BAB II DESKRIPSI TEORITIS DAN KERANGKA BERPIKIR
C. Interaksi Sosial
1. Pengertian Interaksi dan Interaksi Sosial
Dalam kehidupan sehari-hari sering sekali kita mendengar kata interaksi maupun interaksi sosial,atau bahkan kita sendiri setiap harinya melakukan interaksi baik secara individu, ataupun kelompok dengan keluarga, teman, dan kelompok sosial. Kata interaksi dan interaksi sosial sendiri tidak jauh berbeda artinya, dua-duanya memiliki tujuan yang sama yaitu mencapai stimulus sehingga terjadinya komunikasi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “ interaksi hal saling melakukan
aksi, berhubungan, memengaruhi, antarhubungan” sedangkan interaksi sosial “ hubungan sosial yang dinamis antara perseorangan dan perseorangan, antara perseorangan dan kelompok, dan antara kelompok dan kelompok”.22
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa interaksi adalah suatu hubungan antara mahluk yang hidup di dunia, baik hewan beserta tumbuhan meraka pada dasarnya saling melakukan interaksi. Sedangkan interaksi sosial terjadi ketika adanaya dorongan atau stimulus dari “seseorang” yang dimaksud adalah manusia sehingga terciptanya respon dari yang lainnya. Interaksi tidak bersifat statis pada saat terjadinya seseorang yang memberikan stimulus kepada seseorang agar terciptanya respon saja, tetapi ada respon yang lain setelahnya. Seperti dijelaskan pula definisi interaksi sosial secara definitive, “interaksi sosial sendiri berarti adanya hubungan atau dua orang atau lebih yang perilaku atau tindakannya direspon oleh orang lain.23
22
Op.cit, h. 542
23
M. Amin Nurdin, dkk. Mengerti Sosiologi Pengantar untuk Memahami Konsep-Konsep Dasar, cetakan satu, (Jakarta: UIN Jakarta Pers, 2006), h. 52
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa terjadinya interaksi sosial itu dengan adanya respon yang diberikan. Tetapi dengan semakin majunya teknologi sekarang ini interaksi sosial dapat dilakukan dengan berbagai macam melalui media dan jejaring sosia. pemberian respon dalam interaksi sosial pun tidak hanya terjadi dengan bertatap muka. Respon juga akan terjadi pada saat individu dan individu berinteraksi melalui via telephone, email, dan yang lainnya.
Interaksi adalah proses dimana orang-orang berkomunikasi saling memengaruhi dalam pikiran dan tindakan. Manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain.Manusia adalah mahluk hidup ciptaan Tuhan dengan segala fungsi dan potensinya yang tunduk kepada aturan hokum alam, mengalami kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan, dan mati, serta berinteraksi dengan alam dan lingkungannya dalam sebuah hubungan timbal balik baik positif maupun negatif. Manusia pada dasarnya sebagai mahluk hidup memiliki dua sisi yaitu manusia sebagai mahluk individu, dan mahluk sosial. Sebagai mahluk individu tentunya manusia memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur jiwa dan raga. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Sedangkan manusia dikatakan sebagai mahluk sosial dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain.
Sedangkan menurut “Cooley berpendapat bahwa looking-glass self
terbentuk melalui tiga tahap. pada tahap pertama, seseorang mempunyai persepsi mengenai pandangan orang lain terhadapnya. Pada tahap kedua, seseorang mempunyai persepsi mengenai penilaian orang lain terhadap penampilannya. Pada tahap ketiga, seseorang mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadapnya itu”.24
Dengan pendapat tersebut jelas sekali bahwa manusia sebagai mahluk hidup tentunya tidak bisa hanya menjadi mahluk individu saja, namun juga harus
24
Elly dkk, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Edisi Kedua, (Jakarta: KENCANA
menjadi mahluk sosial yang perlu berinteraksi dengan orang lain untuk kelangsungan hidupnya.
