Menurut Lee (1990), intersepsi atau intersepsi tajuk (Ic) tidak bisa langsung diukur di lapangan, maka intersepsi dapat diperkirakan dari pengukuran curah hujan (P), aliran batang (T), dan lolosan tajuk (S). Secara kuantitatif intersepsi dapat diukur dengan persamaan berikut:
Ic = P – T – S
Keterangan : Ic = Interception (Intersepsi Tajuk) P = Presipitation (Curah Hujan) T = Through Fall (Lolosan Tajuk) S = Steam Flow (Aliran Batang)
Dengan demikian, untuk mengetahui besarnya intersepsi tajuk harus diketahui terlebih dahulu besarnya curah hujan, aliran batang, dan lolosan tajuk pohon yang diteliti.
e. Tinggi Pohon
Tinggi pohon diukur dengan menggunakan christen hypsometer dengan cara membaca skala pada alat tersebut berdasarkan hasil dari pembidikan pangkal dan pucuk pohon secara bersamaan. Sedangkan satuan yang digunakan dalam pengukuran tinggi pohon dan tinggi bebas cabang adalah m (meter).
f. Diameter Batang
Diameter batang diukur dengan menggunakan pita ukur (meteran) yang dililitkan pada batang pokok pohon sampel dengan ketinggian 1,3 m dari permukaan tanah (diameter setinggi dada atau dbh). Besarnya keliling batang dikonversi untuk mengetahui besarnya
diameter batang pohon (d = K/π). Pengukuran ini diperlukan sebagai
untuk menganalisa besarnya aliran batang pada suatu pohon, yakni dengan membandingkan besarnya diameter dengan besarnya aliran batang pada suatu jenis pohon.
g. Diameter Tajuk
Diameter tajuk diukur dengan cara memproyeksikan ujung-ujung tajuk arah barat-timur dan utara-selatan di atas tanah atau diameter tajuk terpanjang dan diameter tajuk terpendek (untuk bentuk tajuk yang tidak simetris), panjang rata-rata garis tersebut dianggap sama dengan diameter tajuk. Pengukuran besarnya diameter tajuk dilakukan untuk
mengetahui luas tajuk (Luas tajuk = πr2 ).
3. Pengolahan Data
a. Rancangan Percobaan
Data hasil pengamatan berupa curah hujan, intersepsi, aliran batang, dan lolosan tajuk masing-masing ditata dan ditotal jumlah dan rerata perlakuan dan kelompoknya menurut Tabel 1.
Tabel 1. Data pengaruh perlakuan terhadap hasil percobaan
Perlakuan Kelompok Total Perlakuan Rerata Perlakuan 1 2 3 … 9 Yi. Akasia Karet Kerai Payung Total Kelompok Y.j Rerata Kelompok
Sumber: Steel dan Torrie (1993).
Untuk menguji faktor pengaruh perlakuan terhadap keragaman data hasil percobaan, maka data dianalisis dengan analisis ragam. Namun sebelum dilakukan analisis ragam, data terlebih dahulu harus
memenuhi kriteria uji asumsi. Uji asumsi tersebut antara lain, uji aditifitas dengan menggunakan uji Tuckey dan uji homogenitas dengan menggunakan uji Bartlett. Dalam penelitian ini, dapat diketahui
pengaruh perlakuan pohon akasia, kerai payung dan karet terhadap keragaman data intersepsi, aliran batang, dan lolosan tajuk. Selain itu, dengan melakukan analisis ragam akan diketahui pula nilai koefisien keragaman yang menerangkan seberapa besar kevalidan data.
Tabel 2. Analisis ragam pada rancangan acak kelompok menurut uji Fisher (Uji F) Sumber Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah F hitung F tabel 5% 1% Kelompok r-1 JKK KTK/KTG Perlakuan t-1 JKP KTP/KTG Galat (r-1) (t-1) JKG - Total rt-1 JKT KK =
Keterangan : 1) Koefisien Keragaman (KK) = x 100%
Berdasarkan Tabel 2, akan diketahui nilai KK dari percobaan. Semakin kecil KK berarti derajat ketepatan dan keandalan makin tinggi dan akan makin tinggi pula keabsahan (validitas) kesimpulan yang diperoleh (Hanafiah, 2004).
