HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Integrasi dan Koordinasi Penyuluh
Undang-undang Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Nomor 16 Tahun 2006 menegaskan bahwa pelaku penyuluhan adalah penyuluh pemerintah, penyuluh swasta dan penyuluh swadaya. Tenaga harian lepas (THL) termasuk penyuluh pemerintah, sedangkan tenaga pendamping (fasilitator) termasuk penyuluh swasta (dibayar oleh perusahaan swasta atau pengelola proyek pendampingan). Termasuk penyuluh pemerintah adalah penyuluh keluarga berencana (KB), penyuluh keagamaan (Depag), penyuluh koperasi dan usaha kecil menengah (KUKM) dan penyuluh kesehatan (Pukes). Sedangkan penyuluh swadaya meliputi tokoh tani (KTNA), asisten atau pekerja sosial (LSM atau lembaga advokasi), tokoh agama, partisipan sosial dan penggerak sosial. Pemberdayaan yang dilakukan oleh perguruan tinggi ada yang bersifat swadaya dan ada yang bekerjasama dengan pemerintah atau swasta (multistatus).
Idealnya, para pelaku penyuluhan dapat bekerjasama dan bekerja bersama dalam satu wilayah kerja yang sama dengan sentral koordinasi berada di BPP. Namun faktanya berbicara lain, para penyuluh berjalan sendiri-sendiri berdasarkan garis
intruksi dari masing-masing dinas atau sektor yang menaunginya. Ironisnya, para penyuluh yang bernaung dalam lembaga pemerintah justru jauh lebih sulit bekerjasama dibanding dengan penyuluh lainnya. Misalnya, penyuluh pertanian dengan penyuluh KUKM, penyuluh KB, penyuluh kesehatan dan penyuluh keagamaan. Meskipun mereka sama-sama berada di wilayah kerja kecamatan, namun koordinasi dan kolaborasinya sangat lemah. Padahal, dalam kerangka UU PPPK Nomor 16 Tahun 2006 ditegaskan bahwa agribisnis sebagai suatu sistem merupakan paradigma yang harus dijadikan dasar oleh semua pelaku penyuluhan dalam melaksanakan penyuluhan. Artinya, semua penyuluh yang bergerak dari hulu sampai hilir, dari on-farm sampai off- farm merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Hasil diskusi terfokus dan survey (Tabel 4.9) mengungkap bahwa integrasi dan koordinasi peran yang dilakukan oleh penyuluh pemerintah dan penyuluh swasta hanya kuat dan berjalan dengan penyuluh swadaya (kelompok tani). Sedangkan koordinasi dengan yang lainnya tidak berjalan, baik penyuluh pemerintah dengan penyuluh lainnya maupun penyuluh lainnya dengan penyuluh pemerintah. Koordinasi antar penyuluh pemerintah dengan penyuluh swasta (formulator) relatif lebih nampak meskipun sama-sama lemah kinerjanya. Hal ini terjadi karena para penyuluh swasta banyak melibatkan PPL pada tahap pengorganisasian petani, namun tidak dilibatkan dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Ironisnya, koordinasi antar penyuluh pemerintah (seperti penyuluh pertanian, penyuluh KB, penyuluh KUKM, penyuluh agama, penyuluh kesehatan) jauh lebih parah. Padahal, semuanya berada dalam koordinasi dan wilayah kerja yang sama.
Tebel 4.9 Integrasi dan Koordinasi Antara Penyuluh Pertanian (Baik Penyuluh Pemerintah, Penyuluh Swasta maupun Penyuluh Swadaya) di Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung Barat.
Derajat
Koordinasi Total
Persen Derajat
Koordinasi Total
No. Koordinasi Antar
Penyuluh 1 2 3 Res 1 2 3 Persen 1 Koordinasi dengan kelompok tani 24 0 7 31 77.42 0.00 22.58 100 2 Koordinasi dengan penyuluh KB 2 0 29 31 6.45 0.00 93.55 100 3 Koordinasi dengan formulator 11 0 20 31 35.48 0.00 64.52 100 4 Koordinasi dengan perguruan tinggi 3 0 28 31 9.68 0.00 90.32 100 5 Koordinasi dengan LSM
atau organisasi tani 0 0 31 31 0.00 0.00 100.00 100
Total 40 0 115 155 25.81 0.00 74.19 100
Keterangan: (1) Ada Koordinasi; (2) Kadang-kadang; dan (3) Tidak Ada; N = Narasumber
Koordinasi penyuluh pemerintah maupun yang lainnya dengan LSM atau organisasi tani tidak terjadi, hal ini disebabkan oleh dua alasan, yakni tidak adanya LSM atau organisasi tani di Kecamatan Cililin dan hingga kini LSM/organisasi tani
banyak tidak sejalan (bahkan terkesan alergi) bekerja sama dengan lembaga penyuluhan pemerintah maupun swasta. Rendahnya kinerja koordinasi antar pelaku penyuluhan ini sejatinya tidak perlu terjadi, apalagi di zaman yang serba bermedia seperti sekarang ini. Para penyuluh yang menggerakan SLPHT atau dalam mendistribusikan benih unggul dapat dengan mudah berkoordinasi dengan para pengurus kelompoktani dan pemerintah desa dengan hanya menggunakan telepon genggam.
Koordinasi dengan kelompok tani berjalan, karena setiap tahun diadakan satu sampai tiga kali pertemuan kelompok tani sekecamatan, bahkan bisa lebih jika ada program (seperti PUAP baru-baru ini). Koordinasi lain yang tergolong berjalan adalah yang dibangun oleh para penyuluh dengan pemerintahan desa dan pengelola air irigasi (ulu-ulu). Koordinasi internal penyuluh, baik dengan sesama PPL (pertemuan rutin) dilaksanakan dua kali sebulan. Sedangkan koordinasi dengan dinas terkait di tingkat kabupaten dilaksanakan satu sampai tiga kali per bulan. Pertemuan intensif dilakukan jika ada program, seperti program SLPHT, PNPM dan sebagainya. Sedangkan koordinasi penyuluh dengan kelembagaan pendukung, seperti pasar dan industri pengolahan belum berjalan sama sekali. Memang ada musyawarah perencanaan pembangunan desa (Musrenbangdes) di tingkat desa dan kecamatan yang memungkinkan semua pihak bertemu, namun ruang dialog otonom tersebut hanya mampu menjadi wadah bagi integrasi masukan-masukan, belum sampai pada efektivitas koordinasi dan kerjasama kelembagaan di lapangan.
Koordinasi dan kerjasama PPL Kecamatan Cililin dengan PPL daerah lain dilakukan dalam bentuk studi banding kecil-kecilan ke kecamatan lain di Kabupaten Bandung Barat atau Kabupaten Bandung. Komunikasi juga dijalin dengan penyuluh di kabupaten lain, baik di Jawa Barat maupun dengan luar Jawa Barat, dengan menggunakan SMS. Koordinasi dengan petani dan dengan PPL di wilayah kerja dan dengan wilayah kerja lain mengalami peningkatan jika berhadapan dengan permasalahan massal, seperti serangan hama penyakit parah, banjir dan kekeringan. Jika harga komoditas (terutama padi) mengalami penurunan yang tajam, maka koordinasi juga dilakukan dengan bandar atau tengkulak-tengkulak untuk mengetahui perkembangan harga. Persoalannya, karena para bandar atau tengkulak sibuk, mereka sulit untuk hadir dalam pertemuan atau rapat-rapat, baik di tingkat desa maupun kecamatan.
Secara umum, koordinasi antar penyuluh pemerintah, swasta dan swadaya masih menampilkan kinerja yang lemah. Belum adanya wadah atau ruan dialog otonom (seperti Badan Pelaksana Penyuluhan) di tingkat kabupaten merupakan salah satu penyebabnya. Adanya peningkatan intensitas koordinasi antar pelaku penyuluhan selama ini lebih didorong oleh adanya program (proyek) multi sektor, seperti PPK- IPM, PNPM dan PUAP. Sehingga koordinasi tersebut masih bersifat sementara atau semu. Hal serupa juga terjadi antara penyuluh pemerintah, baik penyuluh pertanian, perikanan, kehutanan, peternakan, KUKM, KB maupun keagamaan.
4.5 Faktor-Faktor yang Cenderung Mempengaruhi Koordinasi dan Integrasi