.
PT Multi Terminal Indonesia (PT MTI)
PT Multi Terminal Indonesia (PT MTI) adalah anak perusahaan yang bergerak dalam tiga segmen usaha yaitu Multi Purpose Terminal, Container Terminal dan Freight Forwarding. Perusahaan ini merupakan hasil spin of dari Divisi Usaha Terminal (DUT) di bawah Cabang Pelabuhan Tanjung Priok. PT MTI yang didirikan pada 15 Februari 2002 bertujuan untuk mengoptimalkan potensi bisnis dan memperkuat keunggulan bersaing sebagai penyedia jasa kepelabuhanan. Komposisi kepemilikan saham PT MTI terdiri dari 99% saham Perseroan dan 1% sahamnya dimiliki Koperasi Pegawai Maritim (Kopegmar).
The Company has three subsidiaries, one ailiate, two sub business units, and one joint operation. All business entities are capable of generating signiicant contribution to the Company.
PT EDI Indonesia
The Company provides Electronic Data Interchange – EDI which is a structured data transfer from a computer system to another computer system to facilitate the switching process of transaction data among business entities. EDI services being provided include Value Added Network (VAN) with a maximum guarantee of data traic security, consultancy, implementation, system installation and integration, and training.
Established in July 1995, PT EDI Indonesia is 51% owned by the Company and 49% by PT Sisindosat Lintas Buana, which is a subsidiary of PT Indosat. In its development, all shares of PT Sisindosat Lintas Buana were later transferred to PT Sisindokom Lintas Buana. The increasing demand of electronic service in various areas is anticipated by PT EDI by strengthening and developing various products and services including the development of products and services for custom and excise, port, retail and banking. PT EDI also provides extended services by building network in strategic cities, making interconnection with other network, increasing the network security level and providing total solution for its customers.
PT Multi Terminal Indonesia (PT MTI)
PT Multi Terminal Indonesia (PT MTI) is a subsidiary engaged in three business segments which are Multi Purpose Terminal, Container Terminal and Freight Forwarding. The Company is a spin of from Terminal Business Division (DUT) under Tanjung Priok Port Branch. PT MTI which was established on 15 February 2002 is intended to optimize the business potentials and to strengthen the competitive advantages as the provider of port services. PT MTI is 99% owned by the Company and 1% by Koperasi Pegawai Maritim (Kopegmar).
PT Rumah Sakit Pelabuhan (PT RSP)
Meski secara resmi baru masuk sebagai anak perusahaan pada bulan Mei 1999, sejarah PT Rumah Sakit Pelabuhan (PT RSP) dapat dikatakan berdampingan dengan sejarah perusahaan induknya. Cikal bakal PT RSP adalah Port Health Center (PHC) yang didirikan pada 21 Agustus 1971. Pada 21 Maret 1972, PHC bergabung dengan Rumah Sakit Pelayaran dan berubah nama menjadi Rumah Sakit Pelabuhan pada 20 Mei 1978. Perubahan status dari Perusahaan Umum (Perum) Pelabuhan menjadi PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) membuat status Rumah Sakit Pelabuhan pun ikut berubah. Pada tahun 1999 RSP secara resmi menjadi badan hukum berbentuk Perseroan Terbatas sekaligus menjadi anak perusahaan Perseroan. Komposisi kepemilikan Saham di PT RSP terbagi atas 99,52% milik Perseroan dan 0,48% milik Koperasi Pegawai Maritim (Kopegmar). PT RSP membawahi empat rumah sakit yaitu RSP Jakarta, RSP Cirebon, RSP Boom Baru Palembang dan RS Port Medical Center, Jakarta.
PT Rumah Sakit Pelabuhan (PT RSP)
Though oicially listed as one of subsidiaries of the Company in May 1999, the history of PT Rumah Sakit Pelabuhan (PT RSP) could be considered as equivalent with the history of its holding company. The embryo of PT RSP was Port Health Center (PHC) established on 21 August 1971. On 21 March 1972, PHC merged with Rumah Sakit Pelayaran and changed its name into Rumah Sakit Pelabuhan on 20 May 1978.
The change of status from Perusahaan Umum (Perum) Pelabuhan into PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) also changed the status of Rumah Sakit Pelabuhan. In 1999 RSP was oicially becoming a legal entity as a limited liability company and at the same time becoming the Company’s subsidiary. PT RSP is 99.52% owned by the Company and 0.48% by Koperasi Pegawai Maritim (Kopegmar). PT RSP is managing four hospitals which are RSP Jakarta, RSP Cirebon, RSP Boom Baru Palembang and RS Port Medical Center, Jakarta.
PT Jakarta International Container Terminal (PT JICT)
PT Jakarta International Container Terminal (PT JICT) merupakan perusahaan ailiasi Perseroan yang didirikan pada tahun 1999. Sahamnya mayoritas dimiliki Hutchison Port Holding Group (HPH Group) sebesar 51%. Sisanya 48,9% dimiliki Perseroan dan 0,1% dimiliki Koperasi Pegawai Maritim.
Bidang usaha PT JICT adalah pelayanan bongkar muat petikemas baik ekspor maupun impor di Pelabuhan Tanjung Priok. Pada awal berdirinya, PT JICT mampu menangani 1,8 juta TEUs dan meningkat hingga 2,4 juta TEUs pada akhir 2007. Dengan lingkup operasional dan kapasitas yang ada, PT JICT merupakan terminal petikemas terbesar dan tersibuk di Indonesia. Dengan penambahan dermaga sepanjang 552 m dan lapangan penumpukan seluas 3,5 Ha, kini PT JICT mampu melayani arus petikemas melalui Pelabuhan Tanjung Priok hingga 3 juta TEUs per tahun.
PT Jakarta International Container Terminal (PT JICT)
PT Jakarta International Container Terminal (PT JICT) is an ailiate of the Company which was established in 1999. The majority shareholding is owned by Hutchison Port Holding Group (HPH Group) at 51%. The remaining 48,9% of which is owned by Koperasi Pegawai Maritim.
The business line of PT JICT is container loading/ unloading service both for export and import at Tanjung Priok Port. Upon its inception, PT JICT could manage the handling of 1.8 million TEUs and increased by 2.4 million TEUs at the end of 2007. With its existing operations and capacity, PT JICT is the biggest and busiest container terminal in Indonesia. With an addition of 552-meter wharf and 3.5 hectares of stacking yard, PT JICT is now capable of serving the container traic up to 3 million TEUs per annum at Tanjung Priok Port.