• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAH MEMBANGUN

2.2 Potensi Pengolahan Batu Bara

2.2.2 Insentif Pemerintah

Dari pengalaman para pelaku usaha pencairan batu bara di negara lain, investor umumnya menginginkan beberapa insentif dari Pemerintah untuk menggairahkan investasi di proyek pencairan batu bara ini. Insentifnya antara lain menyangkut dukungan finansial, insentif pajak (termasuk tax holiday dan royalty) dan skema harga batu bara. Dirjen Geologi dan Sumber Daya Mineral, Simon Felix Sembiring menuturkan Pemerintah akan memberikan insentif sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) No. 2/2006, yaitu berupa insentif pajak.84 Dalam pelaksanaannya, Departemen ESDM akan selalu berkonsultasi dengan Departemen Keuangan selaku pemegang kebijakan fiskal untuk penentuan insentif tersebut. Sedangkan untuk skema harga yang merupakan salah satu aspek terpenting dalam kelangsungan investasi ini akan dirumuskan dengan tujuan agar batu bara cair ini mampu bersaing dengan harga minyak di pasaran. Perkiraan awal untuk harga batu bara cair agar cukup kompetitif adalah US$ 42/barel, dengan catatan harga minyak dunia tidak mengalami perubahan yang cukup besar, yaitu pada kisaran harga US$ 60 sampai dengan US$ 70 per barel.85

83

Ibid

84Haruhiko Yoshida: “Coal Liquefaction Pilot Plant”, New energy and Industrial Technology

Development Organization. Economic

85

2.3Pinjaman Kebijakan Pembangunan Bank Dunia

Sejak 2006, Pemerintah Indonesia telah mengejar program percepatan infrastruktur energi, dengan nama Fast Track I, dengan menargetkan lebih dari 16 GW tenaga listrik bertenaga batu bara. Pada tahun 2010, pemerintah mengumumkan fase kedua program ini yaitu, Fast Track II, untuk mengembangkan tambahan energi yang dibangkitkan sebesar 10 GW. Selain proyek-proyek PLTU batu bara, Fast Track II juga termasuk insentif dan proyek-proyek prioritas yang ditujukan pada energi panas bumi.86

Masterplan Pemerintah Indonesia untuk infrastruktur juga termasuk proyek

untuk jaringan kereta api batu bara dan pelabuhan yang bertujuan untuk meningkatkan ekspor batu bara Indonesia. Indonesia sudah merupakan eksporter batu bara terbesar di dunia melampaui Australia pada 2011.87 Meningkatnya ekspor batu bara Indonesia mendorong ekspansi PLTU batu bara di seluruh Asia, terutama di India dan Vietnam, yang sangat bergantung pada batu bara Indonesia.

Untuk mendukung pembangunan infrastruktur Pemerintah Indonesia, termasuk program percepatan energi Fast Track, sejak 2007 Bank Dunia telah memberikan empat Pinjaman Kebijakan Pembangunan Infrastruktur

(Infrastructure Development Policy Loans, IDPL) yang bernilai US$850 juta.88

Inti dari IDPL Bank Dunia adalah konseptualisasi dan dimulainya dua fasilitas pemerintah yang bertujuan untuk memberikan pendanaan jangka panjang untuk

86

Program-program Fast Track adalah bagian dari MP3EI atau Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia.

87

World Coal Association [online] dalam http://www.worldcoal.org/resources/coal-statistics diakses pada 27 April 2014.

88

Misalnya, Aksi 6 dalam IDPL3: Penerbitan Peraturan Pemerintah yang menetapkan Dana Penjaminan, dan Aksi 7 dalam IDPL4: Ditetapkannya Dana Penjaminan, termasuk mempekerjakan manajemen senior dan rancangan prosedur operasi.

