• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Instrumen Penelitian

Instrument penelitian merupakan alat yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatan penelitian yakni dengan mengumpulkan data agar penelitian tersebut menjadi sistematis dan lebih mudah. Dalam rencana penelitian ini, yang akan menjadi instrument adalah peneliti sendiri. Adapun wujud dari instrumen penelitian yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data-data yang ada berkaitan dengan objek yang akan diteliti adalah pedoman wawancara (interview guided) kemudian didukung dengan alat untuk merekam hasil wawancara (tape rekorder), kamera dan Personal Komputer (PC).

F.Teknik Pengolahan dan Analisis Data 1. Teknik pengelolaan data

Pengolahan data diartikan sebagai proses mengartikan data-data lapangan yang sesuai dengan tujuan, rangcangan, dan sifat penelitian.

Adapun teknik pengolahan data dalam penelitian ini yaitu:

6

Esterbg, Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif (Yogyakarta: Bumi Aksara, 2002), h. 97.

a. Klasifikasi Data

Yang dimaksud dengan klasifikasi data ialah menggolongkan atau mengelompokkan data yang dihasilkan dalam penelitian.

b. Reduksi Data

Yang dimaksud reduksi data ialah mengurangi atau memilah-milah data yang sesuai dengan topik dimana data tersebut dihasilkan dari penelitian.

c. Koding

Yang dimaksud dengan koding ialah penyesuaian data yang diperoleh dari hasil penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan dengan pokok pangkal pada permasalahan dengan cara memberi kode tertentu pada setiap data.

d. Editing Data

Yang dimaksud dengan editing data ialah pemeriksaan data hasil penelitian yang bertujuan untuk mengetahui relevansi atau hubungan dan keabsahan data yang dideskripsikan dalam menemukan jawaban pokok permasalahan. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki data serta menghilangkan keragu-raguan atas data yang diperoleh dari hasil wawancara.

2. Analisis data

Analisis data merupakan proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan dipahami serta diinterpretasikandengan menggunakan analisa data kualitatif. Kualitatif yaitu menganalisis atau menggambarkan data hasil.

Penelitian dilapangan dengan cara kata-kata tanpa menganalisis angka dan selanjutnya pengelohan data disajikan secara deskriptif analisis yaitu menggambarkan

37

secara lengkap aspek-aspek mengenai masalah berdasarkan literatur dan data lapangan. Selanjutnya data yang telah dikumpulkan melalui observasi, wawancara, studi dokumen. Data-data yang dikumpulkan adalah data yang relevan dengan masalah yang diteliti. Kemudian data yang telah dikumpulkan disajikan dalam bentuk bab pembahasan sebagai pijakan dalam mengambil kesimpulan. Kemudian tahap akhir dari analisis data adalah menarik kesimpulan. Kesimpulan merupakan ujung terakhir dari sebuah penelitian.

G.Pengujian Keabsahan Data

Keabsahan data di maksud untuk memperoleh tingkat kepercayaan yang berkaitan dengan seberapa jauh kebenaran hasil penelitian, mengungkapkan, dan memperjelas data dengan fakta-fakta aktula di lapangan. Uji keabsahan data dalam penelitian.

1. Uji Kredibilitas

Tingkat ukuran suatu kebenaran atas data yang telah dikimpulkan dan dan menyamakan data antara konsep penelitian dengan hasil penelitian. Selain itu, dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, peningktan ketekunan dalam penelitian, triagulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis sejawat, analisis kasus negatif, dan memberchek.

2. Teknik Analisis

Suatu teknik pengujiaan secara sistematis untuk mencari pola terhadap sesuatu untuk menentukan bagian, hubungan antar bagian, dan hubungannya dengan

keseluruhan. Hal ini besifat induktif dimana suatu analisis berrdasaakan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis.78

7

39 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Gambaran Umum Tentang Desa Bontomanai Kec.Rilau Ale Kabupaten Bulukumba.

Sebelum penulis membahas gambaran umum tentang Desa Bontomanai Kec. Rilau Ale Kabupaten Bulukumba. Peneliti lebih dahulu membahas tentang Letak Geografis Desa Bontomanai Kec. Rilau Ale Kabupaten Bulukumba.

1. Letak Geografis Desa Bontomanai Kec.Rilau Ale Kabupaten Bulukumba. Secara kewilayahan, Kabupaten Bulukumba berada pada kondisi empat dimensi, yakni dataran tinggi pada kaki gunung Bawakaraeng Lompobattang, dataran rendah, pantai dan laut lepas. Kabupaten Bulukumba terletak di ujung bagian selatan ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, terkenal dengan industri perahu pinisi yang banyak memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan Pemerintah Daerah. Luas wilayah Kabupaten Bulukumba 1.154,67 Km2 dengan jarak tempuh dari Kota Makassar sekitar 153 Km. Secara Geografis Letak Kabupaten Bulukumba terletak pada koordinat antara 5°20” sampai 5°40” Lintang Selatan dan 119°50” sampai 120°28” Bujur Timur.1

1

Gambar. 4.1

Desa Bontomanai terletak di Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan dan termasuk salah satu desa diantara 13 desa dan 1 Kelurahan di Kecamtan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba dengan batas – batas desa sebabagi berikut :

Sebelah Utara : Desa Bulolohe, Kecamatan Rilau Ale

Sebelah Timur : Desa Lonrong, Kecamatan Ujung Loe

Sebelah Selatan : Desa Topanda, Kecamtan Rilau Ale

Sebelah Barat : Desa Anrang, Kecamatan Rilau Ale

Kondisi Geografis Desa Bontomanai yaitu terdiri dari beberapa daratan, yaitu hutan,sawah dan perkebunan. Yaitu pada bagian barat berbatasan dengan desa Anrang, pada parbatasan tersebut yaitu berbatasan dengan hutan lindung. Pada perbatasan sebelah timur berbatasan dengan desa Lonrong, pada perbatasan tersebut yaitu berbatasan dengan persawahan. Perbatasan bagian utara berbatasan dengan

41

desa Bulolohe pada perbatasan tersebut dibatasi dengan sungai Balantieng. Dan perbatasan bagian selatan yaitu berbatasan dengan desa Topanda dan pada perbatasan tersebut yaitu berbatasan dengan perkebunan cengkeh dan sebagian kecil ada pemukiman masyrakat.

Luas Wilayah Desa Bontomanai : 10,40 KM2 , serta dimana yang kita ketahui bahwa Curah Hujan di desa Bontomanai 2,500 MM dengan Suhu rata – rata per hari 19-24 C. Desa Bontomanai berada diketingian 900MDL dari Permukaan laut dan wilayahnya merupakan daerah dataran tinggi. Jarak dari Kota Kecamatan Rilau Ale + 7 Km dan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Roda Empat dan Kendaraan Roda Dua, atau kendaraan lainnya dengan waktu tempuh + 15 Menit.

Sedangakan jarak Desa Bontomanai ke Kota Kabupaten Bulukumba + 15 Km, dan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Roda Empat dan Kendaraan Roda Dua , atau kendaraan lainnya dengan waktu tempuh + 30 Menit Dan jarak Desa Bontomanai ke Ibu Kota Provinsi + 160 Km , dan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Roda Empat dan Kendaraan Roda Dua , atau kendaraan lainnya dengan waktu tempuh ±3 Jam. Desa ini memiliki tingkat kemiringan tanah yakni 45 Derajat, dan tingkat erosii tanah dan banjir Ringan sebesar 123 Ha/M, dan Erosi Tanah dan Banjir Berat 90 Ha/M. Luas tanah erosi dan Banjir 213 Ha/M.2

2

2. Sejarah berdirinya Desa Bontomanai Kec.Rilau Ale Kabupaten Bulukumba.

Desa Bontomanai merupakan deasa yang dulunya memiliki kawasan yang luas. Namun seiring berjalannya waktu, Desa Bontomanai mengalami pemekaran dengan terjadinya pembentukan beberapa desa baru yaitu Desa Batu Karopa, Bolu Lohe, Topanda, Tanah Harapan, dan Desa Bontomanai Sendiri. Desa Bontomanai dulunya dipimping oleh Bapak Muh.Saleh dan merupakan orang pertama yang menjadi kepala Desa Bontomanai.

3. Keadaan Masyarakat Desa Bontomanai Kec.Rilau Ale Kabupaten Bulukumba

Desa Bontomanai merupkan desa yang memilki penduduk sekitar 4.365 orang yaitu laki-laki sekitar 1.254 orang dan perempuan 2.111 orang. Penduduk desa bontomanai manyoritas memeluk agama islam dan masyarakatnya bekerja sebagai petani. Masyarakat desa bontomanai memiliki pertumbuhan ekonomi yang

4. Keunggulan Desa Bontomanai Kec.Rilau Ale Kabupaten Bulukumba Keunggulan Desa Bontomanai merupakan desa yang memiliki potensi yang besar baik itu dalam bidang sumber daya alamnya. Dimana yang kita ketahui bahwa sumber daya alam desa bontomanai seperti:

a. Pertanian

Desa Bontomanai memiliki dengan jumlah keluarga yang memiliki lahan pertanian sebanyak 236 Keluarga. Adapun rincian keluarga yang memiliki lahan pertanian :

 Memiliki kurang dari 1 Ha : 100 Keluarga  Memiliki dar 1 – 5 Ha : 113 Keluarga

43

 Memiliki lebih dari 10 Ha : 1 Keluarga b. Perkebunan

Desa Bontomanai memiliki jumlah keluarga yang memiliki lahan perkebunan sebanyak 236 Keluarga, dan yang tidak emiliki lahan pertanian senbanyak 1.367 keluarga. Berikut rincian keluarga yang memiliki lahan pertanian:

 Memiliki kurang dari 1 Ha : 100 Keluarga  Memiliki dar 1 – 5 Ha : 113 Keluarga  Memiliki lebih dari 10 Ha : 1 Keluarga

Kondisi tanaman pangan yang ditanam di Desa ini, diantaranya adalah Padai sawah, Jagung, cabe, tomat , teron, kacang tanah, kacang panjang, dll.sedangkan komoditi Buah-buahan ; Durian , Rambutan, manggis, pisang , nenas , langsat , nangka, dll.

c. Kehutanan

Kawasan Hutan Desa Bontomanai, Kecamatan Rila Ale, Kabupaten Bulukumba, terletak disebelah bagian barat berbatasan dengan Desa Anrang, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba dengan Luas + 46 Ha dan dikelolah oleh Kelompok Tani Hutan ( KTH ). Didalamnya terdapat tamana jenis kayu - kayuan Sengong, Jati, dll, serta tanaman perkebunan diantaranya Coklat, cengkeh, durian, Cengkeh, dll.

Dalam pengolahannya masyarakat pada umumnya belum terlalu memahai fungsi utama dari hutan sehingga mengalami banyak kendala salah satunya adalah kurangnya perhatian dari pemerintah terkait sehingga seringnya terjadi penebangan hutan secara liar sehingga mengakibatkan terjadinya konsi hutan yang tak hijau lagi

dan akan mengakibatkan terjadinya banji dan erasi sebagaiman pernah terjadi tahun 2006 yang mengakibatkan lahan persawahan dan perkebunan mengalami kerusakan ekosistem.3

5. Sarana Prasarana Desa Bontomanai Kec.Rilau Ale Kabupaten Bulukumba Sarana dan prsarana adalah fasilitas yang menunjang keberhasilan dalam proses berkembang suatu desa. Adapun sarana dan prasarana yang ada di Desa Bontomanai Kabupaten Bulukumba adalah sebagai berikut:

a. Sekolah

b. Sarana Ibadah (Masjid)

c. Sarana Kesehatan Masyarakat

d. Sarana Trasportasi

e. Lapangan.dll4

B. Upaya Masyarakat dalam Pemberantasan Narkoba di Desa Bontomanai Kec. Rilau Ale Kabupaten Bulukumba

Perkembangan penyalahgunaan narkoba sudah sangat memperihatinkan di Indonesia. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa narkoba merupakan salah satu jenis obat penghilang rasa sakit yang digunakan dalam bidang kedokteran namun disalah gunakan oleh manusia. Namun pada awalnya hanya digunakan untuk obat bius pada saat operasi, namun seiring perkembangan saman banyak digunakan untuk menenangkan pikiran dan mendapat kesenangan dengan dosis yang besar.5 Narkoba

3

Profil Buku Desa Bontomani Kec. Rilau Ale Kabupaten Bulukumba

4

Profil Buku Desa Bontomani Kec. Rilau Ale Kabupaten Bulukumba

5

45

bukan merupakan suatu hal yang baru bagi kita, apalagi saat ini masalah narkoba sudah menjadi topik utama bagi pihak kepolisian untuk diberantas bahkan diberitakan hampir setiap hari baik melalui media massa cetak maupun media massa elektronik.

Peran masyarakat dibutukan dalam membantu pemerintah khususnya kepolisian untuk memberantas peredaran narkoba dan pemakai obat-obat terlarang tersebut. Karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa peredaran narkoba bukan hanya di wilayah perkotaan, namun sudah merambah ke pedesaan yang lebihnya lagi pemakai barang haram tersebut bukan hanya remaja tetapi sudah merambah ke anak-anak.

Terkait dengan pemberantasan Narkoba di Desa Bontomanai Kecamatan Rilau Ale Kabupaten Bulukumba, masih belum mencapai hasil yang baik apabila hanya dilakukan oleh aparat pemerintah saja. Namun peran masyarakat sangat dibutuhkan dalam kunci sukses pemberantasan narkoba di suatu desa. Hal ini ditegaskan oleh oleh Bapak Lukman Saleh selaku Kepala Desa Bontomanai adalah sebagai berikut:

“Bahwa bentuk kerjasama pemerintah desa dengan masyarakat dan kepolisian harus lebih di tingkatkan oleh karna itu pemerintah Desa meminta pihak kepolisian untuk mensosialisasikan tentang bahaya narkoba dan dampak yang di timbulkan terhadap pengguna narkoba. Serta pemerintah Desa mengarahkan kepada masyarakat untuk ikut serta berperan aktif dalam membantu pihak kepolisian dalam pemberantasan narkoba”6

6

Lukman Saleh, (Umur 52), Kepala Desa Bontomanai, wawancara, Bontomanai 11 Desember 2017

Peneliti juga menilai, bahwa peran masyarakat juga sangat dibutuhkan karna pemberantasan narkoba memerlukan kerjasama yang efektif antara pemerintah dengan masyarakat sehingga terjalin hubungan komunikasi yang baik dalam memberantas narkoba.

Peran masyarakat juga bisa menjadi mitra anggota penegak hukum atau menindak para bandar narkoba. Masyarakat bisa membantu petugas kepolisian dengan memberikan akses imformasi kepada para pihak penegak hukum (kepolisian) tentang segala kegiatan yang mencurigakan yang terjadi di masyarakat.

Peningkatan pengawasan sebagai upaya penanggulangan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika sangat diperlukan, karena kejahatan narkotika pada umumnya tidak dilakukan oleh perorangan secara berdiri sendiri, namun dilakukan secara bersama – sama yaitu berupa jaringan yang dilakukan oleh sindikat clandestine yang terorganisasi secara mantap, rapi dan sangat rahasia.

Kejahatan narkoba yang bersifat transnasional dilakukan dengan menggunakan modus yang modern dan teknologi canggih, termasuk pengamanan hasil-hasil kejahatan narkotika. Perkembangan kualitas kejahatan narkotika tersebut sudah menjadi ancaman yang sangat serius bagi kehidupan umat manusia.

Melalui peran masyarakat dalam membantu kepolisian memberantas narkoba, maka upaya yang dilakukan masyarakat dalam pemberantasan narkoba tersebut memiliki bebarapa langka-langkah sebagai berikut, Yaitu promotif, peventiv, kuratif, rehabilitative, dan refresif.

47

Tindakan Preventif (pencegahan) yaitu untuk membentuk masyarakat yang mempunyai ketahanan dan kekebalan terhadap narkoba. Pencegahan adalah lebih baik daripada pemberantasan. Pencegahan penyalahgunaan narkoba dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti pembinaan dan pengawasan dalam keluarga, penyuluhan oleh pihak yang kompoten baik di Sekolah maupun dimasyarakat, pengajian dan penceahan oleh para ulama, pengawasan di tempat-tempat hiburan malam oleh pihak keamanan, pengawasan obat-obat illegal dan melakukan tindakan – tindakan lain yang bertujuan untuk mengurangi atau mentiadakan kesempatan terjadinya penyalahgunaan narkoba. Program ini ditujukan kepada masyarakat sehat yang belum mengenal narkoba agar mengetahui seluk beluk narkoba sehingga tidak tertarik menggunakannya. Selain dilakukan oleh pemerintah (instansi yang terkait), program ini juga sangat efektif jika dibantu oleh instansi dan institusi lain, termasuk lembaga pofesional terkait, lembaga swadaya masyarakat, perkumpulan ormas, dan lain-lain. Hal ini sesuai yang dikatakan oleh Bapak Ahmad selaku BHABINKAMTIBMAS Desa Bontomanai bahwa :

“Dengan melakukan pencegahan, pengawasan dan pembinaan kepada

masyarakat tentang bahaya narkoba serta penyalahgunaan narkoba maka masyarakat akan mengetahui lebih dalam dampak narkoba tersebut sehingga tidak tertarik untuk menggunakannya”7

Terkait dengan bahaya narkoba, memang betul sangat berbahaya jika dikomsumsi dan dapat merugikan masyarakat itu sendiri, oleh karna itu peran serta masyarakat diperlukan dalam membantu pihak kepolisian dan pemerintah dalam pemberantasan narkoba.

7

Ahmad, (Umur 39), BHABINKAMTIBMAS) Desa Bontomanai, wawancara, Bontomanai Desember 2017

Upaya masyarakat dalam pemberantasan narkoba itu dilakukann dengan cara preventif. Namun dengan cara tersebut terdapat bentuk-bentuk untuk menanggulangi upaya penaggulan narkoba yaitu:

a. Kampanye anti penyalahgunaan narkoba.

Progam pemberian imformasi satu arah (monolog) dari pembicara kepada pendengar tentang bahaya pemakaian narkoba. Program ini biasanya hanya meberikan garis besar, dan umum. Imformasi ini disampaikan kepada tokoh masyarakat, bukan oleh tenaga professional. Tokoh tersebut bias ulama, pejabat, seniman, dan sebagainya. Hal tersebut juga dikatakan oleh A. Muhaimin Al Amanah salah astu tokoh pemuda Desa Bontomanai Bahwa:

“Bentuk kampanye yang harus dilakukan oleh pemerintah itu di lakukan terus menerus sehingga masyarakat akan turut andil dalam berbagai upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba seperti dengan mendekati pengguna lalu memberi pemahaman secara bijak.”8

Peneliti juga menilai, bahwa peran serta masyarakat yaitu tokoh pemuda sangat dibutuhkan dalam membantu memberantas narkoba dengan adaya partisipasi tokoh pemuda maka pemerintah muda mengawasi masuknya peredaran narkoba.

Selain itu bentuk kampanye dalam anti penyalahgunaan narkoba dapat juga dilakukan malalui spanduk, brosur dan baliho. Dan misi yang disamapaikan adalah pesan untuk melawan penyalahgunaan narkoba tanpa penjelasan yang mendalam atau ilmiah tentang narkoba.

b. Penyuluhan Seluk Beluk Narkoba.

8

Muhaimin Al Amanah, (Umur 32), Tokoh Pemuda Desa Bontomanai, wawancara, Bontomanai 13 Desember 2017

49

Berbeda dengan kampanye yang monolog, penyuluhan ini bersifat dialog, ceramah dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk mendalami berbagai masalah tentang narkoba sehingga masyarakat benar-benar tahu dan sehingga tidak tertarik untuk menyalahgunakan narkoba. Hal tersebut sesuai yang dikatakan oleh Bapak Kepala Desa Bontomanai bahwa:

“Penyuluhan atau sosialisasi perlu di adakan dimasyarakat guna untuk memperingati kepada masyarakat agar jangan sekali-kali terlibat dengan narkoba, dengan memberikan pemahan tentnag bahaya narkoba maka masyarakat akan mengetahui dampak narkoba jika disalahgunakan.”9

Peneliti juga menilai, bahwa sosialisasi sangat penting dilakukan untuk membantu masyarakat dalam mengetahui tentang bahaya narkoba serta bukan hanya dilakukan di masyarakat namun juga dilakukan ditingkat pendidikan mulai dari SD sampai perguruang tinggi.

Dengan adanya sosialisai tersebut yang dilakukan secara terbuka sehingga penyuluhan tentang narkoba bisa di tinjau lebih mendalam dari masing-masing aspek sehingga lebih menarik dari pada kampanye. Untuk dapat menanggulangi masalah narkoba secara lebih efektif di dalam kelompok masyarakat tertentu, dilakukan pendidikan dan pelatihan dengan mengambil peserta dari kelompok itu sendiri. Program ini dilakukan di sekekolah, kampus, atau kantor.

9

Lukman Saleh, (Umur 52 ), Kepala Desa Bontomanai, wawancara, Bontomanai Desember 2017

2. Penindakan (Refresif)

Tindakan Refresif (penindakan) yaitu menindak dan memberantas penyalahgunaan nakoba melalui jalur hukum, yang melalui penegak hukum atau aparat keamanan dibantu dengan masyrakat.

Jika masyrakat mengetahui harus melaporkan kepada pihak yang berwajib dan tidak boleh main hakim sendiri. Hal ini sesuai yang dikatakan oleh Bapak Ahmad selaku BHABINKAMTIBMAS Desa Bontomanai bahwa:

“Bagi masyarakat yang mengetahui ada peredaran narkoba di desa bontomanai , maka wajib melaporkan kepada pihak yang berwajib dan tidak main hakim sendiri terhadap pelaku tersebut, bagi yang ketahuan mengedarkan narkoba atau ketahuan mengkomsumsi narkoba maka pihak kepolisian akan melakukan penindakan serta mengamakan pelaku dan melakukan introgasi”10

Peneliti menilai bahwa, jika masyarakat melihat secara langsung orang yang menggunakan narkoba, maka harus berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengamankan secara cepat pengguna narkoba tersebut, guna untuk mengindari banyaknya korban yang terjerat dengan masalah narkoba.

Selain itu pogram refresif juga merupakan program penindakan terhadap produsen, Bandar , pengedar, dan pemakai berdasarkan hukum. Progam ini terinstansi pemerintah yang berkewaajiban mengawasi dan mengendalikan produksi maupun distribusi semua zat yang tergolong narkoba.11

10

Ahmad, (Umur 39), BHABINKAMTIBMAS Desa Bontomanai, wawancara, Bontomanai 15 Desember 2017

11

Subagyo Partodihardjo, Kenali Narkoba dan Musuhi Penyalahgunanya ( PT Gelora Aksara Pratama 100-109

51

3. Pembinaan (Promotif)

Promotif ini disebut juga pogram preemtif atau program pembinaan. Program ini ditujukan kepada masyarakat yang belum memakai narkoba, atau bahkan belum mengenal narkoba. Prinsipnya adalah dengan meningkatkan peranan atau kegiatan agar kelompok ini secara nyata lebih sejahtera sehingga tidak perrnah befikir untuk memperoleh kebahagiaan semu dengan memakai narkoba.

Peran masyarakat dalam pemberantasan narkoba memiliki peran yang sangat penting dalam membantu pemerintah dalam mencegah penyalahgunaan narkoba. Adapun bentuk-bentuk program yang dilakukan oleh masayrakat yaitu pelatihan,dialog interaktif, dan lain-lain pada kelompok pelajar, kelompok olahraga, seni budaya, atau kelompok usaha (tani, dagang, bengkel, koperasi, kerajinan dan lain-lain. Penekanan dalam progam preemtif adalah peningkatan kualitas kerja agar lebih bahagia dan sejahtera. Pelaku progam promotif yang paling tepat adalah lembaga-lembaga kemasyarakatan yang difasilitasi dan diawasi oleh pemerintah.

4. Pengobatan (Kuratif)

Kuratif juga bisa disebut program pengobatan. Program kuratif ditujukan

kepada pemakai narkoba. Tujuannya adalah untuk mengobati ketergantungan dan menyembuhkan penyakit sebagai akibat dari pemakai narkoba, sekaligus menghentikan pemakai narkoba. Adapun bentuk-bentuk kegiatan adalah pengobatan penderita atau pemakai yaitu:

a. Penghentian pemakai narkoba.

b. Pengobatan gangguaan kesehatan akibat penghentian dan pemakaian narkoba (detoksifikasi).

c. Pengobatan terhadap keusakan organ tubuh akibat narkoba.

d. Pengobatan terhadap penyakit lain yang masuk akibat narkoba.

Program ini di tujukan kepada masyarakat yang telah terjerumus dan menjadi korban dalam penyalahgunaaan narkoba. Pengobatan terhadap pemakakai narkoba tidak sederhana, tetapi sangat kompleks dan berbiaya mahal. Selain itu kessembuhannya pun tanda Tanya besar. Tidak sembarang orang boleh mengobati korban penyalahgunaan narkoba, pengobatannya harus dilakukan oleh dokter yang mempelajari narkoba ecar khusus12

5. Rehabilitasi (Rehabilitatif)

Rehabilitasi adalah restoasi (pebaikan, pemulihan) atau normalitas atau pemulihan menuju status yang paling memuaskan terhadap individu yang pernah menderita penyakit mental.13 Adapun pengertian lainnya bahwa rehabilitasi merupakan suatu usaha untuk memulihkan agar bagaimana para pecandu narkoba hidup sehat jasmani dan rohani sehingga dapat menyesuaikan dan meningkatkan kembali keterampilan, pengetahuannya, serta kepandaiannya dalam lingkungan hidup.14

Penanganan kasus narkoba dengan praktik rehabilitasi dilakukan agar keadilan hukum dapat terlaksana sebagaimana mestinya. Mengingat bahwa dalam tinddak pidana narkotika pelaku merupakan korban, maka pihak praktik pemulihan harus diberikan kepada pecandu dan penyalahgunaan narkoba bukan hanya dalam bentuk

12

Subagyo Partodihajo, Kenali Narkoba dan Musuhi Penyalahgunanya, h. 103

13

J.P. Caplin, Kamus Lengkap Psikologi (Jakarta: PT.Raja Grapindo Persada, 1995), h. 425

14

53

pemidanaan. Asas-asas perlindungan korban juga salah satu dari beberapa hal yang mendorong lahirnya pemidanaan dalam bentuk rehabilitasi.15

Tindakan Rehabilitatif (rehabilitasi) dilakukan agar setelah pengobatan selesai para korban kambuh kembali “ketagihan”. Rehabilitasi berupaya menyantuni dan memperlakukan secara wajar para korban narkoba agar dapat kembali kemasyarakat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Kita tidak boleh mengasingkan para korban narkoba dan sudah sadar dan bertaubat, supaya mereka tidak terjerumus kembali sebagai pecandu narkoba . pemerintah sendiri telah mendirikan beberapa pusat rehabilitasi di Indonesia sebagai upaya penaggulangan bahaya narkoba. Hal tersebut juga dikatakan oleh Bapak Ahmad (BHABINKAMTIBMAS) Desa Bontomanai bahwa:

“Dengan Adanya Rehabilitasi disetiap Kab/kota dapat membantu para pemakai tidak menggunakan narkoba lagi”16

Peneliti menilai, bahwa panti rahabilitasi sangat berperan penting dalam

Dokumen terkait