HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3. Penggunaan Input-input Produksi
5.3.2. Input Produksi Variabel
Input produksi variabel yang digunakan meliputi biaya pakan, DOC, vaksin, obat-obatan, desinfektan, tenaga kerja, sekam dan batu bara. Jumlah penggunaan input produksi variabel tergantung pada jumlah ayam ras pedaging yang dipelihara.
Pakan yang digunakan oleh KBTM tidak dibedakan menjadi pakan starter dan finisher. Penggunaan jumlah pakan di setiap lokasi kandang
berbeda tergantung dari jumlah populasi ayam di lokasi kandang tersebut. Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa penggunaan pakan terbanyak selama sepuluh periode terdapat di lokasi kandang Cilodong yaitu 999 400 kilogram. Sedangkan penggunaan pakan yang paling sedikit selama sepuluh periode terdapat di lokasi kandang Kelapa Dua dan Cilebut masing-masing 220 050 kilogram dan 255 600 kilogram. Jumlah total penggunaan pakan di lima lokasi kandang selama sepuluh periode mencapai 2 910 435 kilogram. Pihak KBTM memperoleh pakan yang diperlukannya dari PT Japfa Comfeed, PT Charoen Pokphand dan PT Samsung.
48 Tabel 7. Koefisien Penggunaan Pakan dan DOC di Masing-masing Lokasi
Kandang Selama Sepuluh periode. Lokasi
Kandang
Penggunaan Pakan dan DOC
Koefisien Penggunaan Pakan per DOC Pakan (kg) DOC (ekor) Pakan/DOC
(kg/ekor) Konversi Pakan Cilodong 999 400 444 287 2,249 1,679 Kelapa Dua 220 050 94 016 2,341 1,637 Cilebut 255 600 93 654 2,729 1,922 Pemda 729 400 301 328 2,421 1,754 Ciluar 705 985 284 651 2,480 1,676 Jumlah 2 910 435 1 217 936 12,220 - Rata-rata 582 087 243 587 2,444 1,733
Tabel 7 memperlihatkan nilai konversi pakan masing-masing lokasi kandang selama sepuluh periode. Nilai konversi pakan disebut juga Feed Convertion Ratio (FCR) adalah banyaknya kilogram pakan yang dikonsumsi
untuk menghasilkan satu kilogram berat ayam hidup.
Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa konversi pakan tertinggi terdapat di lokasi kandang Cilebut yaitu 1,922, sedangkan konversi pakan terendah terdapat di lokasi kandang Kelapa Dua sebesar 1,637. Tinggi rendahnya nilai konversi pakan sangat dipengaruhi oleh kualitas DOC serta mortalitas ayam selama periode pemeliharaan. Tingginya konversi pakan akan menyebabkan peningkatan biaya produksi yang harus dikeluarkan.
Bibit ternak atau DOC yang dipelihara di masing-masing lokasi kandang jumlahnya berbeda untuk setiap periode produksi. DOC yang digunakan biasanya diperoleh dari PT Charoen Pokphand, PT Samsung, PT Cipendawa, PT Wonokoyo, dan PT MBAI (Multi Brider Adi Rama). Jumlah DOC yang dipelihara dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kondisi lingkungan yang terdapat pada lokasi kandang, kapasitas kandang, musim dan target produksi. Kualitas DOC yang baik akan sangat mempengaruhi
49 kelancaran proses produksi dan dapat menurunkan tingkat kematian ayam selama periode pemeliharaan.
Tenaga Kerja yang terdapat di KBTM terdiri dari beberapa bagian, yaitu bagian keuangan, pemasaran serta bagian produksi. Bagian produksi terdiri bagian tenaga ahli (vaksinator), kepala kandang dan anak kandang. Penggunaan tenaga kerja anak kandang di setiap lokasi kandang berbeda. Jumlah tenaga kerja anak kandang yang menangani secara langsung pemeliharaan ayam disesuaikan dengan jumlah ayam yang dipelihara dan luas kandang. Seorang tenaga kerja anak kandang di KBTM mampu menangani ayam ras pedaging di satu kandang dengan kapasitas 2 000 sampai 10 000 ekor ayam.
Tabel 8. Penggunaan Tenaga Kerja di Masing-masing Lokasi Kandang Selama Sepuluh Periode
Lokasi Kandang
Penggunaan Tenaga Kerja (HKP/lokasi/sepuluh periode)
Anak Kandang Tenaga Ahli
Cilodong 3 000 100 Kelapa Dua 580 20 Cilebut 600 18 Pemda 2 000 70 Ciluar 1 980 65 Jumlah 8 160 273
Tenaga kerja ahli (vaksinator) merupakan orang yang bertanggung jawab memberi vaksinasi suntik. Peternakan KBTM memiliki seorang vaksinator yang bertugas melakukan vaksinasi ke seluruh lokasi kandang yang membutuhkan vaksinasi suntik. Vaksinasi secara oral dan minum dapat dilakukan sendiri oleh tenaga kerja anak kandang. Pada Tabel 8 dapat dilihat penggunaan tenaga kerja yang bertanggung jawab pada masing-masing bagian.
