BAB III TINJAUAN KHUSUS TINJAUAN KHUSUS RUMAH SAKIT
3.2 Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) Dr. Hasan Sadikin
3.2 Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) Dr. Hasan Sadikin Bandung
Adapun Struktur Organisasi Tata Kelola IFRS RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Adapun Struktur Organisasi Tata Kelola IFRS RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dapat dilihat pada lampiran 3.
dapat dilihat pada lampiran 3.
3.2.1
3.2.1 Visi Visi dan dan Misi Misi IFRSIFRS
Visi IFRS yaitu menjadi instalasi farmasi yang mandiri dan prima dalam Visi IFRS yaitu menjadi instalasi farmasi yang mandiri dan prima dalam pelayanan
pelayanan farmasi farmasi rumah rumah sakit sakit berdasarkanberdasarkan Pharmaceutical Pharmaceutical CareCare. Misi IFRS. Misi IFRS menyediakan pelayanan farmasi rumah sakit menyeluruh dan terjangkau dengan menyediakan pelayanan farmasi rumah sakit menyeluruh dan terjangkau dengan mutu yang dapat dipertanggungjawabkan bagi masyarakat.
mutu yang dapat dipertanggungjawabkan bagi masyarakat.
3.2.2
3.2.2 Tugas Tugas IFRS IFRS RSUP RSUP Dr. Dr. Hasan Hasan Sadikin Sadikin BandungBandung
Instalasi Farmasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung mempunyai tugas sebagai Instalasi Farmasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung mempunyai tugas sebagai berikut :
berikut : i.
i. Menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur, dan mengawasi seluruhMenyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur, dan mengawasi seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian yang optimal dan profesional serta sesuai kegiatan pelayanan kefarmasian yang optimal dan profesional serta sesuai prosedur dan etik profesi.
prosedur dan etik profesi. ii.
ii. Melaksanakan pengelolaan perbekalan farmasi yang efektif, aman, bermutuMelaksanakan pengelolaan perbekalan farmasi yang efektif, aman, bermutu dan efisien.
dan efisien. iii.
iii. Melaksanakan pengkajian dan pemantauan penggunaan perbekalan farmasiMelaksanakan pengkajian dan pemantauan penggunaan perbekalan farmasi guna memaksimalkan efek terapi dan keamanan serta meminimalkan risiko. guna memaksimalkan efek terapi dan keamanan serta meminimalkan risiko. iv.
iv. Melaksanakan Komunikasi, Edukasi, dan Informasi (KIE) serta memberikanMelaksanakan Komunikasi, Edukasi, dan Informasi (KIE) serta memberikan 5.
5. Bedah Bedah Saraf Saraf 11. 11. Kedokteran Kedokteran Fisik Fisik dan dan RehabilitasiRehabilitasi
6.
6. Ortopedi Ortopedi & & Traumatologi Traumatologi 12. 12. PenyakiPenyakit t KuliKulit t dan dan KelaminKelamin
13. Ilmu Kesehatan Gigi & Mulut
13. Ilmu Kesehatan Gigi & Mulut 17. Patologi Anatomi17. Patologi Anatomi
14.
14. Kesehatan Kesehatan Jiwa Jiwa 18. 18. Kedokteran Kedokteran NuklirNuklir
15.
15. Radiologi Radiologi 19. 19. Kedokteran Kedokteran ForensikForensik
16.
v.
v. Melaksanakan pendidikan, pelatihan, dan pengembangan pelayananMelaksanakan pendidikan, pelatihan, dan pengembangan pelayanan kefarmasian.
kefarmasian. vi.
vi. Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan danMemfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan formularium rumah sakit.
formularium rumah sakit. 3.2.3
3.2.3 Fungsi Fungsi IFRS IFRS RSUP RSUP Dr. Dr. Hasan Hasan Sadikin Sadikin BandungBandung
Instalasi Farmasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung menyelenggarakan fungsi Instalasi Farmasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :
sebagai berikut : i.
i. Pengelolaan perbekalan farmasiPengelolaan perbekalan farmasi i)
i) Memilih perbekalan farmasi sesuai kebutuhan pelayanan rumah sakit.Memilih perbekalan farmasi sesuai kebutuhan pelayanan rumah sakit. ii)
ii) Merencanakan kebutuhan perbekalan farmasi secara efektif, efisien, danMerencanakan kebutuhan perbekalan farmasi secara efektif, efisien, dan optimal.
