4 GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Fisik Daerah
5.3 Rantai, Margin Pemasaran dan Integrasi Pasar Komoditas Gambir di Kabupaten Limapuluh Kota
5.3.3 Integrasi Pasar
Integrasi pasar bertujuan untuk mengetahui keeratan hubungan antara pasar dengan pasar lain yang menjadi rujukan (yang mempengaruhinya), yang dilihat berdasarkan pergerakan harga yang berhubungan dengan dua pasar atau lebih. Model yang digunakan untuk menganalisisnya merujuk pada model yang dikembangkan oleh Ravallion (1986) dan Heytens (1986). Model didasarkan pada hubungan bedakala (lag) bersebaran autoregresive antara harga di tingkat petani dengan harga di pasar acuan yaitu harga di tingkat eksportir. Koefisien (1 + b1),
b2 dan (b3 - b1) dari hasil analisis diperoleh dengan menggunakan software SAS versi 9.1.3 dengan menginput data time series harga jual gambir di tingkat petani dan di tingkat eksportir (1994 sampai 2013). Rincian data yang digunakan dalam analisis integrasi pasar dapat dilihat pada Lampiran 7. Hasil analisis integrasi pasar tertera pada Tabel 12.
Tabel 12. Hasil dugaan parameter integrasi pasar komoditas gambir di Kabupaten Limapuluh Kota
Variabel bebas/ Peubah Parameter dugaan (Beta)
P_value
(Significance)
Bedakala harga gambir di tingkat petani (Pft-1) Selisih harga gambir di tingkat eksportir (DPe) Bedakala harga gambir di tingkat eksportir (Pet-1) F-hitung 0,9441 0,0538 0,096 37,40 0,0001 0,4464 0,9279 0,0001 Koefisien determinasi (R2) R2- adjusted IMC 0,8752 0,8518 9,83
Dari Tabel 12, dihasilkan persamaan regresi keterpaduan/integrasi pasar harga gambir di tingkat petani (Pft) dengan harga gambir di tingkat eksportir (Pet) sebagai berikut :
Pft = (1+b1)Pft-1+ b2(Pet - Pet-1)+ (b3 - b1)Pet-1 menjadi
Pft = 0,9441Pft-1+ 0,0538(Pet- Pet-1)+ 0,096Pet-1
Nilai koefisien sebesar 0,0538 pada persamaan regresi di atas menunjukkan nilai b2 yang merupakan nilai elastisitas transmisi harga yaitu seberapa jauh
perubahan harga di tingkat eksportir ditransmisikan ke tingkat petani. Semakin dekat nilai parameter b2 dengan 1, maka akan semakin baik keterpaduan pasar. Nilai dugaan parameter b2 dari hasil analisis diatas, berarti jika terjadi perubahan harga sebesar 10 satuan harga (rupiah) di tingkat eksportir, maka perubahan harga yang akan diteruskan sampai ke tingkat petani hanya sebesar 0,53 rupiah saja,
ceteris paribus. Hal ini mencerminkan tidak simetrisnya transmisi harga oleh pihak eksportir atau dengan perkataan lain, terjadinya perubahan harga di tingkat eksportir tidak ditransmisikan secara sempurna ke tingkat petani.
Hasil analisis juga memperlihatkan bahwa kontribusi harga pada periode sebelumnya, baik di tingkat petani maupun di tingkat eksportir, terhadap harga yang berlaku sekarang di tingkat petani memiliki nilai kurang dari satu. ini menunjukkan bahwa pengaruh harga yang berlaku di tingkat petani pada periode sebelumnya lebih besar terhadap pembentukan harga di tingkat petani yang berlaku saat ini, dibandingkan dengan pengaruh harga di tingkat eksportir pada periode sebelumnya. Pengaruh harga yang berlaku di tingkat petani pada periode sebelumnya terhadap pembentukan harga pasar di tingkat petani saat ini adalah sebesar 0,9441. Pengaruh perubahan harga yang berlaku di tingkat eksportir pada periode sebelumnya terhadap pembentukan harga di tingkat petani yang berlaku saat ini juga kurang dari satu, hanya saja pengaruhnya jauh lebih kecil yakni sebesar 0,0096. Hal ini mengindikasikan bahwa ada stok tertentu yang disimpan di gudang oleh pedagang sampai pada tingkatan jumlah tertentu sebelum gambir dijual lagi ke pedagang yang berada diatasnya sesuai dengan besarnya kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya.