Seperti dijelaskan pula oleh Erving Goffman, menrutnya interaksi yang saling menghadapkan satu sama lain menjadi benang penjalin kehidupan sosial. Dengan demikian proses interaksi antara dua orang bisa jadi bersifat rapuh. Itu sebabnya proses interaksi tersebut diatur oleh “ritual interaksi” (aturan kesopanan, cara berbicara, dan sebagainya).25
Kebutuhan untuk mengadakan hubungan dengan sesamanya, didasarkan pada keinginan manusia untuk mendapatkan :
1. Kepuasan dalam mengadakan hubungan serta mempertahankannya yang lazimnya disebut kebutuhan inklusi.
2. Pengawasan dan kekuasaan, yang disebut sabagai kebutuhan akan kontrol.
3. Cinta dan kasih sayang, yaitu kebutuhan akan afeksi.
Manusia dalam kehidupannya tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Manusia adalah makhluk sosial yang sepanjang hidupnya bersosialisasi dengan orang lain dalam proses interaksi. Interaksi sosial menghasilkan banyak bentuk sosialisasi. Bisa berupa interaksi antar individu, interaksi individu dengan kelompok, dan interaksi antara kelompok. Sedangkan syarat terjadinya interaksi sosial adalah terjadi kontak sosial dan terjadi komunikasi.
Menurut Talcott Parson, tindakan dalam interaksi sosial dipengaruhi oleh dua macam orientasi sebagai berikut. Yang pertama adalah orientasi motivasional yaitu orientasi yang bersufat pribadi yang menunjuk pada keinginan individu yang bertindak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Yang kedua adalah orientasi nilai-nilai yang bersifat sosial, yakni orientasi yang menunjuk pada standar-standar normative, seperti wujud agama dan tradisi setempat.26
Konsep lain yang juga penting diperhatikan dalam bahasan mengenai interaksi sosial ialah konsep definisi situasi (the definition of the situation) dari W.
25
Philippe Cabin, Sosiologi Sejarah dan Berbagai Pemikirannya, (Yogyakarta: Kreasi wacana, 2004), h. 199
26
Yusron Razak, Sosiologi Sebuah Pengantar tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif Islam, (Jakarta: Laboratorium Sosiologi, 2008), h. 57.
I. Thomas (1968). Berbeda dengan pandangan yang mengatakan bahwa interaksi manusia merupakan pemberian tanggapan ( response ) terhadap rangsangan (stimulus), maka menurut Thomas seseorang tidak segera memberikan reaksi manakala ia mendapat rangsangan dari luar. Menurutnya tindakan seseorang selalu didahului suatu tahap penilaian dan pertimbangan. Rangsangan dari luar diseleksi melalui proses yang dinamakan definisi atau penafsiran situasi. Dalam proses ini orang yang bersangkutan memberi makna pada rangsangan yang diterimanya itu. Definisi situasi yang menurut Thomas dibuat oleh masyarakat itu merupakan aturan yang mengatur interaksi manusia. Aturan apa sajakah yang menuntut perilaku manusia di kala mereka berinteraksi? dalam bukunya Symbols, Selves, Society: Understanding interaction David a. Karp dan W.C. Yoels Menyebutkan tiga jenis aturan, yaitu aturan mengenai ruang, mengenai waktu, dan mengenai gerak dan sikap tubuh.27
3. Macam – Macam Interaksi Sosial
Menurut Maryati dan Suryawati interaksi sosial dibagi menjadi tiga macam, yaitu:28
a. Interaksi antara individu dan individu
Dalam hubungan ini bisa terjadi interaksi positif ataupun negatif. Dikatakan interaksi positif, jika jika hubungan yang terjadi saling menguntungkan. Dan dikatakan interaksi negatif, jika hubungan timbal balik merugikan satu pihak atau keduanya (bermusuhan). Interaksi tentunya terjadi antara orang perorangan saja dan tidak ada campur tangan suatu kelompok.
b. Interaksi antara individu dan kelompok
Interaksi ini pun dapat berlangsung secara positif maupun negatif. Bentuk interaksi sosial individu dan kelompok bermacam-macam sesuai situasi dan kondisinya.
c. Interaksi sosial antara kelompok dan kelompok
interaksi sosial kelompok dan kelompok terjadi sebagai satu kesatuan bukan kehendak pribadi. Interaksi ini lebih mencolok ketika terjadi perbenturan kepentingan perorangan dengan kepentingan kelompok.
