• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian

4.7 Instrumen Penelitian

4.7 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat pengumpul data yang disusun dengan hajat untuk memperoleh data yang sesuai baik data kualitatif maupun data kuantitatif (Nursalam, 2013). Instrumen dalam penelitian ini ada dua yakni kuesioner dan tes widal. Variabel kebiasaan jajan diukur menggunakan kuesioner dimana pertanyaan bersifat tertutup, daftar pertanyaan yang sudah tersusun dengan baik dan responden memberikan jawaban sesuai pemahaman. Sedangkan

untuk variabel kejadian demam typhoid diukur dengan melakukan observasi dengan data sekunder hasil laboratorium tes widal.

Sebelum kuesioner digunakan dalam penelitian, telah terlebih dahulu dilakukan uji coba. Kuesioner yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliable (Arikunto, 2010).

a. Uji validitas

Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur (Notoatmodjo, 2010). Pengujian yang pertama dilakukan adalah pengujian validitas kuesioner. Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Untuk uji validitas menggunakan nilai korelasi pearson. Analisis korelasi pearson dengan cara mengkorelasikan masing-masing skor item dengan skor total (penjumlahan seluruh skor item), dengan rumus :

∑ᵢᵪ − (∑ᵢ)(∑ᵪ) ᵢᵪ =

( ∑ᵢ − (∑ᵢ) ) ( ∑ᵪ− (∑ᵪ) )

Keterangan :

r : koefisien korelasi item – total (bivariate pearson) i : skor item

42

x : skor total n : banyaknya subyek b. Uji reliabilitas

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Notoatmodjo, 2010). Reliabilitas (keandalan) diketahui apabila pengukuran dilaksanakan oleh orang yang berbeda ataupun pada waktu yang berbeda akan menghasilkan hasil yang relatif sama (konsisten) (Nursalam, 2009).

Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui sampai sejauh mana suatu hasil pengukuran relatif konsisten apabila pengukuran dilakukan dua kali atau lebih. Dengan kata lain, reliabilitas menunjukan konsistensi suatu alat ukur dalam mengukur gejala yang sama. Untuk mengetahui reliabilitas kuesioner, penelitian ini menggunakan pendekatan koefisiensi Cronbach

Alpha. Koefisien Cronbach Alpha ini berkisar antara 0 sampai 1. Kuesioner

dikatakan reliable jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,6 (Hidayat, 2008). Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan bantuan

software SPSS 16. 4.8 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subyek dan proses pengumpulan karakteristik subyek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2011).

Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Mengurus perijinan surat pengantar penelitian dari STIKES ICMe

43

2. Peneliti memberikan surat pengantar penelitian dari STIKES ICME kepada Direktur RSUD Kabupaten Jombang untuk memperoleh ijin melakukan penelitian.

3. Memberikan informed consent kepada responden dan menerangkan maksud dan tujuan penelitian.

4. Jika disetujui dilakukan pembagian kuesioner dan melakukan observasi hasil tes widal.

5. Setelah kuesioner diisi, peneliti kemudian melakukan tabulasi dan pengolahan data serta menyajikan hasil sesuai dengan penelitian. 4.9 Pengolahan Data dan Analisis Data

4.9.1 Pengolahan data

Menurut Hidayat (2009), setelah kuesioner dan hasil tes widal dari responden terkumpul, selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan cara sebagai berikut :

1. Editing

Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul.

2. Coding

Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka)

terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting bila pengolahan dan analisis data menggunakan komputer. Biasanya dalam pemberian kode dibuat juga daftar kode dan artinya dalam

44

satu buku (code book) untuk memudahkan kembali melihat dan arti suatu kode dari suatu variabel.

1. Responden Responden 1 = R1 Responden 2 = R2 Responden 3 = R3 2. Jenis kelamin Laki-laki = K1 Perempuan = K2 3. Umur 7 - 8 tahun = U1 9 - 10 tahun = U2 11-12 tahun = U3 4. Uang saku < Rp. 5000 = S1 Rp. 5000 – Rp. 10.000 = S2 > Rp. 10.000 = S3 5. Frekuensi jajan

Selalu (> 1x tiap hari) = F1 Sering (1x tiap hari) = F2 Jarang (2-3 hari 1x) = F3 Tidak pernah = F4 6. Pendidikan orang tua

45

SMP/Mts = P2

SMA/MA = P3

Perguruan Tinggi = P4 7. Pekerjaan orang tua

Tidak bekerja = J1 Pegawai swasta = J2 Wiraswasta = J3 PNS = J4 Lain-lain = J5 8. Kejadian typhoid

Hasil tes widal positif = T1 Hasil tes widal negatif = T2 3. Skoring

Skoring adalah melakukan penilaian untuk jawaban dari responden untuk mengukur kebiasaan jajan anak di sekolah dengan kuesioner yang terdiri dari 20 item pernyataan dengan skala likert.

