TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP COMPONENT
C. Intellectual Stimulation
Perilaku Intellectual Stimulation adalah perilaku kepemimpinan transformasional yang berupa upaya meningkatkan kesadaran para pengikut terhadap masalah diri dan organisasi dan mempengaruhi untuk memandang masalah tersebut dari perspektif yang baru untuk mencapai sasaran organisasi, meningkatkan intelegensia, rasionalitas, dan pemecahan masalah secara seksama, penggunaaan imajinasi dipadu dengan intuisi namun di kawal oleh logika dimanfaatkan oleh pemimpin ini dalam mengajak pengikurnya untuk berkreasi, risau dengan satatusquo, menentang tradisi uang, mempertanyakan asumsi dan kepercayaan lama yang tidak baik. Sebagaimana dituliskan:
Menggunakan kemampuan intelektualnya secara cerdas dalam proses pengambilan keputusan, Mereka memiliki kemampuan untuk menangani masalah yang komplek, sulit, tidak menentu dan membingungkan, Mereka selalu belajar sepanjang hidupnya336
Tugas menstimulasi intektualitas karyawan sangatlah diperlukan, apalagi saat psikologi sosial organisasi secara intelektual tidak mengarah kepada perkembangan dan perbaikan.
Mereka membutuhkan dukungan untuk membantu mereka mengatasi masalah. Dorongan untuk mencoba sistem baru merupakan hal penting selain dukungan teknis untuk membantu memecahkan masalah337
Kutipan diatas menunjukkan bahwa pemimpin transformasional sangat menginginkan karyawannya hebat seperti dirinya bahkan melebihi dirinya. Dia melakukan dorongan, stimulai kepada mereka agar menggunakan seluruh kemampuannya untuk menjadi lebih, kreatif, mandiri dalam berfikir dan bekerja. Pemimpin transformasional sangatlah populer karena ia selalu ingin menciptakan banyak pemimpin dari karyawannya.
Dalam hal intelektual stimulation dapat diawali dengan mempertanyakan statusquo, statusquo berupa kondisi diam, tidak bergerak, tidak berkembang dan akan mengalami kerusakan, pemimpin transformasional mempunyai besarnya inisiatif untuk merubahnya.
... Pemimpin transformasional sangat menyadari bahwa kondisi ini tidaklah kondusif bagi perbaikan. Ia menentang statusquo itu agar bergerak, berubah menuju visi-misi yang telah dirancang sebelumnya.338
336
Wuradji, hal. 52-53 337
Uyung Sulaksana, Manajemen Perubahan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hal. 105 338
Dalam menentang statusquo pemimpin harus memiliki kekuatan yang besar agar mampu memberikan daya dorong perubahan yang lebih besar pula. Teniknisnya ia dapat menunjukkan manfaat-manfaat perubahan, mendramatisir ketidaknyamanan, menggalang orang untuk mengikutinya dalam menciptakan perubahan dan setrusnya.
Perilaku lainnya adalah para pemimpin transformasional mengajak karyawannya berimajinasi dan bermimpi. Dia menggunakan kata-kata refleksi untuk merangsang karyawan untuk berfikir kembali kemudian berimajinasi “bagaimana saat kita mengawali karir?, bagaimana kalau?” dan seterusnya. Borobudur dibangun terlebih dahulu melalui mimpi dan imajinasi, disana ada kekuatan intuisi yang tidak terbatas seperti pikiran akal.
Visi yang menantang, menarik, pemecahan masalah yang kreatif, produk baru yang yang inovatif, metode kerja yang parkatis, dan terobosan lainnya, seringkali didapat bukan karena berfikir saja... ia seolah-olah muncul ada begitu saja, seperti dunia luar kita. Inilah kekuatan intuisi. Pemimpin transformasional amat mendorong penggunaan intuisi dari karyawannya, tentu saja masih dibarengi dengan pemikiran yang logis.339
Terwujudnya karyawan yang dapat memandang masalah diri dan organisasi dari persepektif yang baru tentu akan dapat terwujud apabila pemimpin dapat memberikan arahan-arahan terhadap imajinasi mereka, mendorong penggunaan intuisiyang dipandu dengan logika dan seterusnya dari segala hal yang dapat menstimulasi intelektualitas mereka.
