Status Gizi Obesitas
3. Intervensi Olahraga Tujuan
Tujuan dilakukan intervensi olahraga adalah meningkatkan aktivitas fisik siswa Sasaran
Sasaran intervensi olahraga adalah siswa kelas 5 dan 6 dari SDIT Aliya, SDIT Insan Kamil, SDIT Ummul Quro.
Jenis Olahraga (permainan)
Kegiatan intervensi olahraga di sekolah berupa permainan meliputi permainan sepak bola, handball, aerobik, skipping, permainan tradisional “galah”, dan lain-lain dengan bantuan guru olahraga dan tim peneliti yang terlatih.
Pelatih
Pemberi materi adalah instruktur olahraga, tim peneliti yang terlatih, dan guru olahraga
Metode dan Teknik
Tabel 4 Formulasi snackbar berdasarkan bahan baku dan jumlah serat pangan Bahan baku Jumlah
bahan (g) pangan per 100 gJumlah serat pangan bahan (g)Jumlah serat
Tepung Kedelai 1000 5,50 55.00 Tepung Maizena 1000 0,00 0.00 Oat 1000 28,57 285.70 Susu bubuk 400 17.50 70.00 Selai stroberi 1400 2.0 28.00 Telur 600 0.00 0.00 Minyak nabati 300 0.00 0.00 Kacang cacah 100 5.00 5.00 Kismis 100 9.50 9.50
Total serat pangan per 133 g 453.20
19 Metode yang digunakan dalam olahraga adalah melakukan pergerakan secara langsung di lapangan. Teknik yang digunakan adalah instruksi oleh pelatih dan melakukan gerakan oleh pelatih yang diikuti oleh sampel selama 30 menit. Media
Media yang digunakan adalah alat-alat olahraga dan video. Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan Data
Pengolahan data meliputi editing, coding, entry, cleaning dan selanjutnya dianalisis. Coding dilakukan dengan cara menyusun code-book sebagai panduan entri dan pengolahan data. Selanjutnya dilakukan entri data sesuai dengan kode yang telah dibuat kemudian dilakukan cleaning data untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam memasukkan data. Data diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program komputer Microsoft Excell versi 2013 dan Statistical Programe for Social Sciencis (SPSS) versi 21.0.
Data karakteristik keluarga, karakteristik siswa, berat badan lahir, riwayat ASI, faktor genetik, tingkat pengetahuan siswa, aktivitas fisik siswa, asupan serat, asupan energi dan zat gizi, tingkat kecukupan energi dan zat gizi, serta densitas asupan zat gizi siswa ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif. Data status gizi siswa diperoleh dengan indeks massa tubuh berdasarkan umur (IMT/U) dengan menggunakan software WHO Anthroplus 2007. Data status gizi orang tua diperoleh dengan menggunakan indeks massa tubuh. Kuesioner pengetahuan gizi terdiri dari 20 pertanyaan pilihan berganda (multiple choice test). Setiap jawaban yang benar diberi nilai 1, jawaban nilai yang salah diberi nilai 0 sehingga nilai maksimum dan minimum yang dapat diperoleh adalah 20 dan 0 dan kemudian dikonversi menjadi 100 dan 0. Selanjutnya pengetahuan masing-masing dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu kurang (persentase jawaban benar <60%), sedang (persentase jawaban benar 60-80%), dan baik (persentase jawaban >80%) (Khomsan 2000).
Pengukuran tingkat aktivitas fisik dilakukan berdasarkan FAO/WHO/UNU (2004) dengan rumus sebagai berikut:
PAL = ∑
Keterangan:
PAL = Physical Activity Level (Tingkat aktivitas fisik)
PAR = Physical Activity Ratio (jumlah energi yang dikeluarkan untuk jenis aktivitas per satuan waktu tertentu)
Data konsumsi secara kuantitatif dihitung menggunakan metode recall, yaitu dengan menghitung jumlah dan jenis pangan aktual yang dikonsumsi pada hari libur dan hari sekolah selama 2 x 24 jam. Data konsumsi pangan yang diperoleh kemudian dikonversikan ke dalam bentuk energi, protein, kalsium (Ca), zat besi (Fe), vitamin A, dan vitamin C menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (2013). Konversi zat gizi dihitung menggunakan rumus berikut:
20
KGij = (Bj/100) x Gij x (BDDj/100) Keterangan:
KGij = Kandungan zat gizi-i dalam bahan pangan-j yang dikonsumsi (g) Bj = Berat bahan makanan j yang dikonsumsi (g)
Gij = Kandungan zat gizi-i dalam 100 g bahan makanan-j BDDj = Persen bahan makanan j yang dapat dimakan
Perhitungan kecukupan energi dan protein rumah tangga pada penelitian ini didasarkan pada Institute of Medicine (IOM) tahun 2005. Kecukupan energi masing-masing kelompok umur dan jenis kelamin yang berbeda dihitung menggunakan rumus Total Energy Expenditure (TEE) berdasarkan Kecukupan energi.
