1. Definisi
Interaksi obat merupakan satu dari delapan kategori masalah terkait obat (drug-related problem) yang diidentifikasi sebagai kejadian atau keadaan
terapi obat yang dapat mempengaruhi outcome klinis pasien. Sebuah interaksi
obat terjadi ketika farmakokinetika atau farmakodinamika obat dalam tubuh diubah oleh kehadiran satu atau lebih zat yang berinteraksi (Piscitelli, 2005).
Dua atau lebih obat yang diberikan pada waktu yang sama dapat berubah efeknya secara tidak langsung atau dapat berinteraksi. Interaksi bisa bersifat potensiasi atau antagonis efek satu obat oleh obat lainnya, atau adakalanya beberapa efek lainnya (BNF 58, 2009).
Interaksi obat dianggap penting secara klinik bila berakibat meningkatkan toksisitas dan atau mengurangi efektivitas obat yang berinteraksi terutama bila menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit (indeks terapi yang rendah) (Setiawati, 2007).
2. Mekanisme Interaksi Obat (Hashem, 2005)
Pemberian suatu obat (A) dapat mempengaruhi aksi obat lainnya (B) dengan satu dari dua mekanisme berikut:
a. Modifikasi efek farmakologi obat B tanpa mempengaruhi konsentrasinya di cairan jaringan (interaksi farmakodinamik).
b. Mempengaruhi konsentrasi obat B yang mencapai situs aksinya (interaksi farmakokinetik).
1) Interaksi ini penting secara klinis mungkin karena indeks terapi obat B sempit (misalnya, pengurangan sedikit saja efek akan menyebabkan kehilangan efikasi dan atau peningkatan sedikit saja efek akan menyebabkan toksisitas).
2) Interaksi ini penting secara klinis mungkin karena kurva dosis-respon curam (sehingga perubahan sedikit saja konsentrasi plasma akan menyebabkan perubahan efek secara substansial).
3) Untuk kebanyakan obat, kondisi ini tidak ditemui, peningkatan yang sedikit besar konsentrasi plasma obat-obat yang relatif tidak toksik seperti penisilin hampir tidak menyebabkan peningkatan masalah klinis karena batas keamanannya lebar.
4) Sejumlah obat memiliki hubungan dosis-respon yang curam dan batas terapi yang sempit, interaksi obat dapat menyebabkan masalah utama, sebagai contohnya obat antitrombotik, antidisritmik, antiepilepsi, litium, sejumlah antineoplastik dan obat-obat imunosupresan.
F. Gastritis
1. Definisi
Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung. Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus atau lokal (Prince dan Wilson, 2006). Gastritis dibagi menjadi 2 yaitu gastritis akut dan gastritis kronik. Gastritis akut adalah kelainan klinik akut yang jelas penyebabnya dengan tanda dan gejala yang khas, biasanya ditemukan sel inflamasi akut dan neutrofil. Sedangkan gastritis kronik merupakan suatu peradangan bagian permukaan mukosa lambung
yang menahun, yang disebabkan oleh ulkus dan berhubungan dengan
Helicobacter pylori (Mansjoer, 2001). 2. Penyebab
Terjadinya gastritis disebabkan karena produksi asam lambung yang berlebih, asam lambung yang semula membantu lambung malah merugikan lambung. Dalam keadaaan normal lambung akan memproduksi asam sesuai dengan jumlah makanan yang masuk. Tetapi bila pola makan kita tidak teratur, lambung sulit beradaptasi dan lama kelamaan mengakibatkan produksi asam lambung yang berlebih (Uripi,2002).
