DAFTAR PUSTAKA
Barus B. 1999. Pemetaan Bahaya Longsoran Berdasarkan Klasifikasi Statistik Peubah Tunggal Menggunakan SIG. Ilmu Tanah dan Lingkungan 2: 7-16. [BBSDLP] Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. 2009. Identifikasi
dan Karakterisasi Lahan Rawan longsor dan Rawan Erosi di Dataran Tinggi untuk Mendukung Keberlanjutan Pengelolaan Sumberdaya Lahan Pertanian. Laporan Tengah Tahun, DIPA 2009. Bogor: Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian.
[BP4K] Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Bogor. Geografi Kabupaten Bogor. http://bp4k.bogorkab.go.id/.
[11 September 2011].
Dardak AH. 2008. Kebijakan Penataan Ruang Dalam Pengelolaan Kawasan Rawan Bencana Longsor. Jakarta: LSKPI Press.
Febriana I. 2004. Identifikasi dan Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Tanah Longsor dengan Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis [Skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Hermawan DA. 2000. Pencegahan dan Penanggulangan Longsoran Pada Ruas Jalan Beton PC. IV PT. Badak NGL-Bontang, Kalimantan Timur. Geologi dan Sumberdaya mineral 10: 20-30.
[KLH] Kementrian Lingkungan Hidup. 2007. Laporan Akhir Analisis Potensi Rawan Bencana Alam di Papua dan Maluku. Jakarta: KLH.
Lo CP. 1995. Penginderaan Jauh Terapan Terjemahan. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Nandi. 2007. Longsor. Bandung: Jurusan Pendidikan Geografi Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia. [PEMKAB] Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor. 2008. Peraturan Daerah
Kabupaten Bogor Nomor 19 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor Tahun 2005-2025. Bogor: Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor.
Prahasta E. 2001. Konsep-konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. Bandung: Informatika Bandung.
Purnamasari DC. 2007. Aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi (SIG) dalam Evaluasi Daerah Rawan Longsor di Kabupaten Banjarnegara (Studi Kasus di Gunung Pawinihan dan sekitarnya Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara) [Skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
58
[PVMBG] Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2005. Manajemen Bencana Tanah Longsor. http://pikiran-rakyat.com/cetak/2005/ 0305/22/0802.htm. [6 april 2011].
Rahmat AH. 2010. Pemetaan Kawasan Rawan Bencana dan Analisis Resiko Bencana Tanah Longsor dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) (Studi Kasus Kawasan Kaki Gunung Ciremai, Kabupaten majalengka) [Skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Pemerintah Republik Indonesia. 1998. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 Tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Jakarta: Republik Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia. 2007. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 Tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan. Jakarta: Republik Indonesia.
Sadisun AI. 2005. Usaha Pemahaman Terhadap Stabilitas Lereng dan Longsoran Sebagai Langkah Awal Dalam Mitigasi Bencana Longsoran. Di dalam :
Workshop Penanganan Bencana Gerakan Tanah. Bandung.
Suranto JP. 2008. Kajian Pemanfaatan Lahan pada Daerah Rawan Bencana Tanah Longsor di Gununglurah, Cilongok, Banyumas [Tesis]. Semarang: Program Pascasarjana Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro.
Suripin. 2002. Pelestarian Sumberdaya Tanah dan Air. Yogyakarta: ANDI.
Wilopo W, Agus H. 2004. Bencana Alam Longsor di Indonesia : Kasus longsoran yang Terjadi di Kabupaten Purworejo dan Gunung Kidul. Yogyakarta: ANDI.
RINGKASAN
ARDI CHANDRA YUNIANTO. E34070072. Analisis Kerawanan Tanah Longsor dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Penginderaan Jauh di Kabupaten Bogor. Dibimbing oleh LILIK BUDI PRASETYO dan OMO RUSDIANA
Kabupaten Bogor merupakan salah satu daerah berpotensi tanah longsor, hal ini disebabkan curah hujan Kabupaten Bogor yang cukup tinggi. Laju pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi serta tidak tertib dan tidak tepatnya perencanaan tata ruang Kabupaten Bogor merupakan salah satu faktor yang menyebabkan adanya peningkatan bahaya tanah longsor. Peningkatan bahaya ini akan lebih diperparah bila masyarakat sama sekali tidak menyadari dan tanggap terhadap adanya potensi bencana tanah longsor di daerahnya. Untuk itu diperlukan upaya-upaya yang komprehensif untuk mengurangi resiko bencana tanah longsor, antara lain dengan melakukan analisis terhadap kerawanan tanah longsor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan penyebaran kawasan rawan bencana tanah longsor di Kabupaten Bogor serta mengevaluasi pola ruang berdasarkan kerawanan tanah longsor di Kabupaten Bogor.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli - September 2011, dengan lokasi penelitian untuk pengamatan dan pengambilan data di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bahan yang digunakan yaitu peta dasar Kabupaten Bogor dalam berbagai layer. Analisis kerawanan tanah longsor dilakukan berdasarkan model pendugaan Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) (2009), parameter-parameter yang digunakan untuk menentukan tingkat kerawanan adalah penutupan lahan (landcover), jenis tanah, kemiringan lahan, curah hujan, formasi geologi (batuan induk) dan kerentanan gerakan tanah. Setiap jenis parameter tersebut diklasifikasi berdasarkan skor serta diberi bobot kemudian ditumpangsusunkan (overlay). Pola ruang Kabupaten Bogor kemudian dievaluasi berdasarkan Peta Kerawanan Tanah Longsor tersebut.
Berdasarkan model pendugaan kerawanan tanah longsor BBSDLP (2009) diperoleh tiga kelas kerawanan longsor di Kabupaten Bogor yaitu kelas kerawanan longsor rendah dengan luas 94991 Ha (31,7%) meliputi 33 kecamatan, kelas kerawanan longsor sedang dengan luas 173309 Ha (57,8%) meliputi 36 kecamatan dan kelas kerawanan longsor tinggi dengan luas 31127 Ha (10,396%) meliputi 28 kecamatan.
Hasil evaluasi pola ruang menunjukkan bahwa beberapa kawasan yang diperuntukkan sebagai kawasan pemukiman berada pada daerah dengan kerawanan longsor tinggi, sehingga tidak tepat apabila dijadikan permukiman. Selain itu juga ditemukan pemanfaatan kawasan yang tidak sesuai dengan peruntukkannya sebagaimana diatur dalam RTRW Kabupaten Bogor, dimana kawasan konservasi maupun hutan lindung yang berfungsi untuk melindungi lingkungan disekitarnya dari bencana tanah longsor, pada kenyataannya telah beralih fungsi menjadi pemukiman, kebun, sawah maupun ladang dan tegalan. Kata kunci : Kerawanan tanah longsor, penutupan lahan, pola ruang
SUMMARY
ARDI CHANDRA YUNIANTO. E34070072. Landslide Vulnerability Analysis With Applications of Geographic Information Systems (GIS) and Remote Sensing in Bogor Regency. Under supervision of LILIK BUDI PRASETYO and OMO RUSDIANA
Bogor Regency is one of the area with high landslide potential due to rainfall. High population growth and inappropriate spatial planning in Bogor regency were factors which led to increase risk of landslide. This risk would be more aggravated when community was completely unaware of and not responsive to the potential for landslides in the area. Related to this issue, it requires a comprehensive effort to reduce the risk of landslides, such as analysis of the vulnerability to landslides. The purpose of this study was to map the distribution of landslide prone areas in Bogor Regency and to evaluate the spatial pattern based on the landslide vulnerability in Bogor Regency.
The research was conducted in July - September 2011, with study sites for observation and data collection in Bogor, West Java. The materials used in the research are the images and maps of Bogor Regency in various layers. Landslide vulnerability was analysed based on the prediction model from Indonesian Center for Agricultural Land Resources Research and Development (ICALRD 2009). The parameters used to determine the level of vulnerability were the land cover, soil type, land slope, rainfall, geological formations and the vulnerability of ground motion. Each type of map was classified based on the scores, weighted and overlaid. Bogor Regency spatial pattern was then evaluated based on the Landslide Vulnerability Map.
Analysis based on the ICALRD (2009) Model of Vulnerability Landslide Prediction resulted in three classes of vulnerability to landslides in Bogor Regency, i.e. class of low vulnerability to landslides with an area of 94.991 ha (31.7%) covering 33 districts, class of middle vulnerability to landslides with an area of 173.309 ha (57.8% ) covering 36 districts and classes of high vulnerability to landslides with an area of 31.127 ha (10.396%) covering 28 districts.
Results of the evaluation of spatial pattern indicated that some designated residential areas were located in areas with high vulnerability to landslides, which was not appropriate for uses as residential area. In addition, the evaluation also found utilization of areas which violated the designated spatial plan of Bogor Regency, in which conservation and protected forest areas with the function to protect the surrounding environment from landslide had been converted to residential area, plantations, ricefield and farm.