1. Laki-laki 9-18 tahun dengan status dengan status gizi Obese dan Overweight
Kecukupan Enerrgi = TEE + 0.1 TEE
TEE = [114-(50.9xU) + PA x (19.5xBB+1161.4xTB)] + 25 kkal 2. Perempuan 9-18 tahun dengan status dengan status gizi Obese dan
Overweight
Kecukupan Enerrgi = TEE + 0.1 TEE
TEE = [389-(41.2xU) + PA x (15xBB+701.6xTB)] + 25 kkal Keterangan:
PA= 1.0 (sangat ringan), PA = 1.12 (ringan) PA= 1.24 (aktif)
PA= 1.45 (sangat aktif)
U= Umur (tahun), BB= Berat badan (kg), TB= Tinggi badan (m) TEE= Total Energy Expenditure –total pengeluaran energi, (Kal) PA= Koefisien aktivitas fisik
Kecukupan protein dihitung berdasarkan angka kecukupan protein menurut WNPG 2012 (LIPI 2013) dan IOM (2005). Perhitungan kecukupan protein disesuaikan dengan berat badan masing-masing individu serta dikoreksi dengan faktor koreksi mutu protein, perhitungan menggunakan rumus sebagai berikut:
Kecukupan protein = (AKP x BB) x faktor koreksi mutu protein Keterangan :
AKP = Angka kecukupan protein (g/kgBB/hari) BB = Berat badan aktual (kg)
21 Angka kecukupan vitamin dan mineral meliputi vitamin A, vitamin C, kalsium, dan zat besi dihitung berdasarkan AKG 2012 (LIPI 2013) menggunakan rumus berikut ini:
AKGI = (Ba/Bs) x AKG Keterangan :
AKGI = Angka kecukupan zat gizi yang dicari
Ba = Berat badan aktual sehat (kg) Bs = Berat badan standar berdasarkan AKG
AKG = Angka kecukupan zat gizi berdasarkan AKG 2012
Selanjutnya tingkat kecukupan gizi diperoleh dengan cara membandingkan jumlah konsumsi zat gizi tersebut dengan kecukupannya sesuai dengan kelompok umur dan jenis kelamin (WNPG 2012). Berikut rumus kecukupan zat gizi yang digunakan:
TKG =
x 100%
Keterangan :
TKG = Tingkat kecukupan gizi
Pengkategorian variabel penelitian secara rinci dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5 Cara pengkategorian variabel penelitian
No Variabel Indikator (kategori pengukuran)
1. Karakteristik Keluarga Pendidikan orang tua (Kemenkes 2010)
0). Tidak sekolah,
1).Tamat SD atau sederajat, 2). Tamat SMP atau sederajat, 3). Tamat SMA atau sederajat, 4). Tamat PT
2 Pendapatan keluarga Berdasarkan sebaran data 3 Karakteristik Anak
Usia (Kemenkes 2013) 1).5-12 th, 2).13-15 th, 3). 16-18 tahun
Jenis Kelamin 1). Laki-laki
2). Perempuan 3 Berat badan lahir (Kemenkes
2013)
1). <2500 g 2). 2500-3999 g 3). ≥4000 g
22
Analisis Data
Uji statistika yang digunakan yaitu
1. Uji paired sample t-test untuk menganalisis perbedaan variabel (aktivitas fisik, asupan serat, asupan energi dan zat gizi, tingkat kecukupan energi dan zat gizi) sebelum dan sesudah intervensi pada masing-masing kelompok perlakuan.