Pernyataan positif Selalu (S) = 4 Sering (SR) = 3 Jarang (JR) = 2 Tidak pernah (TP) = 1 Pernyataan negatif Selalu (S) =1 Sering (SR) = 2

46

Jarang (JR) = 3 Tidak pernah (TP) = 4

Selanjutnya untuk skoring hasil tes widal dengan lembar observasi yang berisikan skor 1 untuk hasil tes widal positif dan skor 0 untuk hasil tes widal negatif.

4. Tabulating

Tabulating adalah pengelompokkan data ke dalam satu tabeltertentu

menurut sifat-sifat yang dimiliki. Pada data ini dianggap bahwa data telah diproses sehingga harus segera disusun dalam suatu pola format tabel yang telah dirancang, kemudian dimasukkan ke software aplikasi di

microsoft excel atau SPSS 16. Adapun hasil pengolahan data tersebut diinterpretasikan menggunakan skala kumulatif:

100 % = seluruhnya

76 % - 99 % = hampir seluruhnya

51 % - 75 % = sebagian besar dari responden 50 % = setengah responden

26 % - 49 % = hampir dari setengahnya 1 % - 25 % = sebagian kecil dari responden 0 % = tidak adastupun dari responden (Arikunto, 2010).

4.9.2 Analisa data

a. Analisis univariate

Untuk mengukur perilaku kebiasaan digunakan skala likert. Pada skala likert disediakan empat alternatif jawaban dan setiap

47

jawaban sudah tersedia nilainya. Pada item pertanyaan ada yang bersifat positif (favorable) terhadap masalah yang diteliti, sebaliknya ada yang bersifat negatif (unfavorable) terhadap masalah yang diteliti.

Variabel kebiasaan jajan anak disekolah diukur dengan rumus skor – T, yaitu :

= 50 + 10

Keterangan : ᵢ−

Xi : rata-rata skoritem jawaban tiap responden X : rata-rata skor keseluruhan responden

s : deviasi standar dari keseluruhan rata-rata item jawaban seluruh responden

Untuk mencari s digunakan rumus :

² = ∑( ᵢ−

s2 : varian skor pernyataan − 1

n : jumlah responden

Sedangkan rumus T mean sebagai berikut :

" ! # =

% ! ℎ " "

Kriteria penilaian responden yakni jika nilai T ≥ T mean,

berarti responden mempunyai kebiasaan baik. Sedangkan nilai T

≤ T mean, berarti responden mempunyai kebiasaan tidak baik.

48

Selanjutnya pemberian skor kejadian demam typhoid sesuai dengan hasil tes widal jika titer aglutinin bernilai 1/80 pada titer H atau lebih dinyatakan positif dengan nilai 1. Sedangkan jika titer aglutinin < 1/80 pada titer H dinyatakan negatif dengan nilai 0 (Rampengan, 2007).

b. Analisa bivariate

Analisa yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2010), yaitu

kebiasaan jajan dan kejadian demam typhoid. Untuk menggambarkan jumlah anak sekolah dengan kebiasaan jajan di sekolah terhadap kejadian demam typhoid maka digunakan tabulasi silang (crosstabs).

Untuk menguji hubungan antara dua variabel yakni antara variabel kebiasaan jajan anak disekolah dengan kejadian demam

typhoid apakah signifikansi berhubungan atau tidak, dengan tingkat

kesalahan 0,05 dengan menggunakan uji chi square dengan bantuan

software SPSS 16. Kriteria apabila p value < α = 0,05 maka ada

hubungan yang signifikan antara kebiasaan jajan anak di sekolah dengan kejadian demam typhoid pada anak usia sekolah,

sedangkan apabila p value> α = 0,05 maka tidak ada hubungan

signifikan antara kebiasaan jajan anak di sekolah dengan kejadian demam typhoid pada anak usia sekolah.

Dokumen terkait