BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4 Interaksi Masyarakat Desa Sungai Deras dengan Hutan Adat Bukit
5.4.1 Pemanfaatan tumbuhan di sekitar Desa Sungai Deras
Kajian etnobotani dilakukan di Desa Sungai Deras dengan wawancara terhadap masyarakat suku Kerinci dan analisis potensi tumbuhan berguna yang terdapat di hutan adat dengan analisis vegetasi. Jumlah jenis tumbuhan dari hasil wawancara dan anlisis vegetasi diperoleh data sebanyak 194 jenis tumbuhan dari 68 famili. Hasil wawancara etnobotani diperoleh data sebanyak 132 jenis tumbuhan dari 55 famili, sedangkan hasil analisis vegetasi diperoleh data tumbuhan sebanyak 107 jenis dari 52 famili.
Gambar 17 Interaksi masyarakat suku Kerinci dalam pemanfaatan tumbuhan berguna di areal sekitarnya.
Gambar 17 juga menunjukkan bahwa tumbuhan hasil wawancara etnobotani yang masih tedapat di hutan ada sebanyak 87 jenis, sedangkan 45 jenis tidak ditemukan di hutan. Jenis tumbuhan hasil anailisis vegetasi yang lain yaitu 62 jenis tidak atau belum diketahui manfaatnya oleh masyarakat suku Kerinci. Hal ini disebabkan sebagian besar tumbuhan yang diketahui manfaatnya merupakan tumbuhan yang dapat dibudidayakan oleh masyarakat di sekitar rumah, sedangkan tumbuhan yang masih terdapat di hutan merupakan tumbuhan besar yang sulit untuk dibudidayakan dan sudah tidak dimanfaatkan kembali oleh masyarakat. 5.4 2 Praktek Konservasi Masyarakat Suku Kerinci
1 Hutan Adat (Imbo Larang)
Masyarakat Desa Sungai Deras menyebut hutan dengan imbo. Imbo yang mereka maksud bukan hanya hutan alam yang ada di sekitar mereka namun kebun tempat mereka bercocoktanam pun mereka sebut imbo. Walaupun sama dalam penyebutannya, perlakuan mereka terhadap kedua tipe lahan ini tentunya berbeda. Hutan alam yang ada dijadikan sebagai hutan adat oleh masyarakat, dan
masyarakat berkomitmen untuk menjaganya yaitu dengan tidak menebang pohon, tidak bercocok tanam atau berladang di dalam hutan adat. Hal ini dikarenakan tempat tersebut memiliki fungsi jasa lingkungan berupa sumber air yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Sungai Deras untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, memasak bahkan sampai pada pengairan kebun dan sawah mereka. Imbo yang digolongkan oleh mereka juga imbo yang memliki kelerengan yang curam sekitar lebih dari 450. Masyarakat paham bahwa tanah- tanah dengan kelerengan seperti ini rawan akan bahaya longsor. Pada tahun 70an, saat kayu dari hutan tersebut banyak diambil untuk dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan kayu bakar, sempat terjadi longsor yang hampir sampai ke Desa Sungai Deras, setelah itu masyarakat Desa Sungai Deras tidak berani lagi untuk merusak hutan tersebut.
Namun dikarenakan letak hutan adat yang berbatasan dengan empat desa lainnya menjadikan masih adanya masyarakat yang mengambil kayu dari hutan adat ini, yaitu masyarakat dari Desa Sungai Tutung. Hal ini juga dikarenakan sudah semakin berkurangnya pengetahuan dan kepatuhan masyarakat terhadap peraturan adat yang ada serta kurang kompaknya kerapatan adat antar desa yang berada di sekitar hutan adat.
Gambar 18 Hutan Adat Bukit Tinggai.
Tempat lain yang disebut imbo oleh masyarakat adalah tempat mereka bercocok tanam dengan tipe tanah gembur dan tidak berlumpur yang disebut juga kebun. Jenis tanaman yang ditanam oleh masyarakat di lahan ini antara lain kayu manis (Cinnamomun subavenium Miq.), cengkeh (Eugenia aromatica) dan kopi (Coffea sp.), namun tanaman ini terdapat juga di hutan adat. Hal ini dikarenakan adanya penghijauan di beberapa tempat di hutan adat yang gundul serta adanya
55
perantara penyebaran tumbuhan ini seperti manusia maupun satwa. Letak kebun ini di luar dari hutan adat, namun bersebelahan dengan tipe kelerengan yang lebih landai kurang dari 45 0.
