Bab III Pencegahan Kanker Serviks
F. Interprestasi IVA
Gambar 6
Perjalanan Penyakit Kanker Serviks
Sumber: Dokter kandungan pribadi – WordPress.com
33 | P a g e
Pemeriksaan IVA dikatakan positif apabila adanya ditemukan area yang berwarna putih dan permukaannya meninggi dengan batasan yang jelas di sekitar Zona Transformasi.
34 | P a g e
BAB IV
TEORI MODEL EDUKASI DETEKSI DINI
KANKER SERVIKS
Landasan teori yang dipakai acuan dalam edukasi deteksi dini kanker serviks ini Health Belief Model dan Teori Perubahan Perilaku.
A. TEORI HEALTH BELIEF MODEL (HBM) 1. Pengertian Health Belief Model
Health Belief Model dikemukakan pertama kali oleh Resenstock 1966, kemudian disempurnakan oleh Becker, dkk 1970 dan 1980. Sejak tahun 1974, teori HBM telah menjadi perhatian para peneliti. Model teori ini merupakan formulasi konseptual untuk mengetahui persepsi individu apakah mereka menerima atau tidak tentang mereka. Variabel yang dinilai meliputi keinginan individu untuk menghindari kesakitan, kepercayaan mereka bahwa terdapat usaha agar menghindari penyakit tersebut.
HBM merupakan suatu konsep yang mengungkapkan 34ebagia dari individu untuk mau atau tidak mau melakukan perilaku sehat (Janz & Becker, 1984). HBM juga dapat diartikan sebagai sebuah konstruk teoretis mengenai kepercayaan individu dalam berperilaku sehat.
35 | P a g e
HBM adalah suatu model yang digunakan untuk menggambarkan kepercayaan individu terhadap perilaku hidup sehat, sehingga individu akan melakukan perilaku sehat, perilaku sehat tersebut dapat berupa perilaku pencegahan maupun penggunaan fasilitas. HBM ini sering digunakan untuk memprediksi perilaku preventif dan juga respon perilaku untuk pengobatan pasien dengan penyakit akut dan kronis. Namun akhir-akhir ini teori HBM digunakan sebagai prediksi berbagai perilaku yang berhubungan dengan sebagian.
Gambaran HBM terdiri dari 6 dimensi, diantaranya:
a. Perceived susceptibility atau kerentanan yang dirasakan konstruk tentang resiko atau kerentanan (susceptibility) personal, Hal ini mengacu pada persepsi subyektif seseorang menyangkut risiko dari kondisi kesehatannya. Di dalam kasus penyakit secara medis, dimensi tersebut meliputi penerimaan terhadap hasil sebagian, perkiraan pribadi terhadap adanya resusceptibilily (timbul kepekaan), dan susceptibilily (kepekaan) terhadap penyakit secara umum.
b. Perceived severity atau keseriusan yang dirasa. Perasaan mengenai keseriusan terhadap suatu penyakit, meliputi kegiatan evaluasi terhadap konsekuensi klinis dan medis (sebagai contoh, kematian, cacat, dan sakit) dan konsekuensi yang mungkin terjadi (seperti efek pada pekerjaan, kehidupan keluarga, dan hubungan). Banyak ahli yang menggabungkan kedua komponen diatas sebagai ancaman yangdirasakan (Perceived Threat).
36 | P a g e
c. Perceived benefits, manfaat yang dirasakan. Penerimaan susceptibility sesorang terhadap suatu kondisi yang dipercaya dapat menimbulkan keseriusan (perceived threat) adalah mendorong untuk menghasilkan suatu kekuatan yang mendukung kearah perubahan perilaku. Ini tergantung pada kepercayaan seseorang terhadap efektivitas dari berbagai upaya yang tersedia dalammengurangi ancaman penyakit, atau keuntungan-keuntungan yang dirasakan (perceived benefit) dalam mengambil upaya-upaya sebagian tersebut.
