• Tidak ada hasil yang ditemukan

Internal rate of return

Untuk mengetahui kemampuan untuk dapat memperoleh kembali investasi yang sudah dikeluarkan dapat dihitung dengan menggunakan IRR. Hal ini dapat dihitung berdasarkan persamaan (11).

Alat pengupas kulit ari biji kedelai dengan blower dirancang untuk mengupas kulit ari biji kedelai yang masih dalam keadaan kering atau belum mendapat perlakuan apapun seperti perendaman ataupun perebusan dan memisahkan kulit ari dengan biji kedelainya dengan menggunakan angin dari

blower. Pengupasan dilakukan dengan cara kering karena pengupasan dengan cara

basah sudah pernah dilakukan pada penelitian sebelumnya dan biji kedelai hasil pengupasan dengan cara kering dapat disimpan tanpa harus langsung diolah. Pengupasan dengan cara basah juga kurang praktis jika dibandingkan dengan cara kering, karena sebelum pengupasan kedelai harus terlebih dahulu direndam dengan air, sedangkan dengan cara kering kedelai dapat langsung dilakukan pengupasan tanpa harus ada perlakuan apapun. Kekurangan alat untuk pengupasan dengan cara basah juga lebih resistan terhadap korosi karena menggunakan media air. Alat ini mempunyai dimensi panjang 61 cm, lebar 60 cm dan tinggi 115 cm.

Alat pengupas kulit ari biji kedelai dengan blower ini terdiri dari 4 bagian yaitu:

1. Rangka alat 2. Silinder pengupas 3. Motor listrik 4. Blower

Silinder pengupas terbuat dari bahan besi dengan diameter 10 cm dan tebal 8 cm. Silinder pengupas tersebut memiliki lubang-lubang sebanyak 50 dengan diameter 0,3 cm sebagai ruang untuk biji kedelai dalam proses pengupasan. Biji kedelai yang telah dikupas akan dibawa ke saluran pengeluaran.

Blower yang digunakan dalam alat ini adalah centrifugal blower atau yang

sering kita kenal dengan nama blower keong. Blower ini mempunyai daya hisap atau kapasitas yang kecil tetapi mempunyai daya dorong yang besar sehingga

blower ini cocok digunakan di ruangan yang tidak terlalu besar (kapasitas ruangan

yang kecil), tetapi memerlukan jarak buang atau daya dorong yang jauh. Blower ini memiliki daya 150 Watt dan kecepatan 3000 rpm dengan dimensi panjang 25 cm, lebar 16 cm, tinggi 21 cm, dan diameter lubang output 2 inch.

Proses Pengupasan dan Pemisahan

Alat pengupas kulit ari biji kedelai ini bekerja berdasarkan prinsip putaran pada silinder pengupas. Setelah alat dipastikan dalam keadaan siap pakai dan

blower telah dihidupkan dengan kecepatan angin yang telah ditentukan, bahan

baku berupa biji kedelai kering dimasukkan ke dalam saluran pemasukan (hopper). Kemudian, biji kedelai yang dimasukkan ke dalam mekanisme ini terkupas. Pengupasan terjadi karena adanya gesekan antara silinder pengupas dengan biji kedelai dan dinding yang selanjutnya biji kedelai yang telah terkupas kulit arinya akan keluar melalui saluran pengeluaran biji kedelai dan tertampung ke dalam wadah penampungan. Kulit ari yang telah terpisah dari biji kedelai akan secara langsung terhembus oleh angin dari blower dikarenakan kulit ari yang massanya lebih rendah dari massa biji kedelai dan akan terbawa ke saluran pembuangan kulit ari kedelai.

yaitu maksimum, medium, dan minimum dengan masing-masing kecepatan dilakukan 9 kali ulangan. Setiap ulangan pada masing-masing kecepatan blower menggunakan bahan 1 kg kedelai. Data hasil pengupasan dengan jumlah 9 kg pada masing-masing kecepatan blower dapat dilihat pada Tabel 1, Tabel 2, dan Tabel 3 di bawah ini.

