• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II :FUNGSI PENGAWASAN DALAM PENYELENGGARAAN

C. Instansi Terkait Dalam Pelaksanaan Pengawasan

Pengawasan dan bentuk-bentuk melakukan pengaruh lainnya oleh badan-badan lebih tinggi terhadap badan-badan-badan-badan yang lebih rendah mencakup pelaksanaan kekuasaan. Sama halnya dengan pelaksanaan kekuasaan terhadap warga masyarakat, dapat diajukan pertanyaan sampai tingkat manakah dibatasi

kebebasan badan-badan tingkat tinggi dalam melakukan kebijaksanaan mereka terhadap badan yang lebih rendah.

Aturan-aturan dan asas-asas yang harus dipenuhi bagi pelaksanaan pengawasan diantaranya terdapat:28

• Asas legalitas, yaitu pelaksanaan pengawasan harus berdasarkan suatu kewwnangan menurut undang-undang.

• Asas pengawasan terbatas, yaitu pengawasan yang dibatasi pada sasaran-sasaran yang telah dijadikan pedoman pada waktu kewenangan itu diberikan.

• Asas motivasi, yaitu bahwa alas an-alasan untuk melaksanakan pengawasan harus dapat mendukung keputusan yang diambil berdasarkan pengawasan tadi dan keputusan itu harus dimotivasi kepada masyarakat luas.

• Beberapa asas tentang produser seperti asas kecermatan

• Asas kepercayaan.

Pengawasan yang dilaksanakan oleh badan-badan pemerintah yang bertingkat lebih tinggi terhadap badan-badan yang lebih rendah. Untuk pengawasan dapat dikemukakan alas an-alasan berikut:

• Koordinasi : mencegah atau mencari penyelesaian konflik / perselisihan kepentingan misalnya di antara kotapraja-kotapraja.

28 http://sriiandriyani.blogspot.co.id/2013/09/hukum-administrasi-negara-badan_8.htmlyang diakses pada tanggal 05 Januari 2017 pukul 19.35

• Pengawasan kebijakan : disesuaikannya kebijakan dari aparat pemerintah yang lebih rendah terhadap yang lebih tinggi

• Pengawasan kualitas: kontrol atas kebolehan dan kualitas teknis pengambilan keputusan dan tindakan-tindakan aparat pemeintah yang lebih rendah.

• Alasan-alasan keuangan : peningakatan kebijaksanaan yang tepat dan seimbang dari aparat pemerintah yang lebih rendah.

• Perlindungan hak dan kepentingan warga : dalam situasi tertentu mungkin diperlukan suatu perlindungan khusus untuk kepentingan dari seorang warga.

Banyak Instansi-instansi terkait dalam bidang Pengawasan yang melakukan Pengawasan baik secara Internal dan Eksternal seperti yang akan diuraikan di bawah ini :

1. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT (DPR)

Dalam tata tertib anggota DPR Republik Indonesia dijelaskan dalam Bab VIII tentang Tata Cara Pelaksanaan Pengawasan bahwa:

Pasal 159

1. DPR mempunyai fungsi pengawasan.

2. Fungsi pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan terhadap:

a. pelaksanaan undang-undang;

b. pelaksanaan keuangan negara; dan c. kebijakan Pemerintah.

Pasal 160

1. Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 ayat (2) dilaksanakan melalui pelaksanaan hak DPR sebagaimana diatur dalam ketentuan Bab IX tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak DPR.

2. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui pelaksanaan tugas pengawasan komisi sebagaimana diatur dalam ketentuan Bab V tentang Alat Kelengkapan.

3. Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 ayat (2) huruf b dapat dilakukan melalui:

a. pembahasan laporan keuangan Pemerintah Pusat yang telah diaudit oleh BPK;

b. hasil pemeriksaan semester BPK;

c. tindak lanjut hasil pemeriksaan semester BPK;

d. hasil pemeriksaan dengan tujuan tertentu oleh BPK;

e. hasil pengawasan DPD; dan/ataupengaduan masyarakat.

4. Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 ayat (2) dapat dilaksanakan melalui pembentukan tim sebagaimana diatur dalam ketentuan Bab V tentang Alat Kelengkapan.

5. Dalam melaksanakan pengawasan, DPR dapat melakukan konsultasi dengan lembaga Negara lain sebagaimana diatur dalam ketentuan Bab XV tentang Konsultasi dan Koordinasi Sesama Lembaga Negara.