Ketika seorang memperlihatkan suatu kepercayaan terhadap adanya kepekaan (susceptibility) dan keseriusan (seriousness), sering tidak diharapkan untuk menerima apapun upaya sebagian yang direkomendasikan kecuali jika upaya tersebut dirasa manjur dan cocok.
d. Perceived barriers atau hambatan yang dirasakan untuk berubah, atau apabila individu menghadapi rintangan yang ditemukan dalam mengambil sebagian tersebut. Sebagai tambahan untuk empat keyakinan (belief) atau persepsi.
e. Health motivation dimana konstruk ini terkait dengan motivasi individu untuk selalu hidup sehat. Terdiri atas 36ebagia terhadap kondisi kesehatannya serta health value.
f. Cues to action suatu perilaku dipengaruhi oleh suatu hal yang menjadi isyarat bagi seseorang untuk melakukan suatu atau perilaku. Isyarat-isyarat yang berupa eksternal maupun internal, misalnya pesan-pesan pada media massa, nasihat atau anjuran kawan atau anggota keluarga lain, aspek
37 | P a g e
sosiodemografis, misalnya tingkat, lingkungan tempat tinggal, pengasuhan dan pengawasan orang tua, pergaulan dengan teman, agama, suku, keadaan ekonomi, dan budaya, self-efficacy yaitu keyakinan seseorang bahwa dia mempunyai kemampuan untuk melakukan atau menampilkan suatu perilaku tertentu. Health belief model dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya demografis, karakteristik psikologis, dan juga dipengaruhi oleh structural variable, contohnya adalah ilmu pengetahuan.
Edukasi merupakan yang penting sehingga mempengaruhi HBM individu. Kurangnya pengetahuan akan menyebabkan individu merasa tidak rentan terhadap gangguan, yang dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Edmonds dan kawan-kawan adalah osteoporosis. Karakteristik psikololgis merupakan hal yang mempengaruhi HBM individu. Dalam penelitian ini, karakteristik psikologis yang mempengaruhi health belief model HBM kedua responden adalah ketakutan kedua responden menjalani pengobatan secara medis.
B. TEORI PERILAKU LAWRENCE GREEN
Setiap individu memiliki perilakunya sendiri yang berbeda dengan individu lain, termasuk pada kembar identik sekalipun.
Perilaku tidak selalu mengikuti urutan tertentu sehingga terbentuknya perilaku positif tidak selalu dipengaruhi oleh
38 | P a g e
pengetahuan dan sikap positif mengklasifikasikan beberapa faktor penyebab sebuah tindakan atau perilaku :
1. Faktor pendorong (predisposing factor)
Faktor predisposing merupakan faktor yang menjadi dasar motivasi atau niat seseorang melakukan sesuatu. Faktor pendorong meliputi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai dan persepsi, tradisi, dan unsure lain yang terdapat dalam diri individu maupun masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan (Heri, 2009).
2. Faktor pemungkin (enabling factor)
Faktor enabling merupakan faktor-faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan. Faktor pemungkin meliputi sarana dan prasarana atau fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan. Untuk berperilaku sehat, masyarakat memerlukan sarana dan prasarana pendukung, misalnya perilaku Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI), perempuan yang ingin mendapatkan informasi harus lebih aktif dalam mencari informasi melalui pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, posyandu, dokter atau bidan praktik, dan juga mencari informasi melalui media massa seperti media internet, media cetak, media elektronik, dan media sosial.
39 | P a g e
3. Faktor pendorong atau pendorong (reinforcing factor) Faktor reinforcing merupakan faktor-faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku seseorang yang dikarenakan adanya sikap suami, orang tua, tokoh masyarakat atau petugas kesehatan.