proyek-proyek infrastruktur yaitu Dana Penjaminan Infrastruktur Indonesia

(Indonesia Infrastructure Guarantee Fund, IIGF) dan Fasilitas Pendanaan

Infrastruktur Indonesia (Indonesia InfrastructureFinancing Facility, IIFF).89 IIGF diberi mandat oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk memberikan jaminan bagi proyek-proyek infrastruktur di bawah skema Kerjasama Pemerintah-Swasta (KPS, public-private partnership). Dalam kasus pembangkit listrik, IIGF mendukung proyek-proyek Fast Track Pemerintah Indonesia. Penjaminan IIGF memberikan asuransi dengan biaya lebih rendah dan dengan tenor lebih panjang dibandingkan asuransi komersial.90

Dengan menutup hampir semua risiko yang terkait dengan proyek-proyek infrastruktur dengan biaya lebih rendah, penjaminan IIGF dapat menjadikan proyek-proyek infrastruktur yang tadinya tidak laik secara finansial menjadi proyek-proyek menarik bagi investor swasta dan proyek yang bernilai kredit baik bagi bank.91 Walau modal IIGF sendiri terbatas, penjamin bersama (co-guarantor) dan fasilitas tersedia (standby facility) sebesar kira-kira US$480 juta memperluas jangkauan modal tersebut.92

89

Indonesia Infrastructure Finance (IIF) adalah kerjasama dengan Bank Dunia (WB), Bank Pembangunan Asia (ADB), dan korporasi investasi Jerman DEG. Proyek IFC# 26443 PT Indonesia Infrastructure Finance Facility. Ekuitas AS$40 juta, disetujui 24 Juni 2009. Proyek WB ID#P092218, Indonesia Infrastructure Finance Facility. Pinjaman AS$100 juta, disetujui 24 Juni 2009. Proyek ADB ID: 42109-013: Indonesian Infrastructure Financing Facility Company Project. AS$100 juta, disetujui 31 Maret 2009.

90

Jangka waktu tenor untuk penjaminan adalah periode waktu dimana proyek dijamin dan dengan demikian membantu memperpanjang tenor pinjaman proyek, yang merupakan pembatasan bila tidak cukup panjang.

91

Misalnya: penundaan atau kegagalan mendapatkan izin, perubahan dalam kebijakan atau undang-undang, kebijakan offtake (penjualan dimasa datang) untuk BUMN dan pendapatan yang tidak dapat dikonversi menjadi mata uang asing. The Jakarta Post, Editorial: “Financing

breakthrough”. 18 Oktober 2011.

92

OECD, 2012. OECD Reviews of Regulatory Reform - Indonesia, Private-Public Partnership Governance: Policy, Process and Structure. Organization for Economic Co-operation and

Selanjutnya, Bank Dunia juga menyediakan pinjaman 30 juta dolar Amerika Serikat kepada IIGF dan “pijakan untuk pelibatan lanjutan dalam pengembangan dan penaksiran/appraisal operasi infrastruktur PPP.”93

Contohnya, IIGF memiliki Nota Kesepahaman dengan Bank Dunia dan Singapore Cooperation Enterprise (SCE) untuk mengembangkan struktur tata kelola korporasi dan buku panduan operasi IIGF dan Nota Kesepahaman dengan MIGA Bank Dunia untuk mendukung IIGF dalam merampingkan kerangka kerja seleksi risiko

(underwriting) dan pengelolaan risiko.94 Karena proyek-proyek energi Pemerintah

Indonesia dalam Fast Track I sebagian besar merupakan PLTU batu bara, tanpa perubahan signifikan dalam daftar proyek Fast Track, sejatinya pendampingan infrastruktur Kelompok Bank Dunia akan mempercepat pembangunan industri batu bara. Sejauh ini, proyek-proyek Fast Track I yang didaftarkan sebagai

“dalampengembangan” termasuk 40 PLTU batu bara dengan total 16,4GW.95

Secara total, PLTU batu bara merupakan 94% dari kapasitas energi yang dihasilkan oleh Fast Track I. Selanjutnya, proyek pertama yang menerima penjaminan IIGF pada Oktober 2011 adalah Proyek raksasa PLTU bertenaga batu bara di Batang, Jawa Tengah. IIGF juga telah memberikan penjaminan untuk Jalur Kereta api Batu Bara Puruk Cahu-Bangkuang, sebuah proyek bernilai 3

Development [online] dalam http://www.oecd.org/gov/regulatorypolicy/ Chap%206%20PPPs.pdf diakses pada 27 April 2014.

