• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL, DAN HIPOTESIS

10 Pencahayaan Sumber cahaya yang menerangi benda- benda-benda di tempatkerja (Budiono, dkk,

4.5 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk pengumpulan data

(Notoatmodjo, 2002). Pada penelitian ini pengukuran variabel dilakukan dengan menggunakan instrumen kuesioner yang terdiri dari bebrapa pertanyaan yang berkaitan dengan variabel dependen dan independen. Pertanyaan dalam kuesioner sesuai dengan variabel yang diteliti yaitu:

4.5.1 Pengukuran variabel kelelahan kerja secara objektif dilakukan berdasarkan perhitungan reacion timer test yaitu hasil pengukuran dibandingkan dengan standart pengukuran kelelahan kerja.

Tidak Lelah Waktu reaksi ≤240.0 milidetik. Lelah Waktu reaksi >240.0milidetik . Selain pengukuran secara subjektif juga dilakukan pengukuran pembanding secara subjektif yaitu subjective self rating test dari

industrial fatigue research commite (IFRC) yang merupakan kuesioner yang dapat untuk mengukur tingkat kelelahan subjektif yaitu pengukuran yang mendukung hasil pengukuran subjektif yang dapat dilihat pada saat wawancara. IFRC menggunakan sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan gejala kelelahan. Skala ini mengandung 30 gejala kelelahan yang dibuat dalam daftar pertanyaan. Jawaban dalam kuesioner tersebut dibagi

menjadi 4 bagian yaitu SS (Sangat Sering) dengan skor 4, S (Sering) dengan skor 3, K (Kadang-kadang) dengan skor 2, dan TP (Tidak Pernah) dengan skor 1. Skor yang diperoleh berkisar antara 1-60 tidak mengalami kelelahan, 61-120 mengalami kelelahan.

4.5.2 Data usia diperoleh melalui wawancara kepada responden dengan menggunakan instrumen kuesioner. Hasil yang didapat yaitu variabel umur dalam tahun.

4.5.3 Lama menyusui diperoleh melalui wawancara kepada responden dengan menggunakan instrumen kuesioner. Hasil yang didapat yaitu total lama ibu menyusui dalam sehari.

4.5.4 Kebiasaan merokok, kesegaran jasmani diperoleh melalui wawancara kepada responden dengan menggunakan instrumen kuesioner.

4.5.5 Variabel aktivitas fisik

Aktvitas fisik diukur dengan menggunakan kuesioner IPAQ long

forms yang berkaitan dengan aktivitas pekerjaan rumah tangga yang

dilakukan minimal 10 menit dalam 1 kali kegiatan yang merupakan aktivitas fisik harian berdasarkan level intensitas.

Level MET setiap intensitas adalah berjalan sebanyak 3.3 METs, aktivitas sedang sebanyak 4.0 METs, dan aktivitas keras sebanyak 8.0 METs. Total aktivitas fisik atau total MET/menit-minggu dihitung dengan:

Berjalan (MET x menit x hari) + Sedang (MET x menit x hari) + Keras (MET x menit x hari).

Kemudian total aktivitas fisik tersebut disesuaikan dengan kategori di bawah ini (IPAQ, 2005) :

1. Ringan

Merupakan level terendah dalam aktivitas fisik. Seseorang yang termasuk ke dalam kategori ini adalah apabila tidak melakukan aktivitas fisik apapun atau tidak memenuhi kriteria aktivitas fisik sedang dan berat.

2. Sedang

Dikatakan termasuk dalam aktivitas fisik sedang jika memenuhi kriteria berikut:

a. Melakukan aktivitas fisik dengan intensitas kuat minimal 20 menit selama 3 hari atau lebih,

b. Atau melakukan aktivitas fisik dengan intenistas sedang selama minimal 5 hari dan atau berjalan minimal 30 menit setiap hari, atau kombinasi berjalan, aktivitas fisik dengan intenistas sedang atau keras selama 5 hari atau lebih yang menghasilkan total aktivitas fisik dengan minimal 600 MET-menit/minggu.

3. Berat

Dikatakan termasuk dalam aktivitas fisik berat jika memenuhi kriteria berikut:

a. Melakukan aktivitas fisik dengan intensitas keras selama 3 hari atau lebih yang menghasilkan total aktivitas fisik minimal sebanyak 1500 MET-menit/minggu,

b. atau jika melakukan kombinasi berjalan, aktivitas fisik dengan intenistas keras atau kuat selama 7 hari atau lebih yang menghasilkan total aktivitas fisik minimal sebanyak 3000 METmenit/minggu. 4.5.6 Pengukuran variabel satus gizi dengan pengukuran berat badan dan tinggi

badan dengan menggunakan timbangan digital dan mikrotoa. Kemudian tahap selanjutnya adalah menghitung nilai IMT yaitu dengan rumus:

Kategori berat badan menurut IMT : 1.Berisiko ( <17,0-18,4 dan 25,1- ≥ 27,0) 2.Tidak berisiko(18.5-25,0)

a) Data berat badan

Data mengenai berat badan diperoleh dengan cara melakukan penimbangan berat badan langsung menggunakan timbangan badan

Berat badan (kg) IMT =

pada saat seblum beraktifitas. Langkah-langkah pengukuran gtersebut adalah:

- Pastikan jarum pada dispali ada pada posisi nol - Lepaskan sepatu atau alas kaki lainnya

- Berdiri diatas timbangan

- Baca hasil pada display yang ditunjjukkan oleh jarum metal. b) Data tinggi badan

Data tinggi badan diperoleh melalui pengukuran tinggi badan langsung menggunakan microtoise/alat pengukur tinggi badan.Kemudian catat hasil pengukurannya.

4.5.7 Pengukuran variabel risiko ergonomi postur ibu menyusui: setelah dilakukan observasi dengan pengambilan video menggunakan kamera pada posisi menyusui kemudian diukur menggunakan busur dengan menggunakan metode RULA dari masing-masing postur tubuh. Adapun tahapan-tahapannya sebagai berikut

1. Mengobservasi postur menyusui dan menentukan nilai untuk kelompok postur A sesuai dengan kriteria penilaian RULA yang terdiri dari anggota tubuh:

a. lengan atas dengan skor yaitu: 1) Skor 1 = 20° ekstensi - 20° fleksi

2) Skor 2 = >200° ekstensi – 200- 450° fleksi 3) Skor 3 = 450-900

4) Skor 4 = >900

Skor +1 jika: bahu terangkat, atau lengan atas abduksi, dan -1 jika lengan bawah disangga

b. Lengan bawah dengan skor yaitu: 1) Skor 1 = 60° -100°

2) Skor 2 = 0°-60° atau > 100°

Skor +1 jika lengan bawah menyilang ke garis tengah tubuh (mideline) atau keluar

c. Pergelangan tangan dengan skor yaitu: 1) Skor 1 = 0°

2) Skor 2 = 0-15° fleksi atau ekstensi 3) Skor 3 = >15° fleksi atau ekstensi

Skor + 1 jika terjadi deviasi ulnar atau radial d. Perputaran pergelangan tangan dengan skor yaitu:

1) Skor 1 = berputar kedalam 2) Skor 2 = berputar keluar

2. Memasukkan masing-masing nilai sekor untuk kelompok postur A yaitu lengan atas, lengan bawah, dan pergelagan tangan, ke table A untuk mengetahui skor postur A

3. Mengobservasi dan menentukan nilai penggunaan otot untuk kelompok postur B sesuai dengan kriteria penilaian RULA dengan skor yaitu:

a. Skor 0 = dinamis, jika postur ditahan <1 menit atau jika gerakan berulang kurang dari 4 kali permanit

b. Skor 1 = statis, jika postur ditahan >1 menit atau jika gerakan berulang lebih dari 4 kali permenit.

4. Mengobservasi dan menentukan nilai beban untuk kelompok postur A sesuai dengan kriteria penilaian RULA dengan skor yaitu:

a. Skor 0 = tidak ada beban atau berat beban <2kg secara intermittent

b. Skor 1 = berat beban 2-10 kg secara intermittent

c. Skor 2 = berat beban 2-10 kg secara statis atau berulang-ulang, atau berat beban 10 kg atau lebih secara intermittent

d. Skor 3 = berat beban 10 kg statis atau berulang-ulang, atau gerakan cepat (shock)

5. Menjumlahkan nilai skor kelompok postur A, dengan penggunaan otot, dan beban untuk mengetahui skor A.

a. Memasukkan hasil skor A ketabel C, pada bagian kolom pertama skor pergelangan tangan dan tangan, kemudian

b. Mengobservasi postur pekerja dan menentukan nilai untuk kelompok postur B sesuai dengan kriteria penilaian RULA yang terdiri dari anggota tubuh:

1) Leher dengan skor yaitu: a) Skor 1 = 0-10°

c) Skor 3 = >20° d) Skor 4 = ekstensi

Skor +1 jika leher berputar atau miring kesamping 2) Punggung dengan skor yaitu:

a) Skor 1 = 0-10° b) Skor 2 = 10°-20° c) Skor 3 = 20°-60° d) Skor 4 = >60°

3) Kaki dengan skor yaitu:

a) Skor 1 = kaki yang disangga dan seimbang

b) Skor 2 = jika kaki tidak disangga dan tidak seimbang

6. Memasukkan masing-masing nilai skor untuk kelompok postur B yaitu leher, punggung, dan kaki kedalam table B unuk mengetahui skor postur B.

7. Mengobservasi dan menentukan nilai penggunaan otot untuk kelompok B sesuai dengan kriteria penilaian RULA dengan skor yaitu:

a. Skor 0 = dinamis, jika postur ditahan <1 menit atau jika gerakan berulang kurang dari 4 kali permenit

b. Skor 1 = statis, jika postur ditahan >1 menit atau jika gerakan berulang lebih dari 4 kali permenit.

8. Mengobservasi dan menentukan nilai beban untuk kelompok B sesuai dengan kriteria penilaian RULA dengan skor yaitu:

a. Skor 0 = tidak ada beban atau berat beban < 2 kg secara intermitten

b. Skor 1 = berat beban 2-10 kg secara intermitten

c. Skor 2 = berat beban 2-10 kg secara statis atau berulang-ulang, atau berat beban 10 kg atau lebih secara intermitten

d. Skor 3 = berat beban 10 kg statis atau berulang-ulang, atau gerakan cepat (shock).

9. Menjumlahkan nilai skor kelompok postur B, dengan menggunakan otot dan beban, untuk mengetahui skor B.

10.Memasukkan hasil nilai skor B ke dalam table C, pada bagian baris pertama skor leher, punggung, dan kaki.

11.Menentukan nilai skor final dengan menarik garis mendatar dari kolom skor A dengan baris skor B dalam table C untuk mendapatkan nilai skor final RULA.

12.Setelah mendapatkan nilai skor final, masukkan nilai pada kategori risiko (action level) untuk menegetahui tingkat risikonya serta level perubahan.

Table 4.3 Skor final RULA

Nilai Skor RULA Action Level Level Perubahan

1-2 1 Dapat diterima

3-4 2 Investigasi lebih lanjut, mungkin butuh perubahan

5-6 3 Investigasi lanjut, perubahan segera 7 4 Investigasi, menerapka perubahan

4.5.8 Pengukuran variabel suhu dengan menggunakan Termometer yaitu dengan meletakkan termometer di tempat biasanya ibu menyusui, tunggu hingga stabil.

4.5.9 Pengukuran variabel pencahayaan dengan menggunakan Lux meter. Penggunaan alat ini yang harus benar-benar diperhatikan adalah alat sensornya,karena sensornyalah yang akan mengukur kekuatan penerangan suatu cahaya. Oleh karena itu sensor harus ditempatkan pada daerah yang akan diukur tingkat kekuatan cahayanya (iluminasi) secara tepat agar hasil yang ditampilkan pun akuarat.

Adapun prosedur penggunaan alat ini adalah sebagai berikut : a) Geser tombol ”off/on” kearah On.

b) Pilih kisaran range yang akan diukur ( 2.000 lux, 20.000 lux atau 50.000 lux) pada tombol Range.

c) Arahkan sensor cahaya dengan menggunakan tangan pada permukaan daerah yang akan diukur kuat penerangannya.

d) Lihat hasil pengukuran pada layar panel.

4.5.10 Pengukuran variabel kebisingan dengan menggunakan Sound Level Meter. Adapun operasional pengukuran dapat dilakukan sebagai berikut. a) Penentuan staindar yang akan diacu dalam survei.

b) Pemeriksaan instrumen. Hal ini meliputi pemeriksaan batere SLM dan kaliberator, serta aksesories misalnya windscreen, rain cover, dan lain-lain.

c) Kalibrasi instrumen dilakukan selama 1 menit sebelum dan sesudah pengukuran berlangsung.

d) Pembuatan denah lokasi dan titik dimana pengukuran dilakukan yaitu di tempat biasanya ibu menyusui.

e) Bila pengukuran dilakukan dengan free-field microphone (standar IEC) maka SLM diarahkan lurus kesumber. Sedangkan jika mikropon yang digunakan merupakan rendom incidence microphone (ANSI), maka SLM harus diorientasikan sekitar 70˚-80˚ terhadap sumber bising.

f) Dalam keadaan kebisingan berasal dari lebih dari satu arah, maka sangat penting untuk memilih mikropon dan mounting yang tepat yang memungkinkan untuk mencapai karakteristik omnidirectional terbaik. g) Pemilihan weighting network yang sesuai.

h) Pemilihan respons detektor yang sesuai, F atau S untuk mendapatkan pembacaan yang akurat.

i) Hindarkan refleksi baik dari tubuh operator maupun bloking suara dari arah tertentu.

j) Saat pengukuran langsung, selalu perhatikan hal-hal berikut: - Hindari pengukuran dekat bidang pemantul

- Lakukan pengukuran pada jarak yang tepat, sesuai dengan standart baku mutu yang diacu

- Cek bising latar

- Pastikan tidak dapat perintang terhadap sumber bising yang diukur - Selalu gunakan windshield (windscreen), dan

- Tolak pembacaan overloud.

Dokumen terkait