40 | P a g e
BAB V GROUP
A. DEFENISI GROUP
Soekanto (2006) menjelaskan group sebagai himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup berbagi dalam memiliki hubungan timbal balik dan memiliki kesadaran untuk saling tolong-menolong. Sarwono 2009 mendefinisikan group sebagai dua orang atau lebih yang memiliki persepsi sebagai satu kesatuan serta memiliki perasaan sebagai bagian dari group tersebut dan memiliki tujuan saling ketergantungan satu sama lain.
Menurut pola (2004) kelompok adalah suatu grup yaitu sejumlah orang yang ada antara hubungan satu sama lain hubungan itu bersifat sebagai sebuah struktur.
Sarwono (2009) mengatakan bahwa kelompok group adalah dua atau lebih individu yang berinteraksi secara langsung peduli dengan hubungannya dan dalam sebuah grup saling peduli antara anggota grup saling peduli dengan ketergantungan positif untuk berusaha mencapai tujuan bahagia.
B. CIRI & SYARAT GRUP Ciri- Ciri Grup
1. Individu yang berinteraksi mengidentifikasi dirinya sebagai anggota kelompok group serta memiliki kesadaran bahwa ia merupakan bagian dari kelompok;
41 | P a g e
2. Pihak luar mendefinisikan individu yang berinteraksi sebagai anggota group;
3. Terdapat hubungan yang sifatnya timbal balik. Artinya, dalam proses interaksi sehari-hari, baik itu indivdu maupun groupnya dapat saling mempengaruhi satu sama lain;
4. Memiliki norma dan nilai yang disepakati sebagai pengikat dalam bersikap dan bertingkah laku antar anggota group sehingga timbul kesamaan pola perilaku;
5. Memiliki rasa kebersamaan dan solidaritas;
6. Memiliki kesamaan motif, visi dan tujuan;
7. Bersistem dan berproses, dalam kaitan ini, kelompok group terbentuk dalam jangka waktu tertentu dan sebagai konsekuensi dari interaksi dan aktivitas yang dilakukan secara terus-menerus.
Syarat Terbentuknya Grup
1. Setiap anggota kelompok menyadari bahwa ia merupakan bagian dari groupnya. Perlu digaris bawahi bahwa dalam setiap group terdapat pola hubungan timbal balik. Arti hubungan timbal balik yaitu tiap-tiap anggota saling berinteraksi secara sadar sebagai upaya untuk mencapai tujuan atau memenuhi kebutuhan tertentu.
2. Setiap anggota group memiliki kesamaan latar belakang atau karakterisitk. Mereka cenderung membentuk pola interaksi yang lekat karena memiliki kesamaan pengalaman serta dihadapkan pada suatu masalah yang sama.
3. Terdapat struktur, norma dan pola perilaku;
4. Suatu group tentunya memiliki ciri khusus yang menjadikannya berbeda dengan group yang lain. Struktur dan norma group
42 | P a g e
merupakan elemen pembeda yang penting. Setiap group memiliki norma/aturan yang berisi kaidah-kaidah yang bersifat mengatur perilaku para anggotanya hingga akhirnya terbentuklah pola perilaku tertentu yang menjadi ciri khas kelompok tertentu.
C. TEORI-TEORI PEMBENTUKAN GROUP
Teori terbentuknya Group, mengemukakan beberapa teori tentang terbentuknya kelompok atau group antara lain
1. Teori kontrak atau perjanjian teori yang berangkat dari sebuah pemikiran awal yang menyatakan bahwa terbentuknya sebuah negara adalah karena adanya kesepakatan dari masyarakat atau individu individu dalam masyarakat untuk melakukan kesepakatan atau perjanjian mereka sama-sama mendasarkan analisis-analisis mereka pada anggapan dasar bahwa manusia sebagai sumber dari kewenangan sebuah negara
2. Teori-teori ini berpendapat manusia yang tadinya hidup terpisah-pisah kamu jadi hidup dalam pergaulan antar manusia disebabkan karena pada setiap individu terdapat yang senantiasa mendorong untuk bergaul dengan sesamanya.
