• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.4 Intellectual Capital

2.1.4.1 Definisi Intellectual Capital

Istilah Intellectual Capital pertama kali dikemukakan oleh John Kenneth Galbraith yang menuliskan surat yang ditujukan kepada teman sejawatnya, Michal Kalecki pada tahun 1969. Dalam tulisannya,

Galbraith mengemukakan berikut ini : “I wonder if you realize how much those of us the world around have owed to the Intellectual Capital you have provided over these last decades” (Bontis, 2000).

Definisi Intellectual Capital yang ditemukan dalam beberapa literatur cukup kompleks dan beragam. Istilah Intellectual Capital diperkenalkan oleh Thomas A. Stewart dengan tulisannya yang

diterbitkan pada Juni 1991 berjudul ”Brain Power – How Intellectual

Capital is Becoming America’s Most Valuable Asset”, yang

mengantarkan Intelletual Capital kepada agenda manajemen. Stewart mendefinisikan Intellectual Capital sebagai bahan baku intelektual seperti pengetahuan, informasi, properti intelektual, dan pengalaman yang bersama-sama digunakan untuk menciptakan kesejahteraan dalam perusahaan.

Brooking (1996) menawarkan definisi yang lebih komprehensif dengan menyatakan bahwa Intellectual Capital adalah istilah yang diberikan untuk mengkombinasikan intangible asset dari pasar, properti intelektual, infrasruktur dan pusat manusia yang menjadikan suatu perusahaan menjadi berfungsi. Roos et al. (1997) menyatakan bahwa

IC includes all the processes and the assets which are not normally shown on the balance-sheet and all the intangible assets (trademark, patent, and brands) which modern accounting methods consider…

Sedangkan Bontis (1998) mengakui bahwa IC bersifat eksklusif, tetapi sekali ditemukan dan dieksploitasi akan memberikan organisasi basis sumber baru untuk berkompetisi dan menang (Ulum, 2009).

Lebih lanjut, Edvinsson dan Malone (1997) mengidentifikasikan Intellectual Capital sebagai nilai yang tersembunyi (hidden value) dari bisnis. Mereka menyebutkan bahwa IC adalah suatu jenis kontrol atas pengetahuan, pengalaman yang bersifat empiris, teknik organisasi, hubungan dengan pelanggan, dan keahlian pfrofesional.

Hingga saat ini belum ada definisi Intellectual Capital secara pasti. Namun, secara garis besar, Intellectual Capital dapat diartikan sebagai aset yang tidak berwujud dan merupakan sumber daya berisi pengetahuan, yang dapat mempengaruhi kinerja suatu perusahaan baik dalam pembuatan keputusan saat ini maupun manfaat masa depan, Perbandingan konsep Intellectual Capital menurut beberapa peneliti dapat dilihat pada tabel 2.1.

Tabel 2.1

Perbandingan Konsep Intellectual Capital Menurut Beberapa Peneliti

Brooking (UK) Roos (UK) Stewart (USA) Bontis (Kanada) Human-centered

assets

Skills, abilities and expertise, Problem solving abilities and leadership styles Human Capital Competence, attitude, and intellectual agility Human Capital Employees are an organization‟s most important asset Human Capital The individu level knowledge that each employee possesses Infrastructure assets All the technologies, process and methodologies that enable company to function Organisational capital All organizational, innovation, processes, intellectual property, and cultural assets Structural capital Knowledge embedded in information technology Structural capital Non-human assets or organizational capabilities used to meet market requirements Intellectual property Know-how, trademarks and patents Renewal and development capital

New patents and training efforts

Structural capital

All patents, plans and trademarks

Intellectual property

Unlike, IC, IP is a protected asset and has a legal definition Market assets Brands, customers, customer loyalty and distribution channels Relational capital Relationship which include internal and external stakeholders Customer Capital Market information used to capture and retain customers Relational capital Customer capital is only one feature of the knowledge embedded in organizational relationships Sumber: Bontis et al. (2000) dalam Ulum (2009)

