BAB III METODE PENELITIAN
E. Instrumen Penelitian
Peneliti dalam penelitian kualitatif merupakan alat utama, dan ketika tujuan penelitian menjadi jelas. Peneliti dibantu oleh beberapa alat serta memanfaatkan key instrument yaitu peneliti sendiri dalam penelitian ini. Berikut merupakan beberapa alat yang digunakan oleh peneliti:
1) Pada saat proses observasi kualitatif, alat yang digunakan di lapangan adalah pulpen dan catatan lapangan. Catatan lapangan diperlukan karena bertujuan untuk merangkum tantangan-tantangan yang dihadapi oleh pengajar dalam memberikan pendidikan online selama pandemi covid19 melanda.
2) Alat selanjutnya yang dipakai oleh peneliti pada proses wawancara yaitu alat yang menangkap atau gambar dengan kamera.
3) Alat dokumentasi adalah alat yang digunakan untuk mencari kaitan penelitian sebelumnya oleh peneliti, buku, dan jurnal.
F. Sumber dan Jenis Data Penelitian
Jenis data penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah menggunakan data kualitatif yaitu data yang berbentuk kalimat atau kata-kata bukan berupa angka, yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Sumber data dalam penelitian kualitatif terbagi menjadi 2 yakni data primer dan data sekunder. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan kedua sumber data tersebut.
a. Data Primer
Data primer merupakan data diperoleh secara langsung melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang didapatkan dari informan.
Penelitian di bidang ini langsung dari sumber dan pihak yang berkepentingan untuk membahas terkait problematika guru dalam pembelajaran daring pada saat pandemi covid19.
b. Data Sekunder
Data yang diperoleh berdasarkan materi utama blog, internet, panduan belajar, jurnal dan makalah mengenai pembelajaran daring di saat pandemi termasuk ke dalam data sekunder. Data sekunder didapatkan peneliti dengan cara menghimpun data yang berkaitan dengan pertanyaan penelitian dengan menggunakan informan gambar, bagan dan tertulis.
G. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian, langkah yang sangat strategis dan berguna dalam mendapatkan data disebut sebagai metode pengumpulan data. Wawancara, observasi langsung, dan dokumentasi digunakan oleh peneliti sebagai metode pengumpulan data.
a) Observasi
Observasi kualitatif merupakan peneliti sendiri yang terjun langsung ke lokasi buat memperhatikan permasalahan pengajar saat belajar online di tengah pandemi covid19. Observasi ini, peneliti mencatat secara terstruktur atau semi terstruktur kegiatan di lokasi penelitian. Pengamatan dilaksanakan terhadap aktivitas pengajar yang bermasalah dalam pembelajaran online di tengah pandemi covid19 dalam melaksanakan pembelajaran online.
Tabel 3.1 kisi-kisi pedoman Observasi No Indikator Aspek yang diamati
Rating
3
Untuk wawancara yang dipakai pada penelitian ini digunakan wawancara terstruktur. Sebelum wawancara dilaksanakan, peneliti bersama dengan informan merencanakan tempat atau lokasi dan waktu wawancara. Pertanyaan diajukan penelitian ini menjawab problematika pengajar tentang pembelajaran online di masa pandemi.
c) Dokumentasi
Peneliti mengumpulkan dokumentasi berkualitas tinggi selama penelitian. Dokumen-dokumen ini berbentuk dokumen yang tersedia untuk umum seperti buku, makalah, jurnal, blog, atau Internet. Penelitian ini
menggunakan teknik dokumentasi untuk melengkapi penggunaan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara agar hasilnya lebih kredibel dan reliabel.
H. Teknik Analisis Data
Langkah yang sangat menentukan dalam penelitian dan berguna untuk meringkas hasil dari penelitian disebut sebagai teknik analisis data. Sedangkan analisis data didefinisikan sebagai kegiatan untuk memilah dan mengatur data dalam template, unit deskriptif dasar, dan kategori hingga bisa mendapatkan tema dan merumuskan sebuah hipotesis berdasarkan data yang telah diperoleh.
Tujuan dari analisis data adalah untuk mempersempit dan membatasi hasil sehingga data tersebut tersusun, tertata dengan rapi dan teratur. Analisis menempati tempat yang sangat penting ditinjau dari tujuan penelitian. Analisis data kualitatif adalah upaya untuk bekerja dengan data, menganalisisnya, memecahnya menjadi unit-unit yang dikelola dengan baik.