3. Faktor Pemicu Kekambuhan Gastritis a. Faktor makan (pola makan)
Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai jumlah, frekuensi dan jenis bahan makanan yang dikonsumsi tiap hari (Almatsier, 2004). Pola makan yang baik dan teratur merupakan salah satu dari penatalaksanaan gastritis dan juga merupakan tindakan preventif
dalam mencegah kekambuhan gastritis. Penyembuhan gastritis
membutuhkan pengaturan makanan sebagai upaya untuk memperbaiki kondisi pencernaan (Uripi, 2002).
b. Faktor obat-obatan
Obat-obatan yang mengandung salisilat (sering digunakan sebagai obat pereda nyeri) dalam tingkat konsumsi yang berlebihan dapat menimbulkan gastritis (Uripi, 2002). Efek salisilat terhadap saluran cerna adalah perdarahan lambung yang berat dapat terjadi pada pemakaian dalam dosis besar. Salisilat merupakan agen-agen yang sering dikonsumsi oleh
masyarakat yang kurang mengerti tentang penggunaan obat (Prince dan Wilson, 2006).
c. Faktor Psikologis
Stres baik primer maupun sekunder dapat menyebabkan peningkatan produksi asam lambung dan gerakan peristaltik lambung. Stres juga akan mendorong gesekan antar makanan dan dinding lambung menjadi bertambah kuat (Coleman, 1992). Hal ini dapat menyebabkan terjadinya luka dalam lambung. Penyakit maag (gastritis) dapat ditimbulkan oleh berbagai keadaan yang pelik sehingga mengaktifkan rangsangan/iritasi mukosa lambung semakin meningkat pengeluarannya, terutama pada saat keadaan emosi, ketegangan pikiran dan tidak teraturnya jam makan.
4. Obat Gastritis (Schmitz, dkk. 2009)
Obat anti Tukak Lambung (Gastritis) dapat digolongkan menjadi antasida, antagonis histamin H2, penghambat pompa proton, pelindung mukosa, analog prostaglandin E1, dan peningkat faktor pertahanan lambung.
a. Golongan Antasida
Obat golongan antasida terdiri atas atas aluminium, magnesium, kalsium karbonat, dan Natrium bikarbonat. Mekanisme kerja antasida yaitu menetralisis atau mendapar sejumlah asam tetapi tidak melalui efek langsung, atau menurunkan tekanan esophageal bawah (LES). Kegunaan antasida sangat dipengaruhi oleh rata-rata disolusi; efek fisiologi kation; kelarutan air; dan ada atau tidak adanya makanan.
b. Golongan Antagonis Reseptor Histamin H2
Obat golongan antagonis reseptor H2 terdiri atas Simetidin,
histamin H2 adalah menghambat sekresi asam lambung dengan melakukan inhibisi kompetitif terhadap reseptor histamin H2 yang terdapat pada sel parietal dan menghambat sekresi asam lambung yang distimulasi oleh makanan, ketazol, pentagrastin, kafein, insulin, dan refleks fisiologi vagal. Struktur kimia untuk ranitidine, famotidin, dan simetidin berbeda, simetidin mengandung cincin imidazol, famotidin mengandung cincin tiazol, dan ranitidine mengandung cincin furan.
c. Golongan Penghambat Pompa Proton
Obat golongan penghambat pompa proton terdiri atas omeprazol, lansoprazol,rabeprazol. Pada pH netral, penghambat pompa proton secara kimia stabil, larut lemak, dan merupakan basa lemah. Penghambat pompa proton mengandung gugus sulfinil pada jembatan antara benzimidazol tersubstitusi dan cincin piridin. Mekanisme kerja penghambat pompa proton adalah basa lemah netral mencapai sel parietal dari darah dan berdifusi ke dalam sekretori kanalikuli, tempat obat terprotonasi dan terperangkap. Zat
yang terprotonasi membentuk asam sulfenik dan sulfanilamide.