Masyarakat suku Kerinci di Desa Sungai Deras juga mengkeramatkan hutan adat ini. Mereka menyebut tempat-tempat yang dikeramatkan dengan sebutan jiraik. Selain memiliki fungsi ekologi sebagai sumber air, di hutan adat ini terdapat dua makam nenek moyang mereka, yaitu satu makam terdapat di sebelah selatan hutan adat atau di dekat jalan masuk menuju hutan adat, sedangkan satu makam lainnya terdapat di balik bukit dari hutan adat ini atau di bagian utara bukit.
Masyarakat tidak berani mengganggu daerah sekitar makam tersebut dikarenakan disana merupakan tempat tinggal harimau yang mereka percaya sebagai penjaga kawasan mereka. Harimau ini dulunya ditemukan oleh ninik mamak mereka di desa tersebut. Saat ditemukan harimau ini kakinya terjepit batang kayu yang sangat besar yang mengakibatkan harimau tersebut tidak dapat berjalan. Kemudian ninik mamak menolong harimau tersebut dengan perjanjian, apabila batang kayu tersebut telah diangkat, harimau tersebut tidak akan menganggu masyarakat desa dan akan pergi ke dalam hutan serta menjaga masyarakat. Maka mulai saat itu pula sebagai rasa terima kasih dari masyarakat, mereka pun menjaga hutan sebagai tempat tinggal harimau tersebut serta memberi sesajen pada saat acara kenduri sko di tempat-tempat tersebut.
2 Penggunaan Lahan
Masyarakat Sungai Deras mengkategorikan pemanfaatan lahan di sekitar tempat tinggal mereka menjadi tiga jenis yaitu pekarangan, kebun dan sawah. Pekarangan merupakan lahan di sekitar rumah yang dimanfaatkan untuk bercocok tanam tumbuhan yang sering dimanfaatkan oleh mereka seperti kunyit dan bunga- bungaan yang biasa digunakan untuk acara ritual adat ataupun untuk keperluan sehari–hari seperti memasak. Kebun mereka banyak ditananami tumbuhan yang dapat memenuhi penghasilan mereka seperti cengkeh (Eugenia aromatica), kayu manis (Cinnamomum subavenium Miq.) dan kopi (Coffea sp.). Cengkeh, kulit manis dan kopi merupakan komoditas kedua setelah padi yang dapat dijadikan andalan penghasilan mereka saat ini. Sedangkan pemanfaatan lahan yang terakhir oleh Masyarakat Desa Sungai Deras adalah dalam bentuk sawah. Sawah ini merupakan sumber penghasilan utama bagi masyarakat Desa Sungai Deras.
Masyarakat juga memiliki peraturan akan penggunaan lahan tersebut. Selain peraturan akan peruntukannya, pengalihfungsian lahan pun memiliki peraturannya. Ketika suatu lahan yang awalnya berupa sawah kemudian dijual, maka lahan tersebut harus dijual dengan cara diganti dengan sawah kembali. Hal ini bertujuan agar kebutuhan masyarakat akan beras minimal untuk kebutuhan keluarga terus terpenuhi. Sebagaimana diketahui, Kabupaten Kerinci terkenal sebagai lumbung padi untuk Provinsi Jambi. Hal ini dirasakan menjadi sebuah tanggungjawab besar bagi masyarakat Kerinci.
Berdasarkan sistem adat yang ada muncul undang-undang adat yang bernama “larang” untuk mengatur pelanggaran–pelanggaran yang terjadi di masyarakat. Larang terbagi atas empat perkara:
1. Siyang bakai, artinya dilarang membakar negeri. 2. Tebu nyulur keladi berisi, artinya dilarang berzina.
3. Membawa anak betina terjun mandi, artinya dilarang membawa anak gadis orang.
57
Jika melanggar “Larang”, maka salah tersebut adalah salah dengan pemangku. Kesalahan tersebut diibaratkan dengan pepatah ”cermin tidak kabur, lantak tidak goyah”. Artinya kesalahan tersebut tidak dapat ditawar-tawar lagi, harus diberi hukuman yang setimpal, atau tidak ada ampun lagi. Salah digolongkan menjadi tiga, yaitu:
1. Salah dengan anak jantang, maka hukumannya beras sepinggan, ayam satu ekor.
2. Salah dengan ninik mamak, maka hukumannya adalah beras 20 gantang, kambing satu ekor.
3. Salah dengan pemangku, maka hukumannya beras 100 gantang, kerbau satu ekor.
(a) (b)
(c)