Pada penelitian ini, peneliti menganalisis data menggunakan penelitian kualitatif mengenai tantangan guru berani mengajar di tengah pandemi.
Penelitian dilakukan pada saat sebelum, selama, serta sesudah investigasi pada saat di lapangan. Peneliti memperoleh data untuk penelitian ini yaitu dengan melalui wawancara, dokumentasi, dan juga observasi. Dalam hal ini, peneliti melakukan analisis data dengan cara mengintegrasikan data yang didapatkan ke dalam berbagai kategori, data dibagi menjadi beberapa unit, data yang penting dianalisis, serta data diedit berdasarkan pertanyaan yang diajukan pada saat penelitian atau dengan mudah menyajikannya dalam bentuk laporan dan
kesimpulan. Berdasarkan pada jenis studi yang telah dijelaskan, model interaktif digunakan dalam menganalisis data oleh peneliti.
I. Teknik Keabsahan Data
Validitas data merupakan cara untuk menganalisis atau meneliti, mengintegrasikan, menemukan dan mengidentifikasi pola, menemukan hal penting untuk diteliti, dan menentukan hal-hal yang dapat ditemukan dalam data.
Terdapat beberapa tahapan yang perlu dilalui saat menganalisis data. Tahapan-tahapan tersebut yaitu mengelompokkan, menyeleksi, mengurutkan data, dan setelah itu dianalisis. Peneliti mencoba menguji menggunakan metode triangulasi data untuk meningkatkan reliabilitas data. Untuk validasi data perlu menggunakan teknik yang disebut triangulasi untuk memvalidasi atau membandingkan data yang dikumpulkan.
Peneliti menggunakan triangulasi untuk keabsahan data penelitian ini.
Triangulasi validasi adalah validasi data yang didapatkan dari sumber-sumber, waktu, dan metode (Sugiyono, 2013). Hal tersebut dapat menghasilkan triangulasi akuisisi, triangulasi sumber, serta triangulasi waktu. Metode validasi data dapat digambarkan seperti berikut.
a) Triangulasi sumber, yakni data yang dikumpulkan oleh guru tentang timbulnya permasalahan pada saat melaksanakan pembelajaran online. Data-data yang dikumpulkan tentang siswa pada proses pembelajaran dan hambatan belajar guru dalam proses pembelajaran, metode guru pada saat mengajar, serta pembelajaran online dengan kesulitan yang dialami siswa.
b) Triangulasi waktu, 1) akses internet tidak memadai, 2) guru, 3) gagap teknologi, 4) kondisi psikologis guru dan bosan dengan pembelajaran daring terlalu lama.
c) Triangulasi teknik. Validitas data digunakan dalam verifikasi data yang berasal dari sumber yang sama dan dilaksanakan melalui metode berbeda.
Contohnya seperti, memverifikasi data yang didapatkan dari hasil wawancara, dokumentasi, dan observasi. Apabila keabsahan data yang diperoleh berdasarkan hasil wawancara, dokumentasi, dan observasi tersebut mengarah ke data lainnya, peneliti harus melakukan diskusi dengan pihak yang relevan sebagai sumber data. Hal tersebut bertujuan untuk menentukan data yang benar ataupun semua data tersebut benar namun terdapat sudut pandang yang berbeda.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Problematika guru dalam pembelajaran daring di MI Muhammadiyah Tamacinna Kelas IV, 4.0 di era industri merupakan revolusi yang umum digunakan untuk kemajuan perkembangan industri teknologi yang berdampak besar pada dunia pendidikan saat ini. Dalam hal ini, pemerintah telah menerbitkan surat edaran nomor 4 thn 2020 untuk mendorong segala institusi pendidikan melakukan pembelajaran online, salah satunya bertempat di MI Muhammadiyah Tamacinna.
Berbagai informasi ditemukan berdasarkan hasil survei peneliti lapangan terkait dengan tujuan observasi. Dari observasi yang dilakukan peneliti di MI Muhammadiyah Tamacinna, dimana seorang key informan melakukan proses pembelajaran online, ternyata perbedaan tingkat pemahaman peserta didik yang berbeda-beda mengenai materi dan penugasan yang diberikan oleh pengajar.
