• Tidak ada hasil yang ditemukan

Investasi Asing dalam Sektor Penelitian dan

BAB IV Kebijakan Pengadaan Inovasi sebagai Determinan PMA

4.1 Litbang sebagai Pendukung Kebijakan Pengadaan Inovasi Teknolog

4.1.1 Investasi Asing dalam Sektor Penelitian dan

Tidak hanya pemerintah yang berperan dalam pengembangan litbang China

melalui PDB. Beberapa perusahaan litbang milik asing telah membuka cabang di

negara tersebut dan semakin meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Litbang

asing tersebut dituntut untuk “menciptakan produk inovatif untuk China”

187

.Pada

tahun 2012, total 1300 dari 1600 pusat litbang di China merupakan insitusi atau

pusat litbang yang berasal dari asing.

188

186

KPMG International, “Innovated in China: New Frontier for Global R&D” dalam China 360

(2013), hal. 1-2.

187

Michael Alper, “Inside China: From Knockoffs to Knockouts”, Neuvomedia, November 2013,

China Focused-Column, Policy & Regulations.

188

Patti Waldmeir dalam KPMG, “Chinna Offers a Taste of R&D To Come”, FT, November

2012 [online] dalam http://www.ft.com/intl/cms/s/0/b568f34a-2d83-11e2-9988-

Gambaran diatas menunjukkan beberapa contoh perusahaan asing yang

mendirikan dan mengekspansi cabang litbang di China. Kota Shanghai dan

Beijing, merupakan kota pemimpin dalam aktivitas litbang perusahaan asing di

China. Beijing memiliki 550 pusat litbang, dan Shanghai memiliki lebih dari 350

pusat litbang. Terdapat satu lokasi di Beijing, yaitu Zhongguancun Science Park,

lokasi tersebut merupakan lokasi pusat ilmu pengetahuan dan teknologi terbesar

di China.

189

189

KPMG, Opci, hal 4,5.

BASF adalah perusahaan farmasi

yang menaungi beberapa ragam

industri kesehatan. Pada awal

tahun 2004, BASF mendirikan

pusat Teknis BASF Asia di

Shanghai; Sembilan tahun

kemudian, perusahaan ini

memiliki 10 cabang litbang di

Shanghai dan baru-baru ini

membuka pusat inovasi senilai

USD 75 Juta di Shanghai. Wakil

Direktur BASF China

menyebutkan bahwa “BASF akan

terus meningkatkan investasinya

menuju China, karena produk

BASF akan disesuaikan dengan

kebutuhan dan selera pasar

China, juga kebutuhan efisiensi

lokasi demi melayani kostumer

China lebih baik lagi” (Beijing

Evening News dalam KPMG)

Pada tahun 2012, PepsiCo

(Pemilik Frito-Lay dan beberapa

merk Quaker) telah membuka

cabang litbang yang terbesar di

luar AS, tepatnya Shanghai. Modal

PepsiCo baru sebesar USD 45

Juta tersebut sudah memfasilitasi

dapur tempat peracik PepsiCo

menciptakan rasa baru yang

sesuai dengan selera pasar China;

laboratorium tempat uji coba rasa

produk terhadap konsumen; dan

sebagai hasilnya terdapat produk-

produk baru dalam jangka waktu

yang relatif cepat dan sesuai

dengan selera konsumen

masyarakat China. (Waldmier Patti

dalam KPMG)

Setidaknya setengah dari pusat litbang Beijing bertempat di lokasi tersebut.

Lokasi ini sering juga disebut sebagai silicon valley ‘versi’ China. Beberapa

MNC besar juga memiliki pusat litbang yang terdapat di lokasi tersebut,

diantaranya Hewlett Packard, Samsung, IBM, Motorola, Sony, Microsoft dan

lain-lain. Pengadaan litbang sebagai pendorong inovasi merupakan bagian dari

kebijakan MLP 2006-2020, dukungan kebijakan pemerintah tersebut kemudian

memberikan kemudahan dan menarik institusi litbang asing untuk melakukan

PMA di China.