2. DEWAN PERWAKILAN DAERAH (DPD)

Pembentukan Dewan Perwakilan Daerah (Senate atau upperhouse) dimaksudkan agar mekanisme check and balances dapat berjalan relatif seimbang, terutama yang berkaitan dengan kebijakan di pusat dan kebijakan di daerah.

Menurut Ramlan Surbakti, beberapa pertimbangan Indonesia membentuk DPD: pertama, distribusi penduduk Indonesia menurut wilayah sangat timpang dan terlampau besar terkonsentrasi di Pulau jawa; kedua, sejarah Indonesia menunjukkan aspirasi kedaerahan sangat nyata dan mempunyai basis materiil yang sangat kuat yakni adanya pluralism daerah otonom seperti daerah istimewa dan daerah khusus.

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dapat melakukan pengawasan (kontrol) atas:

a. Pelaksanaan Undang-Undang mengenai:

• Otonomi daerah;

• Pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah;

• Hubungan pusat dan daerah;

• Pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya;

• Pelaksanaan anggaran dan belanja Negara;

• Pajak;

• Pendidikan, dan

• Agama; serta

b. Menyampaikan hasil pengawasan itu kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.

3. MAHKAMAH AGUNG (MA)

Badan Pengawasan mempunyai tugas membantu sekertaris mahkamah agung dalam melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas dilingkungan Mahkamah Agung dan pengadilan di semua lingkungan peradilan.

Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut Badan Pengawasan menyelenggarakan fungsi :

1. Penyiapan perumusan kebijakan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas dilingkungan Mahkamah Agung dan Pengadilan di semua lingkungan Peradilan

2. Pelaksanaan Pengawasan terhadap pelaksanaan tugas di lingkungan Mahkamah Agung dan Pengadilan di semua lingkungan Peradilan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;

3. Pelaksanaan administrasi Badan Pengawasan.

4. KOMISI YUDISIAL (KY)

Pasal 28B UUD 1945 memuat empat ayat, yaitu (1) Komisi Yudisial

bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim; (2) Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pegetahuan dan pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela; (3) Anngota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan DPR; dan (4) susuanan, kedudukan, dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur lebih lanjut dengan Undang-Undang.

Dengan adanya Komisi Yudisial ini sebagai salah satu lembaga Negara yang bersifat penunjang (auxiliary organ) terhadap lembaga kekuasaan kehakiman, diharapkan bahwa infrastruktur sistem etika perilaku di semua sektor dan lapisan suprastruktur Negara Indonesia dan ditumbuh-kembangkan sebagaimana mestinya dalam rangka mewujudkan gagasan Negara hukum dan prinsip ‘good governance’ di semua bidang.

Kedudukan Komisi Yudisial ini dapat dikatakan sangat penting. Secara struktural kedudukannya diposisikan sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Tetapi, secara fungsional, peranannya bersifat penunjang (auxiliary) terhadap lembaga kekuasaan kehakiman, tetapi tidak menjalankan fungsi norma hukum (code of law), melainkan lembaga penegak norma etik (code of ethics). Lagi pula komisi ini hanya berurusan dengan soal kehormatan, keluhuran martabat, dan perilaku hakim, bukan dengan lembaga peradilan atau lembaga kekuasaan kehakiman secara institusional.

Menurut ketentuan Pasal 2 Undang-Undang No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial,“Komisi Yudisial merupakan lembaga yang bersifat mandiri dan dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh kekuasaan lainnua”. Artinya, Komisi Yudisial sendiri juga bersifat independen yang bebas dan harus dibebaskan dari intervensi dan pengaruh cabang-cabang kekuasaan ataupun lembaga-lembaga Negara lainnya.

Meskipun demikian, dengan sifat independen tersebut tidak berarti Komisi Yudisial tidak diharuskan bertanggung jawab oleh Undang-Undang. Dalam Pasal 38 Undang-Undang No. 22 Tahun 2004, ditentukan:

(1) Komisi yudisial berangggung jawab kepada publik melalui Dewan Perwakilan Rakyat;

(2) Pertanggungjawaban kepada publik sebagimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan cara:

a. Menerbitkan laporan tahunan, dan

b. Membuka akses informasi secara lengkap dan akurat.