27
Kamanto sunarto, Pengantar Sosiologi, Edisi revisi, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2004) hal. 37
28
4. Faktor-Faktor Terjadinya Interaksi
Dalam proses interaksi terdapat faktor-faktor terjadinya interaksi yaitu : 1. Faktor Imitasi
Faktor imitasi dalam proses interaksi sosial mempunyai peranan sangat penting. Diantaranya mempunyai dampak positif dan negatif. Dimana faktor imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Namun imitasi dapat pula berdampak negatif apabila yang ditiru adalah adalah tindakan-tindakan yang menyimpang.
2. Faktor Sugesti
Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau suatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain. Proses ini sebenarnya hampir sama dengan imitasi tetapi titik tolaknya saja berbeda. Contoh misalkan yang memberikan sugesti adalah orang yang berpengaruh dalam masyarakat.
3. faktor identifikasi
Faktor identifikasi dalam interaksi sosial merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang dengan orang lain. Identifikasi lebih mendalam dengan imitasi, secara tidak disadari ataupun disengaja proses identifikasi akan terbentuk dengan sendirinya ketika seseorang begitu mengenal sosok yang di ideal kan dalam kehidupannya.
4. Faktor Simpati
Faktor simpati merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Dalam proses ini perasaan sangat memegang peranan yang sangat penting. Dorongan utama dalam proses simpati adalah rasa kagum terhadap sesorang sehingga keinginan untuk belajar dari pihak lain yang dianggap kedudukannya lebih tinggi dan harus dihormati karena mempunyai kelebihan ataupun kemampuan tertentu yang patut dicontoh.
5. Syarat – Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Seperti yang dijelaskan oleh Soerjono Soekanto bahwa suatu interaksi terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat sebagai berikut :29
1. Adanya kontak sosial (social-contact)
Kata kontak berasal dari bahasa Latin con atau cum (bersama-sama) dan tango (menyentuh). Jadi secara harfiah adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik kontak terjadi apabila terjadinya hubungan badaniah, misalnya saja seorang anak kecil mempelajari kebiasaan-kebiasaan dalam keluarganya. Proses demikian terjadi melalui sosialisasi (Socialization), yaitu proses dimana anggota masyarakat baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat dimana dia menjadi anggota. Yang kedua anatara orang-perorangan dengan suatu kelompok terjadi apabila seorang merasakan bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma masyarakat yang telah ada dan ditentukan. Yang ketiga yaitu, antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya mengadakan kerjasama dengan kepentingan dan tujuan yang sama.30
2. Adanya Komunikasi
Komunikasi adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu atau individu dengan kelompok dalam kehidupan masyarakat.31 Dalam hal ini seseorang memberi arti pada perilaku orang lain, perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang tersebut kemudian memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.
6. Bentuk – Bentuk Interaksi Sosial
Menurut pendapat Tim Sosiologi, interaksi sosial dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu :
a. Interaksi sosial yang bersifat asosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk- bentuk asosiasi (hubungan atau gabungan) seperti :
1) Kerja sama
Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
2) Akomodasi
Akomodasi adalah suatu pengertian yang digunakan oleh para sosiologi untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan pengertian adaptasi yang dipergunakan oleh ahli-ahli biologi
29
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Edisi Revisi-45 (Jakarta: Rajawali Pers, 2013) hal. 58
30
Op. cit, 59
31
purwadi, jurnal Etika Komunikas Dalam Budaya Jawa: Sebuah Penggalian Nilai Kearifan Lokal demi Memperkokoh Jati diri serta Kepribadian Bangsa, tt, hal. 2
untuk menunjuk pada suatu proses dimana mahluk-mahluk hidup menyesuaikan dirinya dengan alam sekitarnya.32
3) Asimilasi
Asimilasi adalah proses sosial yang timbul bila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara intensif dalam jangka waktu lama, sehingga lambat laun kebudayaan asli mereka akan berubah sifat dan wujudnya membentuk kebudayaan baru sebagai kebudayaan campuran.