Selama ini, terdapat ketidakjelasan dalam membedakan antara Intellectual Capital, intangible assets, dan kekayaan intelektual

(intellectual property). Intangible assets telah dirujuk sebagai goodwill (ASB, 1997; IASB, 2004), dan Intellectual Capital adalah bagian dari goodwill. Kekayaan intelektual dapat didefinisikan sebagai aset tidak berwujud, seperti hak paten, merek dagang dan hak cipta, yang dapat dimasukkan dalam laporan keuangan tradisional. Dewasa ini, sejumlah skema telah berusaha mengidentifikasi perbedaan tersebut dengan secara spesifik memisahkan Intellectual Capital ke dalam kategori External (customer related) capital, internal (structural) capital, dan human capital (Brennan dan Connell, 2000; Edvinsson dan Malone, 1997).Mengukur kekayaan intelektual adalah penting karena sebuah organisasi mengetahui apa yang dimiliki tetapi tidak mengetahui proses yang diperlukan untuk mencapainya. Intellectual Capital dapat dikatakan sebagai hasil dari proses transformasi ilmu pengetahuan atau ilmu pengetahuan yang bertransformasi menjadi kekayaan intelektual (Ting dan Lean, 2009).

Banyak praktisi yang menyatakan bahwa Intellectual Capital terdiri dari tiga elemen utama (Stewart 1998; Sveiby 1997; Bontis 2000) yaitu :

1. Human Capital

Human capital merupakan kombinasi dari pengetahuan, keahlian (skill), kemampuan melakukan inovasi, dan kemampuan menyelesaikan tugas, meliputi nilai perusahaan, kultur dan filsafatnya (Bontis, 2000). Human capital berhubungan dengan keahlian, bakat dan

sikap karyawan yang dilaporkan secara luas. Chen et al. (2005) lebih jauh menyatakan bahwa Human capital berhubungan dengan pengetahuan dan keahlian yang ada dalam pikiran karyawan, dan apabila perusahaan tidak dapat memanfaatkan karyawan tersebut, pengetahuan dan keahlian karyawan tersebut akan terbuang sia-sia dan tidak dapat diterjemahkan menjadi suatu nilai bagi perusahaan.

Sawarjuwono dan Kadir (2003) menyatakan bahwa human capital adalah lifeblood dalam modal intelektual. human capital mencerminkan kemampuan kolektif perusahaan untuk menghasilkan solusi terbaik berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh orang-orang yang ada dalam perusahaan tersebut. Human capital akan meningkat jika perusahaan mampu menggunakan pengetahuan yang dimiliki oleh karyawannya. Brinker (dalam Sawarjuwono dan Kadir, 2003) memberikan beberapa karakteristik dasar yang dapat diukur dalam modal ini, yaitu training programmes, credential, experience, competence, recruitment, mentoring, learning progamme, individual potential, and personality.

Stewart (1997) mengartikan human capital sebagai manusia itu sendiri yang secara personal dipinjamkan kepada perusahaan dengan kapabilitas individunya, komitmen, pengetahuan, dan pengalaman pribadi. Walaupun tidak semata-mata dilihat dari individual tapi juga sebagai tim kerja yang memiliki hubungan pribadi baik di dalam maupun luar perusahaan.

Human capital penting karena merupakan sumber inovasi dan pembaharuan strategi yang dapat diperoleh dari brainstorming melalui riset laboratorium, impian manajemen, process reengineering, dan perbaikan atau pengembangan keterampilan pekerja. Selain itu, Human capital memberikan nilai tambah dalam perusahaan setiap hari, melalui motivasi, komitmen, kompetensi serta efektivitas kerja tim. Nilai tambah yang dapat diatribusikan oleh pegawai berupa pengembangan kompetensi yang dimiliki oleh perusahaan, pemindahan pengetahuan dari pegawai ke perusahaan serta perubahan budaya manajemen (Mayo, 2000).

Dokumen terkait