Silas merasa kuat ketika dia melangkah keluar dari Audi hitam itu. Angin malam meniup jubah longgarnya. Angin perubahan menghembus di udara. Dia tahu, kewajiban yang harus dilakukannya lebih memerlukan kelembutan daripada kekuatan, dan dia meninggalkan pistolnya di dalam mobil. Guru telah menyediakan baginya pistol Heckler Koch USP 40 berpeluru 13.
Senjata kematian tak layak dalam rumah Tuhan.
Plaza di depan gereja anggun itu sangat sunyi pada jam seperti sekarang ini. Satu-satunya jiwa yang tampak di kejauhan gereja adalah sepasang pelacur remaja yang memamerkan tubuh mereka pada lalu-lintas turis-turis malam. Tubuh mereka yang mulai dewasa mengirimkan kerinduan pada bagian bawah tubuh Silas. Pahanya menegang dan dengan sendirinya membuat cilice berdurinya semakin mengetat dan menghunjami dagingnya dengan duri sehingga terasa sangat sakit. Gairahnya itu menguap dengan cepat. Selama sepuluh tahun sekarang ini, Silas dengan setia telah meninggalkan segala bentuk kegemaran seksual, bahkan yang swadaya. Itu karena The Way. Dia tahu dia telah mengorbankan banyak hal untuk mengikuti Opus Dei, namun dia telah menerima lebih banyak lagi sebagai imbalannya. Sebuah sumpah untuk tetap membujang dan pelepasan semua harta pribadi hampir tak tampak seperti sebuah pengorbanan. Mengingat asal muasal dirinya yang miskin dan kengerian seksual yang telah dilaluinya dalam penjara, terus membujang merupakan tantangan yang menyenangkan.
Sekarang, dia telah kembali ke Prancis untuk pertama kalinya setelah ditangkap dan dikirim ke penjara Andorra. Si1as dapat merasakan negerinya mengujinya, dengan menyeret-nyeret kenangan kekejaman dari jiwanya yang telah bersih. Kau telah dilahirkan kembali, dia mengingatkan dirinya sendiri. Pelayanannya kepada Tuhan hari ini telah membebaskannya dari dosa pembunuhan dan itu merupakan pengorbanan yang dia tahu harus
disembunyikannya dalam hati seumur hidupnya.
Ukuran keyakinanmu adalah ukuran sakit yang bisa kautahan. Guru telah mengatakan itu kepadanya. Silas tak asing lagi pada rasa sakit dan merasa bersemangat untuk membuktikan dirinya kepada Guru, orang yang telah meyakinkan dirinya bahwa tindakannya ini ditakdirkan oleh kekuatan yang lebih tinggi.
“Hago la obra de Dios,” bisik Silas, sekarang bergerak ke arah pintu masuk
gereja.
Dia berhenti di dalam bayangan pintu masuk yang besar, menarik napas dalam. Dia segera sadar tentang apa yang akan dilakukannya dan apa yang menantinya di dalam.
Batu kunci itu. Itu akan memimpin kita menuju ke tujuan akhir. Dia menaikkan kepalan tangan putih hantunya dan menggedor pintu itu tiga kali.
Beberapa saat kemudian, gerendel kayu besar itu telah bergerak.
Bab 16
SOPHIE BERTANYA-TANYA berapa lama lagi Fache akan sadar bahwa dia belum keluar gedung ini. Melihat bahwa Langdon jelas kewalahan, Sophie ragu apakah dia telah melakukan hal yang benar dengan memojokkan Langdon di sini, di kamar kecil pria.
Apa lagi yang bisa kulakukan?
Dia membayangkan tubuh kakeknya, bugil dan terentang seperti burung elang di atas lantai. Ada masa ketika kakeknya itu sangat berarti baginya, namun malam ini, Sophie terkejut juga karena dia tidak merasa bersedih sama sekali untuk kakeknya. Sekarang Jacques Saunière merupakan orang asing baginya. Hubungan mereka telah menguap begitu cepat pada suatu malam bulan Maret ketika dia berumur 22 tahun. Sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu Sophie pulang beberapa hari lebih awal dari sebuah universitas di Inggnis dan secara tidak sengaja melihat kakeknya sedang melakukan sesuatu yang betul-betul tak seharusnya dilihat Sophie. Sophie sama sekali tak dapat memercayainya hingga saat ini.
