• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Konsep Dasar Nyeri Akut

2.3.3 Intervensi Keperawatan

Terdapat empat hal yang harus diperhatikan :

1. Menentukan prioritas masalah

c. Berdasarkan hirarki Maslow, yaitu: fisiologis, keamanan atau

keselamatan, mencintai, harga diri, dan aktualisasi diri.

d. Berdasarkan Griffith-Kenney, dengan urutan

1) Ancaman kehidupan kesehatan .

2) Sumber daya dan dana tersedia.

3) Peran serta klien.

5) Menentukan tujuan

2. Dalam menentukan tujuan,

Digambarkan kondisi yang diharapkan disertai jangka waktu.

3. Menentukan kriteria hasil

Terdapat hal-hal berikut yang diperhatikan :

a. Bersifat spesifik dalam hal isi dan waktu

b. Bersifat realistik, dalam menentukan tujuan harus di

pertimbangkan faktor fisiologi atau patologi.

c. Dapat diukur, pasien dapat menyebutkan tujuan dan dapat

mendemostrasikan.

d. Mempertimbangkan keinginan dan keadaan pasien

4. Merumuskan intervensi

Dengan mengacu pada Nursing Intervention Classification

(NIC) dan Nursing Outcome Clasification (NOC).

Jadi yang dimaksud dengan intervensi keperawatan adalah

rencana tindakan untuk menghilangkan atau mencegah permasalahan

kesehatan yang dihadapi klien dengan berdasarkan prioritas masalah,

tujuan dan kriteria hasil dengan melihat acuan teori kebutuhan dasar

Tabel 2.3 Diagnosa dan Intervensi (Tim Pokja, 2017) (Bulechek, 2013)

Diagnosa Keperawatan NOC (Nursing Outcomes

Classification)

NIC (Nursing Intervention Classification)

Nyeri Akut berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai darah dan oksigen

dengan kebutuhan

miokardium akibat

sekunder dari penurunan

suplai darah

kemiokardium,

peningkatan produksi asam laktat.

Definisi : pengalaman

sensori atau emosional

yang berkaitan dengan

kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan

onset mendadak atau

lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.

Batasan Karateristik : 1. Bukti nyeri dengan

menggunakan

standart daftar periksa nyeri untuk pasien

yang tidak dapat

mengungkapkannya (misalnya., Neonatal Infant Pain Scale,

Pain Assesment

Checklist for Senior with Limited Ability to Communicate). 2. Diaforesis 3. Dilatasi pupil

4. Ekspresi wajah nyeri

(misalnya., mata

kurang bercahaya,

tampak kacau,

gerakan mata

berpencar atau tetap

pada satu fokus,

meringis).

5. Fokus menyempit

(misalnya., persepsi waktu, proses berpikr,

interaksi dengan

orang dan

lingkungan).

6. Fokus pada diri

sendiri

NOC :

1. Kontrol nyeri Indikator :

a. Mengenali kapan nyeri

terjadi

b. Menggambarkan faktor

penyebab

c. Menggunakan jurnal harian untuk memonitor gejala dari waktu ke waktu

d. Menggunakan tindakan

pencegahan

e. Menggunakan tindakan

pengurangan (nyeri) tanpa analgesik

f. Menggunakan analgesik

yang direkomendasikan

g. Melaporkan perubahan

terhadap gejala nyeri pada profesional kesehatan h. Melaporkan gejala yang

tidak terkontrol pada

profesional kesehatan i. Menggunakan sumber daya

yang tersedia

j. Mengenali apa yang terkait dengan gejala nyeri

k. Melaporkan nyeri yang

terkontrol Skala :

1 = tidak pernah menunjukkan 2 = jarang menunjukkan 3 = kadang-kadang menunjukkan 4 = sering menunjukkan 5 = secara konsisten menunjukkan 2. Tanda-tanda vital Indikator : a. Suhu tubuh

b. Denyut jantung apikal c. Irama jantung apikal d. Denyut nadi radial e. Tingkat pernapasan f. Irama pernapasan g. Tekanan darah sistolik h. Tekanan darah diastolik i. Tekanan nadi

j. Kedalaman inspirasi Skala :

1 = devisiasi berat dari kisaran normal

Manajemen nyeri :

1. Lakukan pengkajian

nyeri komprehensif yang

meliputi lokasi,

karakteristik, onset atau

durasi, frekuensi,

kwalitas, intensitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetus.