93

Indonesia Infrastructure Guarantee Fund, Project ID# P118916, disetujui: September 2012. Proyek-proyek yang memenuhi syarat adalah yang dinilai oleh WB dan memenuhi kebijakan WB. Untuk mencegah bercampurnya pendanaan WB dengan modal IIGF, pinjaman WB akan dikeluarkan pada saat klaim diajukan dan dinilai sebagai dapat dibayarkan oleh IIGF untuk proyek IIGF yang didukung WB.

94

MIGA adalah Multilateral Investment Guarantee Agency (Badan Penjaminan Investasi Multilateral) yang merupakan bagian dari Bank Dunia.

95

Terdapat juga 2 proyek geotermal yang totalnya 440 megawatt (keduanya menerima penjaminan IIGF) dan 2 proyek gas dengan total 560 megawatt. PricewaterhouseCooper, 2011. Electricity in Indonesia: Investment and Taxation Guide 2011.

milyar dolar Amerika Serikat, untuk jalur rel kereta api sepanjang 385 km yang menghubungkan tambang batu bara di sebelah utara Kalimantan ke pelabuhan Batanjung di bagian selatan Kalimantan.

2.3.1 Inisiatif yang dipromosikan Kelompok Bank Dunia Mendukung Proyek PLTU Jawa Tengah

IIGF yang didukung Kelompok Bank Dunia memberikan penjaminan 33,9 juta dolar Amerika Serikat untuk risiko yang terkait dengan proyek PLTU batu bara senilai 4 milyar dolar Amerika Serikat tersebut. Penjaminan IIGF memberikan tenor 16 tahun untuk ekuitas dan 21 tahun untuk utang, tenor yang jauh lebih panjang dibandingkan yang diberikan secara komersial.96 Proyek PLTU Jawa Tengah adalah PLTU berkapasitas 2000 megawatt di Batang, Jawa Tengah. Bila selesai, proyek ini akan menjadi salah satu PLTU batu bara terbesar di Asia Tenggara. Mengingat ukuran proyek yang sangat besar, perlu bagi Kementrian keuangan untuk menambahkan IIGF tambahan penjaminan pemerintah. J-Power dan Itochu Corporation dari Jepang dan Adaro Power dari Indonesia memenangkan tender kontrak 25 tahun untuk membangun, memiliki, mengoperasikan dan mengalihkan (build,own, operate and transfer) fasilitas baru di Jawa Tengah ini. Proyek ini termasuk PLTU 2000 megawatt dan fasilitas transmisinya. Konsorsium ini telah mendapatkan pinjaman dari Sumitomo Mitsui Banking Corporation dan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) untuk

96

Indonesia Infrastructure Guarantee Fund, 2012. The role of IIGF for PPP projects development in Indonesia. Presentasi untuk PPP Days, Jenewa.

mendanai proyek bernilai US$4 milyar tersebut.97 Tahap akhir pendanaan proyek ini yang menetapkan bahwa semua kesepakatan pendanaan ditandatangani dan semua persyaratan keuangan dipenuhi sebelum transfer dana dimulai adalah tanggal 6 Oktober 2013.

Bank Dunia membuka jalan sebagai penjaminan pemerintah Proyek PLTU Jawa Tengah. Bank Dunia merupakan pemeran kunci dalam memajukan proyek ini sebagai Penasihat Transaksi. Hibah diberikan kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk membayar jasa penasihat International Finance Corporation (IFC, unit sektor swasta Bank Dunia).98 Sebagai penasihat transaksi, pekerjaan IFC termasuk:99 Pertama menganalisa landasan proyek; kedua memberikan model pembiayaan proyek PPP; ketiga mempromosikan proyek kepada para investor dan mendapatkan umpan balik mereka; keempat mempersiapkan kontrak PPP dan prosedur tender; dan kelima mendampingi pelaksanaan tender dan menyeleksi pemenangnya.

97

Pendanaan terdiri dari 20-30% ekuitas dimana 60% akan diberikan oleh investor Jepang, dan 70-80% utang, termasuk investasi asing [online] dalam

http://www.indii.co.id/news_daily_detail.php?id=4976 diakses pada 27 April 2014.