(Observasi, 11 Oktober 2021)
Disamping perbedaan tingkat pemahaman peserta didik yang berbeda-beda dalam proses pembelajaran daring. Peneliti juga menemukan problematika yang dihadapi wali kelas saat proses pembelajaran online, dan guru masih kesulitan untuk menggunakan pembelajaran berbasis teknologi. Hal ini dikarenakan proses pembelajaran berlangsung secara daring untuk pertama kalinya. sehingga guru kurang memiliki keterampilan dan pengetahuan tentang teknologi. Karena masih ada pendidik yang belum mengetahui cara
menggunakan teknologi, siswa menjadi pasif dan jenuh dalam proses pembelajaran. (Observasi, 12 Oktober 2021)
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti di lapangan yang relevan dengan tujuan penelitian. Pengamatan dilakukan oleh peneliti sendiri dengan izin informan utama peneliti dapat melihat grup aplikasi WhatApp dengan nama grup Akidah Kelas IV, dalam Peneliti yang berani mengambil langkah dalam proses pembelajaran menemukan bahwa wali kelas hanya memberikan satu set tugas dan memiliki waktu yang terbatas untuk mengumpulkan tugas.(Observasi, 12 Oktober 2021)
Melalui wawancara yang telah peneliti lakukan berbagai informasi sebagai data untuk analisis hasil penelitian tentang temuan peneliti lapangan yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan sendiri di lapangan, dalam hal ini problematika guru dalam pembelajaran daring, terutama masalah yang berkaitan terhadap kemampuan pendidik, kedua adalah masalah perbedaan pemahaman siswa, ke tiga masalah orangtua tanpa android, dan keempat kurangnya interaksi orangtua antar siswa.
Kelima keterbatasan sarana dan prasarana.
Informan utama selaku guru wali kelas IV mengatakan bahwa:
“Pembelajaran daring saat ini sangat sulit dek, karena banyak siswa yang orang tuanya belum memiliki smartphone. Bahkan untuk membagikan Lembar Kerja ke siswa kita juga kadang datang ke rumah masing-masing siswa” (Wawancara, 8 Oktober 2021)
Berdasarkan data hasil wawancara dengan guru wali kelas IV selaku informant utama mengatakan bahwa berbicara mengenai kendala dalam pembelajaran daring begitu beraneka ragam dan salah satunya ialah
permasalahan orang tua yag tidak memiliki android dan keterbatasan sarana serta prasarana.
Sesudah peneliti wawancara informan utama di kelas IV. Berikutnya peneliti mewawancara ibu kepala sekolah Suri Yanti., S.Pdi yang mengatakan bahwa:
“Saya sebagai kepala sekolah harus bekerja maksimal dalam situasi ini.
Karena terkadang ada bahkan banyak orang tua yang belum menggunakan smartphone. Jadi kita yang datang kerumah siswa tersebut untuk memberikan buku paket” (Wawancara, 21 Oktober 2021)
Dapat disimpulkan bahwa pemaparan informasi yang diberikan oleh ibu SY yaitu dalam belajar online, ada problem yang dihadapi guru wali kelas IV dan salah satu kendala orangtua yang tidak mempunyai smartphone.
Tentang orang tua tanpa android dengan wawancara dan informasi lain tentang masalah selama pembelajaran. Oleh karena itu, peneliti melanjutkan pengambilan data melalui wawancara untuk mengetahui apakah orang tua siswa tanpa android benar-benar ada. Berdasarkan hasil penelitian peneliti lapangan, mahasiswa diwawancarai di lapangan untuk kepentingan penelitian Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Tamacinna pada saat siswa mengumpulkan tugas.
Wawancara terhadap siswa Muhammad Darwis mengatakan bahwa:
“Iye kak, tidak ada hpnya orang tua ku jadi biasa ke temanku ka bertanya ada tugas atau tidak yang nah kasihki ibu guru”(Wawancara 9 Oktober 2021)
Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa Muhammad Darwis dapat disimpulkan siswa tidak puas dengan pembelajara daring karena orang tua tidak menggunakan smartphone. Dan siswa yang berani menyelesaikan kelas bertanya
kepada temannya tentang kelas. Pendapat siswa Triana Reski mengatakan bahwa:
“Lebih menyenangkan belajar disekolah kalau tidak paham biasa bisa tanya sama ibu guru. Jika tidak bisa mengerjakan tugas di sekolah ibu guru datang untuk membantuku” (Wawancara, 9 Oktober 2021)
Hasil wawancara dengan siswa Triana Reski dapat disimpulkan bahwa Pengajaran yang tidak berhasil karena siswa tidak mengerti bagaimana menyelesaikan tugas. Oleh karena itu, pelaksanaan pembelajaran di berbagai bidang menjadi tidak efisien karena terkendala yang berkaitan dengan kompetensi guru, tingkat pemahaman peserta didik berbeda-beda, permasalahan orang tua yang tidak memiliki smartphone, kurangnya kerja sama orangtua dengan siswa, dan keterbatasannya sarana dan prasarana.