2. Observasi adanya

petunjuk non verbal

mengenai ketidaknyamanan terutama pada mereka

yang tidak dapat

berkomunikasi secara

efektif.

3. Pastikan perawatan

analgesic bagi pasien

dilakukan dengan

pemantauan yang ketat

4. Gunakan stategi

komunikasi terapeutik

untuk mengetahui

pengalaman nyeri dan

sampaikan penerimaan

pasien terhadap nyeri

5. Gali pengetahuan dan

kepercayaan pasien

mengenai nyeri

6. Pertimbangkan pengaruh

budaya terhadap respon nyeri

7. Tentukan akibat dari

pengalaman nyeri

terhadap kualitas hidup pasien (misalnya, tidur, nafsu makan, pengertian,

perasaan, hubungan,

performa kerja dan

tanggung jawab peran).

8. Gali bersama pasien

faktor-faktor yang dapat

menurunkan atau

memperberat nyeri

9. Evaluasi pengalaman

nyeri dimasa lalu yang meliputi riwayat nyeri kronik individu atau keluarga atau nyeri yang menyebabkan

disability/ketidakmampu

an/kecatatan, dengan

Diagnosa Keperawatan NOC (Nursing Outcomes Classification)

NIC (Nursing Intervention Classification) 7. Keluhan tentang intensitas menggunakan standar skala nyeri (misalnya., skala Wong- Baker FACES, skala analog visual, skala penilaian numerik). 8. Keluhan tentang karakteristik nyeri dengan menggunakan standart instrumen nyeri (misalnya., McGill Pain Questionnaire, Brief Pain Inventory). 9. Laporan tentang perilaku nyeri/perubahan aktivitas (misalnya., anggota keluarga, pemberi asuhan). 10. Mengekspresikan perilaku (misalnya., gelisah, merengek, menangis, waspada). 11. Perilaku distraksi 12. Perubahan pada parameter fisiologis (misalnya., tekanan darah, frekuensi jantung, frekuensi pernapasan, saturasi oksigen, dan end-tidal karbon dioksida [CO₂]). 13. Perubahan posisi untuk menghindari nyeri 14. Perubahan selera makan 15. putus asa

2 = Deviasi yang cukup besar dari kisaran normal

3 = devisiasi sedang

dari kisaran normal

4 = devisiasi ringan dari kisaran normal

5 = tidak ada devisiasi dari kisaran normal

3. Kepuasan klien:

menejemen nyeri Indikator :

a. Nyeri terkontrol

b. Tingkat nyeri dipantau secara reguler

c. Efek samping obat

terpantau

d. Mengambil tindakan

untuk mengurangi nyeri

e. Mengambil tindakan

untuk memberikan

kenyamanan

f. Mengambil tindakan

untuk mengelola obat- obatan

g. Mempertimbangkan

pilihan individu

h. Memberikan pilihan-

pilihan untuk menejemen nyeri

i. Menejemen nyeri sesuai dengan keyakinan budaya j. Pendekatan-pendekatan

preventif digunakan

untuk menejemen nyeri

k. Memberikan informasi

tentang pembetasan

aktivitas

l. Informasi disediakan

untuk mengurangi nyeri

m.Memberikan pilihan-

pilihan untuk menejemen nyeri setelah kepulangan n. Membuat rujukan kepada

kelompok pendukung

o. Layanan kesehatan

bekerja sebagai salah satu

tim dalam mengelola

nyeri

10. Evaluasi bersama pasien dan

tim kesehatan lainnya,

mengenai efektivitas

tindakan pengontrolan nyeri

yang pernah digunakan

sebelumnya

11. Bantu keluarga dalam

mencari dan menyediakan dukungan.

