• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

E. Instrumen Penelitian

77

E. Instrumen penelitian

Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasa dinamakan instrumen penelitian. Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spresifik semua fenomena ini disebut dengan variabel penelitian (Sugiyono, 2015). 1. Definisi Operasional

a. Kerjasama siswa

Kerjasama adalah hubungan saling timbal balik atau ketergantungan antara anggota kelompok dalam rangka mencapai tujuan bersama. Hubungan yang dilakukan meliputi hubungan dengan saling menghormati, menghargai perbedaan, saling tolong menolong dan peduli, berrtanggung jawab, memberikan dorongan atau motivasi untuk tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan.

b. Metode cooperative learning

Metode cooperative learning adalah metode pembelajaran yang didalamnya menggunakan sistem pengelompokkan/tim kecil, terdiri dari berbagai latar belakang, jenis kelamin, kemampuan akademik suku atau ras yang berbeda dan diisi antara empat sampai enam orang. 2. Alat Ukur/ Instrumen Penelitian

Instrumen dalam sebuah penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data (Arikunto, 2005). Dalam proses pengumpulan data, dibutuhkan satu alat ukur untuk mengetahui

78

kekurangan-kekurangan ataupun kemajuan yang telah dicapai. Dalam rangka mendapatkan data-data terkait, maka instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala pengukuran yang digunakan untuk mengukur sikap. Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada didalam alat ukur, sehingga alat ukut tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif (Sugiyono, 2012).

Skala pengukuran yang peneliti gunakan adalah skala likert. Skala likert digunakan untukmengukur pendapat, sikap dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang kerjasama siswa (Sugiyono,2012). Selain itu pertanyaan atau pernyataan yang terdapat pada skala tertuju ke indikator perilaku yang akan dilihat, responden tidak tau arah jawaban benar atau salah dan hanya mengungkap satu atribut saja serta terdapat uji validitas dan reliabilitas untuk melihat kevalidan dan keajegan alat ukur yang digunakan.

Titik tolak dari penyusunan instrumen adalah variabel-variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel-variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya dan selanjutnya ditentukan indikator yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butri pertanyaan atau pernyataan (Sugiyono, 2015).

79

a. Skala kerjasama siswa

Tabel 2.

Blueprint Skala Kerjasama Siswa Sebelum Uji Coba

Variabel Aspek Deskriptor Favorable Unfavorable Jumlah aitem Kerjasama

siswa 1) Saling timbal balik atau ketergantungan yang positif

Hubungan ketergantungan yang positif antar anggota kelompok adapat tercipta karena adanya tuntutan dari tugas untuk berkontribusi setiap anggota untuk mencapai prestasi yang terbaik

4,11,22,3

1 1,15,19

2)Tanggung

jawab individu Setiap kelompok anggota dituntut dalam bisa mempertanggungjawabkan tugas yang diberikan dan menyelesaikannya

10,14,30,

32 3,8,12

3) Interaksi dalam

tatap muka Tidak hanya sekedar melihat, tatap muka yang terjadi menciptakan adanya interaksi. Modal utama ini yang diperlukan dimana didalamnya terdapat proses saling memperkaya anggota kelompok, saling menerima dan mengenal, menghormati dan menghargai perbedaan baik latar belakang keluarga, ekonomi, sosial dan lainnya

13,17,27, 33 5, 6, 21,25 4)Memiliki kemampuan berkomunikasi setiap anggota

Komunikasi yang dilakukan anggota kelompok yang efektif dan efisien serta positif akan bisa membuat suasana interaksi atau hubungan menjadi nyaman

16,18,24,

28,29 2,7,9,20, 23,26

Jumlah 17 33 16

Pada tabel 2, diketahui bahwa terdapat empat aspek dalam kerjasama siswa. Aspek saling ketergantungan positif, terdapat 7 aitem yang mengukur terbagi dalam aitem favorable sebanyak 4

80

(4,11,22 dan 31) dan aitem unfavorable sebanyak 3 (1,15 dan 19). Pada aspek tanggung jawab perseorangan memiliki 7 aitem yang mengukur terbagi dalam aitem favorable sebanyak 4 (10,14,30 dan 32) dan aitem unfavorable sebanyak 3(3, 8 dan 12).