optimal. iii)
iii) Memproduksi sediaan farmasi untuk memenuhi kebutuhan pelayananMemproduksi sediaan farmasi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit.
kesehatan di rumah sakit. iv)
iv) Menerima perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan ketentuanMenerima perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan ketentuan yang berlaku.
yang berlaku. v)
v) Menyimpan perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan persyaratanMenyimpan perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan kefarmasian.
kefarmasian. vi)
vi) Mendistribusikan perbekalan farmasi ke unit-unit pelayanan di rumahMendistribusikan perbekalan farmasi ke unit-unit pelayanan di rumah sakit.
sakit. vii)
vii) Melakukan penghapusan dan pemusnahan perbekalan farmasi yang sudahMelakukan penghapusan dan pemusnahan perbekalan farmasi yang sudah tidak dapat digunakan.
tidak dapat digunakan. viii)
viii) Mengendalikan persediaan perbekalan farmasi.Mengendalikan persediaan perbekalan farmasi. ix)
ix) Melakukan pencatatan dan pelaporan pengelolaan perbekalan farmasi.Melakukan pencatatan dan pelaporan pengelolaan perbekalan farmasi.
ii.
ii. Pelayanan farmasi klinikPelayanan farmasi klinik i)
i) Mengkaji instruksi pengobatan.Mengkaji instruksi pengobatan. ii)
ii) Melaksanakan pelayanan resep.Melaksanakan pelayanan resep. iii)
iii) Mengidentifikasi, mencegah, dan mengatasi masalah yang terkait denganMengidentifikasi, mencegah, dan mengatasi masalah yang terkait dengan perbekalan farmasi.
perbekalan farmasi. iv)
iv) Melaksanakan penelusuran riwayat penggunaan obat.Melaksanakan penelusuran riwayat penggunaan obat. v)
v) Melaksanakan Pelayanan Informasi Obat (PIO) kepada tenaga kesehatanMelaksanakan Pelayanan Informasi Obat (PIO) kepada tenaga kesehatan lain, pasien atau keluarga pasien, masyarakat, dan institusi lain.
vi)
vi) Memberikan konseling pada pasien dan keluarga.Memberikan konseling pada pasien dan keluarga. vii)
vii) Melaksanakan Pemantauan Terapi Obat (PTO).Melaksanakan Pemantauan Terapi Obat (PTO). viii)
viii) Melaksanakan Monitoring Efek Samping Obat (MESO).Melaksanakan Monitoring Efek Samping Obat (MESO). ix)
ix) MelaksanakanMelaksanakan visitevisite.. x)
x) Melaksanakan Evaluasi Penggunaan Obat (EPO).Melaksanakan Evaluasi Penggunaan Obat (EPO). xi)
xi) MelaksanakanMelaksanakan dispensingdispensing sediaan khusus (Melaksanakan penanganansediaan khusus (Melaksanakan penanganan sediaan sitotoksik, melakukan pencampuran obat suntik, menyiapkan sediaan sitotoksik, melakukan pencampuran obat suntik, menyiapkan nutrisi parenteral, dan melaksanakan pengemasan ulang sediaan yang tidak nutrisi parenteral, dan melaksanakan pengemasan ulang sediaan yang tidak stabil.
stabil.
3.2.4
3.2.4 Struktur Struktur Organisasi Organisasi Tata Tata Kelola Kelola IFRSIFRS
Berdasarkan Surat Keputusan Direktur RSUP Dr. Hasan Sadikin tentang Struktur Berdasarkan Surat Keputusan Direktur RSUP Dr. Hasan Sadikin tentang Struktur Organisasi Tata Kelola Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Organisasi Tata Kelola Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin, Instalasi Farmasi RSHS bertugas membantu Direktur Medik dan Sadikin, Instalasi Farmasi RSHS bertugas membantu Direktur Medik dan Keperawatan. IFRS RSHS dipimpin oleh seorang Kepala Instalasi Farmasi Keperawatan. IFRS RSHS dipimpin oleh seorang Kepala Instalasi Farmasi dibantu oleh lima orang Kepala Instalasi (instalasi Perbekalan, dibantu oleh lima orang Kepala Instalasi (instalasi Perbekalan, Sub-Instalasi Perencanaan & Monev, Sub-Sub-Instalasi Pelayanan, Sub-Sub-Instalasi Mutu & Instalasi Perencanaan & Monev, Sub-Instalasi Pelayanan, Sub-Instalasi Mutu & Pengembangan, dan Sub-Instalasi Umum dan Operasional). Struktur Organisasi Pengembangan, dan Sub-Instalasi Umum dan Operasional). Struktur Organisasi Tata Kelola IFRS di RSUP Dr. Hasan Sadikin dapat dilihat di dalam Lampiran 4. Tata Kelola IFRS di RSUP Dr. Hasan Sadikin dapat dilihat di dalam Lampiran 4.