12. Gunakan metode penilaian yang sesuai dengan tahapan

perkembangan yang

memungkinkan untuk

memonitor perubahan nyeri dan akan dapat membantu

mengidentifikasi faktor

pencetus actual dan

potensial(misalnya catatan

perkembangan, catatan

harian)

13. Tentukan kebutuhan

frekuensi untuk melakukan pengkajian ketidaknyamanan

pasien dan

mengimplementasikan rencana monitor

14. Berikan informasi mengenai nyeri seperti penyebab, berapa lama nyeri akan dirasakan, dan antisipasi dari

ketidaknyamanan akibat

prosedur

15. Kendalikan faktor

lingkungan yang dapat

mempengaruhi respon pasien terhadap

ketidaknyamanan(misalnya suhu ruangan, pencahayaan, suara bising)

16. Kurangi atau eliminasi

faktor-faktor yang dapat

mencetuskan atau

meningkatkan nyeri

(misalnya, ketakutan,

kelelahan, keadaan monoton, dan kurang pengetahuan)

17. Pertimbangkan keinginan

pasien untuk berpartisipasi, kemampuan berpartisipasi,

kecenderungan, dukungan

dari orang terdekat terhadap metode dan kontraindikasi ketika memilih strategi penurunan nyeri

Diagnosa Keperawatan NOC (Nursing Outcomes Classification)

NIC (Nursing Intervention Classification) 16. sikap melindungi area nyeri 17. sikap tubuh melindungi p. Membuat rujukan keprofesional kesehatan dalam menejemen nyeri sesuai kebutuhan

q. Masalah keamanan

ditangani dengan

penggunaan obat nyeri Skala : 1 = tidak puas 2 = agak puas 3 = cukup puas 4 = sangat puas 5 = sepenuhnya puas

18. Pilih dan implementasikan

tindakan yang

beragam(misalnya

farmakologi, non

farmakologi. Interpersonal)

untuk memfasilitasi

penurunan nyeri, sesuai dengan kebutuhan.

19. Ajarkan prinsip-prinsip

menejemen nyeri

20. Pertimbangkan tipe dan

sumber nyeri ketika memilih strategi penurunan nyeri

21. Dorong pasien untuk

memonitor nyeri dan

menangani nyeri dengan tepat

22. Ajarkan penggunaan teknik non farmakologi (seperti

biofeed-back, TENS,

hypnosis, relaksasi,

bimbingan antisipatis, terapi musik, terapi bermain, terapi

aktivitas, akupressure,

aplikasi panas atau dingin

dan pijatan, sebelum,

sesudah dan jika

memungkinkan, ketika

melakukan aktivitas yang

menimbulkan nyeri;

sebelum nyeri terjadi atau meningkat ; dan bersama dengan tindakan penurunan rasa nyeri lainnya)

23. Gali penggunaan metode

farmakologi yang dipakai pasien saat ini untuk menurunkan nyeri

24. Ajarkan metode

farmakologi untuk

menurunkan nyeri

25. Dorong pasien untuk

menggunakan obat-obatan

penurun nyeri yang adekuat 26. Kolabirasi dengan pasien,

orang terdekat dan tim kesehatan lainnya untuk

memilih dan

mengimplementasikan tindakan penurun nyeri non

farmakologi, sesuai

Diagnosa Keperawatan NOC (Nursing Outcomes Classification)

NIC (Nursing Intervention Classification)

27. Berikan individu penurun nyeri yang optimal dengan peresepan analgesik Implementasikan penggunaan pasien – terkontrol analgesik(PCA) jika sesuai 28. Gunakan tindakan

pengontrol nyeri sebelum nyeri bertambah berat

29. Berikan obat sebelum

melakukan aktivitas untuk meningkatkan partisipasi, namun (lakukan) evaluasi (mengenai) bahaya dari sedasi

30. Pastikan pemberian

analgesik dan atau strategi non farmakologi sebelum di lakukan prosedur yang menimbulkan nyeri.

Periksa tingkat

ketidaknyamanan bersama

pasien, informasikan

petugas kesehatan lain yang merawat pasien 31. Evaluasi keefektifan dari

tindakan pengontrol nyeri

yang dipakai selama

pengkajian nyeri dilakukan

32. Mulai dan modifikasi

tindakan pengontrol nyeri berdasakan respon pasien 33. Dukung istirahat atau tidur

yang adekuat untuk

membantu penurunan

nyeri.

34. Dorong pasien untuk

mendiskusikan pengalaman nyerinya, sesuai kebutuhan

35. Beritahu dokter jika

tindakan tidak berhasil atau jika keluhan pasien saat ini berubah signifikan dari

pengalaman nyeri

Diagnosa Keperawatan NOC (Nursing Outcomes Classification)

NIC (Nursing Intervention Classification)

36. Informasikan tim kesehatan lain atau anggota keluarga

mengenai strategi non

farmakalogi yang sedang di gunakan untuk mendorong pendekatan prefentif terkait denagan manajemin nyeri 37. Gunakan pendekatan multi

disiplin untuk menejemen nyeri, jika sesuai

38. Pertimbangkan untuk

merujuk pasien, keluarga dan orang terdekat pada kelompo pendukung dan

sumber-sumber lainnya,

sesuai kebutuhan

39. Berikan informasi yang

akurat untuk meningkatkan pengetahuan dan respon

keluarga terhadap

pengalaman nyeri

40. Libatkan keluarga dalam modalitas penurunan nyeri, jika memungkinkan 41. Monitor kepuasan pasien

terhadap manajemen nyeri

dalam interval yang

spesifik

Monitor tanda-tanda vital :

1. Monitor tekanan darah,

nadi, suhu, dan status pernapasan dengan tepat. 2. Catat gaya dan fluktuasi

yang luas pada tekanan darah

3. Monitor tekanan darah

saat pasien berbaring,

duduk, dan berdiri

sebelum dan setelah

perubahan posisi

4. Monitor tekanan darah

setelah pasien minum obat jika memungkinkan. 5. Auskultasi tekanan darah

dikedua lengan dan

bandingkan

6. Monitor tekanan darah,

denyut nadi, dan

pernapasan sebelum,

selama, dan setelah

beraktivitas dengan tepat 7. Inisiasi dan pertahankan

perangkat pemantauan

suhu tubuh secara terus menerus dengan tepat

Diagnosa Keperawatan NOC (Nursing Outcomes Classification)

NIC (Nursing Intervention Classification)

8. Monitor dan laporkan tanda dan gejala hipotermia dan hipertermia

9. Monitor keberadaan dan

kualitas nadi

10.Ambil nadi apikal dan radial

secara simultan dan

perhatikan perbedaanya

dengan tepat

11.Monitor terkait dengan nadi paradoksus

12.Monitor terkait dengan nadi alternatif

13.Monitor tekanan nadi yang melebar atau menyempit 14.Monitor irama dan tekanan

jantung

15.Monitor nada jantung 16.Monitor irama dan laju

pernapasan (misalnya,

kedalaman dan kesimetrisan) 17.Monitor suara paru-paru 18.Monitor oksimetri nadi 19.Monitor pola pernapasan

abnormal (misalnya, cheyne-

stokes, kussmaul, biot,

apneustik, ataksia dan

bernafas)

20.Monitor warna kulit suhu dan kelembaban

21.Monitor sianosis sentral dan perifer

22.Monitor akan adanya kuku (dengan bentuk) clubbing

23.Monitor terkait dengan

adanya tiga tanda Chusing reflex (misalnya, tekanan nadi

lebar, bradikardia, dan

peningkatan tekanan darah sistolik).