Berikutnya pada aspek interaksi tatap muka terdapat 8 aitem yang mengukur terbagi dalam 3 aitem sebagai favorable (13,17,27 dan 33) dan 4 aitem sebagai unfavorable (5,6,21 dan 22). Dan terakhir pada aspek memiliki kemampuan berkomunikasi antar anggota terbagi dalam 11 aitem yang mengukur, 5aitem sebagai favorable (16,18,24,28 dan 29) dan 6 aitem unfavorable (2,7,9,20,23 dan 26).

Jawaban setiap aitem instrumen yang menggunakan skala likert mempunya gradasi dari sangat positif sampai sangat baik. Setiap pernyataan dilengkapi lima alternatif pilihan jawaban yaitu hampir tidak pernah (HTP), sangat jarang (SJ), kadang-kadang (KD), sangat sering (SS) danhampir selalu (HSL) yang digunakan untuk menggambarkan frekuensi keadaan atau perilaku (Azwar, 2012).

Sebelum skala pengukuran dipakai dan diterapkan pada subyek penelitian yang sebenarnya, skala tersebut dilakukan ujicoba untuk melihat tingakat validitas dan reliabilitas. Uji coba tersebut dilakukan pada responden yang cukup representatif dari populasi yang hendak diteliti.

Uji coba dilakukan pada instrumen yang akan digunakan dalam penelitian sebelum digunakan untuk menjaring data

81

penelitian. Tujuan utamanya adalah dari untuk mengetahui instrumen-instrumen yang memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang tinggi sehingga keakuratan dan keobyektifan data yang diperoleh, dapat dipertanggungjawabkan keakuratannya.

b. Modul Metode Pembelajaran Cooperative Learning

Manipulasi yang diberikan dalam penelitian ini adalah pemberian metode pembelajaran cooperative learning tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions). Metode Pembelajaran Cooperative Learning dengan tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) merupakan metode belajar yang disusun secara tertsruktur dan sistematis untuk melatih kemampuan siswa dalam hal kerjasama yang positif selama proses pembelajaran berlangsung. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi proses penyusunan modul.

Dalam penelitian ini yaitu modul digunakan adalah modul untuk meningkatkan kerjasama pada siswa. Pada proses pembuatan modul ini peneliti mengacu pada literatur dari Slavin (1994). Di dalam modul metode pembelajaran cooperative learning ini terdapat muatan isi dan materi yang disajikan menjadi 2 kategori. (1) materi yang bersifat perkenalan, kontrak belajar dan perkenalan. (2) materi yang bersifat pengetahuan, yaitu materi tentang prosedur pelaksanaan metode pembelajaran cooperative learning tipe STAD (Student Teams

82

Achievement Divisions) dan materi MIPA tentang sistem regulasi yang terdiri dari 2 subbab yaitu sistem saraf dan sistem hormon.

Sebelumnya peneliti sudah melakukan expert judgement pada para ahli yakni Drs. Jainuddin, M.Si selaku dosen pembimbing, Dr. Abdul Muhid, M.Si, M. Mubarok Syah, S.Pd selaku kepala sekolah SMA R. Rahmat dan Suci Irawati, S.Pd selaku kepala kemahasiswaan SMA R.Rahmat untuk memberi penilaian dan pengembangan saran modul yang nantinya akan digunakan.

3. Validitas dan Reliabilitas Skala Kerjasama Siswa

Skala yang digunakan adalah skala Likert melihat dan mengukur pendapat, sikap dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang kerjasama siswa.

a. Validitas Skala Kerjasama Siswa

Validitas adalah kecermatan dan ketepatan alat ukur dalam menjalankan fungsi ukurnya, alat ukur dikatakan valid apabila alat ukur tersebut memberikan hasil pengukuran yang sesuai dengan maksud dan tujuan dari pengukuran tersebut dan memiliki kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti (Azwar, 1992).