b. Sedangkan bentuk-bentuk yang bersifat disosiatif adalah yakni yang mengarah kepada bentuk-bentuk pertentangan atau konflik, seperti : 4) Persaingan (Competition)
Persaingan dapat diartikan sebagai suatu proses sosial dimana individu atau kelompok-kelompok manusia bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan kehidupan. Persaingan mempunyai dua tipe umum yakni yang bersifat pribadi dan tidak pribadi. Persaingan terjadi dalam bentuk persaingan ekonomi, persaingan kebudayaan, persaingan kedudukan dan peranan, persaingan ras. Persaingan dilakukan perorangan atau kelompok sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawannya.
5) Kontravensi
Kontravensi adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang-terangan yang ditujukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur-unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.
32
Soerjono soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Edisi Baru-42, (Jakarta : Rajawali Pers,
a) Konflik
Konflik adalah proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut. Di kampung kabagusan yang menjadi tempat penelitian, peneliti tidak menemukan konflik yang besar yang dapat menyebabkan pemisah diantara interaksi masyarakat. Konflik yang terjadi hanya sebatas salah faham yang tidak berkepanjangan dan menyebabkan pengaruh besar terhadap kerukunan masyarakat.
7. Teori Interaksi
Dasar-dasar interaksi sosial dalam sosiologi bermula dari pemikiran Max Weber mengenai tindakan sosial mengenai tindakan sosial (social action). Gagasan social action dari Weber ini merupakan konsep baru yang berbeda dari pemikir sosiologi sebelumnya seperti Durkheim yang mencetuskan bahwa kajian utama sosiologi terletak pada fakta sosial. Bagi Weber, struktur sosial membantu untuk membentuk tindakan manusia yang penuh arti dan makna.
Salah satu persoalan yang seringkali muncul dalam teori-teori sosial ialah tentang hubungan antara individu dan masyarakat. Bagaiamana masyarakat membentuk individu-individu atau sebaliknya bagaimana individu-individu menciptakan, mempertahankan dan mengubah masyarakat.dalam hal apa saja masyarakat dan kepribadian mempunyai hubungan timbal balik tetapi juga terpisah satu sama lain. Dalam hal ini, perhatian baru lebih diarahkan kepada pemahaman tentang proses-proses interaksi sosial dan akibat-akibatnya bagi individu dan masyarakat. Hal seperti inilah menjadi pokok perhatian dari perspektif interaksionisme simbolik.
Menurut L Berger dan Thomas Lickman “proses menjadi mausia berlangsung dalam hubungan timbal balik dengan suatu lingkungan. Pernyataan
ini semakin penting artinya jika kita merenungkan bahwa lingkungan ini merupakan lingkungan alam dan lingkungan manusia”.33
Interaksi simbolis merupakan aliran siosiologi Amerika yang lahir dari tradisi psikologi. Karya-karya para psikolog Amerika seperti William James,James Mark Baldwin dan John Dewey telah mempengaruhi sosiologi Charles H. Colley, yang kemudian membantu pengembangan teori psikologi sosial dalam sosiologi Amerika. Walau walau dalam sejarah interaksi simbolis Colley dan Thomas merupakan tokoh terpenting, tetapi hanya filosofi George Herbert Mead, seorang warga Amerika awal abad ke Sembilan belas dan seangkatan dengan mereka, yang sering dianggap sebagai sesepuh paling berpengaruh dari persepektif ini. Mead setuju dengan megembangkan suatu kerangka yang menekankan arti penting perilaku terbuka (overt) atau obyektif, dan tertutup (Covert) atau subyektif. Didalam aliran sosiologi posisi Mead berada diantara subyektivisme ekstrim dari Colley yang melihat masalah pokok sosiologi sebagai hanya imajinasi-imajinasi, dan obyektivisme ekstrim Durkheim, yang menganggap fenomena sosial yang konkrit atau fakta-fakta sosiallah yang tepat bagi analisa sosiologi.
