SMPN 1 Balikpapan
Dyah Puspandari
ABAD XII ini ditandai dengan pesatnya perkembangan sa-ins dan teknologi dalam seluruh bidang kehidupan di ma-syarakat. Dunia pendidikan pun saat ini dituntut untuk menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kemam-puan utuh dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan. Demikian pula, siswa dituntut untuk memiliki kompetensi belajar dan berinovasi, menguasai media infor-masi serta berkarier di masyarakat. Untuk mengembangkan komptensi itu, pembelajaran saat ini bukan lagi berpusat pada guru tetapi pada siswa serta melibatkan lingkungan yang ada di sekitar sekolah. Keterampilan penting yang per-lu dikembangkan antara lain learning to know, learning to
do, learning to be dan learning to live together. Empat prinsip tersebut masing-masing mengandung keterampilan khusus yang perlu diberdayakan dalam kegiatan belajar, seperti ke-terampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, metakogni-si, keterampilan berkomunikametakogni-si, berkolaborametakogni-si, inovasi dan kreasi, literasi informasi, dan berbagai keterampilan lainnya. Pencapaian keterampilan abad ke-21 tersebut dilakukan dengan memperbarui kualitas pembelajaran, membantu sis-wa mengembangkan partisipasi, menyesuaikan pembelajar-an dengpembelajar-an kebutuhpembelajar-an individu siswa ypembelajar-ang unik, menekpembelajar-an- menekan-kan pada pembelajaran berbasis proyek/masalah, mendo-rong kerjasama dan komunikasi, meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa, membudayakan kreativitas dan inovasi dalam belajar, serta menggunakan sarana belajar yang tepat, seperti Hutan Kota Pendidikan Telaga sari (HKPTS), Hutan Lindung Sungai Wain ( HLSW) dan Hutan Bangkirai serta Waduk Manggar yang terdapat di sekitar SMP Negeri 1 Ba-likpapan seperti
Sebagai guru IPA yang telah mengajar hampir 24 tahun, saya terus menciptakan inovasi pembelajaran agar pero-ses pembelajaran menyenangkan dan bermakna bagi siswa saya. Terutama, saya menekankan pada penggunaan strategi literasi dalam pembelajaran untuk membangun pemahaman siswa, keterampilan menulis, dan keterampilan komunikasi secara menyeluruh melalui pembelajaran kolaboratif me-manfaatkan lingkungan sekitar. Pendekatan ini efektif untuk
mengembangkan karakter siswa dan keterampilan berpikir tinggi mereka.
Saya mengajar IPA kelas 7 di SMPN 1 Balikpapan, yang selama ini dikenal sebagai sekolah favorit di Kota Balikpa-pan. Di SMPN 1, banyak sekali siswa pintar, namun hanya sedikit yang kreatif. Contohnya, ketika saya menjelaskan tentang pencemaran dengan membuat peta konsep (atau mindmapping), saya melihat siswa hanya mengikuti apa yang saya lakukan tanpa keberanian untuk membuat peta yang benar-benar menggambarkan peta pemahaman mereka. Padahal, saya telah memberikan kebebasan kepada mereka untuk menciptakannya. Saya tertantang untuk menggugah keberanian mereka untuk berpikir dan berkreasi. Saya me-nemukan jawabannya dengan mengajak siswa untuk mem-baca terlebih dulu sebelum mulai pembelajaran.
Saya mengajar tiga kelas, yaitu kelas 7-1, 7-8, dan 7-11. Seperti biasa, pembelajaran dimulai dengan membaca Al-quran terlebih dahulu, yang telah menjadi kebiasaan siswa di sekolah ini sebelum mereka memulai KBM. Setelah memba-ca Al-quran, semua siswa menyayikan lagu Indonesia Raya secara serentak dan dilanjutkan dengan berdoa bersama yang dipimpin siswa dan pengucapan salam secara serentak kepada saya. Setelah itu, saya menyapa dan menanyakan ka-bar mereka, yang mereka jawab dengan penuh antusias.