Tabel 1. Hasil pengupasan dengan blower kecepatan maksimum

Tabel 2. Hasil pengupasan dengan blower kecepatan medium Ulangan Berat kedelai terkupas (gr) Berat kulit ari terkupas (gr) Berat kedelai pada penampungan kulit (gr)

Berat kulit pada penampungan biji (gr) Waktu (detik) I 890 37,81 26,45 10,70 74 II 895 37,16 27,38 10,87 63 III 890 36,27 25,84 11,59 67 IV 890 37,94 27,96 10,02 54 V 910 34.83 27,45 10,33 61 VI 900 37,61 26,18 11,39 67 VII 905 37,54 26,53 11,03 65 VIII 910 35,73 27,29 10,79 71 IX 910 36,69 25,87 11,08 76 Total 8100 331,58 240,95 97,80 598 Rataan 900 36,84 26,77 10,86 66 Ulangan Berat kedelai terkupas (gr) Berat kulit ari terkupas (gr) Berat kedelai pada penampungan kulit (gr)

Berat kulit pada penampungan biji (gr) Waktu (detik) I 925 31,99 8,24 15,82 83 II 930 32,33 7,96 14,17 85 III 920 32,41 7,73 14,49 88 IV 910 33,53 10,06 14,53 84 V 930 32,47 8,12 13,56 81 VI 940 31,34 9,55 13,68 87 VII 915 32,54 6,53 14,03 85 VIII 920 32,73 7,29 13,79 81 IX 910 33,69 9,87 14,08 80 Total 8300 293,03 75,35 128,15 754 Rataan 922,22 32,56 8,37 14,24 83,78

Tabel 3. Hasil pengupasan dengan blower kecepatan minimum

Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh rata-rata dari 9 kali ulangan dengan kecepatan maksimum yaitu berat kedelai terkupas sebanyak 0,9 kg; berat kulit ari terkupas sebanyak 0,037 kg; berat kedelai pada penampungan kulit sebanyak 0,027 kg; dan berat kulit pada penampungan biji adalah 0,011 kg. Kemudian diperoleh persentase kedelai terkupas pada penampungan kulit adalah 2,67% dan persentase kulit ari pada penampungan biji adalah 1,086%. Rata-rata dari 9 kali ulangan dengan kecepatan medium yaitu berat kedelai terkupas sebanyak 0,922 kg; berat kulit ari terkupas sebanyak 0,032 kg; berat kedelai pada penampungan kulit sebanyak 0,0084 kg; dan berat kulit pada penampungan biji adalah 0,0142 kg. Kemudian diperoleh persentase kedelai terkupas pada penampungan kulit adalah 0,84% dan persentase kulit ari pada penampungan biji adalah 1,42%. Rata-rata dari 9 kali ulangan dengan kecepatan minimum yaitu berat kedelai terkupas sebanyak 0,93 kg; berat kulit ari terkupas sebanyak 0,017 kg; berat kedelai pada penampungan kulit sebanyak 0,00065 kg; dan berat kulit pada penampungan biji adalah 0,043 kg. Kemudian diperoleh persentase Ulangan Berat kedelai terkupas (gr) Berat kulit ari terkupas (gr) Berat kedelai pada penampungan kulit (gr)

Berat kulit pada penampungan biji (gr) Waktu (detik) I 930 17,22 0,71 41,65 68 II 920 16,36 0,78 41,90 67 III 930 16,90 0,62 43,46 68 IV 930 16,53 0,41 42,03 74 V 940 17,20 0,60 45,17 71 VI 930 16,59 0,58 41,61 67 VII 945 16,54 0,53 44,03 65 VIII 930 16,73 0,79 43,79 71 IX 920 16,69 0,87 44,08 70 Total 8375 150,76 5,89 387,72 621 Rataan 930,55 16,75 0,65 43,08 69

pada penampungan biji adalah 4,31%.