Sulfanilamide berinteraksi secara kovalen dengan gugus sulfhidril pada sisi kritis luminal tempat H+,K+-ATPase, kemudian terjadi inhibisi penuh dengan dua molekul dari inhibitor mengikat tiap molekul enzim.
d. Golongan Pelindung Mukosa
Obat golongan pelindung mukosa yaitu; sukralfat. Mekanisme kerja sukralfat adalah membentuk kompleks ulser adheren dengan eksudat protein seperti albumin dan fibrinogen pada sisi ulser dan melindunginya dari serangan asam, membentuk barier viskos pada permukaan mukosa di lambung dan duodenum, serta menghambat aktivitas pepsin dan
membentuk ikatan garam dengan empedu. Sukralfat sebaiknya dikonsumsi pada saat perut kososng untuk mencegah ikatan dengan protein dan fosfat. e. Golongan Analog Prostaglandin E1 ( Misoprostol.)
Mekanisme kerja misoprostol adalah meningkatkan produksi mucus lambung dan sekresi mukosa, menghambat sekresi asam lambung dengan kerja langsung ke sel parietal, dan menghambat sekresi asam lambung yang distimulasi makanan, histamin dan pentagastrin.
f. Golongan Peningkatan Faktor Pertahanan Lambung ( Teprenon )
Mekanisme kerja teprenon adalah meningkatkan mukosa lambung dan usus besar dari efek merusak yang ditimbulkan NSAIDs baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Teprenon dapat bekerja secara langsung karena teprenon merupakan sediaan prostaglandin yang melindungi mukosa lambung dan usus besar dari luka, dan secara tidak langsung melalui kemampuan sitoprotektifnya yang mudah menyesuaikan atau percepatan sintesis prostaglandin endogen dengan efek iritasi yang rendah.
5. Standar pengobatan penyakit gastritis (DEPKES, 2007)
a. Penderita gastritis akut memerlukan tirah baring. Selanjutnya ia harus membiasakan diri makan teratur dan menghindarkan makanan yang merangsang.
b. Keluhan akan segera hilang dengan antasida (Al. Hidroksida, Mg Hidroksida) yang diberikan menjelang tidur, pagi hari, dan diantara waktu makan.
c. Bila muntah sampai mengganggu dapat diberikan tablet metoklopramid 10 mg, 1 jam sebelum makan.
d. Bila nyeri hebat dapat dikombinasikan dengan simetidin 200 mg 2 x sehari atau ranitidin 150 mg 2 x sehari.
e. Penderita dengan tanda pendarahan seperti hematemesis atau melena perlu segera dirujuk ke rumah sakit karena kemungkinan terjadi pendarahan pada tukak lambung yang dapat menjadi perforasi.
6. Interaksi Obat Tukak Lambung (Gastritis) (Harkness, 1989) a. Antasida
1) Antasida – Amfetamin
Efek amfetamin dapat meningkat. Akibatnya : dapat terjadi efek samping merugihkan karena kebanyakan amfetamin seperti gelisah, mudah terangsang, jantung berdebar, penglihatan kabur, dan mulut kering.
2) Antasida – Simetidin (tagamet)
Efek simetidin dapat berkurang. Akibatnya : tukak mungkin tidak dapat diobati dengan baik.
3) Antasida (yang mengandung magnesium) – Kortikosteroida
Kombinasi ini dapat menyebabkan tubuh kehilangan terlalu banyak kalium dan menahan terlalu banyak natrium.
4) Antasida – Prokainamid
Efek prokainamid dapat meningkat. Akibatnya : dapat terjadi efek samping merugihkan yang tidak dikehendaki karena terlalu banyak prokainamid, disertai gejala pingsan (akibat penurunan tekanan darah) dan aritmia ventrikuler.
5) Antasida – Pseudoefedrin
Efek pseudoefedrin dapat meningkat. Akibatnya : dapat terjadi efek samping merugihkan karena terlalu banyak pseudoefedrin. Gejala yang dilaporkan : jantung berdebar, gelisah dan mudah terangsang, pusing, halusinasi, dan sifat yang menyimpang dari biasanya.