4.2 Kebijakan Inovasi Teknologi Pemerintah Sebagai Pendorong PMA

menuju China 2007-2013

Pemerintah China memiliki kebijakan khusus dalam inovasi teknologi dalam

MLP 2006-2020.

190

Terdapat sebelas konsen utama atas kebijakan tersebut. (1)

China ingin memberikan dukungan yang lebih besar bagi perusahaan-perusahaan

yang berorientasi pada inovasi. Pemerintah akan mendorong perusahaan-

perusahaan untuk membentuk komisi litbang dalam institusinya, dan membuka

peluang bagi perusahaan-perusahaan untuk bekerjasama dalam tugas litbang

nasional China 15 tahun kedepan; sesuai dengan pedoman nasional.

(2) China akan memperkuat basis penelitian untuk menjangkau permintaan

poin-poin strategis. Penelitian juga diperlukan untuk membantu pemerintahan

nasional dalam menggapai tujuan perencanaan 15 tahun. (3) China membuat

sebuah pedoman tertulis yang akan memperkuat kapabilitas inovasi, sebagai

resolusi untuk membangun negara berorientasi inovasi dalam 15 tahun kedepan.

190

Website Resmi Pemerintah China, “China Issue S&T Development Guidelines”, [online]

dalam http://english.gov.cn/2006-02/09/content_183426.htm diakses pada 11 Juni 2014.

(4) Pemerintahan China akan membangun suatu lingkungan yang

mendukung perusahaan-perusahaan berteknologi tinggi, sehingga akan membuka

peluang bagi perusahaan-perusahaan baru agar dapat go public. (5) Pemerintah

akan menetapkan perencanaan untuk menjadi negara inovasi dalam 15 tahun

kedepan, dan kekuatan dunia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pada

pertengahan abad ke-21. (6) Pemerintah akan memberikan investasi yang lebih

besar pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada 15 tahun

mendatang.

(7) Negara akan memetakan beberapa gagasan teknolgi yang akan menjadi

guiding role pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga akan

meningkatkan kapabilitas penelitian pada teknologi tinggi. (8) Pemerintah China

akan mengimplementasikan strategi nasional dalam Hak Kekayaan Intelektual

(HKI), memasukkan manajemen HKI dalam keseluruhan proses manajemen ilmu

pengetahuan dan teknologi. (9) China akan memberikan prioritas pada

pengembangan teknologi 11 sektor utama seperti air dan energi.

Dalam 15 tahun kedepan China akan menyelesaikan permasalah sosial dan

ekonomi melalui perencanaan jangka panjang dan menengah tersebut. (10)

Pemerintahan China juga akan menciptakan 4 program riset yang akan

mendukung keunggulan kompetitif negara China, mendukung keberlangsungan

pengembangan, dan lain-lain. (12) Terakhir, China akan mengatur ulang

manajemen sistem ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menggabungkan dan

mengkoordinasikan organisasi riset militer maupun sipil, sebagai wujud

dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

191

Dalam MLP 2006-2020 tersebut disebutkan bahwa perusahaan domestik

China adalah leading force atau pemimpin utama dalam inovasi teknologi China.

Untuk mendukung substansi perusahaan domestik, dibutuhkan peran pemerintah

yang memudahkan perusahaan, yang membangun sebuah lingkungan inovasi

yang lebih baik, serta reformasi yang lebih dalam.

192

Sebuah lingkungan inovasi ini telah diimplementasikan oleh pemerintah

China. Zona spesial ini pada mulanya merupakan zona ekonomi khusus yang

kemudian berkembang menjadi dua zona lain, yaitu Zona Perkembangan

Ekonomi dan Teknologi (ZPET) dan Zona Perkembangan Industri Teknologi

Tinggi (ZPITT). Keduanya memiliki spesifikasi khusus bagi wilayah teknologi

maju. Beberapa perusahaan asing dan institusi penelitian asing telah mendirikan

dan bekerja sama dengan perusahaan domestik China pada wilayah tersebut.

