BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Mekanisme Interaksi Obat
2.4.2 Interaksi farmakodinamik
Interaksi yang terjadi antara obat yang memiliki efek farmakologis, antagonis atau efek samping yang hampir sama. Interaksi ini dapat terjadi karena kompetisi pada reseptor atau terjadi antara obat-obat yang bekerja pada sistem fisiologis yang sama. Interaksi ini biasanya dapat diprediksi dari pengetahuan tentang farmakologi obat-obat yang berinteraksi (Martin, 2009).
a. Interaksi aditif atau sinergis
Jika dua obat yang memiliki efek farmakologis yang sama diberikan bersamaan efeknya bisa bersifat aditif. Sebagai contoh, alkohol menekan susunan saraf pusat, jika diberikan bersama dengan obat (misalnya ansiolitik, hipnotik, dan lain-lain), dapat menyebabkan mengantuk berlebihan (Stockley, 2008).
b. Interaksi antagonis atau berlawanan
Berbeda dengan interaksi aditif, ada beberapa pasang obat dengan kegiatan
yang bertentangan satu sama lain. Misalnya kumarin dapat memperpanjang
19
waktu pembekuan darah yang secara kompetitif menghambat efek vitamin K.
Jika asupan vitamin K bertambah, efek dari antikoagulan oral dihambat dan waktu protrombin dapat kembali normal, sehingga menggagalkan manfaat terapi pengobatan antikoagulan (Stockley, 2008).
2.5 Perubahan pada usia lanjut yang berkaitan dengan penggunaan obat Pasien usia lanjut memerlukan pelayanan farmasi yang berbeda dari pasien usia muda akibat penyakit yang beragam dan kerumitan rejimen pengobatan adalah hal yang sering terjadi pada pasien usia lanjut. Proses menua dapat mempengaruhi farmakokinetik dan farmakodinamik obat, sehingga berpotensi interaksi.
2.5.1 Interaksi farmakokinetik obat
Proses penuaan menyebabkan menurunnya fungsi organ, baik akibat proses degenerasi yang secara alamiah akan dialami oleh setiap orang, maupun akibat penyakit yang diderita sebelumnya (Donatus,1999; Granfinkel, 2007).
Absorpsi suatu obat pada usia lanjut dapat berubah disebabkan adanya
perubahan fisiologis pada usia lanjut, seperti menurunnya sekresi asam lambung
(25 –35%), aliran darah ke saluran cerna, produksi tripsin pankreatik, gerakan
saluran cerna atau waktu pengosongan lambung dan jumlah sel pengabsopsi. Obat
yang digunakan secara oral biasanya diserap dari saluran cerna ke dalam sistem
sirkulasi. Keadaan yang dapat mempengaruhi absorpsi obat pada usia lanjut antara
lain perubahan kebiasaan makan, tingginya konsumsi obat-obatan non resep
(misalnya antasida, laksansia) dan menurunnya kecepatan pengosongan lambung
(Donatus, 1999; Granfinkel, 2007).
20
Sesuai dengan pertambahan usia maka terjadi perubahan komposisi tubuh.
Komposisi tubuh manusia sebagian besar dapat digolongkan pada komposisi cairan tubuh dan lemak. Pada bayi, komposisi terbesar adalah cairan tubuh dan setelah dewasa diganti dengan massa otot. Setelah dewasa sampai usia lebih tua jumlah air tubuh akan berkurang dan massa otot pun menurun. Pada usia lanjut akan terjadi peningkatan lemak tubuh. Persentasi lemak pada usia dewasa sekitar 8-20% (laki-laki) dan 33% pada perempuan dan pada usia lanjut meningkat 33%
pada laki-laki dan 40-50% pada perempuan. Keadaan tersebut akan mempengaruhi distribusi obat plasma, dimana distribusi obat larut lemak akan meningkat dan distribusi obat larut air akan menurun (Darmansjah, 1994).
Penurunan fungsi hati tidak sebesar penurunan fungsi ginjal karena hati memiliki kapasitas yang lebih besar. First – pass effect dan pengikatan protein berpengaruh penting secara farmakokinetik. Obat yang diberikan secara oral diserap oleh usus dan sebagian besar melalui vena porta dan langsung masuk ke hati sebelum melalui sirkulasi darah umum. Hati akan melakukan metabolisme obat yang disebut first pass effect dan mekanisme ini dapat mengurangi kadar plasma obat hingga 30% atau lebih. Obat yang diberikan secara intravena tidak akan melalui hati lebih dahulu tetapi langsung masuk ke sirkulasi darah umum.
Pengikatan protein juga dapat menimbulkan efek samping serius dimana obat
yang terikat banyak dengan protein dapat digeser oleh obat lain yang berkompetisi
untuk ikatan dengan protein seperti aspirin, sehingga kadar aktif obat pertama
menjadi tinggi dalam darah dan menimbulkan efek samping. Walfarin misalnya,
diikat oleh protein (albumin) sebanyak 99% dan hanya 1% merupakan bagian
yang bebas dan aktif. Bila kemudian diberi aspirin yang 80-90% diikat oleh
21
protein, aspirin menggeser ikatan walfarin dengan protein sehingga kadar walfarin bebas menjadi naik yang akhirnya menimbulkan efek samping pendarahan spontan. Aspirin sebagai antiplatelet juga akan menambah intesitas pendarahan.
Banyaknya obat geser-menggeser dalam proses protein-binding bila beberapa obat diberikan bersamaan. Sebagian mungkin tidak berpengaruh secara klinis, tetapi untuk obat yang batas keamanannya sempit dapat membahayakan penderita (Darmansjah, 1994).
Perubahan paling berarti pada usia lanjut ialah menurunnya fungsi ginjal ditandai dengan menurunnya Glomerulus Filtration Rate (GFR) dan creatinine
clearance walaupun tidak terdapat penyakit ginjal atau kadar creatininnya normal.Hal ini menyebabkan ekskresi obat sering berkurang yang mengakibatkan bertambah lamanya kerja obat. Obat yang mempunyai waktu paruh panjang perlu diberikan dalam dosis lebih kecil bila efek sampingnya berbahaya. Pemberian obat pada pasien usia lanjut tanpa memperhitungkan fungsi ginjal sebagai organ yang akan mengekskresikan obat akan berdampak pada kemungkinan terjadinya akumulasi obat sehingga menimbulkan efek toksik (Anonim, 2012).
2.5.2 Interaksi farmakodinamik obat
Interaksi farmakodinamik pada usia lanjut dapat menyebabkan perubahan
obat pada reseptor dan organ target, sehingga sensitivitas terhadap efek obat
menjadi lain. Ini menyebabkan dosis mungkin harus disesuaikan dan sering harus
dikurangi. Misalnya opioid dan benzodiazepin menimbulkan efek yang sangat
nyata terhadap susunan saraf pusat. Benzodiazepin dalam dosis normal dapat
menimbulkan rasa ngantuk dan tidur berkepanjangan. Antihistamin sedatif seperti
22
klorfeniramin (CTM) juga perlu diberi dosis lebih kecil (tablet 4 mg memang terlalu besar) pada lansia.
Mekanisme terhadap baroreseptor biasanya kurang sempurna pada usia lanjut, sehingga obat antihipertensi seperti prazosin, suatu α1 adrenergic blocker, dapat menimbulkan hipotensi ortostatik; antihipertensi lain, diuretik furosemide dan antidepresan trisiklik dapat juga menyebabkannya (Darmansjah, 1994)
2.6 Penyakit Metabolik
Berdasarkan The National Cholesterol Education Program Third Adult
Treatment Panel (NCEP-ATP III), sindrom metabolik adalah seseorang denganmemiliki sedikitnya 3 dari kriteria berikut, a. obesitas abdominal (lingkar pinggang > 88 cm untuk wanita dan untuk pria > 102 cm); b. peningkatan kadar trigliserida darah (≥150 mg/dL, atau ≥1,69 mmol/ L); c. penurunan kadar kolesterol HDL (< 40 mg/dL atau < 1,03 mmol/ L pada pria dan pada wanita <50 mg/dL atau <1,29 mmol/ L); d.. peningkatan tekanan darah (tekanan darah sistolik
≥130 mmHg, tekanan darah diastolik ≥85 mmHg atau sedang menggunakan obat
antihipertensi); e. peningkatan glukosa darah puasa (kadar glukosa puasa ≥110
mg/dL, atau ≥6,10 mmol/ L atau sedang memakai obat anti diabetes) (Adult
Treatment Panel III, 2001). Selain kriteria berdasarkan NCEP-ATP III diatas
masih ada beberapa kriteria untuk definisi penyakit metabolik antara lain; kriteria
World Health Organization (WHO), kriteria International Diabetes Federation(IDF), The American Heart Association/National Heart, Lung, and Blood Institute
(AHA/NHLBI), saat ini kriteria NCEP-ATP III telah banyak diterima secara luas
(Mittal, 2008).
23
Penyakit metabolik merupakan kondisi yang diakibatkan kelainan metabolik yang meliputi:
a. Obesitas sentral
Obesitas sentral terjadi karena berkurangnya aktivitas fisik dan perubahan pola makan. Peningkatan jumlah lemak yang disimpan dalam rongga perut obesitas central sering terdeteksi dengan mengukur lingkar perut dan membandingkannya dengan lingkar pinggul. Juga disebut obesitas intra-abdomen atau mendalam. Besar lingkar pinggang pada remaja berkaitan erat dengan kemungkinan menderita penyakit diabetes melitus tipe 2 dan penyakit komplikasi penyakit metabolik (hipertensi, kolesterol tinggi, serangan jantung, stroke, kerusakan hati, dan ginjal) (Widdy, 2011).
b. Dislipidemia aterogenik
Dislipidemia aterogenik terjadi apabila kadar trigliserida meningkat dan kadar kolestrol HDL rendah. Trigliserida merupakan bentuk asam lemak cadangan utama dan merupakan ester dari alkohol gliserol dengan asam lemak. Lemak disimpan di dalam tubuh dalam bentuk trigliserida. Apabila sel membutuhkan energi, enzim lipase dalam sel lemak akan memecah trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak serta melepasnya ke dalam pembuluh darah. HDL atau α-lipoprotein membantu menghilangkan timbunan lemak dalam pembuluh darah. Semakin tinggi kadar HDL dalam darah, semakin baik untuk jantung.
Kadar kolesterol HDL yang rendah dapat meningkatkan risiko terjadinya
serangan jantung hingga strok (Widdy, 2011).
24 c. Tekanan darah tinggi (Hipertensi)
Tekanan darah adalah tekanan yang membantu mengalirankan darah disepanjang pembuluh darah. Tekanan darah tinggi adalah kondisi ketika tekanan darah di arteri terlalu tinggi. Tekanan darah tinggi akan merusak pembuluh darah. Jika tekanan darah tinggi berlangsung dalam jangka waktu lama, pembuluh darah akan menebal, dan kurang fleksibel. Hal ini disebut dengan arterosklerosis, dan dapat mempengaruhi arteri yang memberikan darah ke jantung (Widdy, 2011).
d. Resistensi insulin
Resistensi insulin adalah suatu keadaan dimana ambilan glukosa yang distimulasi oleh insulin pada berbagai jaringan seperti liver, jaringan lemak, otot skeletal berkurang (tidak dapat menggunakan insulin secara efisien) sehingga mengakibatkan kadar glukosa dalam darah meningkat. Kadar glukosa yang tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan disfungsi endotel dan akhirnya dapat mempercepat proses aterosklerotik (Merentek, 2006).
2.7. Penentuan Diagnosis dan tindakan di Rumah Sakit
Dalam menentukan kode diagnosis dan tindakan harus berpedoman pada buku ICD-10 dan ICD-9CM, yang dalam INA CBG’s penggunaannya dikelompokan dalam CMG yang membentuk kode INA CBG’s. Koding adalah kegiatan memberikan kode diagnosis utama dan diagnosis sekunder sesuai dengan ICD-10 serta memberikan kode prosedur sesuai dengan ICD-9-CM.
Koding sangat menentukan dalam sistem pembiayaan prospektif yang akan
menentukan besarnya biaya yang dibayarkan ke Rumah Sakit.
25
Koding dalam INA-CBGs menggunakan ICD-10 tahun 2008 untuk mengkode diagnosis utama dan sekunder serta menggunakan ICD-9-CM untuk mengkode tindakan/prosedur. Sumber data untuk mengkoding berasal dari rekam medis (Depkes RI, 2014).
26 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain penelitian
Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Adam Malik Medan pada pasien usia lanjut dengan penyakit metabolik dan dirawat jalan pada periode Januari sampai Desember 2012 dan penelitian dilakukan secara retrospektif.
Prinsip penelitian ini adalah mempelajari hubungan antara variable bebas (jumlah obat, pasien dan jumlah diagnosis) dengan variable terikat (interaksi obat) meliputi pola mekanisme interaksi, jenis obat yang berinteraksi, jumlah obat yang berinteraksi dan tingkat keparahan interaksi.
3.2 Tempat dan waktu
Penelitian di lakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada periode Januari-Oktober 2013.
3.3 Populasi dan sampel 3.3.1 Populasi
Populasi pada penelitian adalah seluruh pasien usia lanjut yang dirawat jalan dengan penyakit metabolik di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada periode Januari sampai Desember 2012. Subjek yang dipilih harus memenuhi kriteria inklusi sebagai berikut:
a. pasien usia lanjut (60 tahun atau lebih) yang dirawat pada periode Januari sampai dengan Desember 2012 dan lengkap data rekam mediknya.
b. pasien mendapat terapi lebih dari dua jenis obat.
c. semua gender
27 Kriteria eksklusi adalah :
Populasi yang termasuk dalam kriteria eksklusi adalah:
a. pasien yang tidak lengkap data rekam mediknya dan pasien hanya menggunakan satu jenis obat.
b. rekam medis pasien rawat jalan di rumah Sakit Umum Adam Malik Medan di luar periode Januari-Desember 2012.
3.3.2 Sampel
Sumber data penelitian adalah semua rekam medik yang masuk dalam kriteria inklusi dan pengambilan sampling dilakukan secara acak sederhana dan di hitung dengan proporsi binomunal (binomunal proportions) (Lemeshow, et al., 1997).
n = ( )
( )
( )
n
328
Keterangan:
N= jumlah populasi n= ukuran sampel
= proporsi populasi (0,5)
d= limit dari error atau presisi absolute (0,05)
= derajat kepercayaan (1,96)
Persen kepercayaan yang digunakan 95%.
28
Populasi rekam medis rawat jalan pada pasien usia lanjut dengan penyakit metabolik selama setahun (Januari-Desember 2012) sebanyak 2222, maka jumlah sampel yang didapat 328 sampel.
3.4 Cara pengumpulan dan manajemen data
Pengambilan data dilakukan dengan mengumpulkan rekam medik pasien usia lanjut dengan penyakit metabolik di RSUPHAM Medan periode Januari-Desember 2012.
Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah:
a. data rekam medis pasien dengan kriteria inklusi.
b. data penggunaan obat pasien meliputi data pasien (jenis kelamin, jumlah obat yang diterima, diagnosis) dan data obat (nama obat, jumlah obat, dan jenis obat).
c. data berdasarkan ada tidaknya interaksi obat yang terjadi dalam satu resep yang tercatat di dalam rekam medis pasien berdasarkan studi literatur.
3.5 Defenisi variabel yang penting
Beberapa variabel penting yang harus diketahui antara lain:
a. usia lanjut yaitu usia 60 tahun keatas.
b. jenis obat adalah obat yang berinteraksi.
c. tingkat keparahan interaksi obat adalah mayor, moderate , dan minor.
d. jumlah obat adalah berapa banyak item obat yang diberikan kepada pasien berdasarkan rekam medis 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan seterusnya.
e. jumlah interaksi adalah tingkat interaksi obat yang terjadi.
f. mekanisme interaksi adalah bagaimana interaksi terjadi apakah secara
farmakokinetik, farmakodinamik atau unknown.
29
g. interaksi unknown adalah interaksi yang mekanismenya belum diketahui secara pasti.
h. interaksi dengan tingkat keparahan
mayoradalah interaksi yang membahayakan pasien termasuk kejadian yang menyangkut nyawa pasien dan terjadinya kerusakan permanen.
i. interaksi dengan tingkat moderate adalah jika satu dari bahaya potensial yang mungkin terjadi pada pasien dan monitoring diperlukan.
j. interaksi minor adalah jika interaksi terjadi tetapi dipertimbangkan potensi bahayanya terhadap pasien jika terjadi kelalaian.
k. rekam medis yaitu berkas yang berisi catatan tentang identitas pasien, anamnesia, pemeriksaan, diagnosis, obat yang diberikan, tindakan dan pelayanan lain yang diberikan kepada penderita selama di rawat jalan di Rumah Sakit.