6) Antasida – Kinidin
Efek kinidin dapat meningkat. Akibatnya : dapat terjadi efek samping merugihkan karena terlalu banyak kinidin, disertai gejala aritmia ventrikular, jantung berdebar, sakit kepala, pusing, gangguan penglihatan, dan telinga berdenging.
7) Antasida – Kinin
Efek kini dapat meningkat. Akibatnya : dapat terjadi efek samping merugihkan karena terlalu banyak kinin. Gejala yang dilaporkan : sakit kepala, pusing, gangguan penglihatan dan telinga berdenging.
b. Antikolinergika
1) Antikolinergika – Amantadin
Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur, pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, nanar, jantung bedebar, mungkin psikosis toksik.
2) Antikolinergika – Antasida
Efek antikolinergik dapat berkurang. Akibatnya : antikolinergika mungkin tidak bekerja sebagaimana diharapkan.
3) Antikolinergika – Antidepresan
Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping antikolinergik secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur, pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, bicara tidak jelas, nanar, jantung, berdebar, mungkin psikosis toksik.
4) Antikolinergika – Antidiskinetika
Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping antikolinergik secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur, pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, bicara tidak jelas, nanar, jantung, berdebar, mungkin psikosis toksik.
5) Antikolinergika – Antihistamin
Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping antikolinergik secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur, pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, bicara tidak jelas, nanar, jantung, berdebar, mungkin psikosis toksik.
6) Antikolinergika – Antipsikotika
Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping antikolinergik secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur, pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, bicara tidak jelas, nanar, jantung, berdebar, mungkin psikosis toksik.
7) Antikolinergika – Digoksin
Efek digoksin dapat meningkat. Akibatnya : mungkin terjadi efek samping karena terlalu banyak digoksin, disertai gejala mual, gangguan penglihatan, bingung, kehilang selera makan, tak bertenaga, sakit kepala, dan denyut jantung tidak teratur.
8) Antikolinergika – Disopiramid
Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping antikolinergik secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur, pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, bicara tidak jelas, nanar, jantung, berdebar, mungkin psikosis toksik.
9) Antikolinergika – Levodopa
Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping antikolinergik secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur, pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, bicara tidak jelas, nanar, jantung, berdebar, mungkin psikosis toksik.
10) Antikolinergika – Kinidin
Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping antikolinergik secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur, pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, bicara tidak jelas, nanar, jantung, berdebar, mungkin psikosis toksik.
11) Antikolinergika – Kinin
Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping antikolinergik secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur, pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, bicara tidak jelas, nanar, jantung, berdebar, mungkin psikosis toksik.
c. Simetidin
1) Simetidin – Antasida
Efek simetidin dapat berkurang. Akibatnya : tukak mungkin tidak terobati dengan baik.
2) Simetidin – Antikoagulan
Efek simetidin dapat berkurang. Akibatnya : resiko perdarahan meningkat.
3) Simetidin – Kofein
Efek kofein dapat meningkat. Akibatnya : mungkin terjadi kofeinisme disertai gejala gelisah dan mudah terangsang, sakit kepala, tremor, pernapasan cepat, dan insomnia.
4) Simetidin – Fenitoin
Efek fenitoin dapat meningkat. Akibatnya : mungkin terjadi efek samping merugihkan karena terlalu banyak fenitoin disertai gejala gangguan penglihatan dan hilangnya koordinasi.
5) Simetidin – Sukralfat
Efek sukralfat dapat berkurang. Akibatnya : tukak mungkin tidak terobati dengan baik.
6) Simetidin – Trankuilansia
Efek trankuilansia dapat meningkat. Akibatnya : efek samping merugihkan karena terlalu banyak trankuilansia disertai gejala sedasi berlebihan, mengantuk, hilang koordinasi dan kewaspadaan mental. d. Sukralfat - Simetidin
1) Kerja sukralfat dapat berkurang. Akibatnya : tukak mungkin tidak terobati sebagaimana mestinya.