98

Hibah ini dari Devco (Infrastructure Development Collaboration Partnership Fund), program multi-donor yang berafiliasi dengan Private Infrastructure Development Group yang didanai oleh Departemen Pembangunan Internasional Inggris Raya, Kementerian Luar Negeri Belanda, Badan Pembangunan Internasional Swedia, dan Badan Pembangunan Austria.

99

IFC, 2010. IFC Advisory Service in Public-Private Partnerships: Lessons from Our Work in Infrastructure, Health, and Education. International Finance Corporation, World Bank Group.

Tabel 2.3 : Ringkasan Langkah-Langkah Batu Bara Kelompok Bank Dunia di Indonesia.

Sumber : Fasilitas standby Bank Dunia sebagai jaringan pengaman IIGF. Dengan adanya penjelasan di bab 2 ini maka dapat disimpulkan bahwa pemerintah telah mempersiapkan pembangunan PLTU batu bara di Batang dengan adanya perjanjian dengan pola Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS). Instansi, institusi dan perusahaan asing yang terkait adalah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur (KKPPI), Menteri Keuangan, Menteri Badan Usaha Milik Negara, Menteri

Energi dan Sumber Daya Mineral, dan Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal, Gubernur Jawa Tengah, Bupati Batang dan Duta Besar Jepang, Dirut PT PLN (Persero), Dirut PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero), CEO J-Power, CEO Itochu, CEO PT Adaro.

Pemerintah juga telah mempersiapkan kebijakan Perpres dan Inpres tentang batu bara yang dicairkan sebagai bahan bakar alternatif. Batu bara cair memiliki beberapa kelebihan diantaranya harga produksi lebih murah dibanding minyak bumi, serta teknologi pengolahannya lebih ramah lingkungan. Investor akan tertarik menanamkan investasi dalam pembangunan PLTU di Batang dengan adanya insentif dari pemerintah. Insentif tersebut di antaranya adalah insentif pajak serta skema harga batu bara, mengenai insentif pemerintah telah dirumuskan dalam Inpres No. 2/2006. Bank Dunia turut memberikan pinjaman kebijakan pembangunan untuk mengejar program percepatan infrastruktur energi. Bank Dunia juga berperan sebagai penasihat transaksi selama proyek berlangsung hingga selesai.

PEMBANGUNAN PLTU DI BATANG

Organisasi lingkungan hidup Greenpeace menolak rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Batang sebagai PLTU terbesar di Asia Tenggara. Jika rencana tersebut tetap dibangun maka akan menghancurkan kehidupan sosial nelayan, petani, maupun warga Batang lainnya dan dapat menimbulkan dampak lingkungan bagi Indonesia, hingga mendorong Indonesia mengalami bencana menuju perubahan iklim.100 Pemerintah menargetkan PLTU Batang mulai beroperasi pada 2017. PLTU ini untuk menyediakan listrik se-Jawa-Bali. Pemerintah menggandeng pihak swasta asing dan lokal dalam pembangunannya. Bank Dunia dan bank-bank Jepang seperti JBIC (Japan Bank

International Coporation) dinilai telah melanggar komitmen pelestarian

lingkungan untuk berhenti mendukung proyek-proyek batu bara di seluruh dunia. Pelanggaran itu terjadi karena lembaga keuangan dunia itu telah mendukung pendanaan proyek pembangunan PLTU Batang yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya. Dana yang akan dikucurkan mencapai US$ 4 miliar.101

Dalam bab III ini akan dijelaskan tentang penolakan Greenpeace serta peranannya sehingga dapat mengubah kebijakan pemerintah dalam pembanguan PLTU di Batang.

100

Indonesia’s. 2010. Total emissions from fuel combustion Highlights. International Energy Agency. 2012 Edition.

101Siaran pers “Batang Coal-fired Power Plant Will Destroy health and livelihoods”.11 May 2014. [online] dalam http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/releases/Batang-Coal-fired-Power-Plant-Will-destroy-health-andlivelihoods/.

Dokumen terkait