Dari hasil yang dipeoleh dari data, blower dengan kecepatan maksimum memiliki kinerja yang paling baik. Hal ini dikarenakan hasil pemisahan kulit ari dengan kedelai paling bagus pada blower kecepatan maksimum dengan persentase kulit ari pada penampungan biji yang paling kecil yaitu sebesar 1,086%. Semakin kecil persentase kulit ari pada penampungan biji maka semakin banyak kulit ari yang berhasil dipisahkan dari kedelai. Sedangkan blower dengan kecepatan minimum memiliki kinerja yang paling buruk. Hal ini dikarenakan persentase kulit ari pada penampungan biji paling besar yaitu sebesar 4,31%. Semakin besar persentase kulit ari pada penampungan biji maka semakin sedikit pula kulit ari yang berhasil dipisahkan dari kedelai.

Kapasitas Efektif Alat

Kapasitas efektif alat didefenisikan sebagai kemampuan alat dan mesin dalam menghasilkan suatu produk (kg) per satuan waktu (jam). Dalam hal ini kapasitas efektif alat dihitung dari perbandingan antara banyaknya biji kedelai yang dikupas (kg) dengan waktu yang dibutuhkan selama proses pengupasan.

Pada penelitian ini, lama waktu pengupasan mulai dihitung pada saat biji kedelai dimasukkan ke dalam saluran pemasukan (hopper) sampai dengan biji kedelai selesai dikupas hingga sudah tidak ada lagi kedelai yang keluar dari saluran pengeluaran dan juga sudah tidak ada lagi kulit ari yang dikeluarkan dari saluran pengeluaran dan kemudian mesin dimatikan.

Tabel 4. Kapasitas efektif alat

Pada blower kecepatan maksimum, berat kedelai terkupas lebih rendah dibandingkan dengan blower kecepatan medium dan minimum. Hal ini disebabkan oleh kecepatan angin pada blower kecepatan maksimum lebih tinggi dibandingkan blower dengan kecepatan medium dan minimum, sehingga berat kulit ari yang terhempas lebih banyak dan jumlah biji kedelai terkupas yang terikut pada wadah penampungan kulit ari juga lebih banyak.

Pada blower kecepatan medium, waktu yang dibutuhkan untuk mengupas 1 kg kedelai lebih lama dibandingkan dengan blower kecepatan maksimum dan minimum. Hal ini dikarenakan kecepatan kedelai jatuh hampir sama dengan kecepatan angin yang dihembuskan blower dengan kecepatan medium sehingga dengan kecepatan tersebut dapat menahan jatuhnya biji kedelai ke dalam wadah namun mencukupi untuk menerbangkan kulit ari hingga ke wadah penampungan.

Pada blower kecepatan medium, kapasitas efektif alat lebih rendah dibandingkan dengan kapasitas efektif alat pada blower kecepatan maksimum dan minimum yaitu sebesar 43,47 kg/jam. Hal ini dikarenakan waktu yang dibutuhkan untuk mengupas dan memisahkan kulit ari lebih lama. Kecepatan jatuhnya kedelai hampir sama dengan kecepatan angin yang dihembuskan blower dengan kecepatan medium sehingga dengan kecepatan tersebut menahan jatuhnya biji kedelai untuk keluar dari saluran menuju ke wadah penampungan oleh sebab itu waktu yang dibutuhkan menjadi cukup lama. Dengan waktu yang cukup lama

Kecepatan Berat kedelai dikupas (gr) Waktu (detik) Kapasitas efektif alat (kg/jam) Maksimum 1000 66,00 54,67 Medium 1000 83,78 43,47 Minimum 1000 69,00 52,63

alat dengan menggunakan blower dengan kecepatan medium menjadi yang paling rendah.

Pada blower kecepatan maksimum diperoleh kapasitas efektif alat yang paling tinggi yaitu sebesar 54,67 kg/jam. Hal ini dikarenakan waktu yang dibutuhkan untuk mengupas dan memisahkan kulit ari lebih cepat. Kecepatan angin yang dihembuskan oleh blower cukup tinggi sehingga proses pemisahan kulit ari dengan kedelai menjadi lebih cepat. Dengan waktu yang cukup cepat tersebut menjadikan nilai kapasitas efektif alat dengan kecepatan blower maksimum menjadi yang paling tinggi.

