BAB VI DINAMIKA PROSES PENDAMPINGAN
A. Inkulturasi
92
kelompok mamsyarakat maupun kegiatan yang diadakan oleh masyarakat sendiri.
A. Inkulturasi
Tugas pertama dan utama dari seorang fasilitator atau pendamping masyarakat, yaitu memahami situasi dan kondisi serta kebiasaan desa yang akan dan/atau sedang didampingi.
Proses memahami keadaan masyarakat biasanya dikenal dengan sebutan inkulturasi. Pendamping tidak memisahkan dirinya dengan lingkungan dan masyarakat, ia harus berusaha menjadi bagian dari masyarakat, membaur dengan segala macam lapisan masyarakat, dan mengikuti setiap kegiatan yang diadakan masyarakat.
Keadaan yang bisa diikuti pendamping dalam konteks keagamaan, seperti tahlilan, khatmil qur’an, dan lain sebagainya. Selain itu, pendamping juga bisa ikut serta berprofesi sebagai layaknya kebanyakan masyarakat, yaitu petani. Pendamping tidak boleh merasa jijik menginjakkan kaki di lumpur, memegang kotoran hewan, mengairi sawah, memegang cangkul, dan segala macam kegiatan yang berkaitan dengan pertanian.
Dengan sikap membaur, sopan-santun, dan ramah terhadap penduduk lokal adalah modal utama mendapatkan simpati dan empati masyarakat. Selain itu, hubungan emosional akan terbangun dengan mudah. Sehingga nanti apa yang menjadi pembahasan bersama akan lebih menguntungkan satu sama lain.
93
Inkulturasi bagi fasilitator tidak ubahnya seperti pada kebiasaan lama. Karena Dusun Angsanah adalah kampung dimana fasilitator lahir. Selama kurang lebih 19 tahun fasilitator hidup di Dusun Angsanah Desa Bragung, dan empat tahun terakhir fasilitator jarang berkunjung ke Dusun Angsanah dikarenakan harus melanjutkan pendidikan di Surabaya. Tentunya, selama empat tahun masyarakat Dusun Angsanah mulai ada perkembangan. Artinya kehidupan mereka tidak seperti ketika 15 tahun yang lalu. Maka pendamping berusaha melihat perubahan-perubahan yang terjadi, mulai dari pola pikir sampai pada perilaku.
Pendamping ketika pulang ke kampung halaman, melakukan hal yang sudah biasa dikerjakan ketika belum merantau ke Surabaya. Mengikuti kegiatan keagamaan di masyarakat Dusun Angsanah, maupun sesekali ikut bekerja di sawah.
Kebiasaan “Nyareh bengsah, nyareh tretan,” yang artinya mencari famili dan mencari saudara merupakan satu kegiatan yang biasa dilakukan masyarakat Dusun Angsanah Desa Bragung untuk menyambung tali persaudaraan agar tetap terjalin dengan hangat dan penuh rasa kekeluargaan, walaupun sudah tujuh keturunan. Maka tidak heran jika saudara empat keturunan masih terlihat seperti saudara kandung.
Kebiasaan tersebut mulai tidak dilakukan oleh generasi penerus. Alasannya beragam, seperti merantau ke luar pulau, tidak ada keperluan yang mengharuskan ia bershilaturrahim, tidak sempat karena banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan, dan lain sebagainya.
94
Perubahan itu tidak terlalu buruk, karena diantara mereka masih banyak yang mempertahankan kebiasaan para leluhur. Dalam satu tahun, minimal ada tiga kali bershilaturrahim ke sanak-famili, ketika Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi Muhammad saw. Selain itu, bukan berarti mereka tidak shilaturrahim kepada para famili yang terjangkau.
Masyarakat Dusun Angsanah dalam kesehariannya ketika sedang berjumpa di jalan, orang yang mengendarai mobil harus menaruh hormat kepada yang sedang mengendarai motor atau pejalan kaki. Orang yang mengendari motor harus memberikan hormat kepada pejalan kaki, dan orang-orang yang sedang bekerja di sawah. Sedangkan pejalan kaki harus menaruh hormat kepada sesama pejalan kaki, dan orang-orang yang sedang bekerja di sawah.
Rasa hormat itu ditunjukkan dengan sapaan kepada orang yang lebih tua, Obak, Pak, atau pangaporah, amit, dan glanon. Kalau pengendara mobil jarang sekali yang bilang demikian, biasanya mereka menandakan dengan membunyikan klaksonnya.
