BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.5 Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrumen kunci yaitu peneliti itu sendiri. Menurut Moleong (2006:163) ciri khas penelitian kualitatif tidak dapat dipisahkan dari pengamatan berperan serta, namun peranan penelitilah yang menentukan keseluruhan skenarionya. Dalam hal instrumen, kualitatif menurut Nasution (dalam Sugiyono, 2012:223) menyatakan yaitu:
”Dalam penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrumen penelitian utama. Alasannya ialah bahwa, segala sesuatunya belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan itu semuanya tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu dikembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang tidak pasti dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya yang dapat mencapainya”.
Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa, dalam penelitian kualitatif pada awalnya dimana permasalahan belum jelas dan pasti, maka yang menjadi instrumen adalah peneliti itu sendiri. Tetapi setelah masalah yang akan dipelajari itu jelas, maka dapat dikembangkan suatu instrumen. Peneliti kualitatif
sebagai human instrument, berfungsi menerapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas semuanya (Sugiyono, 2012:59-60).
Dalam proses penyusunan data pada penelitian ini, sumber data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Adapun sumber data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti langsung dari sumber data baik melalui proses wawancara tatap muka antara peneliti dengan informan, maupun melalui observasi atau pengamatan tidak berperanserta di tempat yang menjadi objek penelitian. Sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari studi dokumentasi dan studi pustaka terkait dengan Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) di Kota Tangerang Selatan.
Adapun alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, khususnya dalam melakukan wawancara adalah:
1. Buku catatan: untuk mencatat pencatatan dengan sumber data.
2. Handphone recorder: untuk merekam semua percakapan karena jika hanya menggunakan buku catatan, peneliti sulit untuk mendapatkan informasi yang telah diberikan oleh informan.
3. Hanphone camera: untuk memotret/mengambil gambar semua kegiatan yang berkaitan dengan penelitian. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan keabsahan dari suatu penelitian.
Sementara itu, teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Studi Kepustakaan
Istilah studi kepustakaan digunakan dalam ragam istilah oleh para ahli, diantaranya yang dikenal adalah: kajian pustaka, tinjauan pustaka, kajian teoritis, dan tinjauan teoritis. Penggunaan istilah-istilah tersebut, pada dasarnya merujuk pada upaya umum yang harus dilalui untuk mendapatkan teori-teori yang relevan dengan topik penelitian. Oleh karena itu studi kepustakaan meliputi proses umum seperti: mengidentifikasi teori secara sistematis, penemuan pustaka, analis dokumen yang memuat informasi yang berkaitan dengan topik penelitian. Dalam hal ini peneliti melakukan studi kepustakaan melalui hasil penelitian sejenis yang pernah dilakukan, buku-buku, maupun artikel atau yang memuat konsep atau teori yang dibutuhkan terkait dengan Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak
2. Observasi
Salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti adalah observasi atau dengan melakukan pengamatan, yang dapat diklasifikasikan atas pengamatan melalui cara berperanserta dan yang tidak berperanserta. Pada pengamatan tanpa peranserta pengamat hanya melakukan satu fungsi, yaitu mengadakan pengamatan. Pengamat berperanserta melakukan dua peranan sekaligus, yaitu sebagai pengamat dan sekaligus menjadi anggota resmi dari kelompok yang diamatinya dari Moleong (2006: 176). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan observasi tak berperanserta, karena dalam
penelitian ini peneliti tidak terlibat untuk membantu pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) di Kota Tangerang Selatan. Peneliti hanya melakukan pengamatan saja untuk mengetahui kondisi objek penelitian.
3. Wawancara
Wawancara dalam penelitian kualitatif bersifat mendalam (indepth interview). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara semiterstuktur, dimana wawancara dilakukan secara bebas untuk menggali informasi lebih dalam dan bersifat dinamis, namun tetap terkait dengan pokok-pokok wawancara yang telah peneliti buat terlebih dahulu dan tidak menyimpang dari konteks yang akan dibahas dalam fokus penelitian.