3.2.5
3.2.5 Sumber Sumber Daya Daya ManusiaManusia
Sumber Daya Manusia IFRS RSUP Dr. Hasan Sadikin yaitu tenaga apoteker 30 Sumber Daya Manusia IFRS RSUP Dr. Hasan Sadikin yaitu tenaga apoteker 30 orang, asisten apoteker 172, tenaga administrasi 8 orang dan tenaga reseptor 11 orang, asisten apoteker 172, tenaga administrasi 8 orang dan tenaga reseptor 11 orang, data di peroleh hingga 5 No
orang, data di peroleh hingga 5 November 2013.vember 2013.
3.2.6 Fasilitas 3.2.6 Fasilitas
IFRS RSUP Dr. Hasan Sadikin memiliki fasilitas yang cukup memadai yang IFRS RSUP Dr. Hasan Sadikin memiliki fasilitas yang cukup memadai yang mampu menunjang pelayan farmasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin.
mampu menunjang pelayan farmasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin. Fasilitas ruanganFasilitas ruangan IFRS antara lain Kantor IFRS yang terdiri dari ruang resepsionis dan tata usaha, IFRS antara lain Kantor IFRS yang terdiri dari ruang resepsionis dan tata usaha, ruang
ruang pertemuan, ruanpertemuan, ruang apoteker, g apoteker, ruang ruang kepala instalasi kepala instalasi farmasi dan farmasi dan ruangruang dokumentasi. Selain kantor IFRS, fasilitas ruang lain yang dimiliki yaitu ruang dokumentasi. Selain kantor IFRS, fasilitas ruang lain yang dimiliki yaitu ruang
Berdasarkan Struktur Organisasi Tata Kelola Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) Dr. Hasan Sadikin Bandung memiliki 17 depo farmasi. Depo farmasi bertujuan untuk memudahkan dokter, perawat, dan penderita atau keluarga penderita dalam mendapatkan produk farmasi yang disebut Barang Medik Habis
Pakai (BMHP), dan pelayanan farmasi.
Untuk menunjang sistem distribusi, IFRS ditunjang sistem informasi online serta memiliki trolley, container, coolbox untuk distribusi BMHP dengan suhu yang terkendali, serta jalur Aerocom® pneumatic tube yang menjangkau depo yang berfungsi untuk distribusi BMHP sesuai dengan permintaan. Fasilitas kegiatan
yang terdapat di depo farmasi diantaranya:
i. Fasilitas penyiapan obat yang terdiri dari meja racik dengan meja kegiatan lain, perlengkapan dan perbekalan farmasi untuk penyiapan obat dan fasilitas pengemasan yang menjamin mutu dan keamanan penggunaan.
ii. Fasilitas penyimpanan di tempat pelayanan terdiri dari lemari dan kotak penyimpanan obat, lemari penyimpanan cairan infus, lemari penyimpanan
alat habis pakai serta lemari pendingin.
iii. Fasilitas administrasi kefarmasian di tempat pelayanan i) Meja untuk kegiatan administrasi
ii) Lemari penyimpanan perlatan administrasi iii) Blanko resep
iv) Blanko salinan resep v) Kartu stok
vi) Buku permintaan vii) Alat tulis kantor
iv. Fasilitas pemberian informasi yang mutakhir
i) Buku Formularium Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung
ii) Informasi Spesialite Obat (ISO), Monthly Index of Medical Specialitties (MIMS), jurnal-jurnal ilmiah, dan teksbook (DIH (Drug Information Handbook), DIPIRO, dll).
Peralatan penyiapan resep yang menjamin kebutuhan dan kemudahan dalam mencari kembali. Tempat dan peralatan untuk pelayanan farmasi klinik, yakni merupakan tempat khusus untuk memberikan pelayanan konseling.