Informan utama selaku wali kelas IV pada saat wawancara mengatakan bahwa:
“Metode yang saya gunakan yaitu metode penugasan, dan saya memberikan penugasan dari hari senin sampai hari sabtu, hari sabtu siswa mengumpulkan tugas dan mengirimkan melalui grup whatsaap”
(Wawancara, 15 Oktober 2021)
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan utama selaku guru wali kelas IV mengajar dalam proses pembelajaran online adalah dengan menyampaikan tugas langsung ke peserta didik.
Oleh sebab itu, peneliti melaksanakan tanya jawab kepada peserta didik agar diberikan tugas hanya kepada siswa pada saat pembelajaran online. Dalam wawancara dengan peserta didik, Asmaul Husna mengatakan:
“Kalau belajar dari rumah tidak enak karena ibu guru biasa langsungki nah kasih tugas tanpa menjelaskan terlebih dahulu materi pembelajaran” (Wawancara, 9 Oktober 2021)
Hasil wawancara bersama peserta didik disimpulkan kalau wali kelas IV memberikan tugas langsung kepada siswa dan kumpulkan pada jangka yang sudah di tentu kan. Peneliti melaksanakan wawancara lagi salah satu peserta didik Muhammad Darwis, hasil dari wawancara:
“Nakke kuangaian appilajara ri passikolaang, ka kulleki na jelaskan ibu guru, nampa pappilajarang online tena kungai kak” (Wawancara, 9 Oktober 2021)
Adapun hasil wawancara dengan informan pendukung dapat disimpulkan bahwa peserta didik lebih menyukai belajar di sekolah Ini karena peserta didik bisa bertanya langsung kepada guru.
Beberapa masalah yang dihadapi informan utama, dari orang tua tanpa android hingga guru yang hanya mengirimkan pekerjaan rumah kepada siswa, meskipun guru kelas IV dapat membuat video pendidikan.
Untuk meningkatkan minat peneliti terhadap masalah tersebut, peneliti melakukan penelusuran wawancara dengan wali kelas IV mengatakan bahwa:
“Iye nak, ibu tidak tau aplikasi apa yang baik digunakan dalam pembelajaran daring ini. Nampa tena pole ku isseng appare video pembelajaran nak, jari tugas mamo kusareangi anak-anak na jama”(Wawancara 15 Oktober 2021)
Menurut hasil wawancara dengan wali kelas 4, pengajar tidak tahu cara menggunakan bimbingan drastis yang benar, ibu tidak bisa membuat video kelas yang menarik, dan wali kelas kelas 4 adalah siswa saat ini. keberanian untuk belajar bagaimana melakukannya.
Sama halnya dengan pernyataan wali kelas IV di atas yang cuma memberikan tugas kepada murid dan membuat proses pembelajaran menjadi
tidak efektif. Untuk memungkinkan peneliti untuk mencari wawancara berdasarkan hasil wawancara bersama peserta didik, Asmaul Husna mengucapkan bahwa:
“Nakke bosan ma kak, na malasa ma appilajara daring, erokma nakke kak appilajara ri passikolaang. Nampa pilajara online kak biasa tenaja ku mengerti”(Wawancara, 9 Oktober 2021)
Menurut hasil wawancara Asmaul Husna dengan mahasiswa, dapat dikatakan peserta didik bosan dan malas mengikuti kursus-kursus latihan yang drastis. Oleh karena itu, siswa kurang memiliki suasana belajar-mengajar yang ada di sekolah. Hal ini dikarenakan siswa tersebut terkadang tidak mengikuti instruksi dalam menerapkan metode pengajaran.
Ada juga studi terdokumentasi kinerja kurikulum di mana guru hanya memberikan tugas kepada siswa selama pandemi COVID-19, tanpa perubahan proses pembelajaran karena tidak mengikuti rencana pelajaran tertulis. Wali kelas IV wajib mengirimkan video instruksional mengikuti langkah-langkah dalam RPP, di mana siswa akan mendengarkan video guru dan pertanyaan terkait topik lainnya. Setelah itu, guru mengajukan pertanyaan dan jawaban terkait materi yang diberikan untuk menggali pengetahuan siswa.
