BAB V : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2 Interprestasi Data/Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis define mengenai karakteristik kualitas kunci atau CTQ produk PE-BZ080 dapat diketahui bahwa kebijakan perusahan bertujuan PE-BZ080 dengan kualitas tinggi atau saseuai dengan spesifikasi konsumen, penentu PE-BZ080 sengan tingkat cacat rendah, dan kebutuhan PE-BZ080 dibagi menjadi dua antara lain: (1) PE-BZ080 tidak defect secara visual yaitu dirty (kotor) dan crack (retakan), (2) PE-BZ080 tidak defect secara dimensi yaitu short shot, tear
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alkatiri et al., (2015), dalam artikel yang berjudul implementasi pengendalian kualitas untuk megurangi jumlah produk cacat tekstil kain katun menggunakan metode six sigma pada PT. SSP, yang memberikan hasil analisis define bahwa kondisi produk yang diteliti menghasilkan berbagai cacat yang terjadi. Kondisi ini membuat peneliti membuat kriteria cacat pada kain katun. Kriteria yang dihasilkan ada 4 yaitu flag obat, gambar tidak pas, luntur, dan salah warna. Maka dari 4 kondisi cacat muncullah yang disebut dengan CTQ (Ctritical To Quality).
5.2.2 Pembahasan Atas Hasil Measure
Perhitungan kemampuan proses difokuskan kepada produk PE-BZ080 yang mengalami defect short shot. Berdasarkan hasil menghitung Defect Per Unit (DPU) dapat diketahui bahwa selama periode januari sampai dengan agustus tahun 2019 menhasilkan nilai DPU sebesar: 0,03975; 0,01534; 0,03567; 0,08310; 0,05504; 0,03951; 0,03250 dan 0,05753. Berdasarkan pengukuran dilakukan dengan menghitung garis tengah diperoleh nilai center line (CL) sebsar 0,04587, hasil menghitung batas kendali atas (Upper Control Limit/UCL) sebesar: 0,07358, dan hasil menghitung batas kendali bawah (Lower Control Limit/UCL) sebesar: 0,01816. Bardasarkan hasil menghitung DPMO menunjukkan nilai kegagalan per sejuta kesempatan pada setiap periode sebesar: 39745,6; 15335,5; 35673,2; 83100,6; 55039,8; 39513,7; 32502,8; dan 57534,2. Berdasarkan hasil mengkonversikan nilai sigma dapat diketahui nilai sigma pada PT. Pacific Rubber Works Indonesia pada tingkat 3,19 sigma. Berdasarkan pembahasan hasil CTQ dan hasil tahap measure dapat juga dibuatkan tabel perhitungan DPMO sebagai berikut:
Tabel 5.6
Perhitungan DPMO Produk PE-BZ080
No. Keterangan Januari-Agustus 2019
1. Prouksi 44862
2. Defect 2058
3. CTQ 1
4. Defect Per Unit 0,04587
5. Defect Per Million Opprtunities 45.870
6. Tingkat Sigma 3,19
Sumber: Data penelitian yang diolah MS.Excel, 2019.
Tabel 5.7
Perhitungan Level Sigma Produk PE-BZ080
Level Sigma DPMO COPQ
1 Sigma 691.462 (sangat tidak kompetitif) Tidak dapat dihitung 2 Sigma 308.538 (rata-rata industri Indonesia) Tidak dapat dihitung
3 Sigma 66.807 25-40% dari penjualan
4 Sigma 6.210 15-25% dari penjualan
5 Sigma 233 5-15% dari penjualan
6 Sigma 3,4 (industri kelas dunia) < 1% dari penjualan Sumber: Pedoman Implementasi Six Sigma. Gaspersz, 2002 dalam Sirine dan Kurniawati, 2017.
Menurut Gaspersz (2011) peningkatan kualitas diukur berdasarkan presntase COPQ (cost of poor quality) terhadap penjualan. Berdasarkan pada perhitungan DPMO dan tingkat Sigma diatas serta mengacu pada tabel 5.6 dan 5.7, dapat dikatakan bahwa proses pengendalian mutu produk PE-BZ080 di PT. Pacific Rubber Works Indonesia sudah baik yaitu berada pada tingkat sigma 3,19, yang berarti dalam satu juta kali produksi PE-BZ080 hanya terdapat 45.870 produk yang
defect.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ekawati dan Rachman (2017), dalam artikel yang berjudul analisis pengendalian kualitas produk Horn PT. MI menggunakan Six Sigma, yang memberikan hasil pada tahap define
diketahui bahwa terdapat 16 jenis CTQ pada produk horn. Kemudian pada tahap
measure dketahui diagram pareto yang paling tertinggi yaitu pada jenis cacat short
sebesar 28,46 % dengan data atribut menggunakan peta kendali p yang datanya masih ada yang keluar batas kendali. Nilai DPMO didapatkan sebesar 86,03 dan nilai sigma sebesar 5,28. Kemudian dilakukan tahap analisa untuk dilakukan analisis menggunakan diagram fishbone.