3.2.7 Pengelolaan Perbekalan Farmasi
i. Rangkaian pengelolaan perbekalan farmasi i) Pemilihan
Menentukan apakah perbekalan farmasi benar-benar diperlukan sesuai dengan jumlah pasien atau kunjungan dan pola penyakit di rumah sakit. Penentuan seleksi obat merupakan peran aktif apoteker dalam Team Farmasi dan Terapi untuk menetapkan kualitas dan efektifitas,dilakukan berdasarkan pilihan ( Drug of Choice) dari penyakit yang prevalensinya
tinggi.
ii) Perencanaan
Bertujuan menetapkan jenis dan jumlah perbekalan farmasi sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Tahapan
dari perencanaan :
Kompilasi Penggunaan :
Mengetahui penggunaan bulanan masing-masing jenis perbekalan farmasi d i unit pelayanan selama setahun dan sebagai data pembanding bagi stok optimum, sehingga akan didapat informasi: jumlah penggunaan tiap jenis perbekalan farmasi terhada total penggunaan setahun seluruh unit pelayanan
dan penggunaan rata-rata untuk setiap jenis perbekalan farmasi. Perhitungan Kebutuhan :
Bertujuan agar perencanaan dapat tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu, dan tersedia pada saat dibutuhkan.
Evaluasi prencanaan :
Hasil perhitungan kebutuhan akan diperoleh jumlah kebutuhan, perlu dilakukan evaluasi. Perencanaan di RSHS sesuai jenis anggaran. Perencanaan BMHP anggaran APBN untuk kebutuhan setahun, enggunakan metode pengadaan lelang terbuka. Perencanaan BMHP anggaran PNBP,
menggunakan metode pengadaan lelalng tertutup, penunjukan langsung dan pembelian langsung.
iii) Pengadaan
Mengadakan perbekalan farmasi dengan harga layak, mutu baik, pengiriman barang terjamn dan tepat waktu, proses berjalan lancar. Pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan disetujui melalui pembelian, produksi, sumbangan atau droping atau hibah.
Metode pengadaan melalui pembelian sesuai PerPres no 54 tahun 2010, yaitu melalui :
Pelelangan Umum: Dapat diikuti penyedia barang yang memenuhi persyaratan.
Pelelangan Sederhana: Metode pemilihan penyedia barang untuk pekerjaan yang bernilai paling tinggi Rp. 5 miliar.
Penunjukan Langsung : metode pemilihan penyedia barang dengan cara menunjuk langsung satu penyedia barang.
Pengadaan Langsung : metode pengadaan barang langsung dapat dilakukan terhadap pengadaan barang/jasa bernilai paling tinggi Rp. 200 Juta, dengan ketentuan untuk kebutuhan operasional, beresiko kecil, teknologi sederhana, dilaksanakan oleh badan usaha kecil serta koperasi kecil
iv) Penerimaan
Menjamin perbekalan sesuai dengan kontrak baik spesifikasi, mutu maupun waktu kedatangan. Di RSHS penerimaan dilakukan oleh panitia penerimaan BMHP. Panitia melakukan pemeriksaan barang yang diterima dengan criteria pemeriksaan : kondisi barang, jumlah, merek, waktu pengiriman, tanggal kadaluarsa. Certificate of Analysis (CA) untuk bahan baku, uji fungsi untuk alat kesehatan inventaris, Certificate of Origin khusus untuk alat kesehatan.
v) Penyimpanan
Untuk memelihara mutu sediaan farmasi,menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab, menjaga ketersediaan dan memudahkan pencarian dan pengawasan. Metode penyimpanan dilakukan berdasarkan kelas terapi,
menurut bentuk sediaan dan alfabetis, dengan menerapkan prinsip First In First Out (FIFO) dan First Experied First Out (FEFO) disertai sistem informasi (digital dan manual) yang selalu menjamin ketersediaan perbekalan farmasi sesuai kebutuhan. Gudang Farmasi adalah gudang yang menyimpan obat regular, obat ASKES dan ALKES. Gudang farmasi menggunakan sistem pelayanan berdasarkan permintaan defekta dan adheret . Defekta adalah catatan order barang yang memuat tentang barang yang sudah habis dan barang yang sudah menipis persediaannya. Adheret adalah catatan order barang yang memuat barang yang sudah habis dan bersifat harus segera disediakan karena kebutuhan cito. Sistem defekta
sudah terjadwal untuk masing
–
masing depo farmasi. Setelah defekta atau adheret diterima, obat disiapkan reseptur lalu dicek ulang oleh tenaga teknis kefarmasian jika sesuai obat dikirim ke depo. Pengadaan barang di depo dilakukan berdasarkan kebutuhan depo farmasi di RSHS. Pengadaan BMHP di gudang farmasi melalui kegiatan pembelian langsung dari pabrik/distributor/pedagang besar secara tender (oleh panitia barang farmasi) dan secara langsung dari pabrik/ distributor/pedagang besar farmasi/rekanan. Adapun alur distribusi gudang dapat dilihat lampiran 6. vi) PendistribusianMendistribusikan perbekalan farmasi di RSHS untuk pelayanan individu dalam proses terapi bagi pasien rawat inap, rawat jalan, rawat darurat dan pelayanan penunjang agar perbekalan farmasi tersedia di unit-unit pelayanan secara tepat waktu, tepat jenis dan jumlah. Adapun alur distribusi
obat dapat dilihat pada lampiran 5. vii) Pengendalian
Bertujuan menghindari terjadinya kelebihan atau kekosongan perbekalan farmasi di unit pelayanan.