24.Identifikasi kemungkinan penyebab perubahan tanda- tanda vital

25.Periksa secara berkala

keakuratan instrumen yang digunakan untuk perolehan data pasien

Pemberian Analgesik

1. Tentukan lokasi,

karakteristik, kualitas dan

keparahan nyeri sebelum

Diagnosa Keperawatan NOC (Nursing Outcomes Classification)

NIC (Nursing Intervention Classification)

2. Cek perintah pengobatan

meliputi obat, dosis, dan frekuensi obat analgesik yang diresepkan.

3. Cek adanya riwayat alergi obat

4. Evaluasi kemampuan pasien untuk berperan serta dalam pemilihan analgetik, rute dan dosis dan keterlibatan pasien, sesuai kebutuhan

5. Pilih analgesik atau

kombinasi analgesik yang sesuai ketika lebih dari satu diberikan

6. Tentukan pilihan obat

analgesik (narkotik, non

narkotik, atau NSAID),

berdasarkan tipe dan

keparahan nyeri

7. Tentukan analgesik

sebelumnya, rute pemberian, dan dosis untuk mencapai hasil pengurangan nyeri yang optimal

8. Pilih rute intravena daripada rute intramuskular, untuk injeksi pengobatan nyeri yang sering, jika memungkinkan

9. Tinggalkan narkotik dan

obat-obat lain yang dibatasi, sesuai dengan aturan rumah sakit

10.Monitor tanda vital sebelum

dan setelah memberikan

analgesik narkotik pada pemberian dosis pertama kali atau jika ditemukan tanda- tanda yang tidak biasanya

11.Berikan kebutuhan

kenyamanan dan aktivitas lain yang dapat membantu relaksasi untuk memfasilitasi penurunan nyeri

12.Berikan analgesik sesuai waktu paruhnya, terutama pada nyeri yang berat

13.Susun harapan yang positif

mengenai keefektifan

analgesik untuk

mengoptimalkan respon

Diagnosa Keperawatan NOC (Nursing Outcomes Classification)

NIC (Nursing Intervention Classification)

14. Berikan analgesik tambahan dan/atau pengobatan jika

diperlukan untuk

meningkatkan efek

pengurangan nyeri

15. Pertimbangkan penggunaan infus terus-menerus, baik sendiri atau digabungkan dengan opioid bolus, untuk

mempertahankan level

serum

16. Jalankan tindakan

keselamatan pada pasien yang menerima analgesik narkotika, sesuai kebutuhan 17. Mintakan pengobatan nyeri

PRN sebelum nyeri menjadi parah

18. Informasikan pasien yang

mendapatkan narkotika

bahwa rasa mengantuk

kadang terjadi selama 2-3 hari pertama pemberian dan

selanjutnya akan

menghilang

19. Perbaiki kesalahan

pengertian/mitos yang

dimiliki pasien dan anggota

keluarga yang mungkin

keliru tentang analgesik

20. Evaluasi keefektifan

analgesik dengan interval yang teratur pada setiap

setelah pemberian

khususnya setelah

pemberian pertama kali, juga observasi adanya tanda dan gejala efek samping

(misalnya, depresi

pernafasan, mual dan

muntah, mulut kering dan konstipasi)

21. Dokumentasikan respon

terhadap analgesik dan

adanya efek samping

22.Evaluasikan dan

dokumentasikan tingkat

sedasi dari pasien yang menerima opioid

23.Lakukan tindakan-tindakan

untuk menurunkan efek

samping analgesik (misalnya,

konstipasi dan iritasi

Diagnosa Keperawatan NOC (Nursing Outcomes Classification)

NIC (Nursing Intervention Classification)

24.Kolaborasikan dengan dokter apakah obat, dosis, rute pemberian, atau perubahan interval dibutuhkan, buat

rekomendasi khusus

berdasarkan prinsip analgesik 25.Ajarkan tentang penggunaan

analgesik, strategi untuk menurunnkan efek samping, dan harapan terkait dengan keterlibatan dalam keputusan pengurangan nyeri

Dokumen terkait