b. Uji Lanjutan
Untuk mengetahui bahwa benar terdapat pengaruh curah hujan terbesar terhadap intersepsi, aliran batang, dan lolosan tajuk, maka perlu
dilakukan uji lanjutan dengan menggunakan uji nilai tengah perlakuan. Berikut ini merupakan rumus umum uji nilai tengah perlakuan menurut Steel dan Torrie (1993):
BNTα = tα(v) . Sƌ Di mana tα(v) = nilai baku t-student pada
taraf uji α dan derajat bebas galat v.
c. Regresi Linear Sederhana
Hubungan antara curah hujan dengan intersepsi, curah hujan dengan aliran batang dan curah hujan dengan lolosan tajuk, dibuat dalam model regresi linear sederhana. Persamaan linear tersebut menurut Sardjonopermono (1986) sebagai berikut:
Ŷi = a + bX
Keterangan : Ŷi = curah hujan
X = aliran batang atau curahan tajuk a = konstanta untuk setiap jenis pohon b = koefisien regresi
Steel dan Torrie (1993) menyatakan, untuk mengetahui ukuran keeratan hubungan antara variabel X dan Y, maka akan dilakukan analisa korelasi, menurut persamaan berikut:
r =
Besarnya nilai koefisien korelasi r selalu terletak antara -1 dan +1. Jika nilai koefisien korelasi r = +1, berarti terdapat korelasi positif sempurna antara X dan Y. Jika nilai koefisien korelasi r = -1, berarti terdapat korelasi negatif sempurna antara X dan Y. Sedangkan jika nilai koefisien korelasi r = 0, berarti tidak ada korelasi antara X dan Y.
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Kondisi Fisik Wilayah 1. Letak Geografis
Universitas Lampung memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut: a. Sebelah utara dengan Kelurahan Kampung Baru.
b. Sebelah selatan dengan Kelurahan Gedong Meneng. c. Sebelah barat dengan Kelurahan Raja Basa.
d. Sebelah timur dengan Kelurahan Labuhan Ratu.
Arboretum yang terletak di Unila secara administratif terletak di Kelurahan Gedong Meneng, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung terletak pada 5o22’ LU serta 105o13’ BT dengan ketinggian lahan 60-96 meter dari permukaan laut (BPS Propinsi Lampung, 2009).
Luas keseluruhan Unila adalah ± 65 Ha, dengan perincian sebagai berikut: a. Fakultas Ekonomi seluas 5.880 m2.
b. Fakultas Hukum seluas 4.500 m2.
c. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik seluas 4.320 m2. d. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 13.182 m2.
e. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam seluas 9.000 m2. f. Fakultas Pertanian seluas 13.818 m2.
g. Fakultas Teknik seluas 15.199 m2.
h. UPT Perpustakaan dan Percetakan seluas 5.000 m2. i. UPT Fasilitas Olah Raga seluas 5.000 m2.
j. Biro Administrasi Umum dan Keuangan, Biro Administrasi Kemahasiswaan Perencanaan dan Sistem Informasi, dan Rektorat seluas 13.552 m2.
k. Luas halaman parkir, ruas jalan, luas lingkungan gedung yang tidak ditanami, kolam renang, lapangan soft ball, lapangan bola, lapangan tenis, lapangan basket, lapangan volley ball seluas 29.0549 m2. l. Luas lingkungan hijau (Ruang Terbuka Hijau) 12 ha.
m. Luas areal yang saat ini akan dikembangkan 15 ha untuk kepentingan pembangunan gedung Fakultas Kedokteran.
(Surat Keputusan Rektor Unila No. 462/126/RT/1999 tanggal 2 Agustus 1999 ).
2. Tipe Iklim
Kelurahan Gedong Meneng termasuk areal yang datar dengan ketinggian ± 100 m dpl. Berdasarkan observasi data hujan selama 20 tahun kawasan ini memiliki bulan kering rata-rata 2 dan bulan basah 9, sehingga menurut iklim Schmidt dan Ferguson kawasan Unila termasuk tipe iklim B atau menurut iklim klasifikasi Koppen bertipe Ama (BPS Propinsi Lampung, 2009).
B. Kondisi Vegetasi di Arboretum Unila.
Arboretum Unila yang merupakan ruang terbuka hijau kebanggaan almamater Unila, terkenal dengan sebutan kampus hijau diresmikan pada tahun 1996 dan memiliki luas lahan sekitas 12 ha yang letaknya tersebar di dalam kawasan Unila. Arboretum Unila terbagi menjadi 4 lokasi, yaitu: arboretum kompleks Fakultas Pertanian Unila, arboretum Laboratorium Bahasa Unila, arboretum kompleks Perpustakaan Unila dan arboretum kompleks UPT Komputer Unila. Arboretum Unila memiliki koleksi tanaman langka dari berbagai daerah seperti matoa, kayu hitam, dll. Sampai saat ini, pohon koleksi yang terkumpul di dalam arboretum sendiri berjumlah lebih kurang 76 jenis, sedangkan secara umum yang tersebar diseluruh wilayah Unila lebih dari 100 jenis pohon (Syam, dkk., 2007).
Jenis pohon di dalam kawasan Unila sangat heterogen mulai dari pohon asli Indonesia (local plant) seperti pohon cempaka (Michelia champaca)sampai vegetasi yang berasal dari luar negeri (exotic plant), seperti pohon bungur (Lagerstroemia speciosa) dari Birma (Fitriyadi, 2008). Jenis pohon yang mendominasi di arboretum Fakultas Pertanian Unila antara lain: wareng (Gmelina arborea), kemudian di arboretum Laboratorium Balai Bahasa Unila didominasi oleh pohon sengon laut (Paraserianthes falcataria). Jenis pohon yang mendominasi arboretum kompleks UPT Komputer Unila adalah Acacia mangium dan Acacia auriculiformis, serta damar (Shorea javanica). Pohon yang mendominasi di arboretum kompleks Perpustakaan Unila adalah sengon buto (Enterelobium cyclocarpum) dan sengon laut (Paraserienthes falcataria).
Lokasi pohon sampel dalam penelitian ini sebagian besar berada di Fakultas Pertanian Unila yang meliputi arboretum Fakultas Pertanian hingga ke sekitar lapangan sepakbola Unila. Peta lokasi penelitian terlampir.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Morfologi Pohon
Kondisi morfologi pohon, meliputi data bentuk tajuk dan morfus batang pohon akasia, karet dan, dan kerai payung disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Identifikasi bentuk tajuk dan morfus batang pohon Jenis Pohon Bentuk Tajuk Batang Pohon Bentuk Batang Permukaan Batang Sistem Percabangan Arah Cabang Akasia irregular bulat alur dangkal simpodial tegak Karet oval bulat halus monopodial mendatar K.Payung round bulat retak
(berserpih)
dikotom condong ke atas
Dengan mengidentifikasi luas tajuk pohon, morfus batang dan daun pohon, serta kerapatan tajuk pada tiap jenis pohon, dapat diketahui faktor yang
mempengaruhi perbedaan besarnya aliran batang, lolosan tajuk dan intersepsi. Data morfus daun pohon disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Identifikasi morfus daun pohon penelitian
Jenis Pohon
Daun Helai Tepi
Daun Pangkal Ujung Tulang Tata
Daun Komposisi Akasia sabit rata runcing runcing paralel selang
seling
tunggal Karet elips rata runcing meruncing menyirip berkarang majemuk
menyirip Kerai Payung meman- jang bergelom- bang
meruncing meruncing menyirip berhada- pan
majemuk menyirip ganda
Selain identifikasi morfologi pohon, dilakukan juga pengukuran luas tajuk pohon untuk mengetahui perbedaan luas tajuk pada tiap jenis pohon. Data tinggi pohon, diameter batang, diameter tajuk dan luas tajuk pohon disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Data tinggi, diameter batang, diameter tajuk, dan luas tajuk pohon
Jenis Pohon Tinggi (m) Diameter Batang (cm) Diameter Tajuk (m) Luas Tajuk (m²) Karet 1 17 35,35 8,5 56,716 2 19 35,99 9 63,585 3 17,5 35,67 9,75 74,624 4 17 35,76 8,75 60,101 5 18 37,26 9,75 74,624 6 18 39,81 10,5 86,546 7 16 32,80 9 63,585 8 18 37,58 9 63,585 9 17 34,71 8,5 56,716 Kerai Payung 1 12 43,36 15 176,625 2 12,5 44,59 16,75 220,241 3 13,5 47,13 16 200,960 4 13 47,77 17 226,865 5 11 42,36 14 153,860 6 10 38,22 12,25 117,799 7 15 46,82 16,5 213,716 8 14 41,72 13 132,665 9 13 44,90 16,25 207,289 Akasia 1 17 41,45 11 94,985 2 20 51,27 12,5 122,656 3 18 41,08 11,75 108,379 4 19 48,09 13 132,665 5 20 51,59 12 113,040 6 18,5 47,77 11,5 103,816 7 19 57,01 12,5 122,656 8 18 43,63 11,5 103,816 9 18 40,77 11 94,985
B. Aliran Batang (Steam Flow)
Nilai aliran batang terbesar terdapat pada pohon karet, yaitu sebesar 0,030 mm (0,113% dari curah hujan), kemudian pohon akasia sebesar 0,010 mm (0,039%), dan pohon kerai payung memiliki aliran batang terkecil, yaitu 0,005 mm (0,018%). Persentase aliran batang terhadap besarnya curah hujan disajikan pada Gambar 4.
Keterangan: Besarnya curah hujan 26,525 mm (100%).
Gambar 4. Persentase aliran batang pada pohon akasia, karet, dan kerai payung 0,039 0,113 0,018 0,000 0,020 0,040 0,060 0,080 0,100 0,120
akasia karet kerai payung
A li ran B at ang (% dar i C ur ah H uj an) Jenis Pohon
Pohon kerai payung merupakan jenis pohon terbaik dengan nilai aliran batang terkecil. Besarnya aliran batang, lolosan tajuk, intersepsi, dan curah hujan disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Aliran batang, lolosan tajuk, dan intersepsi pada berbagai jenis pohon
Jenis Pohon Aliran Batang Lolosan Tajuk Intersepsi
mm % mm % mm %
Akasia 0,010(b) 0,039 20,128(c) 75,882 6,387(a) 24,080 Karet 0,030(c) 0,113 18,866(b) 71,124 7,629(b) 28,763 K.Payung 0,005(a) 0,018 16,652(a) 62,777 9,869(c) 37,205
Keterangan: 1). Besarnya curah hujan selama periode pengamatan adalah 26,525 mm.
2). Angka yang diikuti oleh huruf yang sama secara vertikal tidak berbeda menurut uji BNT pada taraf nyata 5%.
Perbedaan besarnya nilai aliran batang pada suatu pohon dipengaruhi oleh keadaan permukaan batang dan sistem percabangannya. Menurut Lee (1990), aliran batang secara konsisten lebih besar untuk pohon-pohon yang
mempunyai kulit yang lebih rata (bertekstur halus). Hal ini juga sesuai dengan penjelasan Rushayati (1999), bahwa untuk batang yang licin aliran batangnya cepat, sedangkan pada kulit batang yang kasar dan merekah aliran batangnya lambat.
Aliran batang pada pohon kerai payung lebih kecil dibandingkan dengan pohon karet, hal ini disebabkan kondisi permukaan batang kerai payung yang retak (berserpih). Kondisi tajuk yang rapat, menyebabkan air hujan akan lebih banyak tertahan di tajuk dan diuapkan kembali ke udara. Sementara hanya sebagian kecil yang mengalir pada batang sebagai aliran batang.
Pohon akasia memiliki permukaan batang yang beralur dangkal (permukaan batang sedikit kasar, permukaan membentuk alur yang teratur namun tidak terlalu dalam atau dangkal), sehingga air dapat mengalir lebih lambat bila dibandingkan dengan kondisi permukaan batang yang lebih halus. Namun pada kondisi permukaan batang seperti ini, aliran batang menjadi lebih besar dari pada aliran batang pada permukaan batang yang kasar. Kondisi tajuk yang jarang, menciptakan banyak ruang di dalam tajuk, sehingga
menyebabkan air hujan yang tertiup angin tertangkap oleh batang kemudian akan mengalir sebagai aliran batang.
Aliran batang terbesar terjadi pada pohon karet. Besarnya aliran batang pada pohon ini dipengaruhi oleh kondisi permukaan batangnya yang halus.
Dengan kondisi tajuk yang tidak rapat, air hujan dapat tertangkap oleh batang pohon. Aliran batang pun dapat mengalir lebih cepat dan nilainya semakin besar dikarenakan permukaan batangnya halus. Bentuk tajuk dan kondisi permukaan batang pohon dapat dilihat pada Tabel 3.
Untuk mengetahui hubungan antara curah hujan dan aliran batang, maka dilakukan analisis regresi linear sederhana. Hasil analisis regresi linear sederhana disajikan pada Gambar 5.
Gambar 5. Hubungan curah hujan dengan aliran batang pada pohon akasia ( ), karet ( ), dan kerai payung ( )
Besarnya nilai koefisien korelasi (r) pada masing-masing hubungan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang nyata antara curah hujan dengan aliran batang. Peningkatan curah hujan akan meningkatkan besarnya aliran batang pada ketiga jenis pohon.
C. Lolosan Tajuk (Through Fall)
Nilai lolosan tajuk terbesar dimiliki oleh jenis pohon akasia yaitu 20,13 mm (75,88% dari curah hujan), kemudian karet sebesar 18,87 mm (71,12%) dan nilai lolosan tajuk terkecil terdapat pada pohon kerai payung sebesar 16,65 mm (62,77%). Persentase nilai lolosan tajuk pada setiap jenis pohon terhadap curah hujan disajikan pada Gambar 6.
Akasia y = 0,004x - 0,004 r = 0,978 Karet y = 0,012x - 0,006 r = 0,990 Kerai Payung y = 0,002x - 0,002 r = 0,984 0,0000 0,0100 0,0200 0,0300 0,0400 0,0500 0,0600 7,96 14,15 25,51 41,43 43,58 A li ran B at ang ( m m ) Curah Hujan (mm)
Keterangan: Besarnya curah hujan 26,525 mm (100%).
Gambar 6. Persentase lolosan tajuk pada pohon akasia ( ), karet ( ), dan kerai payung ( )
Pohon kerai payung merupakan jenis pohon terbaik karena memiliki nilai lolosan tajuk terkecil (Tabel 6). Perbedaan besarnya lolosan tajuk disebabkan karena kondisi tajuk dari ketiga jenis pohon tersebut berbeda. Pohon akasia dengan lolosan tajuk terbesar, memiliki kondisi tajuk yang tidak rapat, di mana terdapat celah yang memungkinkan air hujan tidak sempat tertahan di tajuk dan langsung jatuh ke permukaan tanah. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Asdak (2002), bahwa air lolos (lolosan tajuk) akan semakin berkurang sejalan dengan bertambah rapatnya tajuk vegetasi atau tegakan hutan. 75,88 71,12 62,77 0,000 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 jenis pohon Lolos an T aj uk ( % dar i C ur ah H uj an)
Jenis pohon ini juga memiliki sistem percabangan yang simpodial (batang pokok tumbuh lambat, menyebabkan cabang berukuran hampir sama dengan batang pokok dan terlihat tak beraturan), sehingga menciptakan banyak ruang di dalam dan antar tajuk. Hal ini yang menyebabkan semakin besarnya lolosan tajuk di bawah pohon akasia, terutama bila kecepatan angin ketika terjadi hujan cukup tinggi.
Pohon karet memiliki tajuk yang agak rapat dibandingkan dengan pohon akasia, namun masih terdapat celah sehingga butir hujan dapat lolos ke permukaan tanah. Dengan sistem percabangan monopodial (memiliki satu batang pokok utama), masih ada ruang di dalam tajuk yang terbentuk, sehingga air hujan dapat lolos jatuh ke permukaan tanah.
Pohon kerai payung memiliki lolosan tajuk terkecil dibandingkan dengan kedua jenis pohon lainnya. Hal ini disebabkan karena pohon kerai payung memiliki tajuk yang rapat dengan sistem percabangan dikotom (batang selalu tumbuh menjadi dua cabang sama besar, sehingga tajuk dapat semakin lebar). Dengan sistem percabangan dikotom, tajuk yang terbentuk cukup rapat dan tidak menciptakan ruang di dalam dan antar tajuk vegetasi, sehingga nilai lolosan tajuk pun menjadi kecil.