viii) Penghapusan
Kegaitan penyelesaian terhadap perbekalan farmasi yang tidak terpakai karena kadaluarasa, rusak, mutu, tidak memenuhi standar dengan cara membuat usulan penghapusan perbekalan farmasi kepada pihak terkait
farmasi yang tidak memenuhi persyaratan dikelola sesuai standar yang berlaku. Penghapusan akan mengurangi beban penyimpanan maupun resiko
terjadinya penggunaan obat yang sub-standar. ix) Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan memudahkan penelusuran transaksi perbekalan farmasi yang keluar dan masuk di lingkungan IFRS. Pencatatan dapat dilakukan dalam bentuk digital dan manual (kartu pencatatan: kartu stok dan kartu induk). Pelaporan menyediakan data yang akurat sebagai bahan evaluasi, informasi yang akurat, arsip yang memudahkan penelusuran, data yang lengkap untuk membuat perencanaan. Jenis laporan Perbekalan Farmasi di RSHS antara lain: mutasi perbekalan farmasi, penulisan resep generik dan non-generik, psikotropika dan narkotika, stock opname, pendistribusian, penggunaan obat rogram, jumlah resep, kepatuhana terhadapa formularium, kepatuhan terhadap DOEN, laporan keuangan (nilai penerimaan, transaksi, pendapatan).
x) Monitoring dan Evaluasi
Bermanfaat sebagai masukan guna penyusunan perencanaan dan pengambilan keputusan berdasarkan monitoring dan evaluasi yang telah
dilakukan.
Gambar III.4 Rangkaian kegiatan pengelolaan perbekalan farmasi Pemilihan Perencanaan Pengadaan Penerimaan Penyimpanan Pendistribusian Pengendalian Penghapusan Administrasi dan Laporan Monev
ii. Kategori Perbekalan Farmasi (BMHP) di RSUP Dr. Hasan Sadikin
i) Obat : obat suntik, obat pramedikasi, volatile anestesi, narkotika, infuse, vaksin, sirup allergen, tablet, sirup dan obat lainnya.
ii) Obat dan alat gigi : obat gigi dan alat gigi
iii) Bahan baku : bahan baku padat, bahan baku cair, desinfektan, kemasan untuk produksi, bahan baku PA, BMHP kulit kelamin
iv) Alat kesehatan : alat kesehatan disposable, alat kesehatan inventaris, alat pembaut, alat jahit (jarum dan benang jahit), BMHP hemodialisa dan
BMHP CSSD v) Gas medis
vi) BMHP radiologi :zat kontras dan X-ray Film.
vii) BMHP sumbangan : program penanganan SARS , program DOTS , program penanganan HIV/AIDS, sumbangan WHO, program angiografi, sumbagan
obat kanker, sumbangan Depkes
3.2.8 Pelayanan Farmasi Klinik
Pelayanan farmasi klinik diberikan secara langsung sebagai bagian dari pelayanan pasien dan memerlukan interaksi dengan pasien dan atau profesional kesehatan lain yang terlibat dalam perawatan pasien. Pelayanan farmasi klinik adalah penerapan pengetahuan obat untuk kepentingan pasien, dengan memperhatikan
kondisi penyakit pasien dan kebutuhannya untuk mengerti t erapi obatnya.