3. Teori tenaga yang menggabungkan kelompok terbentuk karena manusia senantiasa hidup dalam satu pergaulan yang didorong oleh tenaga-tenaga yang menggabungkan atau mengintegrasikan individu dalam suatu pergaulan.
43 | P a g e
4. Teori kedekatan atau provinsi teori merupakan teori yang sangat dasar tentang terbentuknya kelompok yang menjelaskan bahwa kelompok terbentuk karena adanya afiliasi atau perkenalan dari orang-orang tertentu.
5. Teori keseimbangan salah satu teori yang agak menyeluruh penjelasannya tentang pembentukan kelompok ialah teori keseimbangan yang dikembangkan oleh theodor newcomb teori ini menyatakan bahwa seseorang tertarik pada yang lain karena adanya kesamaan sikap di dalam menanggapi suatu tujuan 6. Teori praktis, teori ini menyatakan bahwa group terbentuk
karena group cenderung memberikan kepuasan atas kebutuhan kebutuhan yang mendasar dari orang-orang kelompok kebutuhan-kebutuhan social practice tersebut dapat berubah ekonomi status keamanan politik dan lainnya.
D. MANFAAT PEMBENTUKAN GRUP
Manfaat pembentukan group, Samuel (1934) dalam bukunya effective public group menyatakan bahwa banyak manfaat membuat group selain pertemanan dan salah satu kebutuhan hidup berpartisipasi dalam group dalam dapat menyelesaikan tugas-tugas yang memerlukan keterampilan dan mencapai tujuan setiap individu belajar keterampilan melalui trial and error akan tetapi berkelompok dapat menyelesaikan tugas dengan lebih cepat karena berbagai keterampilan yang berbeda pada masing-masing individu dapat digabungkan menjadi satu.
44 | P a g e
Manfaat kedua dari pembentukan group ialah anggota group dapat memberikan pendapat untuk menentukan suatu pekerjaan prosesnya serta perubahan sehingga tercapainya tujuan pengambilan suara dalam group membantu diambilnya keputusan dengan tepat.
Group dapat bekerja efektif dalam terapi konseling individual sangat membantu untuk beberapa orang begitu halnya dengan konseling kelompok anggota group mengingatkan anggota lainnya untuk dalam masalah yang diselesaikan di sisi lain dapat saling memberi bantuan dalam menyelesaikan kesulitan.
Manfaat terakhir ialah melalui group kebutuhan individu dapat terpenuhi. Menurut Waldo (1987) membentuk group membantu orang lain rasa tentang rasa peduli rasa pengakuan keberadaan serta arti dengan tujuan hidup anggota group dapat memberi dukungan semasa terjadinya transisi dan perkembangan.
E. KETERBATASAN PEMBENTUKAN GROUP
Keterbatasan pembentukan group walaupun banyak manfaat masuk dalam group akan tetapi terdapat juga keterbatasan dalam group 1983 menyatakan bahwa keterbatasan dalam group, antara lain:
1. Primary Retention cenderung muncul pada pertemuan pertama kelompok dimana setiap group yang belum saling mengenal perasaan malu serta perasaan yang tidak nyaman bertemu dengan orang asing anggota group akan merasa waspada dan ragu-ragu untuk mengeluarkan pendapat dan berkomunikasi;
45 | P a g e
2. Social Rejection, penolakan jika melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma social;
3. Interference, campur tangan orang lain anggota group memiliki peran dan tugas yang berbeda tidak dapat dipungkiri kurangnya keterampilan salah satu anggota akan turut andil membantu agar tujuan tetap tercapai akan tetapi campur tangan yang terlalu berlebihan akan menyebabkan pandangan yang kurang kompeten di antara anggota lainnya selain itu campur tangan orang lain yang tidak sesuai dengan tugasnya akan menambah estimasi waktu pencapaian tujuan;
4. Personal investment, anggota menginvestasikan sejumlah uang seperti uang pendaftaran waktu tenaga bantuan dan lain-lain dalam group;
5. Reactance, ruang kebebasan dalam group memiliki aturan dan norma sehingga anggota tidak dapat berekspresi secara bebas karena terikat dengan peraturan.