5.2.3 Pembahasan Atas Hasil Analyze
Pada dasarnya rencana-rencana tindakan akan mendeskripsikan tentang alokasi sumber-sumber daya serta prioritas danatau alternatif yang dilakukan dalam implementasi dari rencana tersebut. Perbaikan dilakukan terhadap semua sumber yang berpotensi untuk menciptakan produk cacat berdasarkan hasil analisis diagram sebab akibat sebagai erikut:
1. Faktor Manpower
Faktor manusia merupakan salah satu penyebab terjadinya defect produk PE-BZ080. Oleh karena itu diperlukan beberapa perbaikan terhadap kinerja dari manusia/operator, sehingga potensi yang menyebabkan cacat dapat dicegah, yaitu dengan:
a. Memberikan training (pelatihan) pada karyawan/operator. Training diberikan pada karyawan/operator yang bertugas membuat PE-BZ080, agar PE-BZ080 yang dihasilkan sesuai standar.
b. Memberi bimbingan danatau dorongan motivasi kepada karyawan agar lebih terampil dan tidak menunda-nunda pekerjaan.
c. Memberi pemahaman kualitas PE-BZ080 guna membangun pengalaman dan menjadikan karyawan lebih teliti lagi akan hasil yang sesuai spesifikasi kualitas produk PE-BZ080.
d. Adanya pengawasan khusus dari Leader atau PIC.
2. Faktor Method
Faktor metode merupakan salah satu penyebab terjadinya defect produk PE-BZ080. Perbaikan yang perlu dilakukan pada faktor metode ini adalah perusahaan membuat jadwal produksi yang tepat untuk setiap jenis produknya, agar tidak terjadi jadwal yang tidak teratur dan mengganggu proses produksi dengan hanya berpatokan pada kejar target.
3. Faktor Machine
Faktor mesin merupakan salah satu penyebab terjadinya defect produk PE-BZ080. Oleh karena itu diperlukan beberapa perbaikan terhadap mesin agar bekerja optimal, sehingga potensi yang menyebabkan defect dapat dicegah, yaitu dengan:
a. Memeriksa settingan mesin sebelum mengoprasikan mersin apakah temperatur sudah berada pada toleransi normatau sesuai SOP yang ditetaplkan.
b.
Melakukan maintenance secara berkala terhadap mesin VMM, apabila ada yangbermasalah pada mesin VMM dilakukan pergantian komponen-komponen yang terdapat pada mesin tersebut. Agar bekerja optimal selama berjalannya proses produksi.
c.
Preventive maintenance wajib dilakukan agar dapat meminimalisir kerusakanmaintenance, tetapi juga operator sebagai pengguna langsung mesin produksi
dengan menerapkan konsep 5S. Selain itu dilakukan inspeksi terhadap komponen mesin yang digunakan agar kinerja mesin dapat berjalan secara maksimal.
4. Faktor Material
Faktor material merupakan salah satu penyebab terjadinya defect produk PE-BZ080. Dilakukan perbaikan berupa pemeriksaan setiap kadar rubber dan bahan pendukung sudah sesuai standar atau belum, agar produk yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi perusahaan.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Harahap et al., (2018), dalam artikel yang berjudul analisis pengendalian kualitas dengan menggunakan metode six sigma (studi kasus: PT. Growth Sumatra Industry), yang memberikan hasil pada analisis diagram sebab akibat bahwa faktor-faktor yang menyebabkan kecacatan produk adalah manusia, metode, mesin dan material.
5.2.4 Pembahasan Atas Hasil Improve
Pembahasan pada tahap ini dirancang solusi dalam melakukan pengendalian dan peningkatan kualitas dengan pendekatan Six Sigma pada layanan yang paling kritis itu berupa usulan perbaikan kualitas bagi CTQ potensial dengan jumlah defect terbanyak yaitu defect short shot sehingga diharapkan dapat meningkatkan performansi kualitas produk tersebut dengan meningkatnya nilai DPMO dan tingkat kapabilitas Sigma.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Setiowati (2018), dalam artikel yang berjudul usulan penerapan metode six sigma untuk mengurangi tingkat kecacatan pada proses produksi Twin-Sphere Rubber Joint with Floating
Flanges TWINFLEX di PT Tozen Indonesia, yang memberikan hasil pada tahap improve akan diberikan usulan-usulan yang akan dapat membantu dalam
mengurangi kegagalan dalam produksi pada produk Twinflex. Perbaikan tersebut ada yang menjadi implementasi dalam penelitian dan juga ada yang menjadi usulan perbaikan terhadap pabrik.
5.2.5 Pembahasan Atas Hasil Control
Pembahasan pada tahap ini akan dibuat lembar control yang digunakan untuk mengendalikan proses atau produk pada saat implementasi sehingga dapat tercapai target Six Sigma. Tahapan control peneliti tidak mengimpementasikan usulan-usulan perbaikan tersebut sehingga pada tahap control ini akan dijelaskan dalam bentuk masukan untuk perusahaan dalam hal yang diharapkan akan dapat membantu perusahaan dalam melakukan pengendalian kualitas. Setelah dilakukan perbaikan dan peningkatan proses pada tahapsebelumnya, perlu dilakukan pengendalian kualitas secara terus menerus agar dapat tercipta suatu kondisi ideal bagi perusahaan. Proses pengendalian kualitas dapat dibantu dengan alat bantu statistik seperti :
1. Check sheet.
2. Peta kendali (control chart), khususnya peta kendali p. 3. Penentuan tingkat sigma .
5. Pendokumentasian.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Oktavianus dan Caesaron (2016), dalam artikel yang berjudul analisis pengendalian kualitas cacat dengan metode six sigma pada perusahaan percetakan (sudi kasus: PT. Delta Mandiri, yang memberikan hasil tahap control dengan pembuatan standar prosedur dan instruksi kerja untuk seluruh proses produksi, pembuatan standar pengaturan dan penggunan mesin, pembuatan standar kualitas produk dengan jenis defect ditampilkan secara visual agar lebih mudah, pembuatan jadawal maintenance, melakukan kalibrasi mesin secara berkala, melakukan pelatihan kerja terhadap operator, dan peningkatan kemampuan.
84