• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.3. Aspek Pelayanan Umum 1 Pendidikan

2.3.3 Infrastruktur Daerah a. Infrastruktur transportasi

Panjang jalan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat pada tahun 2008 adalah 1.545,975 Km. Terdiri dari jalan dalam kondisi baik 238,261 Km, jalan sedang 564,951 Km, jalan rusak 470,029 Km, dan jalan rusak berat 238,604 Km (Tanjung Jabung Barat dalam Angka, 2009). Dari data terlihat bahwa secara umum kondisi jalan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dalam kondisi sedang dan rusak. Jalan dalan kondisi baik hanya 15,41% dari total panjang

jalan yang ada sedangkan jalan yang rusak dan rusak berat mencapai 45,84%.

Di lihat dari persentase jalan yang rusak dan rusak berat yang cukup tinggi dan panjang jalan dengan permukaan tanah yang masih dominan maka kedepan pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat tetap harus memperioritaskan perbaikan dan peningkatan prasarana jalan. Sebaran kondisi jalan pada masing-masing kecamatan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 2.28.

Tabel 2.28.

Panjang Jalan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Menurut Kecamatan (km) dan Kondisi Jalan Tahun 2008

Kecamatan Baik Sedang Rusak Rusak Berat Jumlah

1. Tungkal Ulu 95,670 232,950 324,488 38,824 689,332 2. Merlung 72,430 91,360 34,272 5,420 209,582 3. Batang Asam * * * * * 4. Tebing Tinggi * * * * * 5. Renah Mendaluh * * * * * 6. Muara Papalik * * * * * 7. Pengabuan 22,055 52,485 26,500 92,520 199,050 8. Senyerang * * * * * 9. Tungkal Ilir 25,242 77,420 27,820 68,500 215,462 10 Bram Itam * * * * * 11. Seberang Kota * * * * * 12. Betara 22,864 110,736 56,949 39,340 232,549 13. Kuala Betara * * * * * Jumlah 2008 238,261 564,951 470,029 238,604 1.545,975 2007 190,976 513,210 461,773 256,174 1.456,263 2006 176,912 470,480 427,490 235,948 1.349,870 2005 162,738 464,336 411,090 226,650 1.294,514 2004 - - - - 1.225,549

*) Data masih bergabung dengan kecamatan induk (Sumber: Tanjung Jabung Barat dalam Angka, 2009)

Sementara itu panjang jalan kabupaten menurut jenis permukaannya di Kabupaten Tanjung Jabung Barat mengalami perkembangan. Pada tahun 2004 panjang jalan memiliki jenis permukaan aspal hanya sekitar 262,00 Km

permukaan kerikil 278,56 Km, dan yang masih memiliki jenis permukaan tanah sekitar 670,27 Km. Sedangkan untuk tahun 2008 panjang jalan yang memiliki jenis permukaan aspal meningkat menjadi 387,17 km, jenis permukaan kerikil sepanjang 473,50 km dan jenis permukaan tanah turun menjadi 639,88 km.

Tabel 2.29.

Panjang Jalan Kabupaten Tanjung Jabung Barat Menurut Kecamatan dan Jenis Permukaan Jalan Tahun 2008.

Kecamatan Aspal Kerikil /

Koral Tanah Beton Jumlah

1. Tungkal Ulu 171,157 209,778 300,400 8,000 689,335 2. Merlung 88,427 73,120 42,330 5,700 209,577 3. Batang Asam * * * * * 4. Tebing Tinggi * * * * * 5. Renah Mendaluh * * * * * 6. Muara Papalik * * * * * 7. Pengabuan 20,720 27,800 138,400 12,130 199,050 8. Senyerang * * * * * 9. Tungkal Ilir 70,646 49,243 80,300 15,273 215,462 10. Bram Itam * * * * * 11. Seberang Kota * * * * * 12. Betara 36,220 113,559 78,450 4,320 232,549 13. Kuala Betara * * * * * Jumlah 2008 387,17 473,500 639,880 45,423 1.545,973 2007 356,119 456,761 603,930 39,453 1.456,263 2006 327,396 442,324 546,950 33,200 1.349,870 2005 310,871 416,493 537,450 29,700 1.294,514 2004 262,006 278,564 670,274 15,705 1.225,549 *) Data masih bergabung dengan kecamatan induk

(Sumber: Tanjung Jabung Barat dalam Angka, 2009)

Tabel 2.29. menunjukkan sebaran jenis permukaan jalan pada setiap kecamatan di Kabuten Tanjung Jabung Barat tahun 2008. Dari Tabel tersebut terlihat bahwa kecamatan Tungkal Ulu, Pengabuan dan Tungkal Ilir merupakan kecamatan yang memiliki persentase jalan dengan permukaan tanah masih dominan. Jalan dengan jenis permukaan kerikil/koral juga masih

cukup banyak ditemukan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang mencapai 473,30 km (30,63%). Untuk pembangunan ke depan kondisi jalan yang sedemikian harus mendapat perhatian.

Kecuali ruas jalan, untuk menunjang kelancaran transportasi barang dan jasa juga diperlukan infrastruktur jembatan yang memadai. Sampai dengan tahun 2008 jumlah jembatan dengan kontruksi besi/beton di kabupaten Tanjung Jabung Barat sebanyak 63 buah, dan jembatan dengan konstruksi kayu masih sebanyak 127 buah. Sedangkan gorong-gorong dengan konstruksi besi/beton mencapai 852 buah dan 129 buah gorong-gorong dengan konstruksi kayu. Untuk sebaran jumlah jembatan dan gorong-gorong berdasarkan konstruksinya di masing-masing kecamatan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dapat dilihat pada Tabel 2.30. Pada Tabel tersebut terlihat bahwa masih cukup banyak jembatan yang memiliki konstruksi kayu. Jembatan jenis ini harus ditingkatkan kemampuannya dan masih perlunya dibangun jembatan-jembatan baru untuk memperlancar transportasi barang dan jasa di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Tabel 2.30.

Banyaknya Jembatan dan Gorong-Gorong Menurut Kecamatan dan Jenis Konstruksi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2008

Kecamatan Jembatan Gorong-gorong Konstruksi Besi/Beton Konstruksi Kayu Konstruksi Besi/Beton Konstruksi Kayu 1. Tungkal Ulu 11 11 86 - 2. Merlung 17 8 108 - 3. Batang Asam * * * * 4. Tebing Tinggi * * * * 5. Renah Mendaluh * * * * 6. Muara Papalik * * * * 7. Pengabuan 2 54 164 55 8. Senyerang * * * * 9. Tungkal Ilir 23 23 376 28 10 Bram Itam * * * * 11. Seberang Kota * * * * 12. Betara 10 31 118 46

13. Kuala Betara * * * * Jumlah 2008 63 127 852 129 2007 56 125 850 129 2006 46 102 740 113 2005 44 94 596 113 2004 41 89 587 113

*) Data masih bergabung dengan kecamatan induk (Sumber: Tanjung Jabung Barat dalam Angka, 2009).

Selain transportasi darat, transportasi sungai dan laut juga penting bagi perkembangan dan kemajuan masyarakat Tanjung Jabung Barat. Hal ini disebabkan sebagian banyak wilayah dan desa-desa di Kabupaten Tanjung Jabung Barat berada di pinggiran sungai dan laut. Data kegiatan Lalu Lintas Kapal, Penumpang dan Barang Melalui Dermaga LLASDP di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2008, ditampilkan pada Tabel 2.163.

Tabel 2.31.

Lalu Lintas Kapal, Penumpang dan Barang Melalui Dermaga LLASDP di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2008.

Bulan Kapal (Buah) Penumpang (Orang) Barang (Ton) Datang Berangkat Datang Berangkat Bongkar Muat

Januari 1.320 1.326 12.580 12.627 755 572 Februari 1.361 1.363 14.699 14.873 758 501 Maret 1.369 1.375 15.013 14.706 795 677 April 1.468 1.451 17.463 17.367 997 783 Mei 1.446 1.458 14.868 14.319 1197 1.317 Juni 1.342 1.315 13.026 12.941 868 1.169 Juli 1.327 1.306 12.661 12.585 769 1.052 Agustus 1.302 1.310 12.644 12.241 779 681 September 1.557 1.562 26.951 25.909 1637 1.590 Oktober 1.389 1.382 22.685 22.296 1418 1.393 November 1.444 1.453 24.326 22.209 1515 1.530 Desember 1.217 1.218 22.436 21.704 1318 1.314 Jumlah 2008 16.542 16.519 209.352 203.777 12.806 12.579 2007 11.681 11.663 200.298 180.069 17.664 18.192 2006 4.417 4.482 37.876 37.755 229.687 223.007 2005 2.654 2.568 25.798 27.725 128,9 139,3 2004 4.079 4.058 20.492 19.534 4.183 3.833