F. JENIS-JENIS GRUP
Jenis-jenis I menurut Robert Bierstedt dalam Sarwono (2009) kelompok memiliki banyak jenis dan dibedakan berdasarkan ada tidaknya organisasi hubungan antara group dan kesadaran jenis Sarwono kemudian membagi group group menjadi empat macam.
Yaitu:
1. Group yaitu group yang bukan organisasi tidak memiliki hubungan dan kesadaran jenis diantaranya
2. Group kemasyarakatan yaitu kelompok yang memiliki persamaan tetapi tidak mempunyai organisasi dan hubungan 45ebagi diantara anggotanya
46 | P a g e
3. Group yaitu group yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan hubungan satu dengan yang lainnya tetapi tidak terikat dalam ikatan organisasi
4. Group asosiasi yaitu kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan ada persamaan kepentingan pribadi maupun kepentingan dalam asosiasi para anggotanya melakukan hubungan kontak dan komunikasi serta memiliki ikatan organisasi formal
Group merupakan kumpulan dua orang atau lebih melalui interaksi dan tujuan tertentu, Sarwono 1959 menggolongkan group menjadi
1. Group formal yaitu organisasi militer perusahaan kantor camat group nonformal arisan geng group belajar teman-teman bermain golf
2. Group kecil dua sahabat keluarga kelas group besar divisi 46ebagia suku bangsa
3. Group jangka pendek panitia penumpang sebuah kendaraan umum orang-orang yang membantu memadamkan kebakaran atau menolong korban kecelakaan lalu lintas kelompok jangka 46ebagia bangsa keluarga dan sekolah
4. Group kohesif yaitu hubungan erat anggota antar keluarga keluarga panitia rombongan umroh
5. Group agresif yaitu pelajar tawuran penumpang bus pencopet group yang mengeroyok dan menyiksa korban sering sampai mati demonstran dan lain-lain
6. Group dengan identitas seperti keluarga kesatuan militer perusahaan sekolah universitas
7. Group individual autonomous masyarakat kota besar perusahaan dengan manajemen berat
8. Group dengan berbudaya tunggal
47 | P a g e
9. Group laki-laki tim sepakbola pasukan komando laki-laki Jumat salat Jumat. Group perempuan seperti sepak bola wanita bang perempuan polisi wanita
10. Group konsumen dalam hal sumber daya tergantung pada pihak lain seperti konsumen persatuan pengibar mobil dan group ibu rumah
11. Group persahabatan seperti arisan teman bermain kumpul sahabat group paguyuban alumni SMA
48 | P a g e
BAB VI KONSELING
A. PENGERTIAN KONSELING KELOMPOK
Konseling kelompok merupakan suatu bantuan pada individu dalam situasi kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, serta diarahkan pada pemberian kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Latipun mengatakan, konseling kelompok adalah bentuk konseling yang membantu beberapa individu yang diarahkannya mencapai fungsi kesadaran secara efektif untuk jangka waktu pendek dan menengah.
Adhiputra (2014) mendefinisikan konseling kelompok merupakan upaya bantuan kepada individu dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan pengembangan, dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam rangka pengembangan dan pertumbuhannya. Konseling kelompok merupakan suatu sistem layanan bantuan yang sangat baik untuk membantu pengembangan kemampuan pribadi, pencegahan, dan mengenai konflik-konflik antarpribadi atau pemecahan masalah.