B. Pembahasan
Setelah mengkaji data yang disajikan pada fakta-fakta di atas, langkah selanjutnya dalam penelitian ini adalah menganalisis data yang terkumpul dengan menggunakan metode deskriptif secara rinci. Untuk menggunakan alat pengajaran secara efektif, pengajar dan peserta didik sering menghadapi
berbagai hambatan, baik di dalam diri mereka sendiri maupun di luar. Berikut permasalahan pengenalan pembelajaran online kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Tamacinna.
a) Masalah kompetensi guru
Di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Tamacinna sendiri, untuk pertama kalinya proses pembelajaran mengambil langkah berani, dengan guru merasa kesulitan untuk menggunakan dan menggunakan pembelajaran berbasis teknologi. Akibatnya, guru kurang memiliki pengetahuan tentang pentingnya keterampilan teknis dan aplikasi praktis.
Kompetensi guru di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Tamacinna dapat dikatakan masih jauh dari harapan dan belum memadai terutama dalam penggunaan dan penyampaian pembelajaran berbasis keterampilan. Karena sebagian guru belum memahami cara menggunakan teknologi, siswa menjadi pasif dan bosan dalam proses pembelajaran.
b) Perbedaan tingkat pemahaman peserta didik
Siswa Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Tamacinna memiliki kepribadian yang berbeda dan pemahaman yang berbeda terhadap materi atau tugas yang diberikan oleh guru. Khususnya dalam proses pembelajaran online saat ini, guru memberikan tugas secara langsung tanpa menjelaskan materi terlebih dahulu. Karena setiap orang memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda, proses pembelajaran online yang berlangsung lama membuat siswa Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Tamacinna kesulitan untuk belajar dari gurunya.
c) Orangtua tidak mempunyai smartphone.
Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Tamacinna, proses pembelajaran yang berani ini berlangsung tanpa dialog langsung dengan siswa.
Hal ini dikarenakan banyak orang tua yang tidak memiliki smartphone yang canggih. Dalam hal ini, smartphone sangat penting untuk menerapkan proses pembelajaran yang drastis. Di sisi lain, orang tua yang lebih memilih tinggal di pedesaan merasa sangat sulit untuk menggunakan alat komunikasi yang canggih.
d) Kurangnya kerja sama orangtua antar peserta didik.
Orang tua Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Tamacinna biasanya tidak menemani anaknya belajar di rumah karena sibuk dengan pekerjaan, pekerjaan rumah dan kegiatan lainnya. Orang tua membiarkan anaknya belajar dan bekerja secara mandiri tanpa pendampingan orang tua. Bahkan setelah mewawancarai wali kelasnya, banyak orang tua yang menemani anaknya belajar di rumah tepat waktu di masa pandemi ini. Hal ini memberikan anak hak untuk belajar lepas kendali karena banyak yang bermain dengan teman yang lain.
e) Infrastruktur yang terbatas.
Sarana dan prasarana merupakan kegiatan pengadaan untuk mendukung pencapaian tujuan pendidikan yang sesuai. Lembaga pendidikan mengacu langsung pada semua perlengkapan, bahan dan perlengkapan.
Perlengkapan pendidikan meliputi semua perlengkapan yag tidak secara langsung menunjang proses pendidikan. Di Madrasah Ibtidaiyah
Muhammadiyah Tamacinna sendiri kurangnya sarana yang dibutuhkan oleh peserta didik yaitu terbatasnya buku paket.
Masalah belajar adalah masalah yang mengganggu atau mempersulit proses pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran online di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Tamacinna belum berjalan dengan baik karena menghadapi tantangan yan muncul pada proses pembelajaran daring.
Dilihat dari kondisi psikologis, keberanian belajar selalu dikaitkan pada dua unsur: pertama, pengajar merupakan penyumbang besar keberanian belajar.
Kedua, siswa harus mengikuti perkembangan mata pelajaran guru. Kenyataan yang terjadi sekarang dalam praktik pembelajaran berani adalah ketika siswa menjadi bosan, hampir semua siswa dan siswa mengalami ketidakpuasan dan kesulitan yang tidak mereka pahami dalam proses pembelajaran.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan penelitian yang telah peneliti lakukan perihal problematika guru pada pembelajaran online di kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Tamacinna Kec. Bajeng Kab. Gowa, untuk tahun ajaran 2021/2022 bisa disimpulkan bahwa ada 5 poin problematika pengajar dalam pembelajaran daring diantaranya:
a) Problematika yang berkaitan dengan kemampuan guru b) Perbedaan masalah taraf pemahaman siswa.
c) Masalah orangtua tidak mempunyai smartphone.
d) Kurangnya kerjasama antara orangtua dan peserta didik.
e) Keterbatasan kapasitas dan infrastruktur.