Pada kegiatan apersepsi, saya mengingatkan mereka ke-pada materi sebelumnya dan memberikan motivasi keke-pada
mereka untuk memulai materi tentang ekosistem yang me-rupakan bab ke 5 pembelajaran IPA kelas 7 pada Kuriku-lum 2013. Setelah itu, saya mengajak mereka keluar kelas dan mengamati pohon dan lingkungan sekitar kelas. Di luar, saya ajak mereka mengamati lingkungan dan menanyakan apa yang mereka ketahui tentang pohon, tanah, air, dan se-bagainya. Salah satu siswa, Delon, menjawab bahwa tubuh-an adalah faktor biotik, dtubuh-an ttubuh-anah serta air adalah faktor abiotik. Ia juga menambahkan bahwa pohon memerlukan tanah dan air untuk dapat hidup. Saya mengajak seluruh sis-wa untuk memberikan tepuk-tangan kepada Delon.
Setelah itu, saya membawa mereka kembali masuk ke-las untuk melaksanakan kegiatan inti, yaitu membuat model peta berpikir atau Mindmapping Robert Atkinson. Tentunya ini saya lakukan setelah saya menyampaikan tujuan pem-belajaran hari ini. Saya memulainya dengan menempelkan model peta berpikir pada papan tulis.
Saya menjelaskan kepada siswa tentang mindmap dan menunjukkan bagaimana mindmap membantu untuk menggali pengetahuan kita. Seorang siswa, Mitha, menje-laskan definisi tentang mindmap. Katanya, mindmap ada-lah sebuah alat yang membantu kita untuk berpikir dengan menggunakan bantuan cabang- cabang untuk memudahkan pikiran kita. Saya kaget mendengarkan jawaban yang dije-laskan dengan kemampuan verbal yang sangat baik itu. Un-tuk mengonfirmasi, saya lalu mengajak siswa unUn-tuk
mem-baca buku tentang mindmap yang ditulis oleh Tony Buzan.
Kegiatan hari itu saya lanjutkan dengan menjelaskan materi pembelajaran, yaitu pengertian tentang ekosistem, yang di-lengkapi dengan penjelasan yang sangat baik dari dua orang siswa, yaitu Indra dan Eren. Kepada Mitha, Indra, Eren, saya mengajak siswa untuk menghadiahkan tepuk energi kepada mereka. “Wusssss…wussss…wusssss!” Kelas menjadi berse-mangat dan wajah-wajah siswa terlihat sangat gembira.
Pada langkah selanjutnya, saya membagi mereka ke da-lam kelompok kdan membagikan perangkat tulis seperti spidol, crayon, spidol warna, karton, penggaris dan pensil. Setelah itu, saya membagikan lembar kerja kepada mere-ka, membuat peta berpikir beserta gambar. Saya berkeliling sambil melihat kekompakan mereka di dalam kelompok. Mereka bekerja dengan tekun sambil sesekali membicara-kan materi yang digambarnya.
Beberapa waktu kemudian, saya memberikan tanda agar mereka menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap-siap pre-sentasi. Setiap kelompok diberi waktu 3 menit untuk mema-parkan peta pemikirannya. Saya memperhatikan bahwa se-mua siswa menyimak presentasi kelompok lain dengan baik. Mereka pun terlihat menguasai materi presentasi dan dapat menjawab pertanyaan dari kelompok lain dengan baik. Se-bagai penghargaan, saya membagikan cokelat kepada mere-ka.
me-reka menyimpulkan materi dan kembali menyarikan man-faat menggunakan peta pikiran. Saya menegaskan bahwa peta pikiran dapat digunakan untuk merencanakan sesua-tu dalam kehidupan kita sehari-hari dan memudahkan kita untuk berpikir. Pembelajaran lalu ditutup dengan doa yang dipimpin oleh seorang siswa.
Dari proses pembelajaran kolaboratif ini, banyak per-ubahan yang saya saksikan. Siswa mulai tertarik menulis dalam bentuk jurnal ataupun karya tulis untuk lomba. Be-berapa siswa bahkan telah menjuarai lomba hingga tingkat nasional. Setiap pulang skeolah, banyak siswa yang berkun-jung ke Perpustakaan Daerah Kota Balikpapan maupun ke perpustakaan sekolah pada saat jam istirahat. Mereka pun menuangkan ide mereka dalam tulisan yang lalu dipamer-kan di pojok-pojok literasi yang banyak tersedia di sekolah kami.