(3) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a setidaknya memuat hal-hal sebagai berikut:

a. Laporan penggunaan anggaran;

b. Data yang berkaitan dengan fungsi pengawasan; dan

c. Data yang berkaitan dengan fungsi rekruitmen Hakim Agung.

(4) Laporan sebagimana dimaksud pada ayat (2) huruf a disampaikan pula kepada Presiden.

(5) Keuangan Komisi Yudisial diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan menurut ketentuan Undang-Undang.

Dalam melaksanakan pengawasan sebaimana dimaksud dalam Pasal 20, Komisi Yudisial:

a. Menerima laporan masyarakat tentang perilaku hakim;

b. Meminta laporan secara berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim;

c. Melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim;

d. Memanggil dan meminta keterangan dari hakim yang diduga melangggar kode etik perilaku hakim; dan

e. Membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi, serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR.

Dalam melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Komisi Yudisial wajib:

a. Menaati norma, hukum, dan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan b. Menjaga kerahasiaan keterangan yang karena sifatnya merupakan rahasia Komisi Yudisial yang diperoleh berdasarkan kedudukannya sebagai anggota.

5. BADAN PEMERIKSA KEUANGAN (BPK)

Badan Pemeriksa Keuangan adalah lembaga Negara yang bebas dan mandiri dalam memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara.

Dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh dan kekuasaan pemerintah, akan tetapi tidak berdiri di atas pemerintah. Dengan kata lain, bahwa eksistensi BPK bukan bersifat formalitas semata tetapi merupakan lembaga yang diharapkan berfungsi sebagaimana dimaksud oleh UUD 1945.[9]

Tugas dan wewenang BPK memiliki posisi strategis karena menyangkut semua aspek yang berkaitan dengan sumber dan penggunaan anggaran dan keuangan Negara, yaitu:

a. Memeriksa tanggung jawab tentang keuangan Negara. Hasil pemeriksaan itu diberitahukan kepada DPR, DPD, dan DPRD;

b. Memeriksa semua pelaksanaan APBN; dan

c. Memeriksa tanggung jawab pemerintah tentang keuangan Negara.

Sehubungan dengan penunaian tugasnya BPK berwenang meminta keterangan yang wajib diberikan oleh setiap orang, badan/instansi pemerintah atau badan swasta, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

Menurut Moh. Kusnardi dan Bintan R. Siragih, menyimpulkan tugas pokok BPK menjadi tiga macam fungsi, yaitu:

a. Fungsi operatif, yaitu melakukan pemeriksaan, pengawasan, dan penelitian atas penguasaan dan pengurusan keuangan Negara.

b. Fungsi yudikatif, yaitu melakukan tuntutan perbendaharaan dan tuntutan ganti rugi terhadap bendaharawan dan pegawai negeri bukan bendaharawan yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajibannya, menimbulkan kerugian besar bagi Negara.

c. Fungsi rekomendatif, yaitu memberi pertimbangan kepada pemerintah tentang pengurusan keuangan Negara.

Untuk melaksanakan tugas dan fungsinya, maka BPK berwenang antara lain:

a. Meminta, memeriksa, meneliti pertanggung jawaban atas penguasaan dan pengurusan keuangan serta mengusahakan keseragaman baik dalam tata cara pemeriksaan dan pengawasan maupun dalam penatausahaan keuangan Negara.

b. Mengadakan dan menetapkan tuntutan perbendaharaan dan tuntutan ganti rugi.

c. Melakukan penelitian penganalisis terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang keuangan.

6. INSPEKTORAT DAERAH

Dalam tata aturan pemerintahan kita kenal adanya lembaga Pengawasan Kota atau daerah, baik pengawasan Internal maupun Eksternal. Untuk tingkat kementrian kita kenal adanya Irjen (Inspektoratral Jendral), sebagai pengawas internal. Sedangkan pengawas eksternal adalah BPK dan BPKP. Sedang di Pemerintah Provinsi dan Kabupaten pengawasan internal dilakukan oleh Inspektorat Daerah yang merupakan unsur pengawas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Inspektorat Daerah dipimpin oleh Inspektur dan dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab langsung kepada Gubernur atau Bupati dan secara teknis administratif mendapat pembinaan dari Sekretaris Daerah, diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur atau Bupati sesuai ketentuan/peraturan perundang-undangan.

