• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAKTERI PENCERNA SERAT DENGAN PAKAN BERSUPLEMEN KOBALT

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Masa prasapih pada pedet merupakan periode kritis dan sangat rentan terhadap perubahan pakan maupun kondisi lingkungan. Beberapa hari setelah lahir, pedet sangat tergantung pada nutrien susu karena mikroba di dalam rumen belum berkembang dengan baik sehingga belum mampu mencerna komponen pakan padat. Konsumsi susu yang tinggi pada pedet, menyebabkan biaya pakan dan biaya pembesaran pedet yang tinggi. Upaya percepatan peningkatan konsumsi pakan padat dan penyapihan perlu dilakukan untuk mengurangi biaya pembesaran pedet.

Konsumsi dan pencernaan pakan padat dapat merangsang perkembangan mikroba dan saluran pencernaan pedet. Perkembangan mikroba dan saluran pencernaan diharapkan dapat dipercepat dengan cara inokulasi bakteri. Inokulasi bakteri pencerna serat (probiotik) asal rumen kerbau diharapkan dapat mempercepat kemampuan pedet dalam mencerna pakan padat khususnya komponen serat. Pencernaan serat meningkatkan produksi volatile fatty acids (VFA) dalam rumen. Produk fermentasi tersebut mampu merangsang pertumbuhan papil rumen. Konsumsi ransum yang telah mencapai jumlah 500-700 g/hari (Jones & Heinrichs, 2007), mengindikasikan bahwa rumen pedet telah berkembang dengan baik.

Inokulasi bakteri pencerna serat (probiotik) dan suplementasi kobalt (Co) dapat membantu proses sintesis vitamin B12 oleh mikroba dalam saluran pencernaan.

Perkembangan mikroba rumen yang lebih cepat, memungkinkan mikroba rumen menghasilkan vitamin B kompleks termasuk vitamin B12. Vitamin B12 hasil sintesis

mikroba dapat diserap darah dan mempengaruhi sintesis butir darah merah (proses pematangan sel-sel darah merah) sehingga dapat memperbaiki status fisiologis dan nafsu makan pedet. Vitamin B12 juga diperlukan untuk metabolisme sel terutama

dalam saluran pencernaan, sumsum tulang, jaringan syaraf, dan sel-sel pertumbuhan, serta untuk mempercepat pertumbuhan.

Tujuan

Mengetahui pengaruh inokulasi bakteri pencerna serat terhadap konsumsi nutrien, profil darah, status fisiologis, dan pertambahan bobot badan pada pedet peranakan Friesian Holstein prasapih yang mendapat ransum bersuplemen kobalt.

RINGKASAN

AHMAD HADZIQ. D24062504. 2011. Status Fisiologis dan Performa Pedet Peranakan Friesian Holstein Prasapih yang Diinokulasi Bakteri Pencerna Serat dengan Pakan Bersuplemen Kobalt. Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing Utama : Prof. Dr. Ir. Toto Toharmat, MAgrSc.

Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Dwierra Evvyernie Amirroenas, MS., MSc.

Masa prasapih pada pedet merupakan periode kritis dan sangat rentan terhadap perubahan pakan maupun kondisi lingkungan. Beberapa hari setelah lahir, pedet sangat tergantung pada nutrien asal susu karena mikroba di dalam rumen belum berkembang dengan baik sehingga belum mampu mencerna komponen pakan padat. Upaya percepatan peningkatan konsumsi pakan padat dan penyapihan perlu dilakukan untuk mengurangi biaya penyapihan pedet.

Perkembangan mikroba dan saluran pencernaan pedet diharapkan dapat dipercepat dengan cara inokulasi bakteri pencerna serat asal rumen kerbau. Perkembangan mikroba rumen yang lebih cepat, memungkinkan mikroba rumen menghasilkan vitamin B kompleks termasuk vitamin B12. Inokulasi bakteri pencerna

serat dan suplementasi kobalt (Co) dapat membantu sintesis vitamin B12 oleh

mikroba dalam rumen pedet. Vitamin B12 hasil sintesis mikroba dapat diserap tubuh

dan meningkatkan sintesis butir darah merah (BDM) sehingga dapat memperbaiki status fisiologis dan nafsu makan pedet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh inokulasi bakteri pencerna serat terhadap konsumsi nutrien, profil darah, status fisiologis, pertambahan bobot badan (PBB), dan ukuran tubuh pada pedet yang mendapat ransum bersuplemen kobalt.

Penelitian ini dilaksanakan bulan November 2009 sampai dengan Maret 2010 di kandang sapi perah Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Hewan percobaan yang digunakan terdiri atas 9 ekor pedet peranakan Friesian Holstein

(PFH) periode prasapih dengan rataan bobot badan 37,33 ± 5,34 kg. Sebanyak 5 pedet mendapatkan perlakuan kontrol dan 4 pedet mendapat perlakuan inokulasi. Kedua perlakuan dialokasikan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pedet dalam perlakuan inokulasi, diinokulasi dengan isolat bakteri pencerna serat sebanyak 20 ml/hari. Peubah yang diamati adalah konsumsi susu dan calf starter, konsumsi Co, kandungan Co darah, butir darah merah (BDM), hemoglobin (Hb), hematokrit (packed cell volume/PCV), denyut jantung, laju respirasi, suhu rektal, pertambahan bobot badan (PBB), dan ukuran tubuh. Data yang diperoleh dianalisis dengan Uji-t.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi segar, konsumsi BK, nilai rataan profil darah dan pertambahan bobot badan pada pedet perlakuan inokulasi lebih tinggi daripada pedet kontrol. Konsumsi BK mempengaruhi konsumsi kobalt. Bobot badan akhir dan ukuran tubuh pedet perlakuan inokulasi lebih besar (P<0,05) dibandingkan pedet kontrol. Nilai rataan denyut jantung, laju respirasi, dan suhu rektal pada pedet perlakuan inokulasi lebih rendah (P<0,05) daripada pedet kontrol. Hal ini mengindikasikan bahwa inokulasi bakteri pencerna serat berpotensi mempengaruhi kemampuan termoregulasi pedet dalam beradaptasi dengan lingkungan.

ABSTRACT

Physiologal Status and Performance of Friesian Holstein Grade Pre-Weaning Calves Inoculated with Fiber Degrading Bacteria and Offered Diet

Supplemented with Cobalt

A. Hadziq, T. Toharmat, D. E. Amirroenas

Calves are very suceptible to feed and environmental condition. Blood circulation including red blood cell has important roles in adaptation process and thermoregulation in calves. Red blood synthesis is affected by availability of cobalamin. Sinthesis and availability of cobalamin depends upon the ruminal microbes activitis. The present experiment was designed to evaluate the influence of inoculation of fiber degrading bacteria. Nine new born Friesian Holstein grade calves were used in the experiment. Four calves were inoculated with fiber degrading bacteria and other 5 calves were control. Calves were offered milk and calf starter supplemented with cobalt (Co) for four weeks. Dry matter and Co intake, body weight, rectal temperature, heart beat, respiration rate and body size were determined weekly, whereas blood components and Co content were determined at the end of the experimental period. Data were analysed statistically using t-Test. Dry matter intake, weight gain, red blood cell, hematocrite and hemoglobine of calves in control group were lower than that of calves inoculated by fiber degrading bacteria. However, heart beat, respiration rate and rectal temperature of the calves in the control group were higher than that of calves inoculated fiber degrading bacteria. It was concluded that inoculation of fiber degrading bacteria into the rumen of pre weaning calves increased dry matter intake, weight gain and improve the adaptation capability of calves to environmental condition.

Dokumen terkait