3.6 Bagan alur penelitian
Penelitian ini mempunyai tahapan yang dapat dilihat pada Gambar 3.1.
30
Gambar 3.1 Bagan alur penelitian
3.7 Analisis data
Data yang diperoleh dianalisa menggunakan excel dan SPSS dan disajikan dalam bentuk persen dan tabel. Untuk mengetahui hubungan antara variabel digunakan beberapa statistik yaitu uji korelasi Spearman dan Mann Whitney.
Periode penelitian : Januari s/d Desember 2012 Rekam Medis Pasien usia lanjut dengan
penyakit metabolik (> 60 tahun)
Pengelompokan data penggunaan obat pasien
Indentifikasi interaksi obat
Perhitungan jumlah interaksi interaksi
Penentuan mekanisme interaksi
Penentuan level interaksi
Analisis data
Kesimpulan
31 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran umum Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan merupakan sebuah rumah sakit pemerintah yang dikelola pemerintah pusat dengan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara, terletak di jalan Bungalau No 17 Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Visi Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan adalah menjadi pusat rujukan pelayanan kesehatan pendidikan dan penelitian yang mandiri dan unggul di Sumatera tahun 2015, dengan misi 1) melaksakan pelayanan kesehatan yang paripurna, bermutu dan terjangkau, 2) melaksanakan pendidikan, pelatihan serta penelitian kesehatan yang professional, 3) melaksanakan kegiatan pelayanan dengan prinsip efektif, efisien, akuntabel dan mandiri.
Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik medan ini merupakan rumah sakit tipe A dan rumah sakit pendidikan, sudah dilakukan peningkatan pelayanan keperawatan melalui MAKP (Metode Asuhan Keperawatan Profesional) yaitu metode asuhan keperawatan tim di ruang rawat inap sejak tahun 2009 yang didukung oleh managemen rumah sakit.
4.2 Karakteristik umum subjek penelitian
Penelitian terhadap 328 kartu rekam medis pasien usia lanjut yang di rawat
jalan di RSUP Haji Adam Malik Medan dengan penyakit metabolik dari Januari
sampai dengan Desember 2012 di dapat gambaran mengenai karakteristik umum
subjek penelitian antara lain:
32
a. berdasarkan jenis kelamin pasien usia lanjut dengan penyakit metabolik yang di rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan diperoleh data bahwa pasien yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 48,47%, dan perempuan sebanyak 51,52%. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di RSUP Dr. Sardjito dimana usia lanjut berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan dengan jenis kelamin pria (51%).
b. berdasarkan jumlah obat yang diberikan pada pasien usia lanjut dengan penyakit metabolik yang di rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan dalam satu resep yang tercatat dalam rekam medis (RM) di dapat data bahwa pasien yang menerima 2 obat sebesar 3,35%; yang menerima 3 obat sebesar 34,45%; yang menerima 4 obat sebesar 12,50%; yang menerima 5 obat sebesar 14,33%; yang menerima 6 obat sebesar 18,60%; yang menerima 7 obat sebesar 7,32%; yang menerima 8 obat sebesar 3,35%; yang menerima 9 obat sebesar 4,27%; yang menerima 10 dan 11 obat masing-masing sebesar 0,91%. Penelitian sebelumnya yang dilakukan di Yogyakarta berbeda dimana pasien usia lanjut yang yang menerima 1-5 obat itu sebesar 20% dan yang menerima lebih dari 5 obat sebesar 80%. Hal ini disebabkan penelitian sebelumnya mengkelompokan jumlah obat 1-5 obat dan lebih dari 5 obat sedangkan penelitian ini tidak mengkelompokan jumlah obat .
c. berdasarkan jumlah diagnosis pasien usia lanjut dengan penyakit metabolik
yang di rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan
diperoleh hasil bahwa pasien yang menerima satu diagnosis sebesar 26,83%,
dua diagnosis sebesar 56,10%, tiga diagnosis sebesar 15,24%, dan empat
diagnosis sebesar 1,83%. Penelitian lain di Yogyakarta mendapatkan hasil
33
berbeda dimana pasien usia lanjut yang mendapat diagnosis 1-3 sebesar 44%
dan yang mendapat diagnosis 4-6 sebesar 55%. Hal ini disebabkan karena pada penelitian yang dilakukan di Yogyakarta mengkelompokan diagnosis 1-3 dan 4-6 diagnosis.
Karakteristik umum subjek penelitian secara garis besar ditunjukan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Karakteristik subjek penelitian
No Karakteristik subjek Jumlah Rekam
Medis (n= 328)
4.3 Gambaran kejadian interaksi obat pada pasien
Berdasarkan analisis terhadap 328 kartu rekam medis pasien usia lanjut
dengan penyakit metabolik yang dirawat jalan di RSUP Haji Adam Malik
Medan, diperoleh bahwa interaksi obat-obat yang terjadi cukup tinggi sebesar
78,96%. Hal ini sesuai dengan penelitian lain di Rumah Sakit Dr. Sardjito
Yogyakarta menunjukan bahwa interaksi pada pasien rawat jalan cukup besar
34
(69%). Kejadian interaksi obat-obat pada pasien usia lanjut berdasarkan jenis kelamin, pria lebih tinggi (81,13%) dibandingkan wanita (76,92%). Berdasarkan jumlah obat, semakin banyak obat yang dikonsumsi maka persen kejadian interaksi juga semakin besar. Ini sesuai dengan penelitian Santi menyatakan ada hubungan yang bermakna antara banyaknya interaksi yang terjadi dengan jumlah obat dalam satu resep. Berdasarkan diagnosis yang diterima bahwa semakin banyak diagnosis maka semakin besar pula interaksi obat yang terjadi. Gambaran kejadian interaksi obat pada pasien dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Gambaran kejadian interaksi obat pada pasien
No Kriteria Subjek Rawat jalan (n=328) Berinteraksi Persen
4.3.1 Gambaran kejadian interaksi obat berdasarkan jumlah obat
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh potensi kejadian interaksi obat
berdasarkan jumlah obat menunjukan bahwa pasien yang paling banyak
35
mengalami potensi kejadian interaksi obat adalah pasien yang menerima 3 obat, sedangkan kejadian interaksi yang paling banyak terjadi adalah 1 interaksi.
Gambaran kejadian interaksi obat berdasarkan jumlah obat dapat dilihat pada Tabel 4.3 .
Tabel 4.3 Gambaran kejadian interaksi obat berdasarkan jumlah obat
Kejadianinteraksi
Jenis obat
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Total
0 10 41 6 8 3 1 0 0 0 0 69
1 1 54 22 12 14 0 0 0 0 0 103
2 0 14 9 12 8 1 0 1 0 0 45
3 0 4 4 8 18 2 1 0 0 0 37
4 0 0 0 4 5 3 2 1 0 0 15
5 0 0 0 2 6 8 1 3 0 0 20
6 0 0 0 0 5 3 2 1 1 1 13
7 0 0 0 1 1 2 3 1 1 0 9
8 0 0 0 0 1 4 1 3 0 0 9
9 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 2
10 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 2
11 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 3
12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
13 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1
Total 11 113 41 47 61 24 11 14 3 3 328
4.3.2 Gambaran kejadian interaksi obat berdasarkan jumlah diagnosis
Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa kejadian interaksi paling
banyak dijumpai pada pasien dengan 2 diagnosis. Jumlah interaksi yang terbanyak
yaitu 13 interaksi obat dijumpai pada pasien dengan 2 diagnosis, sedangkan 1
diagnosis paling banyak dijumpai 9 jumlah interaksi. Pada pasien dengan 3
diagnosis paling banyak dijumpai jumlah interaksinya yaitu 10 interaksi dan
pasien dengan 4 diagnosis paling banyak dijumpai 11 jumlah interaksi. Gambaran
kejadian interaksi obat berdasarkan jumlah diagnosis dapat dilihat pada Tabel 4.5.
36
Tabel 4.4 Gambaran kejadian interaksi obat berdasarkan jumlah diagnosis
Jumlah interaksi
Jumlah diagnosa
(berdasarkan ICD-10 dan ICD-9)
Total Persen (%)
1 2 3 4
0 21 44 4 0 69 21.04
1 37 53 12 1 103 31.40
2 15 21 8 1 45 13.72
3 8 23 6 0 37 11.28
4 1 11 3 0 15 4.57
5 3 12 5 0 20 6.09
6 0 11 2 0 13 3.96
7 1 3 3 2 9 2.74
8 1 3 5 0 9 2.74
9 1 0 1 0 2 0.61
10 0 0 1 1 2 0.61
11 0 2 0 1 3 0.91
12 0 0 0 0 0 0
13 0 1 0 0 1 0.30
Total 88 184 50 6 328 100
4.3.3 Korelasi antara jumlah interaksi dengan jumlah obat dan diagnosis
Berdasarkan hasil analisa korelasi antara jumlah interaksi obat dengan
jumlah obat dan diagnosis menunjukan korelasi positif dimana interaksi
meningkat dengan meningkatnya jumlah obat dan jumlah diagnosis yang di terima
pasien. Data dapat dilihat pada Tabel 4.6. Penjelasan dapat dilihat pada Lampiran
4. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Kismawati
dkk . Semakin banyak penyakit yang diderita pasien, akan semakin banyak obat
yang dikonsumsi sehingga meningkatkan potensi kejadian interaksi obat.
37
Tabel 4.5 Korelasi antara jumlah interaksi dengan jumlah obat dan diagnosis
Jumlah Interaksi R P
Jumlah obat Jumlah Diagnosis
0,728**
0,264 *
0,0001 0,0001
*. Korelasi signifikan
**. Korelasi sangat signifikan
4.3.4 Gambaran interaksi obat-obat pada pasien usia lanjut yang di rawat jalan di RSUP HAM berdasarkan mekanisme dan tingkat keparahan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh persentasi
angka kejadian interaksi obat pada pasien usia lanjut yang dirawat jalan di
RSUPHAM sebesar 78,96% ( 259 dari 328 rekam medik). Berdasarkan obat yang
berinteraksi ada 105 interaksi yang terjadi. Interaksi yang paling banyak adalah
interaksi aspirin dan bisoprolol sebanyak 50 kasus, diikuti dengan metformin dan
acarbose sebanyak 27 kasus. Berdasarkan hasil penelitian juga diperoleh jenis
interaksi yang terjadi dibagi menjadi tiga yaitu interaksi farmakokinetik sebesar
63,6%, interaksi farmakodinamik sebesar 22,8% dan interaksi unknown sebesar
13,6%. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan di
Yogyakarta terhadap pasien usia lanjut rawat jalan berdasarkan pola mekanisme
yang terjadi dimana diperoleh interaksi yang tertinggi adalah farmakokinetik
sebesar 72%, diikuti dengan farmakodinamik (19%) dan unknown (9%). Bila
dilihat dari tingkat keparahan yang terjadi berdasarkan data diperoleh level
interaksi obat mayor 6,8%, level interaksi moderat 69,8% dan level interaksi
minor 23,4%. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di RSUD
Hasanuddin menyatakan bahwa interaksi yang terjadi berdasarkan tingkat
keparahannya adalah mayor 22,98%, moderate 59,27%, dan minor 17,74%. Data
38
ditunjukan pada Tabel 4.6, Tabel 4.7, dan penjelasan dapat dilihat pada Lampiran 5, dan Lampiran 6.
Tabel 4.6 Mekanisme interaksi obat-obat pada pasien usia lanjut yang dirawat jalan di RSUP HAM
No Jenis Interaksi Jumlah Persentase
1.
2.
3
Farmakokinetik Farmakodinamik
Unknown
318 114 68
63.6%
22.8%
13.6%
Total 500 100%
Tabel 4.7 Tingkat keparahan interaksi obat-obat pada pasien usia lanjut yang dirawat jalan di RSUP HAM
No Level Interaksi Jumlah Persentase
1.
2.
3.
Mayor Moderate
Minor
34 349 117
6.8%
69.8%
23.4%
Total 500 100%