Hal yang cukup mempengaruhi besarnya nilai kapasitas efektif alat pada alat ini terletak pada waktu pengupasan dan pemisahan kulit ari dengan kedelai karena mempunyai perbedaan waktu yang cukup signifikan. Sedangkan pada berat kedelai terkupas tidak begitu mempengaruhi dikarenakan jumlah dari berat kedelai terkupas pada tiap tingkat kecepatan blower perbedaan beratnya tidak begitu jauh.

Rata-rata waktu pengupasan dari 9 kali ulangan dengan kecepatan maksimum adalah 66 detik atau 0,018 jam dengan berat kedelai dikupas 1000 gr dan diperoleh kapasitas efektif alat adalah 54,67 kg/jam. Rata-rata waktu pengupasan dari 9 kali ulangan dengan kecepatan medium adalah 83,78 detik atau 0,023 jam dengan berat kedelai dikupas 1000 gr dan diperoleh kapasitas efektif alat adalah 43,47 kg/jam. Rata-rata waktu pengupasan dari 9 kali ulangan dengan kecepatan minimum adalah 69 detik atau 0,019 jam dengan berat kedelai terkupas 1000 gr dan diperoleh kapasitas efektif alat adalah 52,63 kg/jam.

Kapasitas efektif alat pengupas kulit ari kedelai sebelum dimodifikasi adalah 55,55 kg/jam. Kapasitas efektif alat pengupas kulit ari kedelai sebelum dimodifikasi lebih besar dibandingkan setelah hasil modifikasi dengan penambahan blower. Hal ini dikarenakan waktu yang dibutuhkan alat pengupas kulit ari kedelai sebelum dimodifikasi untuk mengupas kulit ari kedelai lebih singkat dibandingkan setelah hasil modifikasi. Proses pengupasan pada alat pengupas kulit ari kedelai dengan blower lebih lama karena alat harus bekerja lebih lama untuk memisahkan kulit ari dengan biji kedelai hasil pengupasan dengan blower dan ada penambahan plat pada bagian saluran pengeluaran yang mengakibatkan memperlambat jatuhnya biji kedelai dan kulit ari hasil pengupasan. Penambahan plat tersebut berfungsi untuk memperlambat jatuhnya biji kedelai dan kulit ari hasil pengupasan sehingga kinerja blower lebih baik untuk memisahkan biji kedelai dan kulit ari.

Kapasitas efektif alat pengupas kulit ari kedelai sebelum dimodifikasi lebih besar dibandingkan setelah hasil modifikasi dengan penambahan blower namun, pada alat pengupas kulit ari kedelai sebelum dimodifikasi memiliki saluran pengeluaran kedelai dan kulit ari yang sama, sehingga harus ada penyortiran secara manual untuk memisahkan kedelai dengan kulit arinya dan hal itu menambah waktu kerja dan tenaga yang dibutuhkan sehingga pekerjaan menjadi kurang efektif dan efisien.

Persentase Kedelai Terkupas pada Penampungan Kulit

Persentase kedelai terkupas pada penampungan kulit dihitung dengan membagikan berat biji kedelai pada penampungan kulit kedelai hasil kupasan terhadap berat kedelai dikupas. Kedelai terkupas pada penampungan kulit ditandai

penampungan kulit. Pengukuran persentase kedelai terkupas pada penampungan kulit dilakukan dengan pengamatan secara visual dari hasil pengupasan. Setelah pengupasan, dilakukan pemisahan atau penyortiran pada biji kedelai yang tidak terkupas atau telah terkupas yang berada pada wadah penampungan kulit.

