Saya …….., selaku Tenaga Pendamping Usaha pada Ditjen PDSPKP Kementerian Kelautan dan Perikanan, menyatakan sebagai berikut:
1. Melakukan pendampingan kepada pelaku usaha secara bersungguh – sungguh dan penuh tanggung jawab;
2. Berperan aktif dalam peningkatan kualitas pembinaan pelaku usaha. Baik yang dilakukan secara personal maupun bersama-sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan;
3. Mengikuti dengan aktif kegiatan-kegiatan pembinaan soft skill tenaga pendamping usaha yang dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan;
4. Menjaga nama baik pribadi dan institusi Dinas Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam melaksanakan tugas pendampingan;
5. Menaati ketentuan dan peraturan yang berlaku sesuai petunjuk teknis Tenaga Pendamping Usaha dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
6. Berperan secara proaktif dalam upaya pencegahan dan pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme serta tidak melibatkan diri dalam perbuatan tercela;
7. Tidak meminta atau menerima pemberian secara langsung atau tidak langsung berupa suap, hadiah, bantuan, atau bentuk lainnya ya ng tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
8. Bersikap transparan, jujur, obyektif, dan akuntabel dalam melaksanakan tugas;
9. Akan menyampaikan laporan atau pernyataan awal (disclosure) tentang adanya kepentingan pribadi yang dapat bertentangan dengan pelaksanaan tugas saya.
Bila saya melanggar hal-hal tersebut di atas, saya siap menghadapi konsekuensinya sesuai dengan Perjanjian Kontrak Kerja.
Menyaksikan,
Direktur Usaha dan Investasi
Catur Sarwanto
Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Direktorat Jenderal,
Berny A.Subki
LAMPIRAN III : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PENGUATAN DAYA SAING PRODUK KELAUTAN DAN PERIKANAN
NOMOR 1 TAHUN 2021
TENTANG PETUNJUK TEKNIS
PENDAMPINGAN USAHA KELAUTAN DAN PERIKANAN
PANDUAN PENILAIAN KELAYAKAN KREDIT
Dalam memutuskan pemberian pembiayaan, lembaga keuangan menggunakan metode yang dinamakan (penilaian) 5c yaitu: character, capacity, capital, condition of economy, dan collateral. Hasil penilaian lima faktor ini akan menentukan apakah calon debitur memang layak untuk mendapatkan pembiayaan. Berikut adalah penjelasan singkat masing-masing faktor:
a. Character
Character adalah penilaian terhadap karakteristik seseorang calon debitur dalam memenuhi kewajibannya (willingness to pay) baik pinjaman kredit maupun kewajiban finansial lainnya. Secara singkat, semakin baik sejarah pembayaran pinjamannya, maka semakin baik poin Character ini. Sebaliknya, jika di masa lalu pernah terjadi kredit macet, maupun masalah keuangan maka seseorang cenderung dinilai kurang layak untuk dibiayai. Beberapa metode untuk menilai Character antara lain:
a) Riwayat peminjaman
Riwayat kredit seseorang dapat dilihat pada Sistem Layanan Informasi Kredit OJK, namun saat ini hanya dilakukan perseorangan karena menyangkut informasi pribadi dan rahasia.
b) Reputasi dalam bisnis dan keuangan
Reputasi dalam menepati kesepakatan/perjanjian bisnis terhadap suplier, pelanggannya, dan lain-lain.
b. Capacity
Capacity didefinisikan sebagai kemampuan debitur dalam mengembalikan pinjaman. Kapasitas menjadi titik poin penting analisa kredit karena lembaga keuangan tidak akan memberikan pinjaman kepada pelaku usaha yang dinilai tidak dapat mengembalikannya. Kemampuan pengembalian pinjaman dapat dinilai antara lain dengan:
a) Melihat laporan keuangan yang menunjukan kondisi arus kas, laba/rugi, utang/piutang dan posisi neraca usaha terkini. Secara alamiah usaha yang telah memiliki laporan keuangan yang tersusun baik, akan dinilai lebih baik dibandingkan dengan usaha yang belum.
b) Survei ke lokasi usaha untuk mengamati secara langsung kondisi usaha terkini.
