• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

D. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan lima (5) jenis instrumen pengumpul data, yakni tes pengukuran hasil belajar, angket kecerdasan ganda, kuesioner pengukuran minat belajar, pedoman observasi, dan daftar pertanyaan wawancara tertulis.

1. Tes Pengukuran Hasil Belajar

Hasil belajar siswi adalah salah satu komponen yang diteliti. Titik tolak penyusunan instrumen untuk mengukur komponen ini ialah definisi operasional variabel hasil belajar (Sugiyono, 2013:103). Selanjutnya, definisi operasional tersebut diturunkan menjadi indikator soal.

Berdasarkan kajian teoritis yang telah dilakukan pada Bab II, definisi operasional hasil belajar adalah penguasaan atau penguatan — yang berupa pendalaman atau perluasan— sejumlah kompetensi yang diperoleh seorang siswa dari kegiatan belajarnya (Prawira, 2014: 229; Suparman, 2014: 168; Winkel, 2009: 59-61). Kompetensi yang diper-oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran Fisika materi Hukum Kepler terdiri atas 3 ranah, yakni ranah kognitif (pengetahuan), psikomotorik (keterampilan), dan afektif (sikap). Namun, karena keterbatasan waktu, penelitian ini hanya mengukur hasil belajar siswa pada ranah kognitif.

Selanjutnya, untuk menentukan kompetensi-kompetensi pengetahuan yang akan diperoleh siswa dalam kegiatan pembelajaran, peneliti membuat indikator pencapaian kompetensi dasar (IPKD) dan diturunkan kembali menjadi indikator soal. Pada bagian ini, akan dipaparkan IPKD dan indikator soal tes hasil belajar siswa materi Hukum Kepler yang telah divalidasi oleh para ahli. IPKD dan indikator soal tes ini dapat diamati pada Tabel 4.

Tabel 4. IPKD dan Indikator Soal Tes Hasil Belajar

No IPKD Indikator Soal

1. Siswa dapat menjelaskan Hukum Kepler.

Siswa dapat menuliskan pemahamannya terkait Hukum Kepler dengan kata-katanya sendiri.

No IPKD Indikator Soal

menentukan periode revolusi planet berdasarkan Hukum III Kepler.

orbital planet ketiga ke matahari melalui data periode revolusi dan jari-jari orbital 2 planet lain.

Siswa dapat menentukan ketinggian stasiun luar angkasa mengorbit suatu planet apabila diketahui waktu orbital stasiun luar angkasa tersebut.

Indikator soal ini kemudian disusun menjadi soal pretest dan

posttest yang akan digunakan dalam mengumpulkan data terkait hasil belajar siswa pada ranah kognitif. Selanjutnya, indikator soal dan soal tes pengukuran hasil belajar pretest-posttest divalidasi. Hasil validasi instrumen ini dapat diamati pada Lampiran 12. Setelah divalidasi, instrumen kemudian diperbaiki agar benar-benar mengukur variabel hasil belajar siswa. Instrumen tes pengukuran hasil belajar beserta pedoman penskoran yang telah direvisi dapat dilihat pada Lampiran 23.

2. Angket Kecerdasan Ganda

2

Instrumen tes hasil belajar yang divalidasi mencakup 3 materi, yakni Hukum Gravitasi Universal Newton, Hukum Kepler, dan kelajuan orbital planet.

3

Instrumen ini merupakan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini. Karena materi yang diajarkan dengan model pembelajaran bergaya naratif ialah materi Hukum Kepler, maka dipilih butir soal yang sesuai dengan indikator pada materi Hukum Kepler.

Angket kecerdasan ganda digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui jenis kecerdasan subjek penelitian yang dominan. Penelitian ini menggunakan instrumen tes kecerdasan ganda yang dikembangkan oleh Armstrong (dalam Yaumi dan Ibrahim, 2013). Instrumen ini dapat diamati pada Lampiran 3.

Pada kolom angka dalam instrumen ini, subjek penelitian menuliskan angka 1 bila ia setuju dengan pernyataan tes dan angka 0 jika ia tidak setuju. Selanjutnya, jawaban siswa tersebut dikategorisasi berdasarkan Tabel 5 untuk mengetahui kecerdasan mana yang dominan dalam dirinya.

Tabel 5. Kategorisasi Jenis Kecerdasan dari Tes Kecerdasan Ganda

Jenis Kecerdasan Butir Soal

Verbal/Linguistik 3, 17, 31, 40, 46, 55, 58 Matematik-Logik 5, 10, 27, 36, 41, 53, 63 Visual/Spasial 2, 12, 23, 32, 33, 37, 49 Musikal 1, 9, 15, 29, 35, 44, 61 Kinestetik 7, 11, 28, 39, 51, 54, 57 Interpersonal 8, 14, 24, 43, 48, 56, 62 Intrapersonal 13, 19, 26, 47, 50, 59, 60 Naturalis 4, 20, 30, 34, 42, 45, 52 Eksistensial 6, 16, 18, 21, 22, 25, 38

3. Kuesioner Pengukuran Minat Belajar

Komponen lain dalam penelitian ini ialah minat belajar siswa. Titik tolak penyusunan instrumen untuk mengukur komponen ini ialah definisi operasional variabel minat belajar (Sugiyono, 2013: 103). Selanjutnya, definisi operasional tersebut diturunkan menjadi indikator kuesioner.

Berdasarkan kajian teoritis yang telah dilakukan di Bab II, peneliti merumuskan definisi operasional minat belajar. Definisi tersebut ialah keingintahuan, ketertarikan subyek pada suatu bidang studi atau pokok bahasan tertentu sehingga subyek merasa senang untuk memperhatikan dan mempelajarinya tanpa ada yang menyuruh (Djamarah, 2011; Winkel, 2009).

Selanjutnya, disusunlah kisi-kisi instrumen pengukuran minat belajar siswa yang menggunakan skala Likert. Dasar pengembangan model skala sikap ini ialah respon siswa terhadap sesuatu yang dinyatakan dengan pernyataan persetujuan terhadap sesuatu objek (Sukmadinata, 2008: 238). Namun, penelitian ini memodifikasi skala ini dengan mengubah rating atau alternatif jawaban menjadi Sangat Sering, Sering, Kadang-Kadang, dan Tidak Pernah.

Untuk pertanyaan positif, penskorannya ialah sebagai berikut: SS=4, S=3, KK=2, dan TP=1. Namun, apabila pertanyaannya negatif, maka penskorannya menjadi: SS=1, S=2, KK=3, TP=4 (Ruseffendi, 1998).

Kisi-kisi instrumen kuesioner pengukuran minat belajar beserta kuesionernya divalidasi. Hasil validasinya dapat diamati pada Lampiran 4. Selanjutnya, kuesioner ini direvisi. Kuesioner pengukuran minat belajar beserta pedoman penskorannya yang digunakan dalam penelitian ini dapat diamati pada Lampiran 5.

4. Pedoman Observasi

Karena penelitian ini berkenaan dengan perilaku manusia dan proses kerjanya —aktivitas siswa dan proses pembelajaran Fisika bergaya naratif—, maka data juga dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi (Sugiyono, 2013:145). Dalam prosesnya, peneliti menjadi observer partisipan karena peneliti terlibat dalam proses pembelajaran dan bertindak sebagai guru.

Dalam mengobservasi aktivitas siswa dan proses pembelajaran yang terjadi, peneliti tidak membuat pedoman observasi secara detail. Sugiyono (2013) menyebut teknik ini sebagai teknik observasi tidak terstruktur. Teknik ini digunakan karena peneliti tidak mengetahui secara pasti detail objek pengamatan. Oleh karenanya, peneliti hanya membuat rambu-rambu observasi.

Rambu-rambu ini dilakukan untuk mengobservasi proses implementasi model pembelajaran Fisika bergaya naratif yang direkam. Rambu-rambu observasi yang digunakan ialah sebagai berikut:

a) Partisipasi siswa dalam pembelajaran, b) Kegiatan inkuiri siswa,

c) Diskusi kelompok,

d) Kesesuain proses pembelajaran dengan RPP dalam skema model pembelajaran Fisika materi Hukum Kepler bergaya naratif,

e) Hambatan-hambatan dalam proses pembelajaran, f) Kondisi proses pembelajaran yang terjadi.

5. Daftar Pertanyaan Wawancara Tertulis

Untuk menghimpun data yang lebih lengkap seputar proses implementasi model pembelajaran ini, maka peneliti melakukan wawancara pada responden. Daftar pertanyaan wawancara disiapkan terlebih dahulu oleh peneliti. Sugiyono (2013) menyebut teknik ini sebagai teknik wawancara terstruktur.

Wawancara tatap muka dengan responden membutuhkan waktu cukup lama, apabila responden penelitiannya cukup banyak. Agar proses wawancara dapat terlaksana secara bersamaan, peneliti memilih untuk melakukan wawancara secara tertulis. Daftar pertanyaan wawancara sebagaimana dapat diamati pada Lampiran 6 ditulis di kertas, kemudian responden menuliskan pendapat mereka di kertas yang sama.

Tujuan pembuatan instrumen ini ialah untuk menghimpun data lebih lengkap terkait evaluasi implementasi model pembelajaran Fisika

bergaya naratif ini. Terdapat 5 informasi yang berusaha diungkap melalui instrumen ini. Informasi tersebut ialah kendala-kendala selama proses implementasi, sejauh mana model ini membantu subjek penelitian memahami Hukum Kepler, sejauh mana model ini meningkatkan minat responden untuk belajar Hukum Kepler, kriteria narasi yang menarik untuk dibaca dan dapat meningkatkan minat responden untuk belajar Hukum Kepler, serta kriteria narasi yang dapat membantu responden untuk belajar Hukum Kepler.