Pelaksana pemantauan lingkungan hidup ditangani oleh masing-masing departemen/divisi di bawah koordinasi Health, Safety and Environment (HSE) EMP Kangean .
2.5.2. Pengawas
Instansi atau lembaga yang bertugas sebagai pengawas pelaksanaan pemantauan adalah Badan Lingkungan Hidup (BLH), Kantor Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Sumenep, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumenep (yang terkait dengan perikanan), Bapedal Propinsi Jawa Timur dan Direktorat
Jenderal Migas (cq Direktorat Teknik dan Lingkungan).
2.5.3. Pelaporan
Laporan hasil pemantauan disampaikan ke Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sumenep, Bapedal Propinsi Jawa Timur, Ditjen Migas dan Kementrian Lingkungan Hidup (KLH).
Tabel 2.3. Matriks Rencana Pemantauan Lingkungan Pengembangan Lapangan Gas Terang, Sirasun, Batur Kabupaten Sumenep
Instansi yang dipantau
Tujuan Upaya Pematauan
Waktu dan Periode
Pematauan Pelaksana Pengawas Pelaporan
1 Kualitas air
Pembuangan air dari proses cooling medium unit berupa limbah panas (thermal effluent) Pembuangan hasil pengolahan limbah air terproduksi, limbah cair domestik dan air larian hasil proses
Untuk efluen dari
pengolahan air terproduksi mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 42 Tahun 1996 (Lampiran II) tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan Minyak dan Gas serta Panas Bumi.
Adapun parameter yang dipantau untuk efluen berikut
Untuk mengetahui karakteristik kualitas air limbah yang dibuang ke badan air kualitas air akibat kegiatan operasi.
Lokasi pemantauan kualitas
efluen (air terproduksi dan limbah cair domestik) dilakukan di outlet
pembuangan air
terproduksi dan di outlet unit pengolah air limbah domestik.
Lokasi pemantauan kualitas air laut ambien di sekitar FPU dan di ekosistem
Pengambilan sampel Analisis Sampel Analisa Data
a. Kualitas efluen air terproduksi dan limbah domestik.
Pemantauan parameter debit efluen air
terproduksi dan air limbah domestik yang telah diolah dilakukan setiap hari. Sedangkan pemantauan parameter lainnya dari efluen air terproduksi dan air limbah domestik yang disajikan pada Tabel 2.1 serta air colling medium unit akan dilakukan sekali setiap bulan selama tahap operasi.
Instansi yang dipantau
Tujuan Upaya Pematauan
Waktu dan Periode
Pematauan Pelaksana Pengawas Pelaporan metodenya,
dijabarkan pada Tabel 2.1.
Untuk effluen dari unit pengolahan limbah domestik, pemantauan mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Limbah Cair Domestik.
Parameter yang dipantau berikut metodenya disajikan pada Tabel 2.1.
Untuk kualitas air laut ambien,
terumbu karang perairan
pantai Desa Jungkat, P.
Raas.
Lokasi pemantauan kualitas air laut ambien didasarkan/m engikuti arah arus. Titik pengambilan contohnya ditentukan 3 stasiun arah hilir (down stream)
b. Kualitas air laut ambien.
Pemantauan parameter kualitas air laut ambien seperti yang tercantum pada Tabel 2.1 di lokasi sekitar FPU
dilakukan empat kali setahun selama tahap operasi yang mewakili musim kemarau, musim peralihan, musim penghujan, dan musim peralihan kedua. Khusus untuk pemantauan di terumbu karang perairan pantai Desa Jungkat, P. Raas dilakukan hanya satu kali dalam setahun pada Musim Timur. Hal ini sesuai dengan model sebaran minyak air
Migas
Instansi yang dipantau
Tujuan Upaya Pematauan
Waktu dan Periode
Pematauan Pelaksana Pengawas Pelaporan pertimbangan
didasarkan pada lokasi kegiatan yang merupakan wilayah off-shore dan tumpang tindih dengan daerah penangkapan ikan bagi sebagian nelayan.
Disamping itu, meski berjarak cukup jauh, terdapat ekosistem terumbu karang di 2 pulau terdekat yakni P. Gua-gua dan Komarean serta di Karang Takat. Dengan pertimbangan FPU. Khusus untuk pemantauan di ekosistem terumbu karang di Desa Jungkat, P. Raas dilakukan di 1 titik
pengamatan, yakni di bagian dekat pantai yang merupakan terumbu karang 114031’40,70 8 BT 709’,33,639 LS.
terproduksi (Sub bab 6.2.2 Dampak Pengoperasian FPU Terhadap Kualitas Air Laut, dan Gambar 6.5).
Instansi yang dipantau
Tujuan Upaya Pematauan
Waktu dan Periode
Pematauan Pelaksana Pengawas Pelaporan tersebut, maka
jumlah parameter yang dipantau untuk perairan sekitar kegiatan tertera pada Tabel 2.1.
Paramater-parameter tersebut mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut 3 Sumber
dampak Dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan terhadap karang sesuai dengan KepKa Bapedal No.
Untuk mengetahui kondisi terumbu karang dengan berdasarkan pada persentase Keputusan Kepala Bapedal No. 47/2001 tentang Pedoman Pengukuran Kondisi Terumbu Karang.