Data Tabel 2.31. menunjukkan bahwa kegiatan transportasi baik barang maupun penumpang sepanjang tahun 2008 cukup ramai. Hal ini berarti bahwa transportai sungai dan laut sangat penting dalam menunjang perekonomian masyarakat di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Biaya transportasi sungai dan laut relatif lebih murah dibandingkan dengan alat transportasi lain. Keunggulan komperatif ini jika dimanfaatkan dengan baik akan memberikan keuntungan besar bagi masyarakat. Dengan biaya transportasi yang murah maka harga jual hasil usaha masyarakat akan lebih tinggi sementara harga komoditi konsumsi masyarakat akan lebih rendah. Keuntungan dua sisi ini akan sangat membantu meringankan beban ekonomi masyarakat.

b. Perhubungan

Upaya peningkatan kualitas transportasi baik darat (jalan), sungai dan laut harus diikuti oleh upaya peningkatan manajemen pengelolaan transportasi. Peningkatan ini kecuali untuk menekan tingkat kerusakan fasilitas infrastruktur transportasi juga untuk memberikan pelayanan publik yang lebih baik. Peningkatan pelayanan ini kecuali untuk meningkatkan kenyamanan juga untuk meningkatkan keselamatan pemakai jalan. Keselamatan ini menjadi penting karena peningkatan kualitas jalan biasanya akan diikuti dengan peningkatan angka kecelakaan lalu lintas dan pelanggaran oleh pengguna jalan.

Untuk tahun 2008, terjadi kecelakaan lalulintas sebanyak 57 kali dengan rincian korban 38 orang luka ringan, 36 orang luka berat dan 44 orang meninggal dunia. Angka ini meningkat dari tahun 2007 dimana terjadi 34 kali kecelakaan lalulintas dengan rincian korban 11 orang luka ringan, 13 orang luka berat dan 27 orang meninggal dunia (Tanjung Jabung Barat dalam Angka, 2009).

c. Infrastruktur air bersih, listrik dan telepon

Berdasarkan data Tanjung Jabung Barat dalam Angka tahun 2009, Kemampuan produksi air bersih tahun 2008 mencapai 585.414 m3. Produksi ini meningkat dibandingkan dengan produksi tahun 2007 sebesar 568.664

rumah tangga (2,75%). Akses untuk mendapatkan air minum yang memadai hanya dinikmati oleh 6.301 rumah tangga atau 10,16 % dari jumlah rumah tangga Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang mencapai 62.670 KK. Sumber air minum tersebut antara lain Ledeng, sumur pompa dan air kemasan. 68,86% rumah tangga di Kabupaten Tanjung Jabung Barat masih memanfaatkan air hujan sebagai sumber air bersih (Tabel 2.32).

Permasalahan ini harus segera dipecahkan dengan penyediaan sarana air bersih yang terjangkau bagi seluruh masyarakat karena air bersih merupakan kebutuhan vital yang akan menentukan tingkat kesehatan masyarakat.

Tabel 2.32.

Rumah tangga di Kabupaten Tanjung Jabung Barat menurut sumber air minum tahun 2008

Sumber Air Minum Jumlah Persentase

1. Ledeng/Pompa/Air Kemasan 6.301 10,16

2. Sumur/Mata Air terlindung 5.378 8,67

3. Sumur/Mata Air Tak Terlindung 3.782 6,10

4. Air Sungai 3849 6,21

5. Air Hujan 42710 68,86

Total 62.020 100,00

(Sumber : Susenas 2009, BPS Kabupaten Tanjung Jabung Barat)

Pembangunan sarana dan jaringan air bersih tentu harus menjadi prioritas pembangunan Kabupaten Tanjung Jabung Barat lima tahun kedepan. Apalagi jika dilihat bahwa terjadi pertumbuhan jumlah penduduk yang cukup signifikan. Pada tahun 2008 jumlah penduduk Tanjung Jabung Barat mencapai 250.746 jiwa. Dengan pertambahan penduduk dalam kurun waktu 2000 – 2007 rata-rata 2,43% pertahun (Tanjung Jabung Barat dalam Angka, 2009), maka kebutuhan air bersih tentu semakin bertambah. Penyediaan air bersih tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga tetapi juga akan memenuhi kebutuhan industri dan dunia usaha. Dengan semakin berkembangnya Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang dipicu oleh perkembangan dunia usaha dan industri tentu harus diimbangi dengan

penyediaan air bersih yang mencukupi baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Kecuali air bersih, listrik juga merupakan kebutuhan dasar saat ini. Penggunaan energi listrik untuk penerangan di wilayah pedesaan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat masih relatif sedikit. Berdasarkan data tahun 2007, Jumlah daya listrik yang di produksi PLN (Perusahaan Listrik Negara) sebesar 29.180.580 Kwh. Produksi ini meningkat menjadi 31.630.134 kwh pada tahun 2008. Sementara jumlah pelanggan mencapai 15.280 termasuk industri dan perkantoran (Tanjung Jabung Barat Dalam Angka, 2009). Pengguna energi listrik PLN menurut jumlah rumah tangga di Kabupaten Tanjung Jabung Barat tahun 2008 baru mencapai 37,89 % yang meningkat dari 22,27 % di tahun 2007. Sedangkan 30,02% rumah tangga menggunakan listrik non PLN sisanya menggunakan sumber energi lain untuk penerangan (Susenas 2009, BPS Kabupaten Tanjung Jabung Barat).

Berdasarkan data tersebut walaupun terjadi peningkatan dari tahun 2007, terlihat bahwa masih sangat terbatas kemampuan Pemerintah Tanjung Jabung Barat dalam menyediakan tenaga listrik bagi kebutuhan masyarakat. Padahal listrik tidak hanya penting bagi kebutuhan rumah tangga tetapi sangat vital bagi industri dan dunia usaha. Pengusaha dan penanam modal biasanya menjadikan ketersediaan tenaga listrik sebagai salah satu pertimbangan utama dalam menentukan usahanya pada suatu daerah. Perkembangan sarana kelistrikan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dapat dilihat pada Tabel 2.33. berikut:

Tabel 2.33.

Perkembangan Sarana Kelistrikan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2004 – 2008 2004 2005 2006 2007 2008 Produksi Terjual (Kwh) 28.409.951 26.335.340 29.791.456 29.180.580 31.630.134 Jumlah Pelanggan * 12.713 13.335 14.729 15.280

(Sumber: Tanjung Jabung Barat dalam Angka, 2009)

Telepon memegang peranan penting dalam peningkatan arus informasi serta menunjang pembangunan dan peningkatan kesejahteraan

masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Pemakaian fasilitas telepon di Kabupaten Tanjung Jabung Barat hanya mencapai 8,5% atau 5.303 rumah tangga sedangkan pemakai telpon seluler mencapai 59,30% atau 36.778 rumah tangga (Susenas 2009, BPS Kabupaten Tanjung Jabung Barat). Data ini menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap sarana komunikasi telpon terutama telpon kabel masih sangat terbatas. Sedangkan pemakain telepon seluler mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan tahun 2007.

d. Perumahan

Dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi (2,43%) di Kabupaten Tanjung Jabung Barat maka kebutuhan akan perumahan akan semakin tinggi pula. Sementara kemampuan pemerintah daerah untuk menyediakan perumahan masih rendah. Hal ini terlihat dari masih banyak terdapat perumahan yang tidak layak huni terutama bagi golongan penduduk miskin. Rumah tangga di Kabupaten Tanjung Jabung Barat umumnya memiliki rumah dengan dinding tembok hanya 15,49%, rumah dengan dinding kayu mencapai 83,88% dan rumah dengan dinding bambu 0,26% (Susenas 2009, BPS Kabupaten Tanjung Jabung Barat). Untuk itu peran pihak pemerintah dan swasta dalam pembangunan perumahan sangat dibutuhkan untuk menyediakan perumahan yang layak bagi penduduk.

Disamping itu menurunnya kualitas lingkungan perumahan dan permukiman khususnya daerah perkotaan dan meningkatnya kawasan kumuh juga menjadi permasalahan yang harus diantisifasi ke depan. Untuk memenuhi kebutuhan perumahan bagi penduduk maka tantangan yang dihadapi adalah: harga rumah semakin mahal akibat dari naiknya harga bahan bangunan. Masyarakat umumnya lebih memilih membangun lokasi permukiman di tepi sungai dan dipinggir jalan raya sehingga akan menimbulkan hunian yang kumuh dan tidak bersih, yang berakibat dapat menurunkan kualitas lingkungan perumahan.

Data hasil SUSENAS 2009 menunjukkan bahwa 74,24 % rumah tangga di Kabupaten Tanjung Jabung Barat memiliki rumah sendiri

sedangkan sisanya mengontrak dan menyewa (8,15%); 8,80% tinggal di rumah dinas; dan 3,80 % tinggal di rumah milik orang tua atau saudara.

Data Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di kabupaten Tanjung Jabung Barat tahun 2007 didominasi oleh pembangunan tempat usaha sebanyak 104 yang diikuti oleh rumah tinggal sebanyak 31 dan bangunan pertokoan 23 izin. Walaupun demikian masih sangat sedikit penduduk Kabupaten Tanjung Jabung Barat dalam membangun rumah untuk tahun tersebut yang hanya 26 buah. Data jumlah IMB yang dikeluarkan selama tahun 2003 - 2008 di Kabupaten Tanjung Jabung Barat berdasarkan jenis bangunannya dapat dilihat pada Tabel 2.34.

Tabel 2.34.

Jumlah Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Yang Dikeluarkan oleh Kantor Pengelolaan Pasar, Kebersihan, dan Tata Bangunan

Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Tahun Bangunan Pertokoan Bangunan Tempat Usaha Bangunan Tempat Tinggal 2008 10 88 43 2007 23 104 31 2006 6 119 25 2005 34 162 31 2004 45 99 47 2003 42 99 47

(Sumber: Tanjung Jabung Barat dalam Angka, 2009)

Data SUSENAS 2008 juga menunjukkan bahwa hanya 73,88% rumah tangga di Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang memiliki fasilitas buang air besar sendiri. Sisanya sebanyak 2,91% menggunakan fasilitas tersebut secara bersama;1,94% menggunakan fasilitas buang air besar umum dan 21,27% tidak memiliki fasilitas untuk buang air besar. Dari data tersebut diatas terlihat bahwa masih banyak upaya pembangunan yang harus dilakukan untuk menciptakan rumah yang sehat dengan lingkungan yang sehat pula.

e. Pemerintahan Umum 1. Perangkat Dareah

Sebagai penjabaran PP No. 41 Tahun 2007, di Kabupaten Tanjung Jabung Barat telah dibentuk tiga Perda, yaitu Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat; Peraturan Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat; Peraturan Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat Nomor 15 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Tabel 2.35.

Nama dan Jumlah Kelembagaan Daerah di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2008.

NO KATAGORI NAMA LEMBAGA

I Dinas Daerah 1. Dinas Pendidikan; 2. Dinas Kesehatan; 3. Dinas Pekerjaan Umum;

4. Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah;

5. Dinas Perhubungan, Informatika & Komunikasi; 6. Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi;

7. Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah; 8. Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Promosi

Daerah;

9. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil;

10. Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata;

11. Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura; 12. Dinas Perikanan dan Kelautan;

13. Dinas Kehutanan; 14. Dinas Perkebunan;

15. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral; 16. Dinas Peternakan.

II Lembaga Teknis Daerah

1. Inspektorat ;

2. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal ;

3. Badan Kepegawaian Daerah ;

4. Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan;

5. Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat;

6. Badan Lingkungan Hidup Daerah;

7. Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan;

8. Kantor Penelitian dan Pengembangan Daerah; 9. Kantor Ketahanan Pangan;

10. Kantor Penanggulangan Kebakaran;

11. Kantor Pengelolaan Pasar, Kebersihan dan Tata Bangunan;

12. Kantor Pengolahan Data Elektronik, Perpustakaan, Kearsipan dan Dokumentasi;

13. Kantor Satuan Polisi Pamong Praja; 14. Rumah Sakit Umum Daerah.

III Sekretariat Daerah 1. Sekretariat Daerah 2. Sekretariat DPRD

Berdasarkan 3 (tiga) Perda kelembagaan daerah tersebut di Kabupaten Tanjung Jabung Barat saat ini terdapat 16 dinas daerah, 14 lembaga teknis daerah, dan 2 sekretariat, dengan jumlah keseluruhan 32 (tiga pulu dua satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Jumlah SKPD tersebut mengalami penambahan jika dibanding kelembagaan daerah yang ada sebelumnya. Banyaknya jumlah SKPD di satu sisi merupakan kebutuhan untuk dapat meningkatkan kinerja pemerintahan daerah dalam rangka pelayanan masyarakat, namun di sisi lain dapat berdampak pada peningkatan anggaran opersional.

Dokumen terkait