BAB 3. METODE PENELITIAN
3.6 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
3.6.2 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen adalah alat pada waktu peneliti menggunakan suatu metode atau teknik pengumpulan data (Arikunto, 2006). Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Alat pengukur panjang badan (infantometer) untuk mengukur panjang badan anak balita, dan alat pengukur tinggi badan (microtoise) untuk mengukur tinggi badan orang tua dan anak balita dengan ketelitian 0,1 cm. Berdasarkan ketentuan umum penggunaan standar antropometri WHO 2005 dalam Kemenkes RI (2011), ukuran panjang badan (PB) digunakan untuk anak umur 0-24 bulan yang diukur telentang. Bila anak umur 0-24 bulan diukur berdiri, maka hasil pengukurannya dikoreksi dengan menambahkan 0,7 cm (PB = TB + 0.7 cm). Sedangkan ukuran tinggi badan (TB) digunakan untuk anak umur ≥ 24 bulan yang diukur berdiri. Bila anak umur ≥ 24 bulan diukur telentang, maka hasil pengukurannya dikoreksi dengan mengurangkan 0,7 cm (TB = PB – 0.7 cm). Adapun prosedur pengukuran infantometer dan microtoise adalah sebagai berikut.
1) Prosedur pengukuran panjang badan
a) Letakkan pengukur panjang badan pada meja atau tempat yang rata. Bila tidak ada meja, alat dapat diletakkan di atas tempat yang datar (misalnya: lantai).
b) Letakkan alat ukur dengan posisi panel kepala di sebelah kiri dan panel penggeser di sebelah kanan pengukur. Panel kepala adalah bagian yang tidak bisa digeser.
c) Tarik geser bagian panel yang dapat digeser sampai diperkirakan cukup panjang untuk menaruh bayi/anak.
d) Baringkan bayi/anak dengan posisi terlentang, diantara kedua siku, dan kepala bayi/anak menempel pada bagian panel yang tidak dapat digeser.
e) Rapatkan kedua kaki dan tekan lutut bayi/anak sampai lurus dan menempel pada meja/tempat menaruh alat ukur. Tekan telapak kaki bayi/anak sampai membentuk siku, kemudian geser bagian panel
yang dapat digeser sampai tepat menempel pada telapak kaki bayi/anak.
f) Bacalah panjang badan bayi/anak pada skala kearah yang lebih besar. Misalkan : 67, 5 cm.
g) Setelah pengukuran selesai, kemudian bayi/anak diangkat. 2) Prosedur pengukuran tinggi badan, yakni (Riskesdas, 2007) :
a) Persiapan (Cara memasang microtoice)
(1) Gantungkan bandul benang untuk membantu memasang
microtoice di dinding agak tegak lurus.
(2) Letakkan alat pengukur di lantai yang datar tidak jauh dari bandul tersebut dan menempel pada dinding. Dinding janga ada lekukan atau tonjolan (rata).
(3) Tarik papan penggeser tegak lurus ke atas, sejajar dengan benang berbandul yang tergantung dan tarik sampai angka pada jendela baca menunjukkan angka 0 (nol). Kemudian dipaku atau dikerat dengan lakban pada bagian atas microtoice.
(4) Untuk menghindari terjadi perubahan posisi pita, beri lagi perekat pada posisi sekitar 10 cm dari bagian atas microtoice. b) Prosedur pengukuran tinggi badan
(1) Mintalah responden melepaskan alas kaki (sandal/sepatu), topi (penutup kepala).
(2) Pastikan alat geser berada diposisi atas dan menunjukkan angka nol.
(3) Responden diminta berdiri tegak tepat di bawah alat geser. (4) Posisi kepala dan bahu bagian belakang, lengan, pantat dan
tumit menempel pada dinding tempat microtoise dipasang. (5) Pandangan lurus ke depan dan tangan dalam posisi tergantung
bebas.
(6) Gerakkan alat geser berada sampai menyentuh bagian atas kepala responden. Pastikan alat geser berada tepat di tengah
kepala responden. Dalam keadaan ini bagian belakang alat geser harus tetap menempel pada dinding.
(7) Baca angka tinggi badan pada jendela kaca kearah angka yang lebih besar (kebawah). Pembacaan dilakukan tepat di depan angka (skala) pada garis merah, sejajar dengan mata petugas. (8) Apabila pengukur lebih rendah dari yang diukur, pengukur harus
berdiri di atas bangku agar hasil pembacaannya benar.