Inspektorat Daerah mempunyai fungsi perencanaan program pengawasan, perumusan kebijakan dan fasilitasi pengawasan, pemeriksaan, pengusutan, pengujian dan penilaian tugas pengawasan, pemeriksaan serta pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati di bidang pengawasan.

Untuk menyelenggarakan fungsi , Inspektorat mempunyai tugas :

1. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan pemerintahan;

2. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan perekonomian;

3. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan kesejahteraan sosial;

4. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan keuangan dan asset; dan

5. melaksanakan kegiatan ketatausahaan.

Inspektorat Daerah sebagai Aparat Pengawas Internal PemerintahDaerah memiliki peran dan posisi yang sangat strategis baik ditinjau dari aspek fungsi-fungsi manajemen maupun dari segi pencapaian visi dan misi serta program-program pemerintah. Dari segi fungsi-fungsi dasar manajemen, ia mempunyai kedudukan yang setara dengan fungsi perencanaan atau fungsi pelaksanaan.

Sedangkan dari segi pencapaian visi, misi dan program-program pemerintah, Inspektorat daerah menjadi pilar yang bertugas sebagai pengawas sekaligus pengawal dalam pelaksanaan program yang tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Sebagai pengawas internal, Inspektorat Daerah yang bekerja dalam organisasi pemerintah daerah tugas pokoknya dalam arti yang lain adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh manajemen puncak (Kepala Daerah) telah dipatuhi dan berjalan sesuai dengan rencana, menentukan baik atau tidaknya pemeliharaan terhadap kekayaan daerah, menentukan efisiensi dan efektivitas prosedur dan kegiatan pemerintah daerah, serta yang tidak kalah pentingnya adalah menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh berbagai Unit/Satuan Kerja sebagai bagian yang integral dalam organisasi Pemerintah Daerah. Dari penjelasan itu dapat dikatakan bahwa Inspektorat Daerah sebagai pengawas internal memiliki karakteristik yang spesifik, dan ia memiliki ciri antara lain adalah:

1. Alat dalam organisasi Pemerintah Daerah yang menjalankan fungsi quality assurance.

2. Pengguna laporan pengawas internal adalah top manajemen (Kepala Daerah) dalam organisasi Pemerintah Daerah yang bersangkutan.

3. Dalam pelaksanaan tugas seperti halnya pengawas eksternal dapat menggunakan prosedur pemeriksaan bahkan harus memiliki prosedur yang jelas.

4. Kegiatan pemeriksaan bersifat pre-audit atau build-in sepanjang proses kegiatan berlangsung.

5. Fungsi pemeriksaan yang dilakukan lebih banyak bersifat pembinaan dan dalam praktiknya memberikan saran dan pertimbangan kepada Kepala Daerah, ia tidak berwenang untuk menghakimi apalagi menindak.

7.BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH.

“Badan Kepegawaian Daerah merupakan lembaga non departemen yang mempunyai wewenang dalam mengatur administrasi kepegawaian daerah, dan kewenangannya dalam mengangkat, memindahkan dan memberhentikan pegawai negeri sipil daerah”.

Dalam melaksanakan tugas, Biro Kepegawaian menyelenggarakan fungsi:

1. Pelaksanaan penyusunan formasi, pendataan dan pengembangan.

2. Pelaksanaan pengurusan administrasi pengadaan, pengangkatan, kenaikan pangkat, kenaikan gaji, promosi dan mutasi kepegawaian serta usulan pemberian tanda penghargaan bagi pegawai di wilayah I.

3. Pelaksanaan pengurusan administrasi pengadaan, pengangkatan, kenaikan pangkat, kenaikan gaji, promosi dan mutasi kepegawaian serta usulan pemberian tanda penghargaan bagi pegawai di wilayah II.