Lesmana (2005) mengartikan konseling kelompok sebagai hubungan membantu di mana salah satu pihak (konselor) bertujuan meningkatkan kemampuan dan fungsi mental pihak lain (klien) agar dapat menghadapi persoalan/konflik yang dihadapi dengan lebih baik. Di dalam suatu konseling kelompok terdapat bantuan konseling, yaitu dengan menyediakan kondisi, sarana, dan
49 | P a g e
keterampilan yang membuat klien dapat membantu dirinya sendiri dalam memenuhi rasa aman, cinta, harga diri, membuat keputusan dan aktualisasi diri. Memberikan bantuan juga mencakup kesediaan konselor untuk mendengarkan perjalanan hidup klien baik masa lalunya, harapan-harapan, keinginan yang tidak terpenuhi, kegagalan yang dialami, trauma, dan konflik yang sedang dihadapi klien.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok adalah upaya bantuan yang bersifat pencegahan dan pengembangan kemampuan pribadi sebagai pemecahan masalah secara kelompok atau bersama-sama dari seorang konselor kepada klien.
B. KONSELOR
Konselor adalah pihak yang membantu klien dalam proses konseling. Sebagai pihak yang paling memahami dasar dan teknik konseling secara luas, konselor bukan hanya menjalankan perannya sebagai fasilitator bagi klien, melainkan juga bertindak sebagai penasihat, guru, konsultan yang mendampingi klien sampai klien dapat menemukan dan mengatasi masalah yang dihadapinya. Maka tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa konselor adalah tenaga profesional yang sangat berarti bagi klien.
1. Karakteristik Konselor
Setelah memahami gambaran seorang konselor secara umum, terdapat beberapa karakteristik konselor efektif yang
50 | P a g e
dikemukakan oleh beberapa ahli. Karakteristik inilah yang wajib dipenuhi oleh seorang konselor untuk mencapai keberhasilannya dalam proses konseling. Di awali dari pandangan Carl Rogers sebagai peletak dasar konsep konseling. Rogers (1961, dalam Lesmana, 2005) menyebutkan ada tiga karakteristik utama yang harus dimiliki oleh seorang konselor, yaitu: congruence, unconditional positive regard, dan empathy.
1. Congruence
Menurut Rogers (1961), seorang konselor haruslah terintegrasi dan kongruen. Pengertiannya di sini adalah seorang kon- selor terlebih dahulu harus memahami dirinya sendiri. Antara pikiran, perasaan, dan pengalamannya harus serasi. Konselor harus sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri, tanpa menutupi kekurangan yang ada pada dirinya. Seperti contoh ka sus; seorang konselor yang memiliki fobia terhadap ketinggian bersedia berbagi pengalaman kepada klien dengan keluhan ketakutan pada hewan berbulu. Konselor tidak berpura-pura mengatakan bahwa ia berani dan telah berhasil mengalahkan ketakutannya pada ketinggian. Hal ini akan membuat klien merasa bahwa bukan hanya dirinya yang memiliki masalah takut pada suatu objek.
2. Unconditional Positive Regard
Konselor harus dapat menerima/respek kepada klien walaupun dengan keadaan yang tidak dapat diterima oleh lingkungan. Setiap individu menjalani kehidupannya dengan membawa segala nilai-nilai dan kebutuhan yang dimilikinya. Rogers mengatakan bahwa
51 | P a g e
setiap manusia memiliki tendensi untuk mengaktualisasikan dirinya yang lebih baik. Untuk itulah konselor harus memberikan kepercayaan kepada klien untuk mengembangkan diri mereka.
Apabila seorang klien dengan keluhan selalu melakukan masturbasi, konselor tidak langsung menolak atau sinis akan tetapi bersikap terbuka dan berpikiran positif bahwa tingkah laku klien dapat diubah menjadi lebih baik.