Pelayanan farmasi klinik yang dilakukan di RSHS diantaranya: i. Pelaksanaan farmasi klinik di pelayanan rawat jalan
i) Pengkajian kerasionalan order dokter
ii) Memberikan penyuluhan dan edukasi terkait penyakit dan obat di ruang tunggu.
iii) Membuat dan menyebarkan infomasi penting terkait suatu obat dalam bentuk brosur, buku kecil, atau leaflet.
iv) Informasi Obat dan Konseling
khasiatnya, aturan dan waktu minum obat, lama terapi, kemungkinan efek samping yang umum akan muncul, serta penyimpanan obat. Konseling dilakukan kepada pasien berdasarkan kriteria antara lain: masalah terapi > 1 (multiterapi), pasien menerima resep > 5 jenis (polifarmasi), obat dengan indeks terapi sempit, pasien geriatik. Konseling dilakukan lebih personal dan mendalam terhadap pasien, mendengarkan keluhan yang dialami pasien pada saat menjalankan terapi, menggali apa yang menjadi hambatan pasien dalam menjalankan terapi sehingga dapat ditemukan solusi dari masalah pasien. Materi yang diberikan pada saat konseling, selain informasi obat diatas juga diberi informasi apa saja hal-hal yang baik untuk dilakukan dan harus dihindari selama terapi serta motivasi kepatuhan
minum obat dengan baik dan benar.
ii. Pelaksanaan farmasi klinik di pelayanan rawat inap
i) Wawancara dengan keluarga pasien, terutama tentang sejarah pengobatan pasien termasuk obat tradisional yang dibawa.
ii) Pencatatan terapi pasien dan pemantauan penggunaan obat
iii) Pencatatan dan pemantauan dilakukan dengan memperbaharui Kartu Obat Pasien (KOP), menyesuaikan KOP dengan buku obat suntik pasien, mencatat dan membuat jadwal pengobatan pasien (terutama untuk unit dose/UDD).
iv) Pengkajian resep, meliputi aspek administratif, aspek farmaseutik dan aspek klinis.
v) Melakukan pengkajian resep dan pengukuran (assesment ) berdasarkan Drug Relatif Problems
(DRP’
s) yaitu adanya indikasi tidak diobati, adanya terapi tidak ada indikasi, kelebihan dan kekurangan dosis, terjadinya efek yang merugikan (ROM), terjadinya masalah akibat interaksi obat, pasien tidak mendapat obat yang tepat dan pasien gagal menerima obat.vi) Konsultasi, informasi dan edukasi (KIE) untuk dokter, perawat dan pasien. Konseling untuk pasien diprioritaskan untuk pasien baru dan pasien yang akan pulang yang memiliki penyakit berisiko atau
vii) Visite bersama tim kesehatan. Apoteker ikut melakukan visite bersama dokter, perawat dan profesional kesehatan lain. Peranan apoteker, yang diharapkan adalah berpartisipasi dalam pemilihan obat yang tepat untuk pasien (drug of choice), pemilihan regimen obat, dosis, pemberian informasi pada pasien dan perawat tentang cara penggunaan obat dan efek samping yang mungkin terjadi.
viii) Visite mandiri. Tujuannya untuk memantau efek terapi dari obat yang digunakan pasien, memantau kepatuhan pasien, mencari permasalahan terkait obat dan cara pemecahannya.
ix) Monitoring efek samping obat. Penting dilakukan terutama pada pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi.
x) Evaluasi pengunaan obat.
xi) Pelaporan Reaksi Obat yang Merugikan (ROM).
iii. Apoteker melakukan penanganan sitotoksik, dengan memeriksa ketepatan pasien, regimen dan dosis, jadwal, pengenceran dan pencampuran, cara pemberian dan pembayaran. Ruang penanganan sitotoksik (Cytotoxic Handling) ada 3 , yaitu: Asnawati, RIK 3 dan Eyckman. Ruangan tersebut untuk melayani pencampuran obat kemoterapi pasien dengan diagnosa kanker baik untuk kanker stadium awal ataupun lanjut. Kemoterapi sendiri merupakan alternatif terapi pada kanker secara kemosensitif. Suhu ruangan produksi ini 18-25oC, hal ini dilakukan untuk menjaga kestabilan dari
obat-obat kemoterapi.
iv. Keikutsertaan IFRS dalam tim RS, antara lain:
i) Tim DOTS ( Directly Observed Treatment Short-course), ii) Tim MDR-TB ( Multi Drug Resistance-Tuberculosis),
iii) Tim HIV/AIDS ( Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immune Deficiency Syndrome), dan