Hasil analisis memperlihatkan nilai IMC pasar komoditas gambir tinggi yaitu 9,83, artinya pasar di tingkat petani dan eksportir belum terintegrasi dengan baik. Ini memperlihatkan bahwa integrasi pasar yang terjadi sangat lemah. Pasar dalam kondisi persaingan tidak sempurna dan sistem pemasaran gambir tidak efisien. Ini juga berarti dalam praktek penentuan harga komoditas gambir, perubahan harga hanya sedikit yang diteruskan oleh eksportir sampai ke tingkat petani. Perubahan harga pada tingkat eksportir tidak ditransmisikan secara sempurna kepada petani.
Implikasi lain dari besaran nilai IMC yaitu faktor yang menjadi penentu bagi pembentukan harga gambir yang berlaku saat ini di tingkat petani merupakan harga gambir yang berlaku pada periode sebelumnya pada tingkat petani. Kondisi ini sejalan dengan praktek pembentukan harga gambir di lokasi penelitian, dimana harga gambir saat ini biasanya mengacu pada harga gambir saat panen sebelumnya. Eksportir atau pedagang besar yang menentukan harga. Harga gambir relatif stagnan dari tahun ke tahun. Hal ini salah satunya diduga karena eksportir sudah mengadakan perjanjian/kontrak terlebih dahulu dengan pembeli atau importir dari luar negeri, maka harga yang ditentukan eksportir cenderung mengacu pada harga gambir sebelumnya dan akan tetap selama jumlah kontrak belum terpenuhi. Struktur pasar yang tidak bersaing sempurna dimana rantai
pemasaran gambir dikuasai oleh sedikit pedagang besar akan memungkinkan terjadinya praktek kolusi dalam penentuan harga dalam transaksi jual beli gambir.
Posisi tawar petani dalam pembentukan harga sangat lemah. Petani hanya bertindak sebagai penerima harga dari pedagang. Penyebab kondisi diatas adalah: (1) kondisi pasar gambir tidak bersaing, struktur yang terbentuk di pasar gambir Limapuluh Kota adalah pasar oligopsoni, dalam kondisi tersebut tidak akan ada harga terbaik bagi petani karena daya tawar petani sangat rendah dalam menghadapi pedagang, (2) kondisi fisik lokasi sentra produksi usahatani gambir yang banyak berada di daerah pedesaan yang relatif terpencil dan reltif terbatas infrastrukturnya sehingga terjadi kesenjangan informasi dan teknologi di tingkat petani, yang membuat eksportir bisa mengendalikan, menentukan dan menetapkan harga dalam transaksi jual beli gambir, (3) secara kelembagaan, petani di lokasi penelitian belum terorganisasi dengan baik, hanya 23,96 persen petani yang tergabung dalam kelompok tani dan semua responden tidak ada yang menjadi anggota koperasi, walaupun di Kecamatan Kapua IX sebagai lokasi penelitian memiliki koperasi khusus petani gambir. Kelompok tani yang ada pun aktifitasnya terbatas pada kegiatan arisan, sosial kemasyarakatan dan gotong royong di lahan anggota secara bergiliran, sehingga keberadaan kelompok tani menjadi tidak terberdayakan, petani tidak lebih dari individu (bukan kesatuan individu) pemasok bahan baku dari pedagang.
5.4 Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan