• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap positif siswa

84.65 Tabel 4.11 Hasil Persentase Posttest Sikap Siswa pada Aspek Afektif

C. Interpretasi Data

Berdasarkan analisis data secara kuntitatif hasil angket sikap siswa yang disebarkan hasil pretest diketahui nilai rata-rata kelompok kontrol 106.54 dan kelompok eksperimen sebesar 107.54, sedangkan hasil posttest diketahui nilai rata-rata kelompok kontrol sebesar 102.5 dan kelompok eksperimen sebesar 107.7. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa siswa yang mendapatkan pembelajaran kimia yang terintegrasi nilai-nilai agama memiliki nilai rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tanpa mendapatkan pembelajaran terintegrasi nilai-nilai agama. Subjek penelitian berada pada distribusi normal baik sebelum dan sesudah pembelajaran, selain itu subjek penelitian bersifat homogen berdasarkan hasil uji sebelum dan sesudah pembelajaran.

Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji-t, pada taraf kepercayan 95% (α = 0.05). Hasil uji kesamaan dua rata-rata pretest dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pretest

kelompok eksperimen dengan skor pretest kelompok kontrol, diperoleh nilai thitung sebesar 0.4567 dan nilai ttabel sebesar 1.711, hasil pengujian

yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai thitung berada di daerah penerimaan Ho, yaitu –ttabel < -thitung atau -1.711 < -0.4567. dengan demikian Ho diterima dan Ha ditolak, hal ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara skot pretest kelompok eksperimen dengan skor pretest kelompok kontrol. Sedangkan berdasarkan hasil uji kesamaan dua rata-rata posttest dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang positif pada pembelajaran kimia yang terintegrasi nilai agama terhadap sikap siswa, diperoleh thitung sebesar 1.83 dan ttabel sebesar 1.711 hasil pengujian yang diperoleh menunjukkan bahwa thitung berada pada daerah penerimaan Ha, yaitu ttabel < thitung atau 1.711 < 1.83 dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima, hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif integrasi nilai-nilai agama pada pembelajaran kimia terhadap sikap siswa.

Berdasarkan perhitungan persentase pretest dan posttest kelompok eksperimen dari data table 4.7, 4.8, 4.9, 4.10, 4.11, dan 4.12 menunjukkan hasil rata-rata beberapa indikator postest dengan beberapa indikator pretest menunjukkan peningkatan sikap pada siswa. Pada aspek kognitif memahami pentingnya mempelajari senyawa hidrokarbon menghasilkan rata-rata posttest 84.65% dan rata-rata pretest 79.45% peningkatan sebanyak 5.2%, aspek afektif menyukai kegiatan pembelajaran senyawa hidrokarbon menghasilkan rata-rata posttest 76.76% dan rata-rata pretest 77.56% penurunan sebanyak 0.8%, aspek behavior/konatif termotivasi untuk mempelajari kimia kebih lanjut menghasilkan rata-rata posttest 77.1% dan rata-rata pretest 82.5% penurunan sebanyak 5.4%, termotivasi untuk memperbaiki diri menghasilkan rata posttest 81.88% dan rata-rata pretest 80.2% peningkatan sebanyak 1.68%, termotivasi untuk berbuat baik kepada orang lain rata-rata posttest 89.31% dan rata-rata pretest 86.74% peningkatan sebanyak 2.57%

D. Pembahasan

Pengintegrasian nilai-nilai pada pembelajaran kimia merupakan pembelajaran yang positif dalam mentransformasikan nilai-nilai yang terkandung dalam bahan ajar sebagai upaya meningkatkan sikap positif siswa. Pada pembelajaran ini siswa tidak hanya mendapatkan konsep kimia saja melainkan juga mendapatkan pendidikan nilai yang terkandung didalamnya. Dengan demikian siswa secara tidak sadar mendapatkan dua pembelajaran secara langsung yaitu ilmu sains dan nilai-nilai agama yang terkandung dalam sains itu sendiri.

Melalui hasil penyebaran angket sikap siswa, dapat diketahui bahwa pengintegrasian nilai-nilai pada pembelajaran kimia berpengaruh positif terhadap sikap siswa. Kelompok siswa yang diberikan perlakuan pengintegrasian nilai-nilai pada konsep senyawa hidrokarbon mengalami peningkatan sikap dibanding kelompok siswa yang tidak mendapatkan perlakuan pengintegrasian nilai-nilai

Sikap tidak akan terjadi begitu saja, melainkan terbentuk melalui suatu proses tertentu, melalui interaksi yang dilakukan oleh individu lain maupun dengan lingkungan. Menurut Abu Ahmadi terdapat dua faktor yang mempengaruhi sikap yakni faktor intern; yaitu faktor yang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri. Faktor ini berupa selectivity atau daya pilih seseorang dalam menerima dan mengolah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar. Sedangkan faktor ekstern; yaitu faktor yang terdapat diluar pribadi manusia. Faktor ini berupa interaksi sosial diluar kelompok.1

Berdasarkan hasil tes angket sikap siswa yang diberikan sebelum pembelajaran yang selanjutnya dilakukan uji kesamaan dua rata-rata pretest diketahui bahwa sikap siswa kedua kelompok penelitian pada sub pokok materi konsep senyawa hidrokarbon menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa siswa pada kedua kelompok penelitian memiliki sikap awal yang sama

1

Integrasi nilai – nilai yang diberikan dalam penelitian ini adalah pengintegrasian nilai agama, nilai moral, nilai praktis dan nilai pendidikan pada pembelajaran kimia, meliputi indikator sikap motivasi diri untuk bermanfaat bagi orang lain dengan cara memperbaiki diri sendiri dan indikator sikap berbuat baik kepada orang lain.

Berdasarkan hasil tes angket siswa yang diberikan setelah pembelajaran, nilai rata-rata posttest kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol dan hasil uji kesamaan dua rata-rata posttest menunjukkan hasil bahwa terdapat pengaruh positif pembelajaran yang terintegrasi nilai-nilai agama terhadap sikap siswa.

Hasil tes angket siswa yang diberikan pengaruh integrasi nilai-nilai pada pembelajaran kimia menunjukan adanya peningkatan sikap lebih baik dibanding hasil tes angket siswa yang tidak diberikan pengaruh integrasi nilai-nilai Hal ini sesuai dengan pendapat dari Abu Ahmadi adanya perubahan sikap dipengaruhi faktor intern dan ekstern, pada penelitian ini pengintegrasian nilai - nilai agama merupakan faktor ekstern yang dapat merubah sikap menjadi lebih baik

Pada penelitian ini diperoleh temuan integrasi nilai-nilai pada pembelajaran kimia berpengaruh positif meningkatkan tiga aspek/komponen yang terlibat didalam sikap siswa seperti komponen kognitif yaitu berisi kepercayaan sesorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar terhadap obyek sikap. Tentu saja kepercayaan sebagai komponen kognitif tidak selalu akurat, terkadang kepercayaan itu terbentuk justru dikarenakan kurang atau tiadanya informasi yang benar mengenai objek yang dihadapi. Selanjutny komponen afektif yaitu menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimilki terhadap sesuatu. Dan komponen konatif yaitu menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek yang dihadapinya. Kaitan ini didasari

oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku.2

Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat penurunan persentase pada beberapa indikator dari ketiga aspek tersebut. Pada aspek kognitif memahami pentingnya mempelajari senyawa hidrokarbon menghasilkan rata-rata posttest 84.65% dan rata-rata pretest 79.45% peningkatan sebanyak 5.2%, aspek afektif menyukai kegiatan pembelajaran senyawa hidrokarbon menghasilkan rata-rata posttest 76.76% dan rata-rata pretest 77.56% penurunan sebanyak 0.8%, aspek behavior/konatif termotivasi untuk mempelajari kimia kebih lanjut menghasilkan rata-rata posttest 77.1% dan rata-rata pretest 82.5% penurunan sebanyak 5.4%, termotivasi untuk memperbaiki diri menghasilkan rata posttest 81.88% dan rata-rata pretest 80.2% peningkatan sebanyak 1.68%, termotivasi untuk berbuat baik kepada orang lain rata-rata posttest 89.31% dan rata-rata pretest 86.74% peningkatan sebanyak 2.57%

Namun, penurunan persentasenya tidak terlalu signifikan. Penurunan persentase ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor dari guru, siswa dan metode yang digunakan. Faktor guru karena kurang maksimalnya guru dalam memberikan pembelajaran dikelas sehingga mempengaruhi sikap siswa dalam belajar. Faktor siswa yang dilihat kurang fokus saat pembelajaran sehingga mempengaruhi proses kegiatan belajar mengajar dan mempengaruhi hasil test yang diberikan. Pengaruh penggunaan metode dianggap kurang mempengaruhi menurunnya nilai persentase sikap siswa karena metode TGT yang digunakan diberikan kepada kedua kelas penelitian yakni kelas kontrol dan kelas eksperimen.

Sikap tidak akan terjadi begitu saja, melainkan terbentuk melalui suatu proses tertentu, melalui interaksi yang dilakukan oleh individu lain maupun dengan lingkungan. Sikap juga terbetuk karena proses

2

Drs Saifuddin Azwar MA, Sikap Manusia Teori dan Pengukuannya, ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2003 ) h. 24 – 26

pembelajaran individu, pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan dam pengaruh faktor emosional. Karena itulah sikap selalu berubah-ubah dan dapat dipelajari. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa integrasi nilai-nilai agama pada pembelajaran kimia sub pokok materi konsep hidrokarbon memiliki pengaruh positif terhadap pembinaan sikap siswa.3

Dokumen terkait