Tabel 5. Persentase kedelai terkupas pada penampungan kulit

Pada blower kecepatan minimum diperoleh persentase kedelai terkupas pada penampungan kulit paling kecil dibandingkan dengan blower kecepatan maksimum dan medium yaitu sebesar 0,065%. Hal ini disebabkan oleh kecepatan angin pada blower kecepatan minimum lebih rendah dibandingkan blower dengan kecepatan maksimum dan medium, sehingga biji kedelai terkupas tidak ikut terhempas ke dalam penampungan kulit ari dan jumlah kulit ari terkupas yang terikut pada wadah penampungan biji juga lebih banyak. Sedangkan pada blower kecepatan maksimum diperoleh persentase kedelai terkupas pada penampungan kulit paling besar dibandingkan dengan blower kecepatan medium dan minimum yaitu sebesar 2,67%. Hal ini disebabkan oleh kecepatan angin pada blower kecepatan maksimum lebih tinggi dibandingkan blower dengan kecepatan medium dan minimum, sehingga jumlah biji kedelai terkupas yang ikut terhempas ke dalam penampungan kulit ari menjadi lebih banyak namun jumlah kulit ari terkupas yang terikut pada wadah penampungan biji menjadi lebih sedikit.

Kecepatan Berat kedelai terkupas pada penampungan kulit (gr) Berat kedelai dikupas (gr) Persentase kedelai terkupas pada penampungan kulit (%) Maksimum 26,77 1000 2,67 Medium 8,37 1000 0,84 Minimum 0,65 1000 0,06

Persentase Kulit Ari Terkupas pada Penampungan Kedelai

Persentase kulit ari pada penampungan kedelai dihitung dengan membagikan berat kulit ari pada penampungan kedelai terhadap berat kulit ari dikupas. Kulit ari pada penampungan kedelai ditandai dengan kulit ari yang telah terkupas berada pada wadah penampungan biji kedelai terkupas. Pengukuran persentase kulit ari pada penampungan kedelai terkupas dilakukan dengan pengamatan secara visual dari hasil pengupasan. Setelah pengupasan, dilakukan pemisahan atau penyortiran pada kulit ari yang telah terkupas yang berada pada wadah penampungan kedelai.

Tabel 6. Persentase kulit ari pada penampungan kedelai

Pada blower kecepatan maksimum diperoleh persentase kulit ari pada penampungan kedelai terkupas paling kecil dibandingkan dengan blower kecepatan medium dan minimum yaitu sebesar 1,09%. Hal ini disebabkan oleh kecepatan angin pada blower kecepatan maksimum lebih tinggi dibandingkan

blower dengan kecepatan medium dan minimum, sehingga berat kulit ari yang

terhempas pada wadah penampungan kulit ari lebih banyak dan kulit ari yang terikut pada wadah penampungan biji menjadi lebih sedikit. Sedangkan pada

blower dengan kecepatan minimum diperoleh persentase kulit ari pada

penampungan kedelai terkupas paling besar dibandingkan dengan blower kecepatan maksimum dan medium yaitu sebesar 4,31%. Hal ini disebabkan oleh kecepatan angin pada blower kecepatan minimum dengan lebih rendah

Kecepatan Berat kulit ari pada penampungan kedelai

terkupas (gr)

Berat kedelai dikupas (gr)

Persentase kulit ari pada penampungan

kedelai (%)

Maksimum 10,86 1000 1,09

Medium 14,24 1000 1,42

banyak kulit ari yang terikut pada wadah penampung biji dan berat kulit ari yang terhempas pada wadah penampungan kulit ari menjadi lebih sedikit.

Analisis Ekonomi

Analisis ekonomi digunakan untuk menentukan besarnya biaya yang harus dikeluarkan saat produksi menggunakan alat ini. Dengan analisis ekonomi dapat diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga keuntungan alat dapat diperhitungkan. Umumnya setiap investasi bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Namun ada juga investasi yang bukan bertujuan untuk keuntungan, misalnya investasi dalam bidang sosial kemasyarakatan atau investasi untuk kebutuhan lingkungan, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Dari analisis ekonomi yang dilakukan (Lampiran 3) diperoleh biaya untuk memproduksi biji kedelai tanpa kulit ari dengan menggunakan blower maksimum sebanyak 1 kg sebesar Rp. 107,366/kg. Biaya untuk memproduksi biji kedelai tanpa kulit ari dengan menggunakan blower medium sebanyak 1 kg sebesar Rp. 134,354/kg. Biaya untuk memproduksi biji kedelai tanpa kulit ari dengan menggunakan blower minimum sebanyak 1 kg sebesar Rp. 111,473/kg.