Besarnya lolosan tajuk pada ketiga jenis pohon dalam penelitian ini berkisar antara 62% hingga 75% dari curah hujan, menunjukkan bahwa kondisi vegetasi di lokasi penelitian cukup rapat. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Asdak (2002), yang menginformasikan hasil penelitian lolosan
tajuk pada tiga tipe penutupan vegetasi dengan kerapatan berbeda. Pada lokasi tanpa tajuk besarnya air lolos (through fall) mencapai 99% dan
menurun hingga 95% dan 85% masing-masing pada lokasi dengan penutupan tajuk yang sedang dan rapat.
Gambar 7. Hubungan curah hujan dengan lolosan tajuk pada pohon akasia ( ), karet ( ), dan kerai payung ( )
Besarnya nilai koefisien korelasi (r), menunjukkan adanya hubungan yang nyata antara curah hujan dengan lolosan tajuk. Sehingga, peningkatan curah hujan akan meningkatkan besarnya aliran batang pada ketiga jenis pohon (Gambar 7). Akasia y = 7,940x - 3,692 r = 0,981 Karet y = 7,444x - 3,468 r = 0,993 Kerai Payung y = 6,500x - 2,849 r = 0,980 0,000 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 7,96 14,15 25,51 41,43 43,58 Lolos an T aj uk ( m m ) Curah Hujan (mm)
D. Intersepsi
Nilai intersepsi terbesar terdapat pada jenis pohon kerai payung yaitu sebesar 9,87 mm (37,21% dari curah hujan), kemudian karet sebesar 7,63 mm
(28,76%) dan nilai intersepsi terkecil dimiliki oleh jenis pohon akasia, 6,39 mm (24,08%). Persentase intersepsi ketiga jenis pohon terhadap curah hujan disajikan pada Gambar 8.
Keterangan: Besarnya curah hujan 26,525 mm (100%).
Gambar 8. Persentase intersepsi pada pohon akasia ( ), karet ( ), dan kerai payung ( )
Kerai payung merupakan jenis pohon dengan kemampuan mengintersepsi air hujan yang terbaik (Tabel 3). Nilai intersepsi pada penelitian ini dapat dikatakan sejalan dengan pernyataan Bruijnzeel (1990, dalam Asdak, 2002) yaitu besarnya intersepsi di hutan hujan tropis berkisar antara 10% hingga 35% dari curah hujan total.
24,08 28,76 37,21 0,000 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 jenis pohon Int er se psi ( % dar i C ur ah H uj an)
Kondisi tajuk jenis pohon kerai payung yang rapat dan tebal memungkinkan untuk menahan air hujan cukup besar dibandingkan jenis pohon lainnya. Hal ini sesuai dengan penjelasan Suryatmojo (2006) yaitu besar kecilnya
intersepsi dipengaruhi oleh sifat hujan (terutama intensitas hujan dan lama hujan), kecepatan angin, dan jenis pohon (kerapatan tajuk dan bentuk tajuk).
Nilai intersepsi terbesar pada pohon kerai payung juga disebabkan oleh karakteristik pohonnya. Berdasarkan komposisi daunnya, pohon kerai
payung memiliki komposisi daun majemuk menyirip ganda. Berbeda dengan komposisi daun pada pohon karet yang memiliki komposisi daun majemuk menyirip dan akasia yang berkomposisi daun tunggal. Kondisi tajuknya yang lebat terbentuk dari sistem percabangan dikotom dengan arah cabangnya yang condong ke atas. Sehingga dengan kondisi tajuk yang lebih rapat, kerai payung memiliki nilai intersepsi terbesar (Tabel 1 dan 2). Hubungan antara curah hujan dengan intersepsi disajikan pada Gambar 9.
Gambar 9. Hubungan curah hujan dengan intersepsi pada pohon akasia ( ), karet ( ), dan kerai payung ( )
Besarnya nilai koefisien korelasi (r) menunjukkan terdapat hubungan yang nyata antara curah hujan dan intersepsi. Sehingga peningkatan curah hujan akan meningkatkan besarnya nilai intersepsi pada ketiga jenis pohon.
Akasia y = 1,917x + 0,635 r = 0,971 Karet y = 2,698x - 0,464 r = 0,964 Kerai Payung y = 3,270x + 0,056 r = 0,944 0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00 16,00 18,00 7,96 14,15 25,51 41,43 43,58 Int er se psi ( m m ) Curah Hujan (mm)
VI. KESIMPULAN DAN SARAN