Pemantauan dilakukan hanya satu kali dalam setahun pada Musim Timur. Hal ini sesuai dengan model
Dep/divisi
Instansi yang dipantau
Tujuan Upaya Pematauan
Waktu dan Periode
Pematauan Pelaksana Pengawas Pelaporan ekosistem
terumbu karang merupakan dampak turunan dari dampak terhadap kualitas air laut
unit larian hasil proses pembersih an fasilitas pendukung
47/2001 tentang Pedoman Teknis Baku Mutu Terumbu Karang.
penutupannya.
untuk mengkaji kemungkinan terjadinya gangguan terhadap terumbu karang akibat kandungan minyak dari FPU pada saat operasi terutama di Musim Timur.
minimal 1 (satu) transek di lokasi yang sama dengan pengambilan sampel air untuk air laut ambien.
Sebagai catatan, pemantauan pertama harus dilakukan sebelum tahap operasi dimulai, sehingga dapat dijadikan acuan/rona awal.
Analisis persentase penutupan terumbu karang berdasarkan kategori bentuk pertumbuhan yang ditemukan pada lokasi pemantauan
sebaran minyak air terproduksi (Sub bab 6.2.2 Dampak Pengoperasian FPU Terhadap Kualitas Air Laut, dan
dampak adalah berasal dari tahap
Tumpang Tindiih dengan Kegiatan
Jumlah dan persentase nelayan rawai yang sudah
Utuk mengetahui jumlah dan persentase nelayan yang
Di desa sekitar lokasi kegiatan yaitu Pulau Gua gua
Pengambilan Sampel: untuk menghitung jumlah dan
Dilakukan secara periodik (minimal setahun sekali) setelah selesai
Dep/divisi
Instansi yang dipantau
Tujuan Upaya Pematauan
Waktu dan Periode
Pematauan Pelaksana Pengawas Pelaporan konstruksi,
operasi dan pasca-operasi yaitu kegiatan-kegiatan : Konstruksi : mobilisasi peralatan dan material Pasca-operasi : decommisionin kapal rawai hanyut pada radius 500 meter jumlah nelayan yang masih berada dan melakukan kegiatan di yang dekat dengan radius 500 meter dari lokasi
pengeboran migas PT EMP
memahami larangan berada dan melakukan kegiatan pada radius 500 meter dari lokasi pengeboran migas PT EMP Kangean
dan Pulau Komerean serta Desa Buddi,
persentase nelayan yang sudah mengetahui larangan tersebut dilakukan
pendataan dengan cara diskusi kelompok terarah (focus group discussion), sedangkan untuk mengetahui jumlah nelayan yang masih mendekati daerah larangan dilakukan pendataan langsung di lapangan.
Analisis Sampel:
hasil pendataan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan tabulasi silang untuk menghitung jumlah dan persentase.
sosialisasi. Safety and
Instansi yang dipantau
Tujuan Upaya Pematauan
Waktu dan Periode
Pematauan Pelaksana Pengawas Pelaporan
Analisis Data: hasil analisis tabulasi silang
diinterpretasikan secara deskriptif dengan
membandingkan hasil pemantauan runtun waktu.
Sumber dampak adalah berasal dari tahap konstruksi, operasi dan pasca-operasi yaitu kegiatan-kegiatan : Konstruksi : mobilisasi peralatan dan material positif dan negatif terhadap PT EMP Kangean
Untuk mengetahui perubahan jumlah dan persentase masyarakat yang mempunyai persepsi positif dan negatif terhadap PT EMP Kangean
Di desa sekitar lokasi kegiatan yaitu Desa Jungkat, Desa Brakas Pulau Gua Gua dan Pulau Komerean (desa-desa tersebut berada pada radius 30 km dari lokasi proyek) serta Desa Buddi, Pajanangger, Kolo kolo, Kalisangka (Pulau
Pengambilan Sampel: untuk mengetahui perubahan jumlah dan persentase masyarakat yang mempunyai persepsi negatif dan positif terhadap PT EMP diambil sampel dengan cara diskusi kelompok terarah (focus group discussion).
Analisis Sampel:
hasil pendataan selanjutnya dianalisis dengan
Pemantauan lingkungan terhadap jumlah dan
persentase masyarakat yang mempunyai persepsi negatif dan positif terhadap EMP Kangean , dilakukan sekali setiap selesainya pelaksanaan suatu kegiatan (sebelum tahap operasi), dan diselaraskan dengan jadwal community development (mulai tahap operasi)
Dep/divisi Energi Kab.
Sumenep,
Instansi No
Sumber dampak penting
Dampak Penting yang di Pantau
Parameter yang dipantau
Tujuan Upaya Pematauan Lingkungan
Lokasi Pematauan
Metode Pematauan
Waktu dan Periode
Pematauan Pelaksana Pengawas Pelaporan pengoperasian
FPU
peme;liharaan fasilitas produksi Pasca-operasi : decommisionin g FPU
Maburit) dan Kalinganyar (desa-desa tersebut berada pada radius 35 km dari lokasi proyek).
menggunakan tabulasi silang untuk menghitung jumlah dan persentase.
Analisis Data: hasil analisis tabulasi silang
diinterpretasikan secara deskriptif dengan
membandingkan hasil pemantauan runtun waktu untuk mengetahui perubahan antar waktu dari persepsi masyarakat.