Dalam sebuah wawancara tentu dibutuhkan suatu pedoman. Pedoman wawancara digunakan peneliti dalam mencari data dari para informan dan memudahkan peneliti dalam menggali sumber informan untuk mendapatkan informasi. Adapun pedoman wawancara yang telah disusun yaitu sebagai berikut.
Tabel 3.1 Pedoman Wawancara
Dimensi Kisi-kisi Pertanyaan Informan
Ukuran dan Tujuan Kebijakan
a) Awal mula Kebijakan Pengembangan KLA b) Kejelasan ukuran dan tujuan
Kebijakan Pengembangan KLA c) Langkah-langkah
Pengembangan KLA
d) Ukuran keberhasilan Kebijakan Pengembangan KLA di Kota Tangerang Selatan
1. Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan
2. Kepala Sub Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BPMPPKB Kota Tangerang Selatan 3. Kepala Bidang Sosial Kemasyarakatan BAPPEDA
Kota Tangerang Selatan
4. Tokoh nasional pemerhati anak sekaligus Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak 5. Ketua Forum Anak Kota Tangerang Selatan Sumberdaya a) Kondisi Sumber Daya Manusia
implementor Kebijakan Pengembangan KLA
b) Kondisi sumber daya finansial dalam mengimplementasikan Kebijakan Pengembangan KLA c) Kondisi sumber daya waktu
dalam mengimplementasikan Kebijakan Pengembangan KLA
1. Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan
2. Kepala Sub Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BPMPPKB Kota Tangerang Selatan 3. Kepala Bidang Sosial Kemasyarakatan BAPPEDA
Kota Tangerang Selatan
Karakteristik
Agen Pelaksana a) Organisasi formal dan informal yang menjadi agen pelaksana Kebijakan Pengembangan KLA.
b) Hambatan umum dalam implementasi Kebijakan Pengembangan KLA c) Kesuaian luas cakupan
implementasi Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) dengan besarnya agen pelaksana yang dilibatkan.
1. Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan
2. Kepala Sub Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BPMPPKB Kota Tangerang Selatan 3. Kepala Bidang Sosial Kemasyarakatan BAPPEDA
Kota Tangerang Selatan
4. Kepala Seksi Kelahiran dan Kematian Disdukcapil Kota Tangerang Selatan
5. Satgas Perlindungan Anak di tingkat RW 6. Ketua Foerum Anak Kota Tangerang Selatan 7. Masyarakat
8. Dunia usaha (pihak swasta) Sikap atau
Kecenderungan a) Bentuk penguatan kelembagaan dalam implementasi Kebijakan Pengembangan KLA
b) Sikap pelaksana dalam pemenuhan hak-hak anak berdasarkan klater hak-hak anak
c) Respon agen pelaksana terhadap Kebijakan
Pengembangan KLA yang akan mempengaruhi kemauannya untuk melaksanakan kebijakan
1. Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan
2. Kepala Sub Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BPMPPKB Kota Tangerang Selatan 3. Kepala Bidang Sosial Kemasyarakatan BAPPEDA
Kota Tangerang Selatan
4. Kepala Seksi Kelahiran dan Kematian Disdukcapil Kota Tangerang Selatan
5. Kepala Seksi Perbaikan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
6. Staf Seksi Survalans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
7. Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan
8. Kepala Seksi Bina PAUD Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan
9. Kepala Seksi Bimbingan Keselamatan dan Analisis Kecelakaan Lalu Lintas Dishubkominfo Kota Tangerang Selatan
10. Staf Seksi Bimbingan Keselamatan dan Analisis Kecelakaan Lalu Lintas Dishubkominfo Kota Tangerang Selatan
11. Staf Seksi Informatika Dishubkominfo Kota Tangerang Selatan
12. Kepala Seksi Pelayanan Sosial, Pelayanan Sosial Anak, Lanjut Usia dan Orang Terlantar
Dinsoskertrans Kota Tangerang Selatan 13. Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat Polres
Metro Jakarta Selatan