Menurut Margaret M. Poloma “Dalam pandangan interaksionisme simbolis manusia bukan dilihat sebagai produk yang ditentukan oleh struktur atau situasi obyektif, tetapi paling tidak sebagian merupakan aktor-aktor yang bebas.34
Istilah interaksionisme simbolik yang digunakan pertama kalinya oleh Herbert Blumer, pada dasarnya merupakan satu perspektif psikologi sosial. Perspektif ini memusatkan perhatiannya pada analisa hubungan antar pribadi. Kendati istilah ini digunakan pertama kalinya oleh Blumer, dalam kenyataanya, beberapa pemikir sebelum dia telah memberikan sumbangan penting bagi perkembangan perspektif ini.35
33
Peter LBerger dan Thomas Luckman, Tafsir Sosial Atas Kenyataan Risalah Tentang Sosiologi Pengetahuan, (Jakarta: LP3ES IKAPI, 2012), cetakan ke-9, h. 65.
34
Margaret M. Poloma, Sosiologi Kontemporer, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2004), cetakan ke-enam, h. 256
35
Interaksionisme simbolik merupakan cabang kedua dari behaviorisme sosial. Meskipun berbagai problem dan solusi umumnya telah berjalan parallel terhadap sugesti peniruan atau beberapa teori pluralism behavioral. Aliran interaksi simbolik berasal berasal dari Amerika terutama berada di bawah pengaruh paham pragmatis yang faktanya bisa dimasukkan ke dalam klasifikasi asli sebagai pragmatis bagi mereka filsafat neoHegelian dan Psikologi eksperimen idealistic merupakan hal yang sekunder.
a. William James
James adalah orang pertama yang mengembangkan secara jelas konsep tentang self (diri). Menurut dia, manusia mempunyai kemampuan untuk melihat dirinya sebagai obyek. Dalam kemampuan itu, ia bisa mengembangkan suatu sikap dan perasaan terhadap dirinya. Lebih lanjut ia juga dapat membentuk tanggapan-tanggapan terhadap perasaan-perasaan dan sikap-sikap itu. James menyebutkan kemampuan-kemampuan ini dalam membentuk cara-cara seseorang menanggapi dunia di sekitarnya.36
b. Charles Horton Cooley
Cooley menjelaskan dua hal tentang self. Pertama, dia melihat self sebagai proses dimana individu-individu bisa melihat diri mereka sendiri sebagai obyek bersama dengan obyek-obyek lainnya di dalam lingkungan sosial mereka. Kedua,dia mengakui bahwa self muncul dari komunikasi dengan orang lain. Dalam berinteraksi dengan orang lain, seorang individu menafsirkan gerak-gerik orang lain dan dengan demikian dia dapat melihat dirinya berdasarkan sudut pandangan orang lain. Dengan demikian mereka membentuk gambaran-gambaran
tentang diri sendiri. Cooley menamakan proses ini “looking glass self”. Dia juga
mengakui bahwa self muncul dari interaksi berdasarkan konteks kelompok. Dialah yang mengambangkan konsep tentang kelompok primer yang cukup menentukan perkembangan kepribadian seseorang.
c. John Dewey
Sebagai pendukung utama pragmatisme, dewey memusatkan perhatiannya pada proses penyesuaian diri manusia terhadap dunia. Menurut dia, keunikan
36
manusia muncul dari proses penyesuaian diri dengan kondisi-kondisi hidupnya. Dewey menegaskan bahwa yang unik dalam diri manusia adalah kemampuannya untuk berpikir. Selama hidupnya dia berusaha untuk memahami kesadaran manusia.