Break even point

Analisis titik impas umumnya berhubungan dengan proses penentuan tingkat produksi untuk menjamin agar kegiatan usaha yang dilakukan dapat membiayai sendiri (self financing), dan selanjutnya dapat berkembang sendiri (self growing). Dalam analisis ini keuntungan awal dianggap nol. Manfaat perhitungan titik impas (break even point) adalah untuk mengetahui batas produksi minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar usaha yang dikelola

masih layak untuk dijalankan. Pada kondisi ini income yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya operasional tanpa adanya keuntungan. Bila pendapatan dari produksi berada di sebelah kiri titik impas maka kegiatan usaha akan menderita kerugian, sebaliknya bila di sebelah kanan titik impas akan memperoleh keuntungan.

Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan (Lampiran 4), alat pengupas kulit ari biji kedelai dengan penggunaan blower maksimum akan mencapai break even point apabila telah memproduksi biji kedelai tanpa kulit ari sebanyak 50.939,77 kg. Alat pengupas kulit ari biji kedelai dengan penggunaan blower medium akan mencapai break even point apabila telah memproduksi biji kedelai tanpa kulit ari sebanyak 40.534,80 kg. Dan alat pengupas kulit ari biji kedelai dengan penggunaan blower minimum akan mencapai break even point apabila telah memproduksi biji kedelai tanpa kulit ari sebanyak 49.065,66 kg.

Net present value

Net present value adalah kriteria yang digunakan untuk mengukur suatu

alat layak atau tidak untuk diusahakan. Dalam menginvestasikan modal dalam penambahan alat pada suatu usaha maka net present value ini dapat dijadikan salah satu alternatif dalam analisis finansial. Dari percobaan dan data yang diperoleh (Lampiran 5) pada penelitian dapat diketahui besarnya nilai NPV 16%

dari alat ini dengan penggunaan blower maksimum adalah sebesar Rp. 42.492.224,43 dan NPV 20% adalah sebesar Rp. 38.869.681,93. Nilai

NPV 16% dari alat ini dengan penggunaan blower medium adalah sebesar Rp. 42.520.694,72 dan NPV 20% adalah sebesar Rp. 38.893.570,53. Dan nilai

Rp. 42.491.871,46 dan NPV 20% adalah sebesar Rp. 38.869.681,93. Hal ini berarti usaha ini layak untuk dijalankan karena nilainya lebih besar ataupun sama dengan nol. Hal ini sesuai dengan pernyataan Darun (2002) yang menyatakan bahwa kriteria NPV yaitu:

- NPV > 0, berarti usaha yang telah dilaksanakan menguntungkan;

- NPV < 0, berarti sampai dengan t tahun investasi usaha tidak menguntungkan;

- NPV = 0, berarti tambahan manfaat sama dengan tambahan biaya yang dikeluarkan.

Internal rate of return

Internal rate of return (IRR) ini digunakan untuk memperkirakan

kelayakan lama (umur) yang dimiliki suatu alat atau mesin pada tingkat keuntungan tertentu. Dalam menginvestasikan sampai dimana kelayakan usaha itu dapat dilaksanakan. Maka hasil dari perhitungan ini untuk penggunaan blower maksimum dan blower minimum adalah sebesar 66,92%. Artinya kita dapat menaikkan bunga sampai pada keuntungan 66,92%, jika lebih dari itu maka akan mengalami kerugian. Usaha ini masih layak dijalankan apabila bunga pinjaman bank tidak melebihi 66,92%, jika bunga pinjaman di bank melebihi angka tersebut maka usaha ini tidak layak lagi diusahakan. Sedangkan untuk penggunaan blower medium adalah sebesar 66,88%. Artinya kita dapat menaikkan bunga sampai pada keuntungan 66,88%, jika lebih dari itu maka akan mengalami kerugian. Usaha ini masih layak dijalankan apabila bunga pinjaman bank tidak melebihi 66,88%, jika bunga pinjaman di bank melebihi angka tersebut maka usaha ini tidak layak lagi

diusahakan. Semakin tinggi bunga pinjaman di bank maka keuntungan yang diperoleh dari usaha ini semakin kecil.