14. Kepala Unit IV Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Metro Jakarta Selatan
15. Kepala Sub Unit IV Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Metro Kabupaten Tangerang
16. Tenaga Relawan P2TP2A Kota Tangerang Selatan 17. Ketua Satgas Perlindungan Anak di tingkat RW 18. Ketua Forum Anak Kota Tangerang Selatan 19. Anak jalanan
20. Anak (umum) 21. Masyarakat
22. Dunia usaha (pihak swasta) Komunikasi Antar Organisasi dan Aktivitas Pelaksana a) Komunikasi antarorganisasi yang terlibat dalam
implementasi Kebijakan Pengembangan KLA b) Koordinasi antarorganisasi
yang terlibat dalam implementasi Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA)
1. Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan
2. Kepala Sub Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BPMPPKB Kota Tangerang Selatan 3. Kepala Bidang Sosial Kemasyarakatan BAPPEDA
Kota Tangerang Selatan
4. Kepala Seksi Kelahiran dan Kematian Disdukcapil Kota Tangerang Selatan
5. Kepala Seksi Perbaikan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
6. Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan
7. Staf Seksi Bimbingan Keselamatan dan Analisis Kecelakaan Lalu Lintas Dishubkominfo Kota Tangerang Selatan
8. Kepala Seksi Pelayanan Sosial, Pelayanan Sosial Anak, Lanjut Usia dan Orang Terlantar
Dinsoskertrans Kota Tangerang Selatan 9. Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat Polres
Metro Jakarta Selatan
10. Kepala Sub Unit IV Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Metro Kabupaten Tangerang
11. Tenaga Relawan P2TP2A Kota Tangerang Selatan 12. Ketua Satgas Perlindungan Anak di tingkat RW 13. Ketua Forum Anak Kota Tangerang Selatan
Lingkungan Ekonomi, Sosial, dan Politik
a) Kondisi ekonomi lingkungan dalam implementasi Kebijakan Pengembangan KLA
b) Kondisi sosial lingkungan dalam implementasi Kebijakan Pengembangan KLA
c) Dukungan kelompok-kelompok kepentingan dan elite politik dalam implementasi Kebijakan Pengembangan KLA
d) Dukungan para partisipan Kebijakan Pengembangan KLA (stakeholder ), yakni menolak atau mendukung
e) Sifat opini publik yang ada di lingkungan implementasi Kebijakan Pengembangan KLA
1. Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan
2. Kepala Sub Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BPMPPKB Kota Tangerang Selatan 3. Kepala Bidang Sosial Kemasyarakatan BAPPEDA
Kota Tangerang Selatan
4. Kepala Seksi Kelahiran dan Kematian Disdukcapil Kota Tangerang Selatan
5. Kepala Seksi Perbaikan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
6. Staff Seksi Survalans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
7. Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan
8. Kepala Seksi Bina PAUD Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan
9. Staf Seksi Bimbingan Keselamatan dan Analisis Kecelakaan Lalu Lintas Dishubkominfo Kota Tangerang Selatan
10. Kepala Seksi Pelayanan Sosial, Pelayanan Sosial Anak, Lanjut Usia dan Orang Terlantar
Dinsoskertrans Kota Tangerang Selatan
11. Kepala Unit IV Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Metro Jakarta Selatan
12. Kepala Sub Unit IV Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Metro Kabupaten Tangerang
13. Tenaga Relawan P2TP2A Kota Tangerang Selatan 14. Ketua Satgas Perlindungan Anak di tingkat RW 15. Ketua Forum Anak Kota Tangerang Selatan 16. Anak (umum)
17. Masyarakat
18. Dunia usaha (pihak swasta) (Sumber: Peneliti, 2014)
4. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), cerita, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa, dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya
seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif (Sugiyono, 2009:240).