(9) Pencatatan dilakukan dengan ketelitian sampai satu angka dibelakang koma (0,1 cm). Contoh: 157,3 cm; 160,0 cm; 163,9 cm.
b. Kuesioner berfungsi sebagai alat pengumpul data yang digunakan untuk memperoleh data yang sesuai dengan tujuan penelitian (Notoatmodjo, 2010). Pertanyaan yang terdapat dala kuesioner cukup terperinci. Kuisoner dalam penelitian ini merupakan bentuk penjabaran dari hipotesis penelitian untuk mengetahui karakteristik balita, karakteristik keluarga dan pola asuh. Kuesioner yang digunakan merupakan kuesioner yang sudah di modifikasi dari kuesioner penelitian sebelumnya.
c. Angket merupakan kuesioner yang langsung diisi oleh responden sendiri yang berisi tentang pengetahuan gizi ibu.
d. Form food recall 2 X 24 hours, dan form food frequencyquestionnaires untuk
mengetahui konsumsi makanan meliputi tingkat keonsumsi dan pola makan yang dimodifikasi menurut jenis dan bahan makanan khas daerah setempat. Berikut ini langkah-langkah penggunaan metode recall 2x24 jam dan frekuensi makanan :
1) Metode Food Recall 2x24 jam
Langkah pelaksanaan recall 2x24 jam, sebagai berikut :
5) Petugas atau pewawancara menanyakan kembali dan mencatat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi responden dalam ukuran rumah tangga (URT) selama kurun waktu 24 jam yang lalu. Dalam membantu responden mengingat apa yang dimakan, perlu diberi penjelasan kegiatannya seperti waktu baru bangun, setelah
sembahyang, pulang dari sekolah, sesudah tidur siang dan sebagainya. Selain dari makan utama, makanan kecil atau jajan juga dicatat, termasuk makanan yang dimakan diluar rumah serta konsumsi tablet yang mengandung vitamin dan mineral.
6) Pewawancara melakukan konversi dari URT ke dalam ukuran berat (gram). Dalam menaksir/ memperkirakan ke dalam ukuran berat (gram) pewawancara menggunakan berbagai alat bantu seperti ukuran rumah tangga (piring, gelas, sendok, dan lain-lain) atau model dari makanan (foor model). Makanan yang dikonsumsi dapat dihitung dengan alat bantu ini atau dengan menimbang langsung contoh makanan yang dikonsumsi.
7) Menganalisis bahan makanan ke dalam zat gizi dengan menggunakan softwere Nutrisurvey dan TKPI (digunakan untuk mengkonversi nilai zat gizi bahan makanan yang tidak tercantum di dalam softwere Nutrisurvey).
8) Membandingkan dengan Daftar Kecukupan Gizi yang dianjurkan (DKGA) atau Angka Kecukupan Gizi (AKG) Bangsa Indonesia Tahun 2012.
9) Menghitung konsumsi gizi individu dengan cara menyesuaikan perbedaan berat badan ideal dalam AKG dengan berat badan aktual berdasarkan rumus.
Konsumsi Gizi Individu = x AKG
10) Menghitung tingkat konsumsi gizi dengan rumus sebagai berikut.
Tingkat Konsumsi Gizi = x 100%
11) Tingkat konsumsi gizi dinyatakan dalam persen. Klasifikasi tingkat konsumsi zat gizi makro menurut Depkes RI dengann modifikasi (Kusharto et al., 2014), yaitu: defisit tingkat berat jika < 70% AKG,
Berat badan aktual Berat badan standar
Rata-rata konsumsi zat gizi Konsumsi gizi individu
defisit tingkat sedang jika 70-79% AKG, defisit tingkat ringan jika 80-89% AKG, normal jika 90-120% AKG dan lebih jika >120% AKG. Sedangkan untuk tingkat konsumsi gizi mikro diklasifikasikan menjadi dua yaitu kurang jika < 77% AKG dan cukup jika ≥ 77% AKG (Gibson, 2005).
2) Metode Frekuensi Makanan (Food Frequency)
Langkah pelaksanaan Frekuensi Makanan (Food Frequency), sebagai berikut :
3) Responden diminta untuk memberi tanda pada daftar makanan yang tersedia pada Food Frequency Questionnaires mengenai frekuensi penggunaannya dan ukuran porsinya.
4) Lakukan rekapitulasi tentang frekuensi penggunaan jenis-jenis bahan makanan terutama bahan makanan yang merupakan sumber-sumber zat gizi tertentu selama periode tertentu pula.