4. Pelaksanaan administrasi pemberhentian, pensiun pegawai Mahkamah Agung dan Pengadilan di semua lingkungan Peradilan.

5. Pelaksanaan pengurusan administrasi jabatan fungsional.

BAB III

PELAKSANAAN PENGAWASAN OLEH BADAN PENGAWAS KOTA (BAWASKO) KOTA MEDAN

A. Gambaran Umum Badan Pengawas Kota (BAWASKO) Kota Medan Inspektorat Kota Medan dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah kota Medan No. 3 Tahun 2009 sebagai pelaksana pengawasan fungsional yang dipimpin oleh seorang Inspektur. Inspektorat Kota Medan adalah bagian dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang berada di dalam lingkup Pemerintah Kota Medan di mana kedudukan Inspektorat Kota Medan sejajar dengan dinas atau badan di Pemerintah Kota Medan yang dipimpin oleh Pejabat Eselon II/b.29

Dengan demikian pada hakekatnya Tugas Pokok Inspektorat Kota Medan merupakan upaya pembinaan, penyempurnaan, penertiban, pengawasan, dan pengendalian manajemen secara terencana, bertahap, dan berkelanjutan untuk peningkatan kinerja seluruh Unit Satuan Kerja dalam ruang lingkup Pemerintah Kota Medan, melalui kerjasama secara terkoordinasi, guna mengambil langkah Menurut Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Medan dan Peraturan Walikota Medan Nomor 10 Tahun 2010 tanggal 4 Januari 2010 tentang Rincian Tugas Pokok dan Fungsi Inspektorat Kota Medan, Inspektorat mempunyai tugas membantu melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan pemerintah daerah.

29http://inspektorat.pemkomedan.go.id/statis-1-profil.html

pembaharuan sektor penyelenggara negara (public service reform) dalam rangka mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik ( Good Governance.)

Adapun fungsi Inspektorat Kota Medan yakni dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Perencanaan program pengawasan Pemerintah Kota Medan;

2. Perumusan kebijakan dan fasilitasi pengawasan; dan

3. Pemeriksaan, pengusutan, pengujian dan penilaian tugas pengawasan.

Dalam rangka penyelenggaraan tugas pokok tersebut di atas, Inspektorat Kota Medan mempunyai kewenangan sebagai berikut :

a. Penyusunan Kebijakan Pemerintah Daerah

b. Pengkoordinasian pelaksanaan tugas dinas daerah dan lembaga teknis daerah.

c. Pemantauan dan evaluasi pada pelaksanaan Kebijakan Pemerintahan Daerah;

d. Pembinaan Administrasi dan Aparatur Pemerintahan Daerah; dan

e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota Medan sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Adapaun Kestrukturan Inspektorat Kota Medan sebagai berikut :

1. Nama Unit Kerja : Inspektorat

Pejabat : Drs. FARIT WAJEDI, M.Si

2. Alamat/Telp. Kantor : Kantor Walikota Medan Lt. III, Jln. Kapten Maulana Lubis No.2 Medan Telp. 061-4511551

3. Dasar Hukum :

• Undang-Undang Nomor 8 Drt Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota-kota Besar dalam Lingkungan Daerah Provinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1092);

• Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890);

• Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

• Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1973 tentang Perluasan Daerah Kotamadya Medan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1973 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3005);

• Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan

Pemerintahan Daerah Kabupaten / Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

• Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741);

• Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat Provinsi dan Kabupaten / Kota;

• Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 2 Tahun 2009 tentang Urusan Pemerintahan Kota Medan (Lembaran Daerah Kota Medan Tahun 2009 Nomor 2);

• Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Medan (Lembaran Daerah Kota Medan Tahun 2009 Nomor 3, Tambahan Lembaran Daerah Kota Medan Nomor 2);

• Peraturan Walikota Nomor 5 Tahun 2009 Tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2010 Tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Medan

• Peraturan Walikota Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Rincian Tugas Pokok dan Fungsi Inspektorat Kota Medan

4. Tupoksi :

Sesuai dengan Peraturan Walikota Medan Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Medan bahwa kedudukan, tugas dan fungsi Inspektorat Kota Medan merupakan unsur pengawas penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dipimpin oleh Inspektur yang berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab kepada Walikota dan secara teknis administrasi mendapat pembinaan dari Sekretaris Daerah.

Inspektorat mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan pemerintahan daerah, yang dalam melaksanakan tugasnya menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :

• Perencanaan program pengawasan.

• Perumusan kebijakan dan fasilitasi pengawasan, dan

• Pemeriksaan, pengusutan, pengujian dan penilaian tugas pengawasan.

5. Visi dan Misi

Visi Inspektorat Pemerintah Kota Medan merupakan gambaran masa depan masa depan yang diharapkan dan merupakan komitmen yang akan memotivasi segenap anggota organisasi dalam melaksanakan kegiatan.