50 Penggunaan obat-obatan tidak mutlak dilakukan di setiap periode pemeliharaan. Jenis vaksin yang biasa digunakan adalah ND IB, ND Emulsion dan Gumboro A. Antibiotik yang biasa digunakan adalah Therapy,
Bactrin Forte dan Enrosol-10. Vitamin yang digunakan adalah Vitra-Doc dan
Vitralit.
Obat-obatan yang digunakan terdiri dari vaksinasi, feed additive, dan obat untuk pengobatan penyakit. Penggunaan desinfektan, kapur dan cuci kandang termasuk dalam biaya perawatan kandang dan sanitasi. Vaksinasi yang rutin dilakukan adalah vaksinasi ND (Newcastle Dieases) sebanyak dua kali setiap periodenya.
Vaksinasi ND pertama diberikan pada saat ayam berumur empat hari melalui tetes mata, dengan dosis 0,5 cc per ekor. Vaksin ND kedua diberikan pada saat ayam berumur lima hari dengan cara suntik bawah kulit (Subcutaneous) dengan dosis 0,2 cc per ekor. Penyuntikan dilakukan di
sekitar leher. Sedangkan Vaksin Gumboro diberikan pada saat ayam berumur sembilan hari. Pemberian dilakukan melalui mulut atau cekok (oral) dengan dosis 0,2 cc per ekor.
Perawatan kandang terdiri dari kegiatan cuci kandang dan pemberian kapur. Pencucian kandang sangat dipengaruhi kondisi kesehatan lingkungan di sekitar kandang. Apabila kondisi lingkungan sekitar kandang sehat maka biaya cuci kandang yang dikeluarkan kecil, sebaliknya kondisi lingkungan yang tidak sehat, biaya cuci kandang yang dikeluarkan besar. Biaya pemakaian desinfektan dan fumigasi untuk sterilisasi kandang serta pengapuran termasuk dalam biaya VOD (vaksin, obat-obatan dan desinfektan).
Sekam digunakan sebagai alas kandang (litter). Tebal litter yang digunakan tergantung pada jenis kandang. Kandang panggung memerlukan
51 ketebalan litter lima centimeter, sedangkan untuk kandang lantai diperlukan litter dengan ketebalan sepuluh centimeter. Kebutuhan sekam untuk 1000
ekor ayam sebesar 50 karung per periode dengan harga Rp 2 500 per karung.
Batu bara digunakan sebagai bahan bakar pemanas. Kebutuhan batu bara tergantung pada jumlah ayam yang dipelihara dan suhu dalam kandang. Pada saat musim hujan kebutuhan batu bara meningkat. Untuk 1 000 ekor ayam memerlukan batu bara sebanyak 340 kilogram per periode. Harga batu bara Rp 1 050 per kilogram. Besarnya biaya obat-obatan, sekam, batu bara yang dikeluarkan oleh KBTM dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Penggunaan Obat-obatan, Batu bara, Sekam di Masing-masing Lokasi Kandang Selama Sepuluh Periode.
Lokasi Kandang
Penggunaan Input-input Produksi
Obat-obatan (Rp) Batu Bara (Rp) Sekam (Rp)
Cilodong 142 629 051 60 537 500 122 043 600 Kelapa Dua 29 545 009 12 450 000 33 465 600 Cilebut 29 663 664 12 500 000 33 600 000 Pemda 97 771 436 41 200 000 110 745 600 Ciluar 88 170 887 37 912 500 101 908 800 Jumlah 387 780 047 164 600 000 401 763 600 5.4. Biaya
Biaya yang dihitung dalam penelitian ini adalah seluruh biaya produksi yang dikeluarkan oleh KBTM yang terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap. Biaya pemasaran tidak termasuk dalam struktur biaya dalam KBTM, karena KBTM tidak melakukan pemasaran sendiri. Pemasaran dilakukan melalui tengkulak (penangkap) yang datang langsung kandang.
Besarnya biaya produksi yang dikeluarkan oleh KBTM di masing-masing lokasi kandang selama sepuluh periode dapat dilihat pada Tabel 10. Biaya
52 produksi variabel yang dikeluarkan pada masing-masing lokasi kandang jauh lebih besar dari pada biaya produksi tetap. Persentase biaya produksi variabel yang dikeluarkan sebesar 97 persen, sedangkan biaya tetapnya hanya tiga persen dari total seluruh biaya produksi. Distribusi biaya produksi pada KBTM adalah sebagai berikut : 21,86 persen biaya DOC, 67,26 persen biaya pakan, dan 2,47 persen biaya obat-obatan.
Tabel 10. Total Produksi, Biaya Tetap, Biaya Variabel dan Biaya per Ekor di Masing-masing Lokasi Kandang Selama sepuluh Periode
Lokasi Kandang Total Produksi (ekor) Biaya Tetap (Rp) Biaya Variabel (Rp) Biaya per Ekor (Rp/ekor) Cilodong 444 287 171 897 500 5 323 161 051 12 368 Kelapa Dua 94 016 41 035 714 1 172 947 559 12 913 Cilebut 93 654 35 400 000 1 286 326 964 14 113 Pemda 301 328 137 465 714 3 797 376 386 13 058 Ciluar 284 651 125 900 357 3 626 201 512 13 181 Total 1 217 936 511 699 286 15 206 013 472 -
Penggunan biaya produksi tertinggi selama sepuluh periode terdapat di lokasi kandang Cilebut, dengan jumlah biaya tetap yang dikeluarkan sebasar Rp 171 897 500 dan biaya variabel sebesar Rp 5 323 161 051. Besarnya biaya produksi tetap dan variabel yang telah dikeluarkan oleh KBTM untuk kelima lokasi kandang selama sepuluh periode adalah sebesar Rp 511 699 286 dan Rp 15 717 712 757.
Selain itu Tabel 10 juga memperlihatkan biaya per ekor terbesar terdapat di lokasi kandang Cilebut yaitu Rp 14 113, hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan faktor-faktor produksi di lokasi kandang Cilebut tidak efisien. Sedangkan biaya terkecil terdapat di lokasi kandang Cilodong yaitu Rp 12 368 per ekor, artinya efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi lokasi kandang Cilodong lebih baik dibandingkan lokasi kandang lainnya.
53 5.5. Penerimaan
Penerimaan KBTM berasal dari penjualan output utama berupa ayam ras pedaging siap potong dan output sampingan berupa litter atau kotoran ayam dari seluruh lokasi kandang. Output sampingan ini tidak dihitung dalam total penerimaan, karena hasil penjualan output sampingan diberikan kepada anak kandang yang terdapat di masing-masing lokasi kandang.
Penerimaan di masing-masing lokasi kandang berbeda, karena jumlah ayam ras pedaging yang dihasilkan berbeda. Rata-rata harga jual ayam ras pedaging selama sepuluh periode sebesar Rp 9 962 per kilogram bobot hidup. Gambar 9 memperlihatkan penerimaan di masing-masing lokasi kandang selama sepuluh periode. Penerimaan total yang diterima KBTM selama sepuluh periode dari lima lokasi kandang sebesar Rp 16 807 873 381.
Penerimaan terbesar diperoleh dari lokasi kandang Cilodong yaitu sebesar Rp 5 954 753 376 selama sepuluh periode. Penerimaan terkecil diperoleh dari lokasi kandang Kelapa Dua sebesar Rp 1 321 587 975 selama sepuluh periode.
Gambar 9. Grafik Penerimaan di Masing-masing Lokasi Kandang Selama Sepuluh Periode
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 Cilodong Kelapa Dua
Cilebut Pemda Ciluer
PENERIMAAN
Cilodong Kelapa Dua Cilebut Pemda Ciluer54 5.6. Keuntungan
Keuntungan yang diperoleh merupakan hasil pengurangan penerimaan terhadap biaya total pada masing-masing lokasi kandang. Semua lokasi kandang memberikan keuntungan bagi pihak KBTM. Keuntungan total yang diterima dari setiap lokasi kandang selama sepuluh periode sebesar Rp 1 090 160 624. Keuntungan tersebut belum termasuk pajak yang harus dikeluarkan oleh KBTM. Total produksi, penerimaan, total biaya dan keuntungan per ekor ayam ras pedaging dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Total Produksi, Penerimaan, Total Biaya dan Keuntungan per Ekor di Masing-masing Lokasi Kandang Selama sepuluh Periode
Lokasi Kandang Total Produksi (ekor) Penerimaan (Rp) Total Biaya (Rp) Keuntungan (Rp/ekor) Cilodong 444 287 5 954 753 376 5 495 058 551 1 035 Kelapa Dua 94 016 1 321 587 975 1 213 983 273 1 145 Cilebut 93 654 1 369 166 773 1 321 726 964 507 Pemda 301 328 4 041 923 268 3 934 842 100 355 Ciluar 284 651 4 120 441 989 3 752 101 869 1 294 Total 1 217 936 16 807 873 381 15 717 712 757 -
Berdasarkan tabel tersebut keuntungan terbesar diperoleh lokasi kandang Cilodong yaitu Rp 459 694 825, sedangkan keuntungan terkecil diperoleh lokasi kandang Cilebut sebesar Rp 47 439 809. Selain itu Tabel 11 juga memperlihatkan keuntungan per ekor terbesar terdapat dilokasi kandang Ciluar sebesar Rp 1 294. Sedangkan lokasi kandang Pemda merupakan lokasi yang memperoleh keuntungan terkecil sebesar Rp 355 per ekor.
Berdasarkan penjelasan di atas, lokasi kandang Cilodong merupakan lokasi terbaik dalam hal penggunaan faktor-faktor produksi dibandingkan dengan lokasi kandang lainnya yang dimiliki oleh KBTM. Sedangkan lokasi kandang Ciluar merupakan lokasi terbaik dalam hal perolehan keuntungan per ekor dibandingkan lokasi kandang lainnya. Lokasi kandang yang penggunaan