Terlalu malu dan bingung untuk memikul upaya kakeknya memberi penjelasan, Sophie segera pindah dan mengambil seluruh uang tabungannya, menyewa sebuah flat kecil dengan beberapa orang teman. Dia bersumpah tidak akan membicarakan apa yang pernah dilihatnya itu dengan orang lain. Kakeknya mencoba menghubunginya, mengiriminya kartu-kartu dan surat-surat, memohon Sophie untuk bertemu dengannya agar dapat dia jelaskan. Menjelaskan bagaimana? Sophie tak pernah menjawab kecuali satu kali— untuk melarang kakeknya menelepon atau berusaha bertemu dengannya di tempat umum. Dia takut penjelasan kakeknya lebih mengerikan daripada kejadian itu sendiri.
Hebatnya, Saunière tak pernah menyerah, dan Sophie sekarang memiiki tumpukan sepuluh tahun surat-surat yang tak pernah dibukanya di dalam lacinya. Sophie menghormati kakeknya karena dia tak pernah melanggar larangan cucunya untuk menelpon.
Sampai siang tadi.
“Sophie?” Suaranya, mengherankan, terdengar sangat tua pada mesin penjawab Sophie. “Aku telah mematuhi keinginanmu sejak lama ... dan
menelponmu sekarang ini membuatku sakit, tapi aku harus berbicara denganmu.
Ada sesuatu yang mengerikan terjadi.”
Sophie berdiri di dapur flatnya, merasa merinding mendengar lagi suara kakeknya setelah bertahun-tahun. Suara lembutnya membawa kembali kenangan masa kanak-kanak Sophie.
“Sophie, kumohon, dengarkan.” Dia berbahasa lnggris, seperti yang dilakukannya ketika Sophie masih kecil. Berbicara bahasa Prancis di sekolah,
berbahasa Inggris di rumah. “Kau tidak bisa marah selamanya. Apakah kau tidak
membaca surat-surat yang kukirim selama bertahun-tahun ini? Apakah kau belum
juga mengerti?” dia berhenti sejenak. “Kita harus segera bicara, kumohon kabulkan
permintaan kakekmu yang satu ini. Telepon aku di Museum Louvre. Langsung. Aku
tahu pasti, kau dan aku sedang dalam bahaya besar.”
Sophie menatap mesin penjawab itu. Bahaya? Apa maksudnya?
“Putri ....“ Suara kakeknya bergetar karena emosi yang tak dapat dimengerti Sophie. “Aku tahu, aku punya rahasia padamu, dan aku tahu, aku kehilangan
cintamu karena itu. Tetapi itu untuk keselamatanmu sendiri. Sekarang kau harus tahu yang sebenarnya. Kumohon, aku harus mengatakan yang sesungguhnya
tentang keluargamu.”
Sophie telah meninggal ketika dia baru berusia empat tahun. Mobil mereka meluncur keluar jembatan, masuk ke dalam sungai berarus deras. Nenek dan adik lelakinya juga berada dalam mobil tersebut, dan seluruh keluarga Sophie habis dalam sekejap. Sophie punya satu kotak kliping koran yang memastikan hal itu.
Kata-kata kakeknya itu telah membangkitkan perasaan rindu di seluruh tulang belulangnya. Keluargaku! Dalam kilasan singkat dia dapat melihat gambaran dalam mimpinya yang selalu membuatnya terbangun tak terhitung berapa kali, ketika dia masih kecil. Keluargaku masih hidup? Mereka pulang? Namun, seperti dalam mimpinya, gambaran itu segera menguap, terlupakan.
Keluargamu sudah mati, Sophie. Mereka tidak akan pulang.
“Sophie ...,“ kata kakeknya dalam mesin penjawab. “Aku sudah menunggu
bertahun-tahun untuk mengatakannya kepadamu. Menunggu saat yang tepat, tetapi sekarang waktu sudah habis. Telepon aku di Louvre. Segera setelah kau mendengar ini. Aku akan menunggu di sini sepanjang malam. Aku khawatir kita
berdua dalam bahaya. Banyak yang harus kautahu.”
Pesan itu berakhir.
Dalam kesunyian, Sophie berdiri gemetar selama beberapa menit. Ketika dia mengingat pesan kakeknya itu, hanya satu hal yang masuk akal, dan yang betul-betul merupakan tujuan awal kakeknya.