193

Pemerintah China menerapkan beberapa kebijakan tertentu atas kedua

wilayah tersebut. Kedua wilayah tersebut juga ditempatkan di beberapa kota

pelabuhan dan ‘open cities’ yang didesain untuk fokus pada proyek-proyek

industri yang memiliki level teknologi tinggi, juga didesain untuk dapat

menyerap modal asing dan wilayah berorientasi ekspor ekonomi. ZPITT juga

191

Website Resmi Pemerintah China, Op. Cit.

192

The State Council, “National Outline for Medium and Long Term Science and Technology

Development (2006-2020), [online] dalam

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved

=0CB8QFjAA&url=http%3A%2F%2Fsydney.edu.au%2Fglobal-health%2Finternational-

networks%2FNational_Outline_for_Medium_and_Long_Term_ST_Development1.doc&ei=b5iY

U9zrHMWB8gX7voA4&usg=AFQjCNFSz8ieO3CQYpuGXEAmBFwtffmlEQ&sig2=5fZkwjUq

jNOS6nWumQKHBA&bvm=bv.68693194,d.dGc diakses pada 10 Juni 2014.

193

Min Jeong Kim dan Jai S. Mah, “China’s R&D Policies and Technology Intensive Industries”,

Routledge, Journal of Contemporary Asia, Vol. 39 No. 2, Mei 2009. Hal. 272-273.

fokus pada pengembangan industri intensif-teknologi. Pemerintah China ingin

mengkombinasikan wilayah produksi dengan wilayah penelitian yang didukung

oleh lokasi universitas dan perusahaan teknologi tinggi. Didalamnya, pemerintah

juga memberikan dukungan infrastruktur, pajak dan finansial pada zona

tersebut.

194

China merupakan negara inovasi yang berhasil menggabungkan model bisnis

baru dengan perangkat lunak, mobilitas, dan internet – ketiga faktor tersebut

kemudian menjadi platform bagi inovasi.

195

Microsoft tertarik untuk melakukan

PMA sebesar USD 216 Juta pada tahun 2011 atas motif peran pemerintah dalam

meningkatkan inovasi dalam sistem proteksi HKI.

196

Hal yang sama juga terjadi

dalam kasus perusahaan Intel. Perusahaan pembuat chip tersebut mendirikan

suatu fasilitas baru di zona Shenzen, fasilitas yang sering disebut sebagai Intel

Smart Device Innovation Center.

197

Intel mendirikan pusat inovasi di China, juga melakukan investasi USD 100

Juta untuk pendanaan teknologi yang berkaitan dengan tablet, smartphone atau

ponsel pintar, dan perangkat-perangkat internet lain.

198

IBM juga membangun

fasilitas ketiganya yakni pusat computer, pada tahun ini di China. IBM

melakukan kerjasama dengan Universitas Jilin, kerjasama tersebut dimaksudkan

untuk mengembangkan sektor penelitian dan pengembangan juga mendorong

194

Min Jeong Kim, Ibid.

195

Ya-Qin Zhang, “How China is Good for Global Innovations”, China Daily, 15 September

2011 [online] dalam http://www.microsoft.com/china/ard/en/innoforum/innoforum_30.mspx

diakses pada 11 Juni 2014.

196

Ibid.

197

Washington Post, “Intel Ramps Up Investment in China’s Tech Scene”, [online] dalam

www.washingtonpost.com diakses pada 13 Juni 2014.

198

lulusan universitas tersebut yang kompeten dalam bidang perangkat lunak dan

aplikasi computer.

199

4.3 Analisis Dampak Pengadaan Kebijakan Inovasi Teknologi Terhadap

PMA menuju China.

Pemerintah harus mampu menciptakan suatu lingkungan kondusif bagi

perusahaan-perusahaan untuk mengembangkan keunggulan kompetitifnya.

200

Pemerintah di hampir tiap negara saat ini tengah mengambil langkah-langkah

yang dirancang untuk meningkatkan daya saing. Beberapa kebijakan yang paling

mendominasi adalah perluasan investasi pemerintah dalam penelitian, program

pemerintah untuk mendanai usaha baru, dan peran yang lebih proaktif untuk

pertahanan dan peran proaktif dalam pembelanjaan pemerintah lainnya.

201

Kemampuan suatu negara dalam meningkatkan basis teknologi dan metode

menjadi poin esensial untuk dapat menjangkau pasar investasi global, dan

menjadi faktor pembeda krusial yang dapat menarik pangsa pasar investasi

global.

202

China melalui pemerintahan sosialisnya telah membentuk suatu

kebijakan berjangka menengah dan panjang untuk memperkuat basis ilmu

pengetahuan dan teknologinya.

Dalam pengembangan inovasi pemerintah China sadar betul akan pentingnya

sektor penelitian dan pengembangan (litbang) dalam mengembangkan produk-

produk domestik China. Tidak hanya berdasarkan PDB, untuk mengembangkan

199

Justin Lee, “IBM to Build Third Data Center in China to Meet Cloud Computing Demand”,

[online] dalam www.thewhir.com/web-hosting-news/ibm-to-build-third-data-center-in-china-to-

meet-cloud-computing-demand diakses pada 14 Juni 2014.

200

Porter, Op. Cit, hal. 618.

201

Ibid.

202

inovasi pemerintah China juga membuka peluang bagi litbang asing yang

dimiliki oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Terbukti, litbang asing

mendominasi 75% dari litbang domestik China. Jumlah ini pun diproyeksikan

masih akan terus tumbuh, seperti pernyataan Patti Waldmeir “Chinna offers a

Taste of R&D to Come”.

Pemerintah China mengkonstentrasikan pusat Litbang tersebut ke dalam dua

wilayah utama yakni Beijing dan Shanghai. Shanghai, sebagai kota pusat

pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadi lokasi setidaknya

bagi 350 cabang litbang. Beijing adalah pusat institusi penelitian dan

pengembangan terbesar di China. Setidaknya terdapat 550 Cabang litbang di

provinsi tersebut. Wilayah Zhongguancun yang terdapat di Beijing merupakan

wilayah favorit perusahaan-perusahaan litbang asing. Setengah dari 550 litbang

yang berada di Beijing berlokasi diwilayah tersebut.

Pepsi Co. yang berbasis di AS menanamkan modal di China sebesar USD 45

juta pada tahun 2012. Pepsi juga melakukan inovasi dan membangun institusi

litbang terbesarnya diluar AS. Hal yang sama juga terjadi pada perusahaan

farmasi BASF. Perusahaan tersebut mengembangkan pusat teknisnya yang

semula hanya memiliki satu cabang di Asia pada tahun 2004, berkembang

menjadi 10 basis pusat teknis pada tahun 2013. Selain mengembangkan basis

teknisnya, BASF juga mendirikan pusat inovasi di China yang bernilai USD 75

Juta.

Kedua perusahaan asing seperti Pepsi dan BASF telah membuktikan faktor

riset tersebut kemudian memudahkan mereka dalam menginovasi produk agar

dapat sesuai dengan selera pasar konsumen China. Tujuan inovasi dan

menyesuaikan produk dengan pangsa pasar ini menjadikan produksi mereka lebih

tepat dan efisien ditempatkan dan dikembangkan di China. Dengan demikian,

faktor litbang sebagai pendukung inovasi ini terbukti menjadi faktor determinan

perusahaan asing mengalihkan lokasi produksinya menuju China.

Tidak hanya litbang, pemerintah China dalam kebijakan pengadaan

inovasinya juga memberikan dukungan inovasi dalam penciptaan lingkungan

atau zona khusus pengembangan teknologi. Data pada poin 4.2 menunjukkan

kebijakan-kebijakan pemerintah China yang tertuang pada 12 poin kebijakan

utama. Dalam poin tersebut terdapat dukungan pemerintah dalam pengembangan

ilmu pengetahuan dan teknologi; diantaranya melalui penciptaan lingkungan

yang mendukung inovasi.

Pemerintah memberikan intensif dana, pajak dan kemudahan-kemudahan

lain bagi basis produksi di zona khusus tersebut. ZPET dan ZPITT merupakan

dua zona teknologi maju yang disiapkan khusus pemerintah China sebagai basis

inovasi teknologi. Pemerintah menempatkan zona ini dekat dengan Universitas

Jinjin.

Penempatan

ini

merupakan

upaya

pemerintah

China

yang

mengkolaborasikan perusahaan teknologi tinggi dengan sumber daya manusia

yang kompeten dalam bidang perangkat lunak dan teknologi tinggi. SDM yang

berasal dari universitas ini dapat menjadi faktor pendukung penghasil inovasi

produk teknologi tinggi.

Perusahahaan-perusahaan perangkat lunak asing seperti IBM, Microsoft dan

Intel misalnya, memiliki orientasi penanaman modal menuju China karena

dukungan lingkungan inovasi yang diciptakan oleh pemerintah China. Microsoft

misalnya, melakukan Penanaman Modal Asing ketika terdapat kebijakan

mengenai HKI di China. HKI merupakan salah satu target pemerintah yang akan

dicapai dalam kebijakan inovasi 15 tahun tersebut. HKI merupakan faktor

penting perusahaan asing untuk menghindari penyalahgunaan atas hak cipta

intelektual.

BAB V

KESIMPULAN

Penelitian ini berakhir pada kesimpulan bahwa upah minimum bukanlah

suatu faktor penentu pelaku penanam modal asing melakukan PMA di China.

Terdapat faktor-faktor lain yang menjadi determinan suatu negara atau swasta

melakukan PMA di China. Teori Porter mengenai keunggulan kompetitif suatu

negara, dan teori siklus produk Vernon kemudian menjadi landasan pemikiran

penulis dalam menjawab perumusan masalah sebelumnya.

China memiliki keunggulan kompetitif nasional dalam hal produktivitas

pekerja. Data diatas menunjukkan bahwa China memiliki tingkat produktivitas

pekerja yang tinggi. Reformasi sistem Hukou, yang berdampak pada besarnya

tingkat urbanisasi masyarakat dari wilayah rural menuju urban merupakan faktor

dasar pendorong besarnya faktor input dalam hal ini jumlah pekerja atau labor

force China.

Tingkat produktivitas pekerja China juga tergolong tinggi dalam hasil survei

WEF. Bahkan, lebih tinggi dibanding dengan negara berkembang lain yang

termasuk dalam 20 negara utama penerima PMA. Selain faktor produktivitas

pekerja, Porter dan Vernon juga menekankan faktor permintaan lokal sebagai

faktor penentu PMA bagi investor global. Permintaan lokal akan tercermin dari

besarnya kuanitas pertumbuhan ekonomi yang tercermin dari pertumbuhan

produk nasional bruto (PDB) per kemampuan daya beli atau purchasing power

parity.

China merupakan pasar potensial bagi market seeking FDI, atau PMA yang

berorientasi pada pasar. Hal ini dikarenakan tingkat perekonomian domestik

China yang terus tumbuh serta dukungan tingginya perilaku konsumsi

masyarakat kelas menengah China. Tingginya tingkat konsumsi masyarakat

tersebut tergambar pada meningkatnya penjualan produk perusahaan asing yang

kemudian berdampak pada perpindahan produksi perusahaan asing menuju

negara China.

Permintaan pasar sebagai determinan PMA tersebut terbukti pada data

penanaman modal asing Samsung dan General Motors yang meningkat, seiring

dengan peningkatan penjualan produk mereka pada pasar China. Selain unggul

dalam hal produktivitas pekerja dan permintaan pasar, China juga unggul dalam

pengadaan inovasi teknologi. Pengadaan inovasi teknologi ini merupakan

kebijakan pemerintah China, yang memberikan beberapa kemudahan atas

perusahaan-perusahaan, khususnya dalam pengadaan inovasi teknologi untuk

melakukan pengembangan produknya di China.

Implementasi kebijakan tersebut tampak pada dua zona khusus

pengembangan teknologi yang berlokasi di Shanghai dan Beijing. Dua zona

khusus tersebut terbukti menarik perusahaan-perusahaan asing yang utamanya

bergerak pada sektor teknologi seperti Microsoft dan Intel. Dengan demikian

terbukti bahwa faktor upah minimum tenaga kerja bukanlah determinan suatu

perusahaan menginvestasikan modalnya menuju negara China. Upah minimum

tenaga kerja terus mengalami peningkatan di China, peningkatan tersebut tetap

diikuti oleh kenaikan volume PMA menuju China. Dengan demikian terbukti

bahwa bukan faktor upah, melainkan faktor keunggulan kompetitif nasional

China yang menjadi determinan PMA menuju negara tersebut, sehingga hipotesis

penulis dalam penelitian ini terbukti.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Bowles, Paul dan John Harriss, “Globalization and Labour in China and India:

Impacts and Responses” (Hampshire: Palgrave Macmillian, 2010)

Bungin, Burhan. 2007. “Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan

Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya”. Jakarta: Kencana.

Charles, Hill. 2011. “International Business: Competing In The Global

Marketplace” New York: Mc-Graw Hills Company.

Czinkota, Michael R. et.al., 2011. “Business International”. United States: John

Wiley & Sons.

Engardio, Pete, “CHINDIA”, Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer (2007),, hal. 163.

Faisal, Sanapiah. 2005. “Format-Format Penelitian Sosial” Jakarta: PT.

RajaGrafindo Persada.

William A. Mceachern. 2000.Ekonomi Makro, Pendekatan Kontemporer, Edisi

Pertama”. Jakarta: Salemba Empat.

Keraf, Gorys. 1984. “Komposisi”. Ende: Nusa Indah.

Laura Neack. 2008. “The New Foreign Policy: Power Seeking in a Globalized

Era”. Plymouth: Rowman and Littlefield Publishers.

Michael Porter. 1990. “The Competitive Advantage of Nations”. New York:

Free Press.

Nita Rudra. 2008. “Globalization and the Race to the Bottom in Developing

Countries: Who Really Gets Hurt?”. Cambridge: Cambridge University Press

Prof. Dr. Sugiyono. 2005. “Memahami Penelitian Kualitatif”. Bandung: CV.

Alfabeta.

Radityo Dharmaputra. 2012. “Perbandingan Politik Luar Negeri”. Surabaya: PT.

Revka Petra Media.

Sinungan, Muchdarsyah. 2003. “Produktivitas Apa Dan Bagaimana” Jakarta:

Bumi Aksara.

Subagyo, Joko. 1997. “Metode Penelitian: Dalam Teori dan Praktek”. Jakarta:

PT. RinekaCipta

William Greider, “A New Giant Sucking Sounds,” dalam Globalization and the

Race to the Bottom in Developing Countries: Who Really gets Hurt?”, Nita

Rudra. 2008. (Cambridge: Cambridge University Press)

ARTIKEL

Aggarwal, Aradhna. 2005. “The Influence of Labour Markets on FDI : Some

Empirical Explorations in Export Oriented and Domestic Market Seeking FDI

Across Indian States”. Delhi: University of Delhi.

Barry Anthony Ishmael, “Government Procuremenr and Innovation: The

Creation of An Environtment For Competitiveness in Small Developing

Countries” hal. 2637-2696.

Balko, Radley. 2004. “Sweatshops and Globalization” dalam A World

Connected, 2004.

Barry Anthony Ishmael, “Government Procuremenr and Innovation: The

Creation of An Environtment For Competitiveness in Small Developing

Countries”

C. Bellak, M. Leibrecht dan R.Stehrer. 2008. “Policies to Attract Foreign Direct

Investment: An Industry-Level Analysis”. OECD Global Forum on International

Investment.

Chen Chunlai. 2007. “The Location Determinants of Foreign Direct Investment

in Developing Countries” Chinese Economic Research No. 19/27 (2007).

Daniel W. Drezner. 2006. “The Race To The Bottom Hypothesis: An Empirical

and Theoretical Review”. The Fletcher School Tufts University.

Francois Eyraud dan Catherine Sage. 2005. “The Fundamental of Minimum

Wage Fixing”. Geneva International Labour Office.

F. T. Knickerbocker. 1973. “Oligopolistic Reaction and Multinational

Enterprise”. Boston: Harvard Business School Press.

Griffin, Ricky & Michael Pustay. 2004. Bisnis Internasional Jilid 1. Indeks : Jkt

K. Ito and E. L. Rose. 2002. “Foreign Direct Investment Location Strategies in

the Tire Industry,” Journal of International Business Studies 33.

Massood Samii dan Pard Teekasap. 2010. “Can Country Continuously Compete

on Cheap Labor Cost? A System Dynamics Approach to FDI Policy Analysis”.

Paper presented at the AIB 2010 Rio de Janero Conference.

Mai, Yinhua dan Xiujian Peng, “Labor Market Reform, Rural Migration and

Income Inequality in China – A Dynamic General Equilibrium Analysis” Centre

of Policy Studies Monash University, Australia (2011)

Melander, A, dan K Pelikanova, “Reform Of Hukou System: a Litmus Test of

The New Leadership”, Working Paper by European Union, Issue: 26, Juli 2013

Moore M. (1993) “Determinants of German Manufacturing Direct investment

1980-88, Weltwirtschaftliches Archiv”.

Oien, Beate. 2011. “Revisiting Foreign Direct Investment and Collective Labor

Rights” Norwegian University of Science and Technology.

Owen C.H Ho, “Determinants of Foreign Direct Investment in China: A Sectoral

Analysis” Economics Programs, School of Economic and Commerce University

of Western Australia (2004)

Ozay Mehmet dan Akbar Tavakoli. 2002. “Does Foreign Direct Investment

Cause Race to the Bottom? Evidence from four Asian Countries”. Ottawa: The

Norman Paterson School of International Affairs Carleton University.

Professor Ajit Singh dan Ann Zammit “Laboor Standards and The “Race To The

Bottom”: Rethinking Globalisation And Workers Rights From Developmental

And Solidaristic Perspectives” ESRC Centre for Business Research, University

of Cambridge Working Paper No. 279 (2004)

Robert J. Pember dan Marie-Therese Dupre. 1997. “Statistical Aspect of

Minimum Wage Determination”. Geneva: ILO.

Ronald B. Davies dan Krishna Chaitanya Vadlamannat. 2011. “A Race To The

Bottom in Labour Standards? An Empirical Investigation”. dalam Globalization,

Investment, and Services Trade (GIST). Dublin: University College Dublin.

S. Thomsen. 1993. “Japanese Direct Investment in the European Community,”

The World Economy 16.

William W. Olney, “A Race To The Bottom? Employment Protection and

Foreign Direct Investment”. (Williamstown: Williams College)

Wing , Kam, “The Household Regisration System and Migrant Labor in China:

Notes on a Debate” Population and Development Review 36 (2) (2010)

Zheng, Phing dan Hui Tan, “Home Economy Heterogeneity in The Determinants

of China’s Inward Foreign Direct Investment” Transnational Corporations,

Vol.20 No. 2 (2011)

Kevin Honglin, Zhang “Why Does China Receive So Much Foreign Direct

Investment” China and World Economy No. 3. hal. 56. (2003)

Atkinson, Robert D., “Assesing China’s Efforta to Become an Innovation

Society” A Progress Report before the U.S. - China Economic and Security

Review Comissions (2012) hal. 2.

Alper, Michael “Inside China: From Knockoffs to Knockouts”, Neuvomedia,

November 2013, China Focused-Column, Policy & Regulations.

Asian Productivity Organization, “APO Productivity Databook 2013”, Tokyo:

Dokumen terkait