• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

D. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data

Instrumen merupakan alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data dengan cara melakukan pengukuran. Cara ini dilakukan untuk memperoleh data yang objektif yang diperlukan untuk menghasilkan kesimpulan penelitian yang objektif pula.50

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis berbentuk esai dan dokumentasi. Dokumentasi adalah mencari dan mengumpulkan data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, majalah, agenda,, notulen rapat dan sebagainya.51

Tes esai adalah salah satu bentuk tes tertulis yang susunannya terdiri atas item-item pertanyaan yang masing-masing mengandung permasalahan dan

50

Purwanto,2010,Metodologi Penelitian Kuantitatif untuk Psikologi dan Pendidikan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, hal : 183

51

Suharsimi Arikunto, 2010, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta : Rineka Cipta, hal. 154

menuntut jawaban siswa melalui uraian-uraian kata yang merefleksikan kemampuan berpikir siswa.52

Tes yang digunakan dalam penelitian ini berguna untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematika dalam materi Bangun Datar Segi empat. Tes yang digunakan adalah tes yang berbentuk esai yang berjumlah lima butir soal. Tes ini diberikan pada akhir (post test) mengajar di kelas. Adapun kisi-kisi instrumen tes dan Interval Kriteria Skor Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 3.2 Kisi-Kisi Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Jenis Kemampuan

Pemecahan Masalah Matematika

Indikator Yang Diukur

No. Soal Materi 1. Memahami masalah 2. Menyusun rencana penyelesaian 3. Memecahkan masalah 4. Memeriksa kembali

- Memecahkan masalah dalam menentukan keliling dan luas segiempat

2

Segi Empat - Menghitung luas permukaan

bangun datar yang tidak beraturan.

5

- Memecahkan permasalahan yang nyata yang berkaitan dengan segiempat di lingkungan sekitar

1,3 dan, 4

Tabel 3.3 Interval Kriteria Skor Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

No Interval Nilai Kategori Penilaian

52

Sukardi, 2009, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya, Jakarta : Bumi Aksara, hal. 94

1 0 ≤ SKPM < 45 SKB 2 45 ≤ SKPM < 65 KB 3 65 ≤ SKPM < 75 CB 4 75 ≤ SKPM < 90 B 5 90 ≤ SKPM ≤ 100 SB Keterangan:

SKPM :Skor Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika SKB : Sangat Kurang Baik

KB : Kurang Baik CB : Cukup Baik B : Baik

SB : Sangat Baik

Berikut ini dikemukakan alternatif pemberian skor tiap langkah pemecahan masalah matematika seperti yang terlihat dalam tabel berikut:

Tabel. 3.3 Pemberian skor pada pemecahan masalah

Aspek yang

dinilai

Langkah-langkah pemecahan masalah Skor

Memahami masalah

Tidak ada jawaban sama sekali 0 Tidak menuliskan yang diketahui atau ditanyakan

1

Salah menuliskan yang diketahui dan ditanyakan

2

dengan benar tapi tidak lengkap

Menuliskan yang diketahui dan ditanyakan dengan benar dan lengkap

4

Menyusun rencana penyelesaian

Tidak ada jawaban sama sekali 0 Strategi yang digunakan tidak relevan atau tidak sesuai dengan masalah sama sekali

1

Strategi ynag digunakan kurang dapat dilaksanakan dan tidak dapat dilanjutkan

2

Strategi yang digunakan benar, tapi mengarah pada jawaban yang salah atau tidak mencoba strategi yan lain

3

Strategi yang dibuat sudah mengarah pada jawaban yang benar

4

Memecahkan masalah

Tidak ada jawaban sama sekali 0

Hasil perhitungan salah 1

Beberapa prosedur yang mengarah pada jawaban yang benar

2

Sebagian hasil salah, tetapi hanya salah perhitungan saja

3

Hasil dan prosedur benar 4

Memeriksa kembali

Tidak ada pemeriksaan sama sekali 0 Ada pemeriksaan tetapi salah 1 Ada pemeriksaan tetapi tidak tuntas atau tidak lengkap

Pemeriksaan dilaksanakan dengan lengkap untuk melihat kebenaranhasil

3

Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur53. Maka dari itu sebelum soal posttes diujikan pada siswa, tes tersebut divalidkan terlebih dahulu. Tes ini diujicobakan kepada siswa lain yang dinilai memiliki kemampuan yang sama dengan siswa yang akan diteliti. Untuk melihat karakteristik tes tersebut dilakukan uji validitas,reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda soal.

1. Validitas Tes

Untuk menguji validitas tes digunakan rumus korelasi product moment54, sebagai berikut:

  

 

2 2



2

 

2

Y Y n X X n Y X XY n rxr          

Keterangan:

n = Jumlah siswa yang mengikuti

X = Hasil tes matematika yang dicari validitasnya Y = Skor total

rxy = Koefisien validitas tes. 2. Reliabilitas Tes

Suatu alat ukur disebut memiliki reabilitas yang tinggi apabila instrumen itu memberikan hasil pengukuran yang konsisten. Untuk menguji reliabilitas tes

53

Suharsimi Arikunto 2005, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT Bumi Aksara, hal. 65

54

berbentuk uraian digunakan rumus rumus alpha yang dikemukakan oleh Arikunto sebagai berikut:55 2 11 2 1 1 t i n n r   N N X X t 2 2 2 ) (     Keterangan :

r11 : Reliabilitas yang dicari ∑ i2

: Jumlah varians skor tiap-tiap item t2 : Varians total

n : Jumlah soal N : Jumlah responden

Hasil realibilitas yang diperoleh kemudian dikonsultasikan untuk mengetahui kriteria reliabilitas instrumen. Berikut ini tabel kriteria reliabilitas instrumen:

Tabel. 3.4 Kriteria Reliabilitas Tes

55

Suharsimi Arikunto. 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara, hal.109

No. Indeks Reliabilitas Klasifikasi 1. Sangat rendah 2. Rendah

3. Tingkat Kesukaran

Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Untuk mendapatkan indeks kesukaran soal digunakan rumus yang digunakan oleh Suharsimi Arikunto yaitu:

N

B

I

Keterangan: I :Indeks Kesukaran B: Jumlah Skor

N : Jumlah skor ideal pada setiap soal tersebut ( n x Skor Maks )

Hasil perhitungan indeks kesukaran soal dikonsultasikan dengan ketentuan dan diklasifikasikan sebagai berikut:

0,00 ≤ P < 0,30 : soal sukar 0,30 ≤ P < 0,70 : soal sedang 0,70 ≤ P ≤ 1,00 : soal mudah

4. Daya Pembeda Soal

3. Sedang 4. Tinggi 5. Sangat tinggi

Untuk menentukan daya pembeda, terlebih dahulu skor dari peserta tes diurutkan dari skor tertinggi sampai skor terendah. Kemudian diambil 50 % skor teratas sebagai kelompok atas dan 50 % skor terbawah sebagai kelompok bawah. Untuk menghitung daya pembeda soal digunakan rumus yaitu:56

A B A I S S DP   Keterangan:

DP : Daya pembeda soal

SA : Jumlah skor kelompok atas pada butir soal yang diolah SB : Jumlah skor kelompok bawah pada butir soal yang diolah IA : Jumlah skor ideal salah satu kelompok butir soal yang dipilih Klasifikasi daya pembeda soal yaitu:

0,00 ≤ D < 0,20 : Buruk 0,20 ≤ D < 0,40 : Cukup 0,40 ≤ D < 0,70 : Baik 0,70 ≤ D ≤ 1,00 : Baik sekali

Dokumen terkait