Visi tersebut adalah sebagai berikut :

“Terwujudnya Pengawasan yang berkualitas di Pemerintah Kota Medan sebagai pendorong manajemen Pemerintahan yang baik”

Makna dari visi Inspektorat Pemerintah Kota Medan tersebut untuk mendukung terwujudnya Visi Pemerintah Kota Medan yakni :

Terwujudnya Masyarakat Sumatera Utara yang Beriman, Maju, Mandiri, Sejahtera dan Menjunjung Tinggi Supermasi Hukum Berdasarkan Pancasila Dalam Kebhinekaan.

Agar pelaksanaan tugas Inspektorat Pemerintah Kota Medan dapat terlaksana dan berhasil dengan baik, maka ditetapkan Misi Inspektorat Pemerintah Kota Medan sebagai berikut :

1. Mewujudkan Pelaksanaan Pengawasan yang bermutu.

2. Meningkatkan Kualitas Aparat Pengawasan.

3. Meningkatkan manajemen pengawasan yang baik di Pemerintah Kota Medan

Makna tiap misi tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut :

1. Mewujudkan pelaksanaan yang bermutu, bermakna pengawasan yang dilakukan tepat waktu, sesuai dengan peraturan, memberikan sumbangan berarti bagi instansi yang diawasi/diperiksa untuk menghindarkan terjadinya penyimpanan dalam mencapai tujuan organisasi sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

2. Meningkatkan kualitas Aparat Pengawasan, bermakna peningkatan kemampuan merupakan strategi yang diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan sikap tanggap dalam rangka peningkatan kinerja pemerintahan, yang dapat direfleksikan dalam bentuk kinerja yang secara profesional dan terampil sesuai dengan bidang tugasnya, mampu memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dan tuntutan masyarakat sebagai hak-haknya.

3. Meningkatkan manajemen pengawasan yang baik di Kota Medan, bermakna penataan administrasi pengawasan, sistem pengawasan yang baik, mekanisme pengawasan/pemeriksaan yang baik, sehingga tidak terjadi tumpang tindih pemeriksaan terhadap satu obrik, serta merubah pandangan obrik yang negatif terhadap pengawasan/pemeriksaan, bahwa pengawasan/pemeriksaan bukanlah untuk mencari-cari kesalahan.

6. Struktur Organisasi Inspektorat Pemerintah Kota Medan :

a. Inspektur

b. Sekretariat membawahi :

• Sub Bagian Perencanaan.

• Sub Bagian Evaluasi dan Pelaporan.

• Sub Bagian Administrasi dan Umum.

c. Inspektur Pembantu I

d. Inspektur Pembantu II

e. Inspektur Pembantu III

f. Inspektur Pembantu IV.

g. Jabatan fungsional

B. Proses yang dilakukan Badan Pengawas Kota (BAWASKO) Kota Medan dalam Pelaksanaan Pengawasan

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, dalam Pasal 1 menegaskan ruang lingkup pengelolaan keuangan daerah sebagai berikut : “Keseluruhan kegiatan meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah”. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 19 menegaskan bahwa tahun anggaran APBD meliputi masa 1 (satu) tahun mulai tanggal 1 januari sampai dengan 31 desember. Menguatkan isi Pasal tersebut, selanjutnya dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Permendagri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, dikerucutkan pada proses Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pengaturan, pengurusan dan pengelolaan keuangan daerah, dilakukan setiap tahunnya dari 1 Januari sampai 31 Desember dalam setahun pemerintahan daerah. Dengan ditetapkannya Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) yang diawali dengan penyusunan RAPBD oleh Pemerintah Daerah kemudian persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), pengesahan oleh Pemerintah Pusat, penetapan menjadi APBD sampai

dengan implementasi dan penerapan atau pemanfaatan anggaran dengan melaksanakan, menatausahakan serta mempertanggungjawabkannya termasuk didalamnya adalah aspek pengawasan

Di setiap tahapan pengelolaan keuangan, aspek pengawasan menjadi strategis dan penting dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip penyelenggaraan negara yang bersih. Pengawasan merupakan kegiatan penilaian

Di setiap tahapan pengelolaan keuangan, aspek pengawasan menjadi strategis dan penting dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip penyelenggaraan negara yang bersih. Pengawasan merupakan kegiatan penilaian

Dokumen terkait