2. Uji beda ANOVA untuk menganalisis perbedaan variabel (pengetahuan, aktivitas fisik, asupan serat, asupan energi dan zat gizi, tingkat kecukupan energi dan zat gizi, serta densitas asupan zat gizi) sebelum dan sesudah intervensi antara ke tiga kelompok perlakuan
Tabel 5 Cara pengkategorian variabel penelitian (lanjutan)
No Variabel Indikator (kategori pengukuran)
4 Riwayat Pemberian ASI Eksklusif (Kemenkes 3013)
1. < 6 bulan 2. ≥ 6 bulan 5 Pengetahuan Gizi Anak
(Khomsan 2000)
1).Rendah (<60%) 2). Sedang (60-80%) 3) Baik (>80%) 6 Faktor Genetik
IMT Orang Tua (Kemenkes 2013)
1). kurus IMT < 18,5,
2). Kategori normal IMT ≥18,5-<24,9 3). Kategori BB lebih IMT ≥25-<27,0 4). Kategori obesitas IMT ≥27,0 7 Tingkat Aktivitas Fisik
FAO/WHO/UNU (2001)
1. aktivitas ringan (1.40 ≤ PAL≤ 1.69),
2. aktivitas sedang (1.70 ≤ PAL ≤ 1.99),
3. aktivitas berat (2.00 ≤ PAL ≤ 2.39) 8 Status Gizi Anak (Kemenkes
2013)
1. sangat kurus: Zscore< -3,0, 2. kurus : Zscore≥ -3,0 s/d < -2,0, 3. normal : Zscore≥-2,0 s/d ≤1,0, 4. gemuk : Zscore> 1,0 s/d ≤ 2,0 dan 5. obesitas : Zscore> 2,0
11 Konsumsi
Energi dan protein (Hardinsyah et al. 2002)
1). Defisit berat : < 70 % AKG 2). Defisit sedang : 70-79 % AKG 3). Difisit ringan : 80-89 % AKG 4). Normal : 90-119 % AKG 5). Lebih : ≥ 120% AKG Vitamin dan mineral (Gibson
2005)
1). Kurang : <77% AKG 2). Cukup : =77% AKG Asupan Serat (NNRs, Ruottinen
et al. 2010 )
1) Cukup ≥ 10 g 2) Kurang <10 g
23
Definisi Operasional
Obesitas adalah kondisi kelebihan berat tubuh akibat tertimbunnya lemak, yang berdasarkan standar WHO 2007, memiliki nilai z-skor untuk IMT menurut umur +1 SD < Z < +2 SD.
Sampel adalah anak sekolah dasar kelas 5 dan 6 yang diperoleh secara purposive dari SD IT yang ada di Kota Bogor
Usia sampel adalah umur anak yang dinyatakan dengan umur penuh dalam satuan tahun, berdasarkan catatan kelahiran
Berat Badan Lahir adalah hasil pengukuran berat badan dengan menggunakan timbangan digital pada saat lahir yang diperoleh dari ibu sampel.
Berat Badan kini adalah pengukuran berat badan menggunakan timbangan injak pada saat sebelum, sesudah, dan sustainability
Tinggi Badan adalah pengukuran tinggi badan dengan menggunakn microtoise pada saat sebelum, sesudah, dan sustainability
Riwayat pemberian ASI adalah lamanya pemberian ASI saja kepada anak tanpa tambahan makanan atau minuman lain
Pendidikan orang tua adalah tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh orang tua dan dikategorikan menjadi tidak pernah sekolah, tamat SD atau sederajat, tamat SMP atau sederajat, tamat SMA atau sederajat, dan tamat akademi atau perguruan tinggi.
Pendapatan keluarga adalah jumlah pendapatan perbulan yang dihasilkan dari pendapatan kepala keluarga dan anggota keluarga lain.
Pendidikan adalah jenjang pendidikan tertinggi yang pernah ditempuh yang dikategorikan menjadi tamat SD, tamat SMP, tamat SMA, dan tamat Perguruan Tinggi.
IMT orang tua adalah diperoleh dari pengukuran BB dan TB
Konsumsi buah dan sayur adalah kebiasaan makan buah dan sayur pada anak yang dinilai berdasarkan frekuensi selama satu minggu. Anak dikatakan kurang konsumsi sayur dan buah adalah anak yang mengonsumsi buah dan sayur kurang dari 4 porsi selama 7 kali dalam seminggu
Aktivitas fisik merupakan jenis kegiatan fisik anak (tidur; menonton televisi, bermain game, dan internet; dan bermain di luar rumah) yang dilakukan bersamaan dengan hari pencatatan konsumsi makan selama 2x24 jam hari sekolah dan hari libur.