1. Kapasitas efektif modifikasi alat pengupas kulit ari biji kedelai dengan blower dalam penelitian ini ada 3 dengan tingkat kecepatan yang berbeda yaitu kecepatan maksimum sebesar 54,67 kg/jam; kecepatan medium sebesar 43,47 kg/jam; dan kecepatan minimum sebesar 52,63 kg/jam.

2. Persentase kedelai terkupas pada penampungan kulit dalam penelitian ini ada 3 dengan tingkat kecepatan yang berbeda yaitu kecepatan maksimum sebesar 2,67%; kecepatan medium sebesar 0,84%; dan kecepatan minimum sebesar 0,06%.

3. Persentase kulit ari pada penampungan kedelai dalam penelitian ini ada 3 dengan tingkat kecepatan yang berbeda yaitu kecepatan maksimum sebesar 1,09%; kecepatan medium sebesar 1,42%; dan kecepatan minimum sebesar 4,31%.

4. Biaya pokok yang dikeluarkan untuk memproduksi biji kedelai tanpa kulit ari sebanyak 1 kg dari alat modifikasi alat pengupas kulit ari biji kedelai dengan

blower ini ada 3 dengan tingkat kecepatan yang berbeda yaitu kecepatan

maksimum sebesar Rp. 107,366/kg; kecepatan medium sebesar Rp. 134,354/kg; dan kecepatan minimum sebesar Rp. 111,473/kg.

5. Nilai break even point (titik impas) pada alat ini ada 3 dengan tingkat kecepatan yang berbeda yaitu kecepatan maksimum sebesar 50.939,77 kg; kecepatan medium sebesar 40.534,80 kg; dan kecepatan minimum sebesar 49.065,66 kg.

6. Net present value 16% dan 20% dari modifikasi alat pengupas kulit ari kedelai

dengan blower ini ada 3 dengan tingkat kecepatan yang berbeda yaitu kecepatan maksimum sebesar Rp. 42.492.224,43 dan Rp. 38.869.681,93. Untuk kecepatan medium sebesar Rp. 42.520.694,72 dan Rp. 38.893.570,53.

Dan untuk kecepatan minimum sebesar Rp. 42.491.871,46 dan Rp. 38.869.386,89 yang artinya usaha ini layak untuk dijalankan.

7. Internal rate of return dari modifikasi alat pengupas kulit ari kedelai dengan blower ini ada 3 dengan tingkat kecepatan yang berbeda yaitu kecepatan

maksimum sebesar adalah 66,92%; kecepatan medium sebesar 66,88%; dan kecepatan minimum sebesar 66,92%

Saran

1. Dengan kapasitas alat yang masih rendah perlu dilakukan pengembangan alat untuk meningkatkan kapasitas alat.

Sejarah kedelai

Menurut para ahli botani, kedelai adalah tanaman yang berasal dari Manchuria dan sebagian Cina, dan terdapat jenis kedelai liar yang tergolong dalam spesies Glycine ussuriensis. Kemudian menyebar ke daerah tropika dan subtropika serta dilakukan pemuliaan sehingga dihasilkan berbagai jenis kedelai unggul yang dibudidayakan (Koswara, 1992).

Perkembangan kedelai di indonesia

Awal mula penyebaran dan pembudidayaan kedelai yaitu di pulau Jawa, kemudian berkembang ke Bali, Nusa Tenggara, dan pulau-pulau lainnya. Masuknya kedelai ke Indonesia diduga dibawa oleh para imigran Cina yang mengenalkan beberapa jenis masakan yang berbahan baku biji kedelai.

Botani tanaman kedelai

Kedudukan tanaman kedelai dalam sistematik tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Polypetales

Famili : Leguminosae (Papilionaceae) Genus : Glycine

Spesies : Glycine max (L.) Merill.Sinonim dengan G. soya (L.) sieb & Zucc.atau Soya max atau S. hipsida.

Dokumen terkait