B. Saran
Dari kesimpulan yang sudah dipaparkan, kiranya saran yang diberikan yaitu:
1. Hendaknya diadakan suatu penyelesaian untuk menaggulangi kesulitan belajar peserta didik terhadap belajar online selama pandemi covid19.
2. Sehubungan dengan kekurangan buku ajar, kepala sekolah harus bertemu dengan wali siswa dan bekerjasama dengan memperbanyak/menyalin buku ajar agar siswa dapat terus belajar.
3. Hendaknya pengajar tahu karakteristik peserta didik sehingga mempermudah proses pembelajaran daring
4. Peneliti berharap jika penelitian ini dijadikan referensi oleh peneliti selanjutnya, mohon untuk menambahkan solusi mengenai problematika guru dalam pembelajaran daring.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad. 2020. Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Pembelajaran Jarak Jauh Melalui Pendampingan Sistem Daring, Luring, atau Kombinasi pada Masa New Normal. Jurnal Paedagogy: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan.
Andi, Rasyid, Pananrangi. 2017. Manajemen Pendidikan. Medan: Celebes Media Perkasa.
Anwar, M. 2017. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Arsyad, A. 2013. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Asmuni. 2020. Problematika Pembelajaran Daring di Masa Pandemi COVID-19 dan Solusi Pemecahannya. Jurnal Paedagogy: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan.
Bilfaqih, Yusuf. & Qomarudin. 2015. Esensi Penyusunan Materi Daring Untuk Pendidikan Dan Pelatihan. Yogyakarta: DeePublish.
Cresswell. J.W. 2012. Research design, pendekatan kualitatif, kuantitatif dan mixed. Yogyakarta: PT Pustaka Pelajar
Erwinsyah, A. 2016. Pengelolaan Pembelajaran Sebagai Salah Satu Teknologi Dalam Pembelajaran. Jurnal Manajemen Pendidikan. Volume 4 Nomor 2.
Gorontalo: Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai.
Farikhah, S. 2018. Manajemen Lembaga Pendidikan. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.
Hannani, N. 2020. Pengertian WhatsApp Beserta Sejarah, Manfaat, Kelebihan dan Kekurangan WhatsApp.
Kaharuddin, 2021. Kualitatif: Ciri dan Karakter Sebagai Metodologi. Jurnal Pendidikan. Prodi Pendidikan Sosiologi, Universitas Muhammadiyah Makassar.
Martono. 2016. Metode Penelitian Kualitatif. PT. Rajagrafindo Persada: Jakarta.
Moleong, Lexy J. 2012. Metedologi Penelitian Kualitatif. BANDUNG: PT Remaja Rosdakarya
Muchtar, Fitri,. Nasrah, N. Ilham, M. dan Wahyuni, Fitri. 2021. Implementation of Blended Learning Model In Pandemi Era Covid-19 In south Sulawesi Province. Journal Pendidikan. Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Makassar.
Menawar. 2013. Metode Kuantitatif Komunikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mustakim. 2020. Efektivitas Pembelajaran Daring Menggunakan Media Online Selama Pandemi Covid-19 pada Mata Pelajaran Matematika. Al asma:
journal of Islamic Education, 2 (1), 1-12.
Pananrangi, Rasyid, Andi. 2017. Manajemen Pendidikan. Medan: Celebes Media Perkasa.
Rosihuddin, M. 2011. Problematika Pembelajaran, Mahasiswa Pasca Sarjana STAIN Kediri.
Saefudin, Asis dan Berdiati, Ika. 2014. Pembelajaran Efektif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
---. 2015. Metode Penelitian Kombinasi (Mix Methods). Bandung: Alfabeta.
---. 2016. Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sumiati. 2018. Peranan Guru Kelas Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar.
Volume 3 No 2. Jurnal Tarbawi Pendidikan Agama Islam.
Susanti. 2019. Strategi Pembelajaran Berbasis Motivasi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Susanto, 2016. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta:
Susanto, 2016. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: