DALAM PAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
RINGKASAN
Fetty Mirfat. D14086008. 2011. Performa Itik Alabio Jantan Umur 1-10 Minggu yang Diberi Daun Beluntas, Vitamin C dan E dalam Pakan. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Dr. Ir. Rukmiasih, MS. Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Sumiati, M.Sc.
Itik Alabio jantan merupakan itik lokal unggul yang memiliki ukuran tubuh yang besar, sehingga baik digunakan sebagai itik pedaging. Produk akhir dari itik yang berupa daging akan berkualitas baik jika semasa hidupnya itik tersebut mengkonsumsi pakan yang berkualitas baik. Penambahan bahan pakan tambahan (feed additive) dilakukan untuk meningkatkan kualitas pakan. Daun beluntas, vitamin C dan vitamin E dapat ditambahkan dalam pakan itik, yang juga berfungsi sebagai antikosidan.
Daun beluntas berkhasiat untuk meningkatkan nafsu makan bagi manusia. Mengacu terhadap manfaat daun beluntas tersebut, maka penelitian ini menggunakan tepung daun beluntas sebagai bahan tambahan pada pakan itik Alabio jantan. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan tepung daun beluntas taraf 1% menghasilkan konversi pakan yang lebih rendah dari kontrol. Hal ini diduga karena adanya antinutrien tanin. Agar mendapatkan konversi pakan yang lebih baik, maka dalam penelitian ini pemberian tepung daun beluntas hanya sebesar 0,5%. Penambahan vitamin C dan vitamin E bertujuan untuk menambah berkurangnya antioksidan asal tepung daun beluntas akibat penurunan penggunaannya dalam pakan. Vitamin C dan E memiliki fungsi sebagai ketahanan tubuh dan sebagai antioksidan.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei hingga September 2010 di Laboratorium Lapangan Blok B, Ilmu Produksi Ternak Unggas, Fakultas Peternakan, IPB. Itik yang digunakan yaitu itik Alabio jantan umur 1 minggu, yang dipelihara sampai umur 10 minggu. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari pengaruh penambahan tepung daun beluntas, vitamin C dan E dalam pakan terhadap performa itik Alabio jantan. Data hasil penelitian diolah dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK). Pengelompokkan didasarkan pada bobot badan awal (kecil, sedang, besar) dan tiap kelompok terdiri atas 8 ekor itik. Perlakuan pakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah; (1) pakan komersial (K), (2) pakan komersial + 0,5% tepung daun beluntas (KB), (3) pakan komersial + 0,5% tepung daun beluntas + 250 mg/kg vitamin C (KBC) dan (4) pakan komersial + 0,5% tepung daun beluntas + 400 IU/kg vitamin E (KBE).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pakan, bobot badan akhir, pertambahan bobot badan dan konversi pakan tidak berbeda antar perlakuan. Pemberian pakan dengan penambahan 0,5% tepung daun beluntas (KB), pakan + 0,5% tepung daun beluntas + 250 mg/kg vitamin C (KBC) dan pakan + 0,5% tepung daun beluntas + 400 IU/kg vitamin E (KBE) tidak memberikan dampak negatif terhadap performa itik selama pemeliharaan.
ABSTRACT
Performances of Alabio Male Ducks 1-10 of Weeks Age Fed Beluntas Leaves Meal, Vitamin C and Vitamin E
Mirfat, F., Rukmiasih, and Sumiati
Alabio male ducks are potential as producer of meat. Many factors influence in ducks production, including feed quality. Feed supplementation such as antioxidant will improve the ducks performance. Beluntas leaf meal, vitamin C and vitamin E could be used as source of antioxidant. The objective of this study was to know the effect of feeding beluntas leaf meal, vitamin C and vitamin E on performances of Alabio male ducks. This study used 96 male Alabio ducks and were reared from one week up to 10 weeks of old. The diet treatments used were commercial feed as control diet (K), control diet + 0.5% beluntas leaf meal (KB), control diet + 0.5% + beluntas leaf meal 250 mg / kg vitamin C (KBC) and feed control + 0.5% beluntas leaf meal + 400 IU vitamin E (KBE). A randomized block design, with 4 treatments and 3 replication was used in this study. The parameters observe were feed consumption, final body weight, body weight gain and feed conversion. The results showed that feeding 0.5% beluntas leaf meal (KB), 0.5% beluntas leaf meal + 250 mg/kg vitamin C (KBC) and 0.5% beluntas leaf meal + 400 IU vitamin E (KBE) did not affect the feed consumption, final body weight, body weight gain and feed conversion. The conclusion of this research did not affect the performances of Alabio male ducks at 1-10 weeks of age.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perkembangan usaha peternakan unggas di Indonesia relatif lebih maju dibandingkan usaha ternak lainnya. Hal ini tercermin dari kontribusinya yang cukup besar dalam memperluas lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan yang paling utama adalah dalam pemenuhan kebutuhan makanan bernilai gizi tinggi. Salah satu usaha perunggasan yang cukup berkembang di Indonesia adalah usaha ternak itik. Meskipun tidak sepopular ternak ayam, itik memiliki potensi yang cukup besar sebagai ternak penghasil daging. Populasi ternak itik dan ayam ras di Indonesia pada tahun 2009 mencapai 40.679.541 dan 111.417.637 ekor dengan produksi dagingnya sebanyak 25.782 dan 1.101.765 ton (Ditjen Peternakan Departemen Pertanian, 2009). Salah satu itik lokal yang memiliki perdagingan yang baik adalah itik alabio jantan.
Produk akhir dari itik yang berupa daging akan berkualitas baik jika semasa hidupnya itik tersebut mengkonsumsi pakan yang berkualitas baik. Pakan merupakan faktor yang paling penting dalam usaha peternakan selain manajemen pemeliharaan dan genetik. Pakan berkualitas baik dapat diperoleh salah satunya dengan menambahkan bahan pakan tambahan (feed additive) dalam pakan. Bahan pakan tambahan yang dapat ditambahkan dalam pakan itik dapat berupa vitamin dan tanaman herbal. Bahan pakan tambahan tersebut diberikan dalam jumlah sedikit dengan tujuan untuk memperbaiki performa pada itik. Daun beluntas, vitamin C dan vitamin E merupakan bahan pakan tambahan yang dapat diberikan pada itik yang juga berfungsi sebagai antioksidan.
Daun beluntas (Pluchea indica L.) merupakan tanaman herbal yang mengandung asam amino (leusin, isoleusin, triptofan, treonin), alkaloid (antipiretik), flavonoida, minyak atsiri, asam klorogenat, natrium, kalium, alumunium, kalsium, magnesium, fosfor, besi, vitamin A, vitamin C, fenol hidrokuinon, tanin, dan steroid. Daun beluntas sering digunakan oleh masyarakat untuk menambah nafsu makan dan mengurangi penyakit gangguan pencernaan pada anak-anak. Berdasarkan pemanfaatan daun beluntas pada masyarakat, diharapkan memiliki manfaat yang sama terhadap itik yang dipelihara. Vitamin C memiliki fungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh karena mampu mengurangi infeksi dalam tubuh dan meningkatkan
penyerapan zat besi. Suplementasi vitamin C pada unggas sangat bermanfaat untuk mengurangi stres ketika temperatur lingkungan tinggi. Suplementasi vitamin E bermanfaat untuk meningkatkan antibodi (kekebalan tubuh) dan mencegah radikal bebas yang menyebabkan stres. Berdasarkan fungsi daun beluntas, vitamin C dan vitamin E diharapkan itik yang dipelihara memiliki performa yang meliputi konsumsi pakan, bobot badan, pertambahan bobot badan dan konversi pakan yang lebih baik.
Hasil penelitian Gunawan (2005) menunjukkan bahwa pemberian tepung daun beluntas dengan taraf 1% menghasilkan konversi pakan sebesar 4,17, sedangkan kontrol menghasilkan konversi sebesar 3,42. Ini berarti konversi pakan yang mendapat beluntas 1% sebesar 21,9% lebih tinggi daripada kontrol. Diduga, penyebabnya adalah tanin yang terdapat dalam beluntas. Penggunaan beluntas diturunkan menjadi 0,5% untuk menurunkan konversi pakan. Vitamin C dan vitamin E digunakan untuk menutupi berkurangnya antioksidan yang berasal dari beluntas.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan tepung daun beluntas, vitamin C dan vitamin E dalam pakan terhadap performa itik alabio jantan.