Sekalipun para pemikir ini menyajikan sejumlah konsep yang berhubungan dengan interaksionisme simbolik, namun mereka tidak berhasil membuat satu sintese atau sistematisasi mengenai perspektif itu. Interaksionisme simbolik berkembang menjadi satu perspektif dalam sosiologi berkat usaha dua teoritikus terkenal, yakni George Herbert Mead dan Herbert Blumer. G.H.mead adalah pencetus dari teori ini sedangkan blumer, yang tidak lain adalah murid dari Mead, mengembangkan ajaran gurunya itu. Pada bagian berikut ini kita akan menguraikan beberapa pokok pikiran mengenai teori ini.37
d. George Herbert Mead
George Herbert Mead lahir tahun 1863 Massachusetts, tetapi pindah selagi dia masih kecil ke Oberlin, Ohio, tempat Seminari Teologi Oberlin, dimana ayahnya Hiram Mead mengajar. George Herbert Mead menghabiskan sebagian besar waktunya dengan mengajar di Universitas Chicago di sana dia menulis banyak artikel dan tidak pernah menulis buku. Bukunya yang berjudul Mind, Self and Society baru diterbitkan sesudah ia meninggal. Buku itu merupakan kumpulan yang diterbitkannya di Universitas Chicago. Dalam buku itu, dia mendiskusikan antara lain tentang Mind, Self dan Society.
a) Mind (Akal Budi)
Mead memandang akalbudi (mind) bukan sebagai satu benda, melainkan sebagai satu proses sosial. Menurut dia, akalbudi manusia secara kualitatif berbeda dengan binatang. Yakni kebanyakan tindakan manusia melibatkan satu proses mental. Artinya antara Aksi dan Reaksi terdapat suatu proses yang melibatkan pikiran atau kegiatan mental. Simbol-simbol arti tersebut bisa berbentuk gerak-gerik fisik tetapi bisa juga dalam bahasa. Kemampuan untuk menciptakan dan menggunakan
37
George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta:Kencana,
bahasa merupakan hal yang membedakan manusia dari binatang. Bahasa memampukan kita untuk menanggapi bukan hanya simbol-simbol yang berbentuk gerak-gerik tubuh melainkan juga symbol-simbol yang berbentuk kata-kata. Guna mempertahankan keberlangsungan suatu kehidupan sosial, maka para aktor harus mengahyati simbol-simbol dengan arti sama.
Mead juga menekankan pentingnya fleksibilitas dari akalbudi (mind) itu. Selain menghayati symbol yang sama dengan arti yang sama. Fleksibilats memungkinkan interaksi biarpun dalam situasi tertentu orang tidak mengerti arti dari stimulus atau symbol yang diberikan. Symbol-simbol Verbal adalah penting bagi Mead karena kita selalu dapat mendengarkan diri sendiri walaupun kita mungkin tidak sellau bisa melihat tanda gerak-gerik fisik kita.
Konsep tentang arti sangat penting bagi mead. Perbuatan bisa mempunyai arti kalau kita bisa menggunakan akal budi untuk menempatkan diri kita di dalam diri orang lain, sehingga kita bisa menafsirkan pikiran-pikirannya dengan tepat. Namun di sini, Mead mengatakan bahwa arti atau meaning itu aslinyatidak berasal dari akal budi melainkan meaning itu aslinya tidak berasal dari akal budi melainkan dari situasi sosial. Dengan kata lain, situasi sosial memberi arti kepada sesuatu.
b) Self (diri)
Bagi Mead, kemampuan untuk memberi jawaban kepada diri sendiri sebagaimana ia memberi jawaban terhadap orang lain, merupakan kondisi-kondisi penting dalam rangka perkembangan akalbudi itu sendiri. Dalam arti ini, self sebagaimana juga mind bukanlah suatu obyek melainkan suatu proses sadar yang mempunyai beberapa kemampuan seperti kemampuan untuk memberikan jawaban atau tanggapan diri sendiri sebagaimana orang lain juga memberikan jawaban atau tanggapan, kemampuan untuk memberikan jawaban sebagaimana generalized other aturan norma-norma, hokum memberikan jawaban kepadanya,
kemampuan untuk mengambil bagian dalam percakpannya sendiri dengan orang lain, kemampuan untuk menyadari apa yang dikatakannya dan kemampuan untuk menggunakan kesadaran itu untuk menentukan apa yang dilakukan pada tahap berikutnya.
Menurut Mead, Self itu mengalami perkembangan melalui proses