Beberapa ulasan di atas bisa dikatakan sebagai salah satu modal sosial tidak boleh dikesampingkan dalam mendukung dalam mengembangkan aset yang yang dimiliki masyarakat dan dapat mengangkat perekonomian masyarakat Dusun Angsanah Desa Bragung. Modal sosial yang sudah secara turun-temurun berkembang di masyarakat Dusun Angsanah perlu dikelola
95
dengan baik dan benar, sehingga nanti dengan sendirinya mampu memberdayakan masyarakat.60
Ketika fasilitator pulang ke kampung halaman menjalani rutinitas sebagai warga Dusun Angsanah dan sebagai anggota masyarakat Dusun Angsanah. Kegiatan keagamaan yang diikuti ketika sedang berada di Dusun Angsanah, khususnya di Kelompok Tani Sumber Rezeki seperti pengajian kitab kuning, yasinan, tahlilan, dan disertai dengan jailanian.
Jailanian merupakan kegiatan keagamaan yang istilahnya bersandar
kepada waliyullah Syaikh Abdul Qadir Jailani. Tawassul yang dilakukan pun berbeda dengan tawassul ketika mengadakan tahlilan maupun yasinan.
Jailanian dipimpin langsung oleh K. Fauzan selaku Ketua Kelompok Tani
Sumber Rezeki dan juga salah satu tokoh agama di Dusun Angsanah.
Sebelum kegiatan keagamaan dimulai, K. Fauzan akan memberitahu anggota yang lain bahwa jailaniannya akan segera dimulai. Adanya pemberitahuan menandakan bahwa segala aktifitas, seperti merokok, berbicara dengan orang disampingnya atau pun musyawarah harus dihentikan. Wasil salah satu anggota akan dengan sigap mengambil tiga Al-Qur’an dan dibagikan ketiga anggota lainnya untuk membaca Surah Yasin, Surah Al-Waqiah, dan Surah Al-Laily.
Apabila semuanya sudah siap maka K. Fauzan akan memimpin
jailanian mulai dari pembacaan Al-Fatihah sampai doa. Adapun pahala Surah
Al-Fatihah ditujukan kepada Nabi Muhammad saw., Syaikh Abdul Qadir
60 Zubaedi, Pengembangan Masyarakat Wacana & Praktik (Jakarta; Kencana Prenadamedia Group. 2013 ), hal. 162.
96
Jailani, Assayyid Sirri As-Shaqatiy, Assayyid Ma’ruf Karkhi, Habibi Al-‘Ajami, Yusuf Al-Hamdani, Syaikh Bahauddin An-Naqsabandi, Kiai Ahmad Cholil Bangkalan, Kiai Abdul Mun’im, dan Helmi Abdul Mun’im.
Dilanjutkan dengan membaca dzikir berupa, مهللا ,ميحرلا نمحرلا الله مسب ,دمحم انديس لا ىلعو دمحم انلومو انديس ىلع ملسو ىلص اللهوسراي كيلع ملاسلاو ةلاصلا , يداهاي ي ريبخاي ميلع اي ,نيبما اللهاي ميحراي نمحراي يمسلا نا كنا انم ببق انبر ,ميرراي نيما ميلعلا ع
.نيملاعلابراي yang kesemuanya dibaca bersama-sama sebanyak empat puluh satu kali dengan dipandu K. Fauzan.
K. Fauzan akan menutup jailanian dengan pembacaan doa. Wasil tanpa disuruh akan mengembalikan Al-Qur’an yang diambil ke tempat semula, dia langsung akan membagikan berkat yang sudah disediakan oleh anggota yang mendapat bagian jailanian kepada anggota lainnya.
Fasilitator yang sudah hidup belasan tahun di Dusun Angsanah tidak mudah melakukan kegiatan pendampingan masyarakat. Fasilitator sadar akan posisi diri sendiri yang masih dianggap sebagai anak bau kencur, sehingga apa yang disampaikan tidak menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan.
Kondisi masyarakat yang juga belum terbiasa dengan kegiatan-kegiatan akademis, seperti memetakan aset, transek dan lain sebagainya harus dipahami dengan benar oleh fasilitator. Diri ini harus memutar otak bagaimana cara mendapatkan data yang dibutuhkan dalam proses pendampingan untuk menyusun langkah kegiatan yang berdasarkan aset dan potensi yang dimiliki.
97
Fasilitator berfikir bahwa tak selamanya masyarakat dihadapi dengan teori yang ada dalam buku. Walaupun kegiatan di lapangan terkadang tidak sesuai dengan apa yang dibaca bagi fasilitator tidak menjadi persoalan asalkan tidak keluar dari substansinya.