Pemimpin transformasional mendorong karyawan maupun dirinya untuk memadukan kedua tipe itu (analitis dan intuisi), namun ia harus menitikberatkan pada kemampuan intuitifnya. Berbeda dengan pemimpin yang reaktif dimana ia menganalisis, menganalisis dan menganalisis, seorang pemimpin transformasional juga mendengarkan intuisinya.340
Pada umunya pemimpin hanya melakukan analisis-analisisnya untuk merencanakan sesuatu, padahal kemampuan manusia yang diberikan Tuhan tidak hanya “analisis” tetapi juga ada “intuisi” atau imajinasi. Bahasa lainnya adalah tidak terlalu berfikir prosedural dengan aturan-aturan logis sebagaimana umumnya.
339
Dwi Suryanto, hal. 154 340
Pemimpin transformasional mendorong karyawan maupun dirinya untuk memadukan kedua tipe keahlian itu, namun ia harus menitik beratkan pada kemampuan intuitifnya. Berbeda dengan pemimpin yang reaktif dimana ia hanya menganalisis, seorang pemimpin transformasional akan mendengarkan pula intusinya.341
Intelektual stimulation dapat berupa mengajak karyawanya untuk
melihat persoalan dari perspektif yang baru, lebih segar, lebih tepat dan lebih baik. Perilaku semacam ini harus selalu dilakukan agar tercipta budayanya, dari sinilah energi positif akan lahir dan penyegaran bekerja akan muncul.
Pemimpin transformasional harus bisa mengajak orang-orangnya melihat perspektif baru. Demikian pentingnya perspektif ini sehingga dijadikan pelajaran dasar dari negoisasi.... tanpa kita sadar kita hanya melihat dari sisi kita, seharusnya kita juga melihat dari sisi lawan kita, kita kembangkan perspektif kita dengan melihat sebagai orang ketiga yang sedang mengamati... dengan mengubah perspektif banyak informasi yang kita dapat.342
Memakai simbol-simbol inovasi juga merupakan perilaku pemimpin transformasional. Pemimpin harus bisa menciptakan budaya seperti ini, sebagai contoh pasnglah di depan kantor umum sebuah sepanduk yang bertuliskan tentang program-program kerja baru yang akan di kerjakan, atau penelitian-penelitian baru yang akan di lakukan. Hal yang simbolik semacam ini akan memberikan energi positif pada karyawan untuk selalu berinovasi.
Demikian juga dengan selalu mempertanyakan asumsi lama, ini juga menjadi perilaku kepemimpinan transformasional. Hal semacam ini dapat berupa mempertanyakan asumsi lama yang melekat pada diri karyawan atau organisasi, misalnya ada asumsi-asumsi lama yang tidak baik yang menjadi kultur. Pemimpin transformasional memertanyakan itu semua kemudian mengajak untuk merubah atau menggantinya dengan yang baru dan lebih baik.
...pemimpin transformasional harus berani dengan kritis mempertanyakan asumsi-asumsi yang salah.. Pemimpin transformasional harus berani menentang asumsi-asumsi yang selama ini dianggap benar oleh karyawan... Pemimpin transforamsional harus bisa memilih metode pembaruan yang
341
Dwi Suryanto, hal. 159 342
paling valid.. Pemimpin transformasional harus mampu mengajak karyawan menemukan metode baru yang lebih efektif...Tugas pemimpin transformasional adalah melihat asumsi-asumsi itu dengan jeli dan mengujinya apakah masih efektif atau tidak343
Disisi lainnya adalah mempertanyakan manfaat tradisi usang juga merupakan hal yang harus dilakukan oleh pemimpin transformasional. Memang tantangan besar namun jika keseluruhan pemimpin disebuah lembaga sudah memahami dan mempraktekkan perilaku transformasional maka akan ada kekuatan yang besar yang siap mengubah.
Organisasi yang baik adalah oragnisasi yang dijalankan oleh orang-orang yang berfikir jernih, membahas dan mempertanyakan berbagai kepercayaan yang ada pada organisasi. Pemimpin yang transformasional harus membantu orang-orang agar percaya, mereka dapat efektif, tujuan-tujuan mereka dapat tercapai, dan masa depan yang lebih baik dapat mereka tujua melalui upaya-upaya mereka sendiri. Hal tersebut bisa dilakukan dengan selalu mempertanyakan kepercayaan lama yang melekat pada diri karyawan dan organisasi.