Dua alat ukur yang umum digunakan adalah Debt to Income Ratio (DTI) dan Repayment Capacity Ratio (RPC). DTI adalah perbandingan antara hutang yang dimiliki dengan pemasukan. Nilai rasio DTI dinyatakan dalam persentase (%) hutang terhadap penghasilan. Semakin kecil nilai DTI menunjukan pemasukan yang semakin besar dibandingkan dengan hutang. DTI dihitung dengan metode sebagai berikut:
keterangan:
1. total hutang termasuk kredit konsumsi (rumah, otomotif, elektronik dan lainnya)
2. pendapatan bulanan adalah total pendapatan sebelum dikurangi biaya-biaya
Umumnya lembaga keuangan memiliki tingkat rasio DTI yang berbeda-beda. Namun investopedia menyatakan bahwa batas aman rasio DTI adalah sebesar 36%. Calon debitur yang memiliki nilai rasio DTI diatas nilai ini tidak disarankan untuk diberikan pembiayaan.
RPC adalah tingkat/nilai kemampuan bayar nasabah untuk memenuhi kewajibannya kepada bank yang bersumber dari pendapatan (gaji atau laba) setelah dikurangi kewajiban kewajiban lainnya. RPC menunjukan nilai maksimal cicilan yang mampu dibayarkan oleh seorang calon debitur. RPC dihitung dengan metode sebagai berikut :
keterangan:
1. Total pemasukan dihitung dari seluruh pendapatan tetap dan pendapatan tambahan.
2. Biaya usaha adalah seluruh biaya yang terkait jalanna usaha.
3. Biaya non Usaha adalah seluruh biaya diluar usaha seperti biaya rumah tangga, pendidikan, angsuran, komunikasi dan lainnya.
4. X % total pemasukan adalah kebijakan lembaga keuangan tentang porsi maksimal pembayaran pinjaman terhadap pemasukan bersih. Nilai persentase ini berbeda-beda pada tiap lembaga keuangan.
c. Capital
Capital adalah cerminan komposisi modal sendiri dibandingkan dengan modal pinjaman untuk mendanai kegiatan usaha. Lembaga keuangan lebih cenderung membiayai pelaku usaha yang selain meminjam pembiayaan juga menggunakan modal sendiri. Pelaku usaha yang juga menggunakan uang pribadinya cenderung akan lebih bertanggung jawab terhadap kelangsung usaha dan kewajiban pinjamannya. Capital juga berguna untuk menalangi kewajiban pinjaman ketika terjadi ketidak lancaran cicilan. Capital untuk pinjaman usaha terdiri investasi modal sendiri, laba ditahan, dan aset-aset lain yang dimiliki oleh pelaku usaha. Kondisi capital ini dapat dilihat pada laporan keuangan usaha.
d. Condition of Economy
Penilaian dalam pemberian pembiayaan juga memperhatikan kondisi ekonomi secara umum dan sektor usaha si calon debitur. Penilaian dilakukan untuk mengetahui pengaruh langsung dari trend ekonomi terhadap kinerja perusahaan dan kewajiban kredit. Beberapa Kondisi ekonomi yang perlu disoroti mencakup hal-hal berikut:
1. Kebijakan pemerintah
2. Kondisi pasar dan perubahan pola belanja masyarakat 3. Bentuk persaingan
4. Peranan barang substituti 5. Teknis produksi
6. Perkembangan teknologi 7. Tersedianya bahan baku
e. Collateral
Merupakan agunan yang diberikan pihak nasabah kepada bank. Agunan merupakan sumber dana kedua jika terjadi gagal bayar. Dalam hal nasabah tidak dapat membayar angsurannya, maka bank dapat melakukan pelelangan terhadap agunannya. Bank tidak akan memberikan pembiayaan melebihi dari nilai agunan, kecuali untuk pembiayaan tertentu yang dijamin pembayarannya oleh pihak tertentu. Secara perinci, pertimbangan atas agunan dikenal dengan MAST:
a) Marketability, Agunan yang diterima haruslah agunan yang mudah diperjual belikan dengan harga menarik dan meningkat dari waktu ke waktu.
b) Ascertainability of value, Agunan yang diterima memiliki standar harga yang lebih pasti.
c) Stability of value, Agunan memiliki harga yang stabil. Ketika agunan dijual maka hasil penjualan bisa menggantikan kewajiban nasabah.
d) Transfertabiliity, Agunan mudah di serahtangankan
DIREKTUR JENDERAL PENGUATAN
DAYA SAING PRODUK KELAUTAN
DAN PERIKANAN
Ttd.
ARTATI WIDIARTI Salinan sesuai dengan aslinya
Sekretaris Direktorat Jenderal,
Berny A.Subki