Ini hanya pancingan. Jelas, kakeknya sangat ingin bertemu dengannya. Dia mencoba segala cara. Kebencian Sophie padanya semakin dalam. Sophie curiga mungkin saja kakeknya akhirnya jatuh sakit dan memutuskan untuk mencoba apa saja supaya Sophie mau mengunjunginya, terakhir kalinya. Jika demikian, kakeknya telah berhasil.
Keluargaku.
Sekarang dia berdiri di kegelapan kamar kecil pria Musenm Louvre. Sophie dapat mendengar gema dari pesan teleponnya kemarin siang. Sophie, kita berdua mungkin dalam bahaya. Telepon aku.
Dia tidak menelepon kakeknya. Bahkan dia tak merencanakannya. Sekarang, ternyata keragu-raguannya telah sangat tertantang. Kakeknya terbaring terbunuh di dalam museumnya sendiri. Dan kakeknya telah menulis kode di atas lantai.
Kode untuknya. Dia yakin itu.
Walau dia tidak mengerti arti pesan itu, Sophie yakin ketakjelasan itu adalah bukti tambahan bahwa pesan itu memang untuknya. Kecintaan dan bakat Sophie
akan kriptografi muncul karena dia tumbuh dewasa bersama Jacques Saunière—
seorang fanatik akan kode-kode dan teka-teki. Berapa banyak hari Minggu yang mereka habiskan untuk mengerjakan kryptogram dan teka-teki silang di koran?
Pada usianya yang kedua belas tahun, Sophie dapat menyelesaikan teka-teki silang dalam Le Monde tanpa bantuan, dan kakeknya menantangnya lagi dengan teka-teki dalam bahasa Inggris, teka-teki matematika, dan kode-kode pengganti. Sophie melahapnya semua. Akhirnya Sophie mengalihkan kecintaannya itu menjadi profesi dengan menjadi seorang ahli pemecah kode kepolisian.
Malam ini bakat kryptografer dalam diri Sophie telah dipaksa untuk menghormati efisiensi kakeknya yang telah menggunakan kode sederhana untuk menyatukan dua orang yang betul-betul tak saling kenal—Sophie Neveu dan Robert Langdon.
Pertanyaannya adalah mengapa?
Sialnya, dilihat dari kesan bingung dalam mata Langdon, Sophie merasa bahwa orang Amerika itu, seperti juga dirinya. tak tahu apa-apa mengapa kakeknya mempertemukan mereka berdua.
Sophie bertanya lagi. “Anda dan kakekku berencana untuk berrtemu malam ini. Untuk apa?”
Langdon tampak benar-benar bingung. “Sekretarisnya mengatur pertemuan
itu dan tak mengatakan alasan khususnya, dan saya juga tak bertanya. Saya kira, dia hanya mendengar bahwa saya akan berceramah tentang ikonografi pagan dari katedral-katedral Prancis, dan dia tertarik pada topik tersebut, kemudian dia berpikir akan menyenangkan jika bertemu dan minum-minum sambil mengobrol.”
Sophie tak memercayainya. Kemungkinan alasan itu sangat lemah. Kakeknya tahu lebih banyak tentang ikonografi pagan daripada orang lain di bumi ini. Tambahan pula, dia senang menyendiri, bukan seseorang yang senang mengobrol dengan sembarang profesor Amerika kecuali jika ada alasan penting.
Sophie menarik napas dalam-dalam dan bertanya lagi. “Kakekku menelponku
kemarin siang dan mengatakan bahwa dia dan aku berada dalam bahaya besar.
Kautahu maksudnya?”
Mata biru Langdon sekarang tersaput keprihatinan. “Tidak, tetapi melihat apa yang telah terjadi ....“
Sophie mengangguk. Melihat kejadian-kejadian malam ini, dia pasti bodoh sekali jika tidak merasa takut. Dia merasa sangat letih. Sophie berjalan ke jendela
kaca teba kecil pada ujung kamar kecil itu dan menatap diam melalui lubang pita alarm yang tertanam dalam kaca itu. Paling tidak, mereka berada di ketinggian empat puluh kaki.
Dia mendesah, dan melihat pemandangan Paris yang mengagumkan. Pada sebelah kirinya, di seberang Sungai Seine, ada menara Eiffel yang bercahaya. Lurus ke depan, Arc de Triomph. Dan ke sebelah kanan, tinggi di atas Gunung Montmartre yang curam, ada kubah arabesk Sacre Coeur yang anggun, batunya putih benkilauan seperti gereja yang gemerlap. Disini, dari tempat tertinggi di sebelah barat Sayap Denon, jalan utama dari sebelah utara ke selatan Place du Carrousel hampir sama tinggi dengan bangunan yang hanya terpisahkan oleh jalan sempit dengan dinding luar Louvre. Jauh di bawah, beberapa truk pengantar malam hari kota ini diam menunggu giliran. Lampu mereka menyala seperti berkedip mengejek Sophie.
“Aku tidak tahu harus berkata apa,” kata Langdon, sambil mendekat di belakangnya. “Kakekmu jelas mencoba mengatakan sesuatu kepada kita. Maaf,
aku tidak terlalu membantu.”
Sophie berpaling dari jendela, merasakan kesungguhan penyesalan pada suara Langdon yang dalam. Walau Langdon sendiri dikelilingi masalah, dia masih mau menolong Sophie. Sifat guru dalam dirinya, pikir Sophie, karena dia telah membaca laporan DCPJ tentang tersangka itu. Adalah seorang ilmuwan yang benci jika tak tahu sesuatu.
Kita sama di situ, pikir Sophie.
Sebagai pemecah kode, Sophie selalu berusaha menarik arti dari data yang tak jelas. Malam ini, dugaan terbaiknya ada1ah apakah Langdon menyadarinya atau tidak, Langdon mempunyai informasi yang sangat dibutuhkannya. Putri Sophie, Cari Langdon. Seberapa jelas pesan kakeknya itu? Sophie memerlukan waktu yang lebih banyak bersama Langdon. Waktu untuk berpikir. Waktu untuk memecahkan misteri ini bersama. Sialnya, waktu sudah habis.
Sophie menatap Langdon. Dia hanya dapat mengatakan yang dia tahu. “Bezu
Fache akan membawamu ke penjara sebentar lagi. Aku bisa mengeluarkanmu dari
museum ini. Tetapi harus bertindak sekarang.”
Mata Langdon melebar. “Kaumau aku melarikan diri?”
“Itu hal terpandai yang dapat kaulakukan. Jika kau biarkan Fache
membawamu ke penjara sekarang, kau akan berminggu-minggu di dalam penjara Prancis sementara DCPJ dan Kedutaan Besar A.S. bertengkar mengenai
pengadilan mana yang akan mengadili kasusmu. Tetapi jika kita keluar dari sini, dan berhasil sampai ke kedutaan besarmu, pemerintahmu akan melindungi hakmu sementara kau dan aku membuktikan bahwa kau tidak bersalah dalam kasus
pembunuhan ini.”
Langdon tampak tak percaya sama sekali. “Lupakan! Fache punya penjaga
bersenjata di setiap jalan keluar! Walau kita dapat lolos tanpa tertembak, melarikan diri hanya akan membuatku tampak bersalah. Kau harus mengatakan kepada Fache bahwa pesan di atas lantai itu adalah untukmu, dan namaku di situ bukanlah
sebuah tuduhan.”
“Aku akan melakukannya,” kata Sophie, terburu-buru, “tetapi setelah kau
aman berada di Kedutaan Besar A.S. Hanya berjarak satu mil dari sini, dan mobilku terparkir di luar museum ini. Berurusan dengan Fache di sini seperti main judi. Kau tak tahu? Fache telah menjadikan ini misinya untuk mernbuktikan kau bersalah. Satu-satunya alasan dia menunda penangkapanmu adalah untuk melaksanakan penyidikannya dengan harapan kau akan berbuat sesuatu sehingga menjadikan
kasus ini lebih kuat.”
“Tepat. Seperti melarikan diri?”
Handphone Sophie berdering di dalam saku sweternya. Mungkin Fache. Dia merogoh sakunya dan mematikan te!eponnya.
“Pak Langdon,” ujarnya cepat, “Aku perlu bertanya padamu untuk terakhir
kalinya.” Dan seluruh masa depanmu mungkin tergantung padanya. “Pesan di atas
lantai itu jelas bukán bukti kesalahanmu, tetapi Fache mengatakan kepada tim kami, dia yakin kaulah pembunuh itu. Kau dapat menduga kira-kira alasan apa yang membuat Fache yakin kau bersalah?”
Langdon terdiam beberapa detik. “Tidak.”
Sophie mendesah. Berarti Fache berbohong. Mengapa, Sophie tak dapat membayangkannya, namun itu bukan yang terpenting saat ini. Kenyataannya Bezu Fache berkeras untuk memenjarakan Robert Langdon, apa pun alasannya. Sophie membutuhkan Langdon untuk dirinya sendiri, dan dilema ini yang membuat Sophie hanya punya satu kesimpulan logis.
Aku harus membawa Langdon ke Kedutaan Besar A.S.
Berpaling ke jendela, Sophie menatap melalui gulungan alarm yang tertanam dalam kaca besar, empat puluh kaki ke bawah yang membuat pening. Meloncat dari sini akan membuat kaki Langdon patah. Itu paling mujur. Sophie membuat
keputusan, akhirnya. Robert Langdon harus kabur dari Louvre, mau tidak mau.
Bab 17
“APA MAKSUDMU dia tak menjawab?” Fache tampak ragu. “Kau menelepon ke ponselnya, bukan? Aku tahu dia membawanya.” Collet telah mencoba menghubungi Sophie selama beberapa menit. “Mungkin baterenya mati, atau deringnya dimatikan.”
Fache tampak tegang setelah berbicara dengan Direktur Kriptograf. Setelah menutup telepon, Fache menuju Collet dan memintanya untuk menelepon Agen Neveu. Sekarang Collet tidak berhasil, dan Fache hilir-mudik seperti singa terperangkap.
“Mengapa Kripto menelepon, Pak?” Tanya Collet.
Fache berpaling. “Untuk mengatakan bahwa mereka tidak menemukan petunjuk tentang draconia dan orang suci yang lemah.”
“Itu saja?”
“Tidak, juga untuk mengatakan bahwa mereka baru saja mengenali angka -angka seperti -angka--angka Fibonacci, tetapi mereka menduga bahwa deretan itu tak berarti apa-apa.”
Collet bingung. “Tetapi mereka sudah mengirim Agen Neveu untuk mengatakan itu kepada kita.”
Fache menggelengkan kepalanya. “Mereka tidak mengirim Neveu.” “Apa?”
“Menurut direktur itu, karena permintaanku, dia menyeranta seluruh timnya untuk melihat gambar yang telah kukirimkan padanya. Ketika Agen Neveu tiba, dia melihat salah satu dari foto Saunière dan kode itu, kemudian dia meninggalkan kantor tanpa kata-kata. Direktur itu mengatakan dia tidak heran dengan sikap Neveu. Mungkin saja dia marah karena foto itu.”
“Marah? Dia tak pernah melihat foto mayat?”
Fache terdiam sesaat. “Aku tidak tahu, dan tampaknya direktur itu juga tidak
tahu sampai seorang asistennya mengatakan bahwa tampaknya Sophie Neveu adalah cucu Jacques Saunière.”
Collet tak dapat berkomentar.
“Direktur itu mengatakan bahwa Sophie tak pernah menyebut-nyebut Saunière padanya, dan dia menduga bahwa Sophie tidak menghendaki perlakuan istimewa
karena mempunyai kakek yang ternama.”
Jelas saja dia marah melihat foto itu.. Collet hampir tidak bisa memahami kebetulan yang tak menguntungkan yang dialami perempuan muda itu. Dia harus memecahkan kode yang ditulis oleh anggota keluarganya yang mati. Namun,
reaksi Sophie tak masuk akal. “Tetapi dia jelas mengenali angka-angka Fibonacci karena dia datang ke sini dan mengatakannya kepada kita. Saya tidak mengerti mengapa dia meninggalkan kantor tanpa mengatakan kepada siapa pun bahwa dia sudah tahu tentang angka-angka itu.”
Collet hanya punya satu skenario tentang perkembangan situasi ini: Suaniére telah menulis kode nomor di atas lantai dengan harapan Fache akan melibatkan kriptografer dalam penyelidikan ini, dengan demikian akan melibatkan juga cucunya. Sedangkan sisa pesannya, apakah itu merupakan cara Saunière berkomunikasi dengan Sophie? Jika demikian, apa sesungguhnya isi pesan itu untuk Sophie? Dan apa hubungannya dengan Langdon?
Sebelum Collet merenung lebih jauh, kesunyian museum dipecahkan oleh suara alarm. Lonceng itu seolah terdengar dari dalam Galeri Agung.
“Alarme!” teriak salah satu agen, sambil melihat pemberi tanda itu, pusat keamanan Louvre. “Grande Galerie! Toillets Messiuers!”
Fache mendekati Collet. “Di mana Langdon?”
“Masih di kamar kecil pria!” Collet menunjuk padi titik merah berkedip pada
skema dalam laptopnya. “Dia pasti telah memecahkan jendela!” Collet tahu,
Langdon tidak mungkin berlari jauh. Walaupun peraturan kebakaran Paris mensyaratkan bahwa jendela di atas lima belas meter pada gedung umum harus dapat dipecahkan dalam keadaan kebakaran, namun meloncat keluar dari jendela lantai dua Louvre tanpa bantuan tangga dan pengait merupakan bunuh diri. Lagi pula, tak ada pepohonan dan rerumputan di ujung sebelah barat dari Sayap Denon itu untuk membantali orang jatuh. Tepat di bawah jendela kamar kecil, dua jalan
kecil Place du Carrousel berada beberapa kaki dari dinding luar. “Ya Tuhan,” seru Collet, sambil menatap layar monitor. “Langdon bergerak ke birai jendela!”
Namun Fache telah bergerak. Sambil menarik pistol Manurhin MR-93 dari tempat pistol di bahunya, sang kapten berlari ke luar kantor.
Collet menatap layar dengan bingung ketika titik berkedip itu tiba di birai jendela dan bertindak yang betul-betul tak terduga. Titik itu bergerak ke luar gedung.
Apa yang terjadi? Dia bertanya-tanya. Apakah Langdon masih diatas birai atau—
“Yesus!” Collet terloncat bangun dari duduknya ketika titik itu melesat ke luar
dinding. Sinyal itu tampak bergetar sebentar, kemudian titik berkedip itu berhenti tiba-tiba pada kira-kira sepuluh yard di luar batas pinggir gedung ini. Sambil meraba-raba tombol-tombol kendali, Collet memunculkan peta jalan Paris dan menyesuaikan kembali GPS-nya. Kemudian dia melakukan zoom in. Sekarang dia dapat melihat beradaan sinyal itu dengan tepat.
Sinyal itu tak lagi bergerak.
Dia tergeletak dan betul-betul berhenti di tengah-tengah du Carrousel. Langdon telah meloncat.
Bab 18
FACHE BERLARI ke Galeri Agung ketika radio Collet berbunyi menimpali suara alarm.
“Dia meloncat!” Teriak Collet. “Saya melihat sinyal itu berada di luar Place du Carrousel! Di luar jendela kamar kecil! Dan Sekarang tak bergerak sama sekali!
Yesus, saya kira Langdon telah bunuh diri!”
Fache mendengar kata-kata itu, namun itu tidak mungkin. Dia terus berlari. Gang itu terasa tak berujung. Ketika melewati mayat Saunière, dia melirik pada pembatas ruangan di ujung gang Sayap Denon itu. Alarm semakin mengeras.
“Tunggu!” suara Collet berteriak lagi dari radio. “Dia bergerak! Tuhanku, dia hidup. Langdon bergerak!”
Fache terus berlari, sambil menyumpahi panjangnya gang itu di setiap Iangkahnya.
“Langdon bergerak lebih cepat. Dia berlari ke Carrousel. Tunggu … dia semakin cepat. Dia bergerak terlalu cepat!”
Tiba di pembatas ruangan, Fache menyelinap melewatinya, melihat ke pintu kamar kecil, dan berlari ke arahnya.
Suara dari walkie-talkie sudah tak terdengar karena tertimpa suara alarm. “Dia
pastilah naik mobil! Saya kira dia di didalam mobil! Saya tak bisa—”
Suara Collet tertelan oleh suara alarm ketika Fache menyerbu ke dalam kamar kecil dengan pistol teracung. Dengan menyipitkan matanya, dia meneliti kamar kecil itu.
Ruangan-ruangan kecil itu kosong. Demikian juga tempat membersihkan diri.