Berikut adalah blueprint aitem pada skala kerjasama siswa setelah dilakukan uji coba alat ukur:

83

Tabel 3.

Blueprint Skala Kerjasama Siswa SetelahUji Coba

Variabel Aspek Deskriptor Favorable Unfavorable Jumlah aitem Kerjasama siswa 1) Saling timbal balik atau ketergantu ngan yang positif

Hubungan ketergantungan yang positif antar anggota kelompok adapat tercipta karena adanya tuntutan dari tugas untuk berkontribusi setiap anggota untuk mencapai prestasi yang terbaik

22 1, 15

2) Tanggung jawab individu

Setiap anggota dalam kelompok dituntut bisa mempertanggungjawabkan tugas

yang diberikan dan menyelesaikannya 30 3, 8, 12 3) Interaksi

dalam tatap muka

Tidak hanya sekedar melihat, tatap muka yang terjadi menciptakan adanya interaksi. Modal utama ini yang diperlukan dimana didalamnya terdapat proses saling memperkaya anggota kelompok, saling menerima dan mengenal, menghormati dan menghargai perbedaan baik latar belakang keluarga, ekonomi, sosial dan lainnya

13, 17,27 5, 6, 21,25 4) Memiliki kemampu an berkomun ikasi setiap anggota

Komunikasi yang dilakukan anggota kelompok yang efektif dan efisien serta positif akan bisa membuat suasana interaksi atau hubungan menjadi

nyaman 16,24,29

2, 7, 9, 20, 23,26

Jumlah 8 23 15

Pada tabel 3, diketahui bahwa terdapat empat aspek dalam kerjasama siswa. Aspek saling ketergantungan positif, terdapat 3 aitem untuk mengukur terbagi dalam aitem favorable sebanyak 1 (22) dan aitem unfavorable sebanyak 2(1 dan 15). Pada aspek tanggung jawab perseorangan memiliki 4 aitem untuk mengukur terbagi dalam

84

1 aitem favorable (19) dan aitem unfavorable sebanyak 3 (3, 8 dan 12).

Berikutnya pada aspek interaksi tatap muka terdapat 7 aitem untuk mengukur terbagi dalam aitem favorable sebanyak 3 (13, 14 dan 17) dan aitem unfavorable sebanyak 4(5, 6, 10 dan 21). Dan terakhir pada aspek memiliki kemampuan berkomunikasi antar anggota terbagi dalam 9 aitem yang mengukur, 3 aitem sebagai favorable (4, 16 dan 18) dan 6 aitem unfavorable (2, 7, 9, 11, 20 dan 23)

Penilaian untuk validitas skala kerjasama siswa masing-masing butir aitem pertanyaan dapat dilihat dari nilai corrected item-total correlation masing-masing butir pertanyaan atau pernyataan pada aitem (Azwar, 2011). Suatu kesepakatan umum menyatakan bahwa nilai koefisien validitas akan dianggap memuaskan apabila melebihi dari 0,30 (Azwar, 2011). Sebelumnya peneliti sudah melakukan expert judgement pada para ahli yakni Drs. Jainuddin, M.Si dan Dr. Abdul Muhid, M.Si, Agus Mahfrudi, S.Psi selaku tim bimbingan konseling (BK) di SMA Raden Rahmat, untuk menilai skala kerjasama siswa sebelum di sebarkan pada subyek penelitian.

b. Reliabilitas Skala Kerjasama Siswa

Uji reliabilitas pada skala kerjasama siswa menggunakan analisis variansi Hoyt. Dimana aturannya apabila nilai koefisien reliabilitas lebih besar dari r tabel, maka alat pengukur tersebut

85

dinyatakan reliabel atau andal, dan jika lebih kecil dari r tabel maka dinyatakan tidak reliabel.

Dari hasil uji reliabilitas pada skala kerjasama siswa yang dilakukan menunjukkan bahwa skala kerjasama siswa reliabel. Hal ini dibuktikan dengan nilai Crobarch’s Alpha sebesar 0,722.

Dokumen terkait