Brammer, Abrego, dan Shostrom (1989, dalam Lesmana, 2005) menarmbahkan apa yang disampaikan oleh Rogers bahwa klien akan mengalami perubahan yang efektif apabila ia berada dalam situasi yang kondusif untuk pertumbuhan. Situasi yang kondusif ini misalnya pengalaman penerimaan (acceptance) yaitu pengalaman dipahami, dicintai, dan dihargai tanpa syarat.
3. Empathy
Empathy adalah memahami orang lain dari sudut kerangka berpikirnya. Selain itu empati yang dirasakan juga harus ditunjukkan. Konselor harus dapat menyingkirkan nilai-nilainya sendiri tetapi tidak boleh ikut terlarut di dalam nilai-nilai klien.
Selain itu, Rogers (1961, dalam Willlis, 2009) mengartikan empati sebagai kemampuan yang dapat merasakan dunia pribadi klien tanpa kehilangan kesadaan diri. Ia menyebutkan komponen yang terdapat dalam empati meliputi: penghargaan positif (positive regard), rasa hormat (respect), kehangatan (warmth), kekonkretan (concreteness), kesiapan/kesegaran (immediacy), konfrontasi (confrontation), dan keaslian (congruence/genuiness). Seperti
52 | P a g e
mampu memahami bagaimana seorang klien yang melakukan hubungan seksual pranikah dengan tidak langsung menilainya sebagai perbuatan tercela dan menghakimi klien sebagai manusia hina.
2. Peran dan Fungsi Konselor
Peran dan fungsi dalam pembahasan kali ini sengaja ditulis terpisah untuk memperjelas kedudukan konselor dalam peran dan fungsinya. Hal ini senada yang diungkapkan oleh Baruth dan Robinson III (1987, Lesmana, 2005) yang memisahkan dua pengertian itu. Peran (role) didefenisikan sebagai the interaction of expectations about a “position” and perceptions of the actual person in that position. Dari definisi yang dikemukakan oleh Baruth dan Robinson III tersebut, dapat diartikan bahwa peran adalah apa yang diharapkan dari posisi yang dijalani seorang konselor dan persepsi dari orang lain terhadap posisi konselor tersebut. Misalnya, seorang konselor harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masalah klien, dan lain-lain. Sementara fungsi (function) didefinisikan sebagai what the individual does in the way of specific activity (hlm.143). Dari definisi tersebut dapat diartikan bahwa fungsi adalah hal-hal yang harus dilakukan seorang konselor dalam menjalani profesinya. Misalnya, seorang konselor harus mampu melakukan wawancara, mampu memimpin kelompok pelatihan dan melakukan asesmen atau diagnosis.
53 | P a g e
C. KLIEN
Willlis (2009) mendefenisikan klien adalah setiap individu yang diberikan bantuan profesional oleh seorang kon- selor atas permintaan dirinya sendiri atau orang lain. Pengertian yang hampir sama juga diungkapkan oleh Rogers (1961, dalam Latipun, 2001) yang mengartikan klien sebagai individu yang datang kepada konselor dalam keadaan cemas dan tidak kongruensi.
Berikut ini akan diuraikan berbagai karakteristik klien:
1. Klien Sukarela
Klien sukarela adalah klien yang pada konselor atas kesadaran diri sendiri karena memiliki maksud dan tujuan tertentu. Hal ini dapat berupa keinginan memperoleh informasi, mencari penjelasan tentang masalahnya, tentang karier, dan lanjutan studi, dan sebagainya.
2. Klien Terpaksa
Apabila klien sukarela pada konselor atas kemauannya sendiri, maka klien terpaksa adalah klien yang pada konselor bukan atas kemauannya sendiri melainkan atas dorongan teman, keluarga, dan sebagainya.
3. Klien Enggan (Reluctant Client)
Berbeda lagi dengan klien enggan. Klien enggan adalah klien yang pada konselor bukan untuk dibantu menyelesaikan
Berbeda lagi dengan klien enggan. Klien enggan adalah klien yang pada konselor bukan untuk dibantu menyelesaikan