Tingkat aktivitas fisik adalah tingkatan aktivitas fisik yang diukur dari Physical Activity Ratio (PAR)yang dikelompokkan menjadi ringan, sedang, dan berat
Asupan zat gizi adalah rata-rata konsumsi setiap jenis pangan perhari yang dinyatakan dalam satuan berat (g) dan ukuran rumah tangga, yang diperoleh dari hasil recall 2x24 jam pada hari libur dan hari sekolah.
24
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Sekolah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Aliya
SDIT Aliya merupakan salah satu sekolah yang menjadi tempat penelitian untuk kelompok intervensi pendidikan gizi dan olahraga. SDIT Aliya terletak di Jalan Gardu Raya, Bubulak, Kota Bogor, Jawa Barat. SDIT Aliya didirikan pada tahun 2001. SDIT Aliya memiliki visi yaitu Menjadi sekolah Islam unggulan berlandaskan Al Qur‟an dan Hadist yang menghasilkan generasi cerdas, kompeten dan bertaqwa dan memilki misi yaitu melaksanakan dan mengembangkan pendidikan Islami berlandaskan Al Quran dan Hadist; Menyelenggarakan kegiatan belajar terpadu yang menyenangkan, mampu menstimulasi kecerdasan intelektual, emosional, fisik, sosial, dan spiritual dengan pendekatan belajar aktif kolaboratif sesuai perkembangan anak; Menghasilkan lulusan berkualitas baik, berakhlaq islami dan berdaya saing kuat; Melaksanakan pengelolaan sekolah yang amanah, berkualitas baik, efektif dan efisien; Mengembangkan keunggulan dalam mencapai standar-standar pendidikan nasional; Membina kemitraan positif dan produktif dengan orangtua dan masyarakat dalam rangka mencapai visi dan misi sekolah.
SDIT Aliya dikepalai oleh seorang kepala sekolah. Jumlah guru di SDIT Aliya sebanyak 53 orang terdiri dari 27 laki-laki dan 26 perempuan. Jumlah siswa di SDIT Aliya sebanyak 579 siswa. Kelas 1 sampai kelas 6 masing-masing terdiri dari 4 kelas. Sarana yang dimiliki SDIT Aliya ini cukup lengkap yaitu 24 ruang kelas, 1 ruang perpustakaan, 1 laboratorium IPA, 1 ruang pimpinan, 1 ruang guru, 1 mesjid, 9 ruang koridor, 1 lapangan olahraga, dan 2 ruang audio. Selain itu, terdapat ruangan penunjang seperti dapur, kamar mandi, mushola, tempat wudhu, dan kantin. SDIT Aliya memiliki banyak kegiatan ekstrakurikuler yaitu futsal, karate, renang, bulu tangkis, drama, jurnalistik, klub sains, kepanduan, angklung, biola, melukis, tilawah qur‟an, klub Bahasa Inggris, dan klub Matematika. SDIT Aliya mempunyai 3 gedung utama yang di setiap gedung terdiri dari 3 lantai. Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insan Kamil
SDIT Insan Kamil merupakan salah satu sekolah yang menjadi tempat penelitian untuk kelompok intervensi pendidikan gizi dan pangan sumber serat. Sekolah Dasar (SD) Insan Kamil beralamat di Jalan Raya Dramaga Km. 6 Bogor. Sekolah ini pertama kali didirikan pada tahun 1986. SD Insan Kamil memiliki 2 gedung sekolah, yaitu Gedung A dan Gedung B. Gedung B ditempati oleh siswa kelas 1 SD sampai kelas 4 SD, sedangkan Gedung A ditempati oleh siswa kelas 5 dan 6 SD. SDIT Insan Kamil memiliki visi “dengan berlandaskan ibadah, syari‟at dan akhlaqul karimah SDIT Insan Kamil unggul dalam berprestasi, dengan misi “mendidik muri-murid agar menghayati dan mengamalkan bahwa hidup adalah ibadah, belajar dalam ibadah, dan berprestasi adalah ibadah”.
SDIT Insan Kamil dikepalai oleh seorang kepala sekolah. Jumlah guru sekolah sebanyak 77 orang. Tingkat pendidikan guru diantaranya 52 orang sarjana dan 25 orang lainnya diploma. Jumlah staf tata usaha sekolah 5 orang. Jumlah murid sebanyak 1181 orang yang terdiri 662 laki-laki dan 519 perempuan. Kelas
25 1 sampai kelas 5 masing-masing terdiri dari 7 kelas, dan kelas 6 terdiri dari 8 kelas.
Sarana yang dimiliki sekolah yaitu sarana pendidikan (2 gedung masing-masing 3 lantai), sarana ibadah (mesjid dan musholla), sarana penunjang (Lab. Komputer, ruang serbaguna, aula, perpustakaan, dan Lab.IPA), sarana olah raga (lapangan futsal, tenis meja, senam dan tae kwon do, lapangan bulutangkis dan volly, lapangan basket, dan UKS), dan sarana kebersihan (saniter dengan 20 kamar mandi, WC keramik putih), air PDAM, dan lapangan parkir luas. Kantin yang dimiliki sebanyak 3 kantin, 1 kantin di Gedung A dan 2 kantin di Gedung B. Ekstrakurikuler yang ada di sekolah adalah baca Al-Qur,an, english course, jarimatika, klub sains, klub olimpiade matematika, biola, seni lukis, komputer, robotics, futsal, tae kwon do, dan karate. Tiap ekstrakurikuler memiliki jadwal kegiatan masing-masing, jam kegiatan biasa dilakukan endline jam sekolah berakhir. Setiap murid diwajibkan mengikuti minimal satu kegiatan ekstrakurikuler.
Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Umul Quro
SDIT Ummul Quro merupakan salah satu sekolah yang menjadi tempat penelitian untuk kelompok intervensi pendidikan gizi, pangan sumber serat, dan olahraga. SDIT Ummul Quro beralamat di Jl. Baru Salabenda, Parakan Jaya, Bogor, Jawa Barat. Sekolah ini pertama kali didirikan pada tahun 1996. SDIT Ummul Quro memiliki visi “terbentuknya lembaga pendidikan, da‟wah, sosial Islam bagi terwujudnya generasi qurani”, dengan misi “membentuk lembaga pendidikan tingkat Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Sekolah Menengah Umum dan Perguruan Tinggi yang menerapkan Konsep Pendidikan Islam Terpadu; Membentuk Lembaga Da‟wah dengan mengoptimalkan Masjid sebagai pusat kegiatan ke Islaman di berbagai sektor kehidupan; Membentuk Lembaga Sosial yang secara aktif memberikan pelayanan kepada masyarakat”.
SDIT Ummul Quro dikepalai oleh seorang kepala sekolah. Jumlah guru sekolah sebanyak 57 orang. Jumlah murid sebanyak 554 orang; kelas 1 sampai kelas 6 masing-masing terdiri dari 4 kelas. Sarana yang dimiliki sekolah yaitu Gedung 3 lantai, ruang kelas nyaman dan ber AC, laboratorium komputer multimedia, laboratorium MIPA, alat peraga pembelajaran, pelayanan antar jemput siswa, pelayanan catering, perpustakaan, mading sekolah, kantin sekolah, ruang makan, klinik kesehatan, masjid, sarana out bound dan kebun percontohan, area parker, lapangan olahraga.
Ekstrakurikuler yang ada di sekolah adalah klub Bahasa Inggris, karya ilmiah anak, keterampilan (jurnalistik, dokter kecil), olahraga (basket, futsal), seni (teater, bina vokalia islami, musik, menggambar, melukis, bengkel kreatif/kerajinan tangan).
Karakteristik Siswa
Karakteristik sampel anak usia sekolah yang menjadi sampel pada penelitian ini (selanjutnya disebut siswa) dianalisis berdasarkan kelompok perlakuan. Jumlah siswa pada penelitian ini adalah 84 siswa kelas lima dan enam dari tiga Sekolah Dasar, yaitu 28 siswa SD IT Aliya sebagai kelompok perlakuan
26
pendidikan gizi dan olahraga, 28 siswa SD IT Insan Kamil sebagai kelompok perlakuan pendidikan gizi dan pangan sumber serat, 28 siswa SD IT Ummul Quro sebagai kelompok perlakuan pendidikan gizi, olahraga, dan pangan sumber serat. Sebagian besar siswa baik pada kelompok A, kelompok B, dan kelompok C berjenis kelamin laki-laki yaitu (57.1%), (67.9%), dan (71.4%). Berdasarkan uji beda Kruskal Wallis tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.05) jenis kelamin siswa antar kelompok perlakuan (Tabel 6). Hasil penelitian ini sejalan dengan data Riset Kesehatan Dasar (2010) bahwa kejadian gizi lebih pada anak usia sekolah dasar lebih banyak pada anak laki-laki (10.7%) daripada anak perempuan (7.7%).
Data Kemenkes (2007) juga menunjukkan bahwa prevalensi obesitas pada anak usia sekolah dasar di Bogor lebih besar pada anak laki-laki (15.3%) daripada anak perempuan (8.6%). Menurut Karimah (2014), tingginya prevalensi kegemukan pada anak laki-laki disebabkan oleh pertumbuhan dan perkembangan anak laki-laki lebih lambat daripada anak perempuan. Anak perempuan sudah mulai pubertas pada akhir masa anak-anak. Hal ini menyebabkan perempuan mulai memperhatikan penampilan dan cenderung mengatur pola makannya dibandingkan laki-laki.
Rata-rata berat badan lahir siswa pada masing-masing kelompok perlakuan, kelompok A, kelompok B, dan Kelompok C yaitu 3291.4±454.4 g, 2732.1±600.7 g, 3155.4±557.6 g. Berdasarkan uji ANOVA terdapat perbedaan yang signifikan (p<0.05) berat badan lahir siswa pada kelompok perlakuan (Tabel 6). Uji lanjut post hoc Tukey menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan (p<0.05) berat badan lahir pada kelompok B terhadap kelompok A dan kelompok C. Berat badan pada saat lahir sangat berpengaruh pada berat badan anak selanjutnya. Bayi yang lahir dengan berat badan lebih atau rendah berisiko menjadi obesitas pada masa anak-anak, remaja atau dewasa (World Bank 2006). Bayi yang mengalami kekurangan zat gizi pada masa janin di dalam kandungan, akan membutuhkan asupan energi dan lemak yang tinggi setelah kelahiran. Sebagian besar anak akan banyak menyimpan lemak dan lebih efisien dalam penggunaan yang menyebabkan kelebihan berat badan pada anak (Parson et al. 2001).
Bayi dikatakan lahir dengan berat normal jika berat badannya antara 2500-3800 g. Bayi dikatakan lahir dengan berat bayi lahir rendah (BBLR) jika berat badannya kurang dari 2500 g. Penelitian yang dilakukan di Australia, terdapat hubungan yang signifikan antara berat badan lahir rendah dan berat lahir lebih dengan risiko kejadian obesitas pada anak usia 4 sampai 5 tahun. Peneliti BBLR memiliki risiko yang lebih rendah menjadi obesitas pada anak perempuan yang berusia 4 sampai 5 tahun dibandingkan dengan berat lahir lebih, namun tidak terdapat hubungan antara berat badan lahir rendah dengan kejadian obesitas pada anak laki-laki. Berat lahir lebih memiliki hubungan dan risiko yang lebih tinggi untuk menjadi obesitas pada anak perempuan dan anak laki-laki (Oldroyd et al. 2010).
Usia siswa berkisar 10-13 tahun, sebagian besar (41.7%-46.4%) berusia 11 dan 12 tahun. Berdasarkan uji ANOVA tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.05) usia siswa pada kelompok perlakuan (Tabel 6). Anak pada rentang usia 7-13 tahun atau usia sekolah dasar berada pada tahap concrete operational yaitu anak mampu berpikir secara logika, mengklasifikasikan objek sesuai jenisnya,
27 menyusun sesuatu, memahami maksud orang lain, dan mampu menyimpulkan. Daya ingat anak mencapai intensitas terbaik dan memiliki daya menghafal untuk sejumlah materi pada usia sekolah (Ahmadi & Sholeh 2005). Menurut Tarro et al. (2014) lingkungan sekolah merupakan tempat yang tepat untuk dilakukan intervensi pendidikan gizi yang berfokus pada promosi gaya hidup sehat pada anak. Selain itu anak-anak sebagian besar menghabiskan waktu mereka di sekolah (Silveira et al. 2013). Oleh karena itu, pemberian pendidikan gizi mengenai gaya hidup sehat sangat tepat dilakukan pada usia sekolah.
Tabel 6 Sebaran siswa berdasarkan karakteristik individu Karakteristik Siswa A B C n % n % n % Jenis Kelamin Laki-Laki 16 57.1 19 67.9 20 71.4 Perempuan 12 42.9 9 32.1 8 28.6 Total 28 100 28 100 28 100 Pa) 1.000 BB Lahir (g) <2500 1 3.6 13 46.4 4 60.7 2500-3999 25 89.3 15 53.6 21 35.7 ≥4000 2 7.1 0 0 3 3.6 Total 28 100 28 100 28 100 Mean±St.Dev 3291.4±454a) 2732.1±600.7b) 3155.4±557.6a) Pb) 0.001 Usia (th) 10 2 7.1 0 0 0 0 11 13 46.4 10 35.7 12 42.9 12 12 42.9 12 42.9 15 53.6 13 1 3.6 6 21.4 1 3.6 Total 28 100 28 100 28 100 Mean±St.Dev 11.4± 0.7 11.9±0.8 11.6±0.6 Pb) 0.064
Uang Jajan (Rp/hari)
<5000 2 7.1 0 0 2 7.1 5000-10000 26 92.9 17 60.7 24 85.7 11000-15000 0 0 7 25.0 2 7.1 >15000 0 0 4 14.3 0 0 Total 28 100 28 100 28 100 Mean±St.Dev 6625± 2327.9a) 11678.6±4784.6a) 8285.7±3016.7b) Pb) 0.000
28
Uang jajan adalah uang saku siswa yang digunakan untuk membeli makanan dan minuman di sekolah. Sebagian besar siswa baik pada kelompok A (92.9%), kelompok B (60.7%), dan kelompok C (79.8%) memiliki uang jajan berkisar Rp 5 000-10 000. Berdasarkan uji ANOVA terdapat perbedaan yang signifikan (p<0.05) uang jajan siswa pada kelompok perlakuan. Uji lanjut post hoc Tukey menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan (p<0.05) uang jajan pada kelompok C terhadap kelompok A dan kelompok B (Tabel 6).
Bila dilihat pada masing-masing kelompok perlakuan, dimana rata-rata uang jajan yang paling kecil pada kelompok A yaitu Rp 6 625 dan >90% siswa memiliki uang jajan sebesar Rp 5 000- Rp10 000, hal ini dikarenakan pada kelompok A, hampir semua membawah bekal untuk snack pagi dan siang, serta ketering untuk makan siang. Sedangkan pada kelompok B memiliki rata-rata uang jajan yang besar dibandingkan kelompok lainnya yaitu sebesar Rp 11 678.6, hal ini dikarenakan hampir semua siswa hanya membawa bekal untruk makan siang dan sebagian kecil membawa bekal tambahan untuk snack siang. Begitu juga halnya dengan kelompok C, dimana rata-rata uang jajan sebesar Rp Rp 8 285.7, biasanya digunakan untuk snack siang dan sebagian besar siswa membawah bekal untuk snack pagi dan ketring untuk makan siang. Hasil penelitian pada 295 anak sekolah dasar di Denmark yaitu uang saku yang diterima anak tidak semuanya digunakan untuk membeli minuman dan makanan saja, tetapi juga digunakan untuk keperluan kegiatan sekolah dan keperluan pribadi lainnya (Bonke 2013).
Para ahli menemukan bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupan. Peningkatan ini sesuai dengan lamanya pemberian ASI eksklusif serta lamanya pemberian ASI bersama-sama dengan makanan padat setelah bayi berusia 6 bulan (Roesli 2000). Pemberian ASI sebagian besar pada kelompok A (82.1%), kelompok B (96.4%), kelompok C (85.7%) subjek diberi ASI dan sisanya tidak diberi ASI sama sekali. Hal ini dikarenakan pada saat lahir berat badan anak termasuk berat badan lahir rendah (<2500 g) dan ASI tidak keluar. Lama pemberian ASI sebesar, 35.7% kelompok A, 17.9% kelompok B, dan 30.7% kelompok C diberi ASI selama 6 bulan (Tabel 6). Berdasarkan uji Kruskal Wallis terdapat perbedaan signifikan (p<0.05) lama pemberian ASI pada kelompok perlakuan. Obesitas pada anak, disebabkan oleh masukan makanannya yang berlebih. Selain itu, pada waktu lahir anak tidak dibiasakan mengonsumsi air susu ibu (ASI), tetapi dibiasakan mengonsumsi susu formula dalam botol, padahal anak yang diberi ASI, biasanya asupan ASI-nya sesuai ketentuan berat badan bayi (Darmono 2006). Penelitian Bogen et al. (2004) menyebutkan bahwa pemberian ASI pada anak bisa menurunkan risiko obesitas pada anak.
29
Karakteristik Keluarga
Keluarga